KUTIPAN MOTIVASI
Kata – Kata Bijak
Dr. Muhammad A.S. Hikam, APU
Diajukan sebagai tugas Universitas Esa Unggul Semester Genap
Mata Kuliah Motivasi Usaha
Kelompok I
Di Susun Oleh :
-
Priska Putri Asmiranti (201571217)
-
Hanafi Tirtayogci (201581290)
-
Nyoto (201581288)
-
Tito Dwi Nurtanto (201581287)
-
Darmayanti (201411162)
-
Eko Widodo (201511229)
-
Zulhaimi (201581291)
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA
Tahun 2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat Rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan tugas paper ini yang merupakan kumpulan kata – kata bijak dan
movasi yang dirangkum dari postingan Facebook Muhamad As Hikam. Paper ini di
susun guna memenuhi tugas mata kuliah Motivasi Usaha.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Terlepas
dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca, agar kami dapat membuat
tugas ini ke depannya lebih baik lagi
Akhir kata kami berharap
semoga paper ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Jakarta,
9 April 2016
Penyusun,
Kelompok 1
Kutipan Bijak
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR .......................................................................................... I
DAFTAR
ISI............................................................................................................
II
BAB
I PENDAHULUAN
JANUARI........................................................................................................... 1
FEBRUARI
....................................................................................................... 7
MARET
............................................................................................................. 16
APRIL
................................................................................................................ 26
MEI
.................................................................................................................... 36
JUNI
................................................................................................................... 42
JULI
................................................................................................................... 52
AGUSTUS
......................................................................................................... 60
SEPTEMBER
.................................................................................................... 70
OKTOBER
........................................................................................................ 75
NOVEMBER
..................................................................................................... 82
DESEMBER
...................................................................................................... 88
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
JANUARI
January
2, 2015
Sahabat,
Konghucu (551-449 SM) mengatakan: "Ketimbang anda bersusah hati karena
tidak punya jabatan, lebih baik anda menilai diri sendiri apakah memang sudah
pantas untuk menduduki suatu jabatan. Ketimbang anda prihatin karena merasa
tidak dikenal orang, lebih baik anda mengerjakan sesuatu yg pantas utk dikenal
orang." Etos kerja yang mengedepankan kerja dan hasil yang bermanfaat,
bukan posisi dan nama besar, harus terus menerus ditanamkan kepada anak-anak,
remaja, pemuda, dan juga orang dewasa. Terutama bagi masyarakat dan bangsa yang
sedang mengalami krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan terhadap para
elitnya seperti yg kita alami saat ini di Indonesia.
January 3,2015
Sahabat, pejuang anti totaliterisme
dan Presiden Ceko, Vaclav Havel (1936-2011), mengatakan: “Jagalah persahabatan
anda dengan orang-orang yang selalu berusaha mencari kebenaran. Tinggalkan
orang-orang yang mengklaim dirinya sudah menemukannya." Salah satu cara untuk menghindari dan
membendung gagasan dan perbuatan yang merusak adalah dengan berhati-hati dalam
memilih teman atau kelompok utk dijadikan teman. Terutama berhati-2 dan kritis
thd berbagai gagasan, pemikiran, dan aksi-2 mereka yang mengklaim memiliki
kebenaran mutlak dan/atau memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Orang-orang
semacam ini hanya akan membuat kita menjadi budak nafsu angkara yang sama
sekali tidak akan bermanfaat bagi manusia dan lingkungan. Sejarah telah
mencatat berbagai kerusakan dan kehancuran gara-gara gagasan dan perilaku
manusia-2 seperti itu.
January
5, 2015
Sahabat,
filsuf eksistensialis asal Jerman, Martin Heidegger (1889-1976),
mengatakan: “Apa yang sekarang tampak
alami buat kita, mungkin adalah sesuatu yang sudah lama dikenal dalam tradisi.
Tradisi itu sendiri sudah melupakan sumber yang tidak alami dan tak dikenal sebelumnya. Padahal
yang tidak alami itulah sejatinya yg sebelumnya dianggap aneh dan membuat orang
berfikir serta mengagumi." Orang mudah meremehkan suatu hal yg sudah
dianggap biasa, atau sebagai tradisi. Padahal suatu kebiasaan atau tradisi bukan
sesuatu yg jatuh dari langit, melainkan hasil kreatifitas dan upaya manusia
yang bertahan dan menjadi sesuatu yang kemudian dianggap "biasa".
Tradisi, dengan demikian, bisa selalu menginspirasi kemungkinan-2 baru. Tetapi
hal tsb memerlukan kecerdasan dan kepiawaian dalam berfikir dan mencipta.
January
6, 2015
Sahabat,
penyair dan dramawan besar Indonesia, WS Rendra (1935-2009), mengatakan:
"Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan? Apakah
artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?" Tak peduli apapun
aktifitas manusia dan kariernya, ia hanya akan berarti jika ada keterlibatan
(engagement) dengan masyarakat dan lingkungannya. Seorang tukang ojek yang ikut
aktif dalam kiprah kemasyarakatn di RTnya, jauh lebih bermanfaat bagi
kemanusiaan dibanding dg ilmuwan, ulama, konglomerat, politisi, dll yang hanya
mementingkan diri sendiri, keluarganya, kelompoknya, namun ia terpisah dengan
sekitarnya. Keterlibatan dan tanggungjawab sosial lebih utama ketimbang
kesalehan individual.
January
9, 2015
Sahabat,
filsuf Inggris, Aldous Huxley (1894-1964), mengayakan: "Pengalaman
bukanlah sesuatu yang terjadi pada anda, tetapi apa yang anda perbuat thd apa
yg terjadi pada diri anda." Orang yg berusoa panjang belum tentu lebih
berpengalaman ketimbang orang yg berusia tak terlalu panjang. Orang yg sekolah
tinggi belum tentu lebih berpengalan ketimbang yang sekolah biasa saja. Yg
membuat orang berpengalaman adalah tindakan mereka yg bermanfaat bg diri dan
lingkungan, sebagai dialektika antara peristiwa dengan respon atasnya.
January
10, 2015
Sahabat,
Presiden Amerika ke 16, Abraham Lincoln (1809-1865), mengatakan:
"Persoalan saya bukanlah apakah Tuhan berada di pihak kita; tetapi apakah
kita benar-benar telah berada di pihak Tuhan. Sebab Dia selalu benar."
Sebagian manusia ada yang selalu gembar gembor seolah-olah selalu berada dan,
bahkan, mengklaim telah dan sedang mewakili Tuhan dan kehendakNya. Karena itu
mereka menganggap semua perkataan dan perbuatan mereka adalah persis sama
dengan kehendakNya. Padahal sejatinya manusia tdk memiliki hak maupun wewenang
utk mengklaim seperti itu. Manusia harus berusaha keras agar pikiran dan
perbuatan mereka di dunia telah sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian,
tidak akan terjadi klaim thd kebenaran (claim of truth) yang berlebihan yang
berpotensi menghasilkan berbagai kesewenang-2an dan penindasan thd sesama
manusia atas nama kehendak Tuhan.
January
13,2015
Sahabat,
spiritulalis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Dalam ajaran
Buddhis diterangkan bahwa ketika kita mampu merubah 'satu elemen dalam
pikiran', yakni cara berfikir yg paling dasar, maka kita akan mampu merubah
diri dan, pada gilirannya, lingkungan kita pun ikut berubah." Revolusi
Mental, yg kini sering didengungkan itu, sejatinya bersumber dari ajaran-ajaran
spiritual yang ada dalam agama dan keyakinan serta tradisi. Pada akhirnya,
perubahan revolusioner itu harus terjadi pada fondasi berfikir manusia, bukan
pada tampilan dan kelembagaan yang berada pada kulit luarnya. Kampanye dan
slogan-slogan bisa saja bejibun dan dibiayai triliunan, tetapi jika fondasi
berfikir tidak berubah, maka sampai kiamat pun tdk akan terjadi revolusi mental
tsb.
January
16,2015
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Karramallahu Wajhah), mengatakan: "Janganlah
engkau menjadikan ilmu menjadi sumber kebodohan, dan keyakinanmu menjadi sumber
keragu-raguan. Jika engkau memiliki pengetahuan, maka lakukanlah; dan jika
engkau yakin, maka maju (berjuang)lah." Memiliki ilmu dan keyakinan tak
berarti otomatis membuat orang akan berbuat kebaikan. Demikian pula orang yang
memiliki keyakinan belum tentu membuatnya berani berjuang dan mengambil resiko.
Banyak orang yang memiliki gelar kesarjanaan dan posisi dalam dunia keilmuan
justru malah menebar kebodohan bagi manusia lain. Demikian juga banyak orang yg
berpretensi membela keyakinan, tetapi malah menciptakan kepengecutan, keraguan,
dan ketakutan mengambil resiko.
January
17,2015
Sahabat,
sutradara terkemuka asal Perancis, Eugene Ionesco (1912-1994), mengatakan:
"Para pegawai negeri tidak akan bisa membuat lelucon." Birokrasi di
manapun juga cenderung membuat manusia yg ada di dalamnya (bahkan yang ada di
luarnya) menjadi seperti mesin yg kaku dan bergerak mekanistik, sesuai
perintah, aturan baku, dan hirarki. Birokrasi, sebagai "alat" yg
diciptakan manusia utk mengelola organisasi memang harus demikian. Karenanya,
para birokrat semestinya menyadari keterbatasan dan kelemahan lingkungannya
itu. Bukan malah mencoba menggunakan birokrasi utk kepentingan-2 kekuasaan yang
bisa menindas. Birokrasi dan birokrat adalah hasil ciptaan manusia yang
bermanfaat manakala ia ikut mempermudah urusan manusia.
January
20,2015
Sahabat,
salah seorang pendiri bangsa Amerika Serikat, Thomas Jefferson (1743-1826),
mengatakan: “Saya tidak pernah menganggap suatu perbedaan dalam politik, agama,
dan/atau filsafat sebagai sebab utk meninggalkan seorang sahabat." Prinsip
yang tampaknya sangat sederhana dan mudah sekali diucapkan ini sama sekali tak
sederhana atau mudah utk dilaksanakan dalam kenyataan. Diperlukan usaha dan
kerja keras dan kegigihan yang luar biasa serta perjuangan setiap saat utk
mencapainya, baik sendirian maupun bersama-sama.
January
22,2015
Sahabat,
filsuf eksistensialis Perancis, Henri Bergson (1859-1941), mengatakan: "Agar mampu tetap eksis, maka orang
harus melakukan perubahan; agar bisa melakukan perubahan, ia harus menjadi
dewasa; dan agar bisa menjadi dewasa, maka ia harus melakukan cipta-diri tanpa
henti." Ciptadiri (self creating) adalah proses mental utk senantiasa
melakukan peningkatan kualitas. Ia menjadi dasar bagi proses pendewasaan dan
perubahan yang lebih jauh. Tanpa kemauan
dan kemampuan melakukan 'self-creating', maka eksistensi manusia di dunia tidak
akan memiliki dampak positif bagi diri dan lingkungannya.
January
23,2015
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Karramallahu Wajhahu) mengatakan: “Dunia ini
bagaikan lautan, tempat
tenggelamnya banyak ciptaan-ciptaan
Tuhan. Jelajahilah dunia ini dengan selalu menyebut namaNya. Jadikan KETAKWAAN
sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkan KEIMANAN utk layarmu,
gunakan NALAR sebagai nahkoda; dan jadikan KESABARAN utk jangkar menghadapi badai yg
menghantammu.” Empat komponen utama utk bekal mengarungi samudera kehidupan
agar selama sejahtera dan mencapai tujuan akhir dengan bahagia. Selamat pagi!
January
24,2015
Sahabat,
intelektual terkemuka Amerika keturunan Libanon, Edward Said (1935-2003),
mengatakan: “Anda tidak boleh terus menerus menjadikan pihak lain sebagai
korban anda hanya karena anda sendiri pada suatu saat pernah menjadi korban.
Batas harus selalu harus ada." Viktimisasi satu pihak kepada pihak lain,
bisamuncul karena dendam atau juga karena merasa pernah menjadi kurban
sebelumnya. Edward Said bicara tentang konflik Israel-Palestina, tetapi relevan
juga dengan yg terjadi di sekitar kita.
Konflik Polri vs KPK, misalnya, mengindikasikan sebuah viktimisasi karena ada pihak
yg merasa dendam sehinga menggunakan kekuasaan dan institusi untuk menindas
pihak lain. Inilah yg harus dihentikan dg segera sebelum tak terkontrol lagi
serta meruyak kemana-mana.
January
26, 2015
Sahabat,
spiritualis Yahudi asal Polandia, Rabbi Abraham J. Heschel (1907-1972),
mengatakan: "Manusia di dunia ini (ibarat) seorang utusan yang sedang lupa
dengan pesan yg dibawanya." Sebagai mahluk yang memiliki tanggungjawab
kemanusiaaan, manusia seharusnya selalu mengingat dan melaksanakan tgjwb tsb.
Sayangnya hal tsb tidaklah mudah dan sering dilupakan, baik sengaja maupun
tidak. Itu sebabnya saling memberikan peringatan dalam bentuk wacana, tausiah,
kritik, dll menjadi sangat penting dlm kehidupan. Agar supaya manusia tidak
terus menerus lupa dan/atau melupakan dengan tanggungjawabnya.
January
27,2015
Sahabat,
aktivis perempuan asal Rusia, Rosa Luxemburg (1870-1919) mengatakan:
"Tanpa ada pemilu, kebebasan pers, berpendapat dan berkumpul, dan tanpa
ada kebebasan utk bertempur tentang gagasan-2, maka kehidupan di ruang publik
akan lenyap. Ia hanya semacam karikatur tentang dirinya sendiri, dan
(ujung-2nya) birokrasilah yg akan menjadi faktor penentu segalanya." Ruang
publik yg bebas adlh salah satu soko guru bagi kehidupan demokrasi yg sehat.
Ketika ruang publik dikuasai oleh birokrasi, maka saat itu pula demokrasi
mengalami kemerosotan substantif; kendati tampilan luarnya masih tampak bagus.
January
28,2015
Sahabat,
Sufi Agung Persia, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Jadilah
seperti sungai dalam kedermawanan dan kemurahhatian/ Jadilah seperti mentari
dalam kelembutan sentuhan/ Jadilah seperti malam dalam menutupi kesalahan
liyan/ Jadilah seperti jenazah dalam kemurkaan/ Jadilah seperti bumi dalam
kerendahhatian dan kesederhanaan/ Jadilah seperti laut dalam bersikap toleran/
Jadilah dirimu sendiri sebagaimana yg engkau tampilkan." Manusia bisa
belajar dari alam sekitar utk meningkatkan kualitas diri, baik jasmaniah maupun
rohaniah. Dan pada akhirnya konsistensi antara tampilan dengan yang ada di
dalam adalah yang paling ideal. Dan tentu saja paling berat utk dilakukan.
January
29,2015
Sahabat,
Presiden AS ke 26, Theodore Roosevelt, mengatakan: "Di saat-saat
penentuan, apa yang terbaik yang dapat anda lakukan, itulah keputusan yang
benar. Setelah itu adalah keputusan-2 yang kurang baik, dan yang paling buruk
adalah tidak melakukan apapun!" Dalam kehidupan, acapkali kita dihadapkan
pada suatu kondisi yang sulit sehingga keputusan kita menjadi sangat penting.
Jika kita memiliki ruang untuk membuat dan memilih alternatif, maka hal itu masih
belum mendesak. Namun adakalanya ruang tsb sudah tidak ada. Maka satu-2nya yg
bisa lakukan adalah memutuskan apa yg kita anggap terbaik dan bersiap
menghadapi resiko serta rencana darurat (contingency plan). Sikap membiarkan
adakalanya malah lebih berbahaya
ketimbang membuat keputusan yg mungkin salah.
FEBRUARI
1 Februari 2015 ·
Sahabat, dalam Serat Wulangreh
dikatakan: "Kalamun ana manungsa/ tan anganggo ing duga lan prayogi/ iku
watake tan patut/ awor lawan wong kathah/ degsura ndaludur tan wruh ing edur/
aja sira pedhak-pedhak nora wurung neniwasi." (Kalau ada manusia
meninggalkan 'duga' dan 'prayoga,' dia tidak layak bergaul dengan orang banyak.
Orang yang degsura, daludur, tan wruh ing edur jangan didekati karena hanya
menimbulkan kesusahan). (Pangkur: 4)
Etiket dan etika pergaulan pribadi
dan sosial dalam budaya Jawa. Tinggalkan sikap 'degsura' yg berarti tanpa
tatakrama, 'daludur' yg berarti kurang ajar, 'tan weruh edur' yg berarti
arogan. Sebaliknya, terapkan selalu sikap 'duga' yg berarti perhitungan, dan
'prayoga' yg berarti seusai dg konteks dalam mengambil keputusan.
2
Februari 2015 ·
Sahabat,
saintis terkemuka abad 19 dari Inggris, Thomas Huxley (1825-1895), mengatakan:
"Mantapkan pikiran anda utk bertindak tegas dan menanggung konsekuensi-2
yg mungkin terjadi. Tidak ada kebaikan yang bisa diperoleh di dunia ini dengan
keragu-raguan dlm bertindak." Keragu-raguan dalam bertindak cenderung
lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Hal itu bisa terjadi karena
petimbangan yang belum matang, atau karena memang sifat peragu yg dimiliki oleh
seseorang. Jika yg pertama itu masalahnya, maka perlu pemantapan pertimbangan.
Jika yang kedua, maka harus diusahakan berlatih menghilangkan atau mengurangi
kebiasaan peragu. Apalagi jika dalam posisi menjadi pemimpin.
3
Februari 2015 ·
Sahabat,
filsuf masa Pencerahan asal Jerman, Immanuel Kant (1724-1804), mengatakan:
"Tanpa manusia dan kemampuannya utk meningkatkan kualitas moral, maka
realitas di dunia ini hanya mirip belantara, suatu kesia-siaan, dan tanpa
tujuan akhir." Moral pada hakekatnya menjadi landas tumpu bagi manusia dan
dunia yg bermakna dan mampu mencapai kemajuan (progress). Jika moral tercerabut
dari kemanusiaan, maka tidak ada lagi elemen yang membedakan antara manusia dg
hewan dan benda-benda lain. Hanya dengan manusia yg bermoral maka cita-2
kemanusiaan yg adil dan beradab menjadi mungkin diupayakan.
4
Februari 2015 ·
Sahabat,
penulis dan dramawan Perancis, Victor Hugo (1802-1885), mengatakan:
"Berbagai pemikiran tertentu bisa merupakan doa-doa. Sebab ada momen-momen
tertentu, apapun yg sedang dilakukan oleh jasmani saat itu, tetapi sang jiwa
sedang bersujud." Aktifitas berfikir merupakan kegiatan rohani, sehingga
ia bisa saja terlepas dari apa yang dilakukan oleh jasmani pada saat yg sama.
Berfikir adakalanya merupakan suatu olah spiritual, yang mampu mendekatkan
manusia pada sang Pencipta. Pembedaan antara pikiran dan mental, sejatinya
tidaklah mutlak, tetapi kontekstual dan relasional.
5
Februari 2015 ·
Sahabat,
novelis Inggris zaman Victorian, Charles Dickens (1812-1870), mengatakan:
"Dimanapun, jika sebuah agama sudah disulap menjadi semacam minuman yg
keras dan tempat melarikan diri dari kenyataan hidup yg membosankan, maka para
agamawan yang paling keraslah yang paling dihormati. Para agamawan yg paling
banyak menebar bara api menuju jalan ke akhirat, sambil menginjak-injak bunga-2
dan dedaunan di pinggirnya, akan disebut yang paling saleh." Pemahaman
terhadap ajaran agama bisa menciptakan gagasan dan perilaku yg berlawanan
dengan inti pesan agama itu sendiri. Agama yg mengajarkan pesan perdamaian,
bisa disulap menjadi sumber perilaku kekerasan. Agama yg mengedepankan kasih
sayang menjadi sumber penindasan atas nama Tuhan. Para agamawanlah yg paling
bertanggungjawab atas penafsiran-2 ajaran, apakah akan membuat agama menjadi
penyebar kedamaian dan kasih sayang, atau malah sebaliknya.
6 Februari 2015 ·
Sahabat, filsuf Yunani kuno,
Aristoteles (384-322 SM), mengatakan: "Pendidikan otak/akal/nalar tanpa
pendidikan hati nurani bukanlah pendidikan sama sekali." Hasil dari sistem
pendidikan yang hanya memfokuskan pada mengasah penalaran pada ujungnya
memunculkan generasi yang tidak seimbang kehidupannya. Mungkin saja masyarakat
yg dihasilkannya maju dan pintar, namun tanpa karakter dan kehilangan pijakan
etisnya. Pendidikan demikian tidak mungkin bisa menjadi instrumen membangun
sebuah bangsa dan negara yang kokoh dan mampu bertahan dari dinamika sejarah yg
menerpanya.
7 Februari 2015 ·
Sahabat,
Sufi Agung dari Persia, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan:
"(Jika) ada sebuah paguyuban ruhani/ Masuklah dan rasakan dengan sukahati/
Seperti berada di jalan ramai/ Jadikan dirimu keramaian itu sendiri."
Sebagai mahluk yang memiliki dimensi ruhani, manusia seharusnya senantiasa
mencari dan menyerap keruhanian tersebut. Seperti halnya ketika manusia
berusaha ingin memenuhi hasrat jasmaniahnya, seperti itu pula manusia
mengimbangi keruhaniannya. Bahkan lebih berat, karena dimensi ruhani merupakan
inti, seperti panas dlm sinar matahari, seperti basah dalam air, seperti
keramaian dalam ramai.
8 Februari 2015 ·
Sahabat, pejuang kemerdekaan dan
pahlawan nasional, Tan Malaka (1894-1949), mengatakan: "Bila kaum muda
yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar
untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki
cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama
sekali." Memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan merupakan keharusan,
namun ia tak bisa dilepaskan dari tanggungjawab kepada masyarakat dan bangsa.
Sistem pendidikan yang bermanfaat utk pemajuan bangsa, harus memberikan porsi
besar kepada komponen tanggungjawab sosial dan tidak melulu pada komponen
akuisisi ilmu pengetahuan. Manusia yang pintar tetapi tercerabut dan tak peduli
dg masyarakatnya justru bisa menjadi ancaman berbahaya bagi kelestarian dan
kemajuan bangsanya.
9 Februari 2015 ·
Sahabat,
fisikawan AS peraih Nobel, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Hanya
sedikit sekali orang yang mampu menyampaikan dg tabah pandangan-2 berbeda
dengan masyarakat sekitarnya. Justru kebanyakan orang bahkan tidak mampu
membentuk pandangan-2 seperti itu." Memiliki pandangan-2 yg berlawanan
dengan apa yang sudah disepakati oleh lingkungan bukanlah perkara gampang.
Apalagi menyampaikannya dengan konsisten dan tabah serta berani menanggung
resiko yg besar. Diperlukan suatu kemampuan dan ketahanan mental yg tinggi
untuk mampu melakukan perubahan pandangan dlm masyarakat. Terutama dlm
masyarakat yang sangat majemuk.
10 Februari 2015 ·
Sahabat,
Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, mengatakan: "Kalau anda sudah
menguasai penegak hukumnya, merampok sehebat-hebatnyapun tidak akan kena.
Aman." (Wawancara dg Majalah TEMPO, ed. 15 Februari 2015, hal. 110).
Penegak hukum bukan hanya berpeluang melakukan pelanggaran hukum bagi dirinya,
tetapi juga membuka peluang bagi pelanggaran hukum bagi pihak lain. Ketika hal
yg terakhir itu terjadi, penegak hukum tsb sejatinya telah melakukan
pelanggaran dobel. Sebab ketika ia memberi peluang kepada yg lain utk melanggar
hukum ia juga melanggar aturan itu sendiri dan bersama-sama dg pihak lain.
11 Februari 2015 ·
Sahabat,
sebuah pepatah Italia mengatakan: "Chi non sa obbedir, non sa
comandar." (Barang siapa yang tidak pernah diperintah maka ia tidak layak
untuk memberi perintah). Menjadi pemimpin bukan hanya karena keturunan,
keilmuan, penampilan fisik, maupun dukungan banyak orang. Menjadi pemimpin
memerlukan pengalaman, termasuk pengalaman dipimpin. Tanpa pengalaman yang
cukup dan/atau pernah menjadi anak buah, maka orang yang duduk dalam posisi
memimpin bisa beresiko menjadi tiran atau sebaliknya, mudah diatur dan
diarahkan oleh pihak-pihak di luar. Pengalaman menjadi pihak yang dipimpin
membuat perspektif menjadi lebih luas di samping belajar dari sang pemimpin.
12 Februari 2015 ·
Sahabat,
pejuang pendidikan asal Brazil, Paulo Freire (1921-1997), mengatakan:
"Sikap 'cuci tangan' ketika menyaksikan konflik antara pihak yang berkuasa
dan pihak yang tertindas, sejatinya sama dengan memihak kepada pihak yang
berkuasa. Bukan sikap netral." Berdiam diri terhadap ketidak adilan dan
penindasan, adalah sikap yang akan menguntungkan para penindas kendatipun tidak
dimaksudkan utk itu. Pada hakekatnya, penindasan terjadi bukan semata-mata
karena kekuasaan dan kekuatan penindas yg bekerja, tetapi juga keikut sertaan
dan bantuan pihak-2 yang mengklaim 'netral' dan cuci tangan. Ibaratnya, satu
orang penindas jika ditambah dg sejuta orang yg bersikap cuci tangan,
kekuatannya seolah-olah sejuta orang penindas.
14 Februari 2015 ·
Sahabat,
sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia utk saling mencintai dan dicintai.
Cinta dan kasih sayang merupakan suatu pemberian Tuhan yang azali. Manusia
boleh selalu berikhtiar dan berusaha mencari. Namun sejatinya, cinta dan kasih
sayang telah terpateri. Ikhtiar kita hanyalah melengkapi. Dan suatu hal yang
sangat manusiawi.
15 Februari 2015 ·
Sahabat,
filsuf asal Jerman, Friedrich Wihelm Nietszche (1844-1900), mengatakan:
"Semakin tinggi kita melanglang angkasa, semakin kecil pula kita tampak
dalam pandangan mereka yang tak mampu terbang." Kedengkian dan irihati
merupakan suatu paradigma kehidupan yang distortif dan destruktif sekaligus. Ia
distortif karena menciptakan perspektif atau sudut pandang yang meremehkan dan
mengecilkan realita. Ia menjadi destruktif karena akibat perspektif tsb
mengajak pada gagasan dan tindakan yang ingin menguasai tanpa simpati dan
mengambil tanpa mau memberi.
16 Februari 2015 ·
Sahabat,
pemikir dan intelektual Muslim asal Hongaria, Muhammad Asad (Leopold Weiss)
(1900-1992), mengatakan: "Kengototan mereka [kelompok konserfatif/
fundamentalis] bahwa sebuah 'negara Islam' modern harus merupakan replika yg
persis sama dengan preseden sejarah masa lalu, hanya akan membuat gagasan
tentang negara Islam diremehkan dan menjadi bahan guyonan." Sejarah
manusia, tak terkecuali ummat Islam, adalah sebuah catatan ttg upaya dan
perjuangan mencari jawaban-2 atas persoalan dan tantangan yang dihadapi pada
masanya. Berbagai gagasan dan konsep muncul dan tenggelam dalam dinamikanya.
Apa yg dulu relevan bisa saja kemudian dipertanyakan dan bahkan ditinggalkan
serta dicari inovasi yang lebih mampu menjawab tantangan baru. Memaksakan
kehendak atas nama 'kejayaan masa lalu' dan ideologi yg mengagungkan masa lalu
tanpa sikap kritis, akan bertabrakan dengan keniscayaan dinamika sejarah.
17 Februari 2015 ·
Sahabat,
pejuang anti kekerasan dan persamaan hak asasi AS, Dr. Martin Luther KIng, Jr.
(1929-1968), mengatakan: "... Saya punya mimpi, bahwa pada suatu hari,
bahkan di sebuah negara bagian seperti Mississippi yang kering dan terik panas
karena ketidak adilan pun akan berubah menjadi oase kemerdekaan dan keadilan.
Saya punya mimpi, bahwa suatu hari, keempat anak saya akan hidup dalam sebuah
bangsa di mana mereka tidak diadili berdasarkan warna kulit mereka, tetapi
berdasarkan kualitas karakter mereka." Kutipan dari pidato monumental MLK
ini masih sangat relevan saat ini dan termasuk utk bangsa Indonesia, yang
hari-2 ini sedang berada dalam situasi yang memprihatinkan. Negeri ini akan
ditarik oleh sementara elit kembali ke musim kemarau dan terik panas ketidak
adilan. Upaya para elit itu menjadi harus dicegah dan kita arahkan menuju oase
kemerdekaan dan keadilan bagi semua. Cemunguuuddd...!
18 Februari 2015 ·
Sahabat,
filsuf Perancis masa Pencerahan, Denis Diderot (1713-1784), mengatakan:
"Kekuasaan yang diperoleh melalui kekerasan, sejatinya hanyalah sebuah
perampokan belaka. Kekuasaan tsb hanya bertahan selama si perampok masih
menguasai pihak yang patuh padanya." Kekuasaan pada akhirnya akan dinilai
bukan saja oleh sang pemilik, tetapi juga pihak yang dikuasai. Penilaian tsb
bisa berbentuk fisik dan transparan, tetapi juga bisa berbentuk legitimasi yg
tdk transparan atau moral. Salah satu persoalan legitimasi thd kekuasaan adalah
bagaimana ia diperoleh dan dilaksanakan. Kekuasaan yg diperoleh melalaui
kekerasan, kendati tampilannya menakutkan dan mengerikan, tetapi legitimasi
etisnya sangat lemah.
19 Februari 2015 ·
Sahabat,
Khong Hu Cu (551–479 SM) mengatakan: "Mengetahui apa yang benar tetapi
tidak (mau) melaksanakannya adalah kepengecutan yang terburuk." SELAMAT
MERAYAKAN TAHUN BARU IMLEK 2566 (2015)." Semoga di Tahun Domba ini
keberanian menyatakan kebenaran dan melaksanakannya, sejauh kemampuan, dari
pemimpin dan rakyat Indonesia akan terus terjaga. Sehingga cita-2 menjadikan
bangsa dan negara kita adil, makmur, dan jaya terlaksana. GONGXI FA CHAI,
GONGXI CHIEN NIEN...
20 Februari 2015 ·
Sahabat,
sejarawan Perancis, Alexis deTocqueville (1805-1859), mengatakan:
"Republik Amerika akan tetap bertahan sampai pada suatu saat Konggres
berhasil menyuap publik dengan uang dari publik sendiri." Salah satu cara
mempertahankan sistem demokrasi adalah dengan membentengi rakyat dari bahaya
penyuapan (money politics) yg dilakukan oleh para politisi, baik yg berada di
Parlemen maupun di luarnya. Jika rakyat sudah disuap dan dibeli para politisi,
apalagi dg menggunakan uang Negara, maka sistem demokrasi sudah terancam
keberadaannya. Karena pada saat itu, prinsip "dari, oleh, dan utk
rakyat" sudah tinggal retorika belaka. Yang ada adalah kontrol dan
cengkeraman para politisi thd rakyat melalui uang.
21 Februari 2015 ·
Sahabat,
spiritualis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda mengatakan: "Betapa adil
pun suatu cita-cita diperjuangkan, tetapi penggunaan kekerasan di dalamnya
hanya akan menanam kepahitan dalam hati generasi yang berikutnya dan bisa
menyebabkan perluasan serta pengulangan konflik." Sejarah manusia bisa
dilukiskan sebagai sejarah penggunaan kekerasan atas nama cita-2, ideologi,
agama dll. Hasilnya selain muncul dan berkembangnya berbagai kemajuan dan
munculnya peradaban-2 manusia, tetapi juga kesengsaraan (miseries) yang luar
biasa yang diwariskan turun temurun setiap generasi. Konflik yang dicoba
diselesaikan (dengan kekerasan) malah menjadi konflik yang tertanam terus dalam
kesadaran dan ketaksadaran manusia, dan sulit utk bisa dihilangkan.
22 Februari 2015 ·
Sahabat,
fisikawan dunia dan penerima Nobel dari AS, Albert Einstein (1879-1955),
mengatakan: "Sebuah kapal tentu akan aman-aman saja jika ia bersandar di
pelabuhan. Tetapi bukan hanya untuk tujuan itu (bersandar di pelabuhan) sebuah
kapal dibangun." Dalam kehidupannya, manusia selalu akan dihadapkan dengan
tantangan dan resiko. Kendati manusia bisa saja berdiam diri dan tidak
melakukan sesuatu, resiko akan mendatanginya. Sejarah juga penuh dengan catatan
bahwa manusia-manusia yang sukses dalam kehidupan mereka adalah para pejuang
dan penanggung resiko-2 besar namun mereka pantang menyerah. Menghindari dan
memperkecil dampak negatif resiko tak berarti harus berdiam diri dan tak
berusaha, tetapi justru sebaliknya: menghadapinya dengan tegar dan berupaya
keras agar resiko berubah menjadi peluang bagi keberhasilan.
23 Februari 2015 ·
Sahabat,
dalam Bhagawatgita dikatakan: "Apapun yang dilakukan oleh para petinggi
dan mereka yang berpengaruh, menjadi contoh bagi rakyat jelata. Keteladanan
yang mereka berikan menjadi anutan dan akan diikuti oleh masyarakat umum."
(3: 21). Pemimpin dalam semua level, akan menjadi semacam referensi atau
rujukan bagi yg dipimpin, baik disengaja maupun tidak. Implikasi dari posisi
tsb adalah bahwa ketika pihak yang dipimpin melihat, merasa, dan membuktikan
adanya inkonsistensi antara apa yg dikatakan dan diperbuat oleh yang memimpin,
maka legitimasi pihak yg disebut terakhir itu akan mengalami erosi. Salah satu
sumber delegitimasi kepemimpinan adalah inkonsistensi tsb.
24 Februari 2015 ·
Sahabat,
filsuf zaman Pencerahan dari Perancis, Voltaire (1694-1778), mengatakan:
"Nilailah seseorang dari pertanyaan-pertanyaan yg diajukannya, bukan dari
jawaban-jawabannya." Pertanyaan yang muncul dari seseorang bisa jadi bukan
sekedar ekspresi ketidaktahuannya atau keingintahuannya. Tetapi merupakan
cerminan kepribadian dan kualitasnya. Kadang-2 dari pertanyaan-pertanyaan
seseorang kita akan mendapat tilikan mendalam mengenai kepribadian orang tsb
dan bisa memahami pola pikirnya secara lebih baik. Tindakan bertanya merupakan
bagian dari pembeberan (disclosure) kepribadian seseorang.
25 Februari 2015 ·
Sahabat,
penulis dan aktifis feminis, Naomi Wolf, mengatakan: "Kecantikan perempuan
dianggap sebagai penyebab terjadinya pelecehan. Tetapi definisi tentang apa
pelecehan itu seringkali dibuat dg memakai cara pandang laki-laki." Salah
satu jenis kekerasan struktural dpm masyarakat adalah kekerasan berdasarkan
perbedaan jender (bukan hanya perbedaan jenis kelamin). Kaum perempuan adlh
korban paling nyata dan utama dari kekerasan ini. Ini disebabkan karena
kekuatan penafsiran thd hal2 yg terkait dg perempuan dimiliki secara tdk merata
atau seimbang. Umumnya kaum laki2 yg leboh dominan dlm membuat tafsir tsb,
termasuk tafsir tentang kaitan antara kecantikan dan pelecehan seksual, sopan
santun, pelanggaran etika dan hukum dsb.
26 Februari 2015 ·
Sahabat,
novelis Inggris asal Polandia, Joseph Conrad (1857-1924), mengatakan:
"Semua ambisi manusia adalah sah, kecuali ambisi untuk naik (status
sosial) ke atas dengan landasan penderitaan orang lain dan pengabaian terhadap
kemanusiaan." Manusia secara alami memang memiliki ambisi utk meraih suatu
cita-cita atau harapan tertentu, dan karenanya merupakan kewajaran. Bahkan
ambisi (baik yg dikemukakan terbuka atau tersimpan) bisa menjadi daya dorong
positif begi kemajuan pribadi maupun kelompok. Namun jika ambisi telah
mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan, apalagi menciptakan penderitaan terhadap
sesama, maka ia merupakan sebuah pelanggaran moral dan bahkan bisa mendorong
muncul dan berkembangnya tindak kriminal serta penindasan.
27 Februari 2015 ·
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mengatakan: "Bertanyalah kepada hati
nuranimu tentang segala perkara, karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak
akan menerima suap." Pada dasarnya setiap manusia memiliki komponen hati
nurani yang akan memberikan kesaksian dan peringatan serta arahan kepada
pemiliknya tentang kebaikan dan keburukan tindakan-tindakan dan pilihan-pilihan
dalam kehidupan. Hanya saja apa yang dikatakan oleh hati nurani acapkali
dikalahkan oleh kepentingan dan hawa nafsu, sehingga ia tersembunyi dan
tertutupi dan bisa jadi tak pernah muncul kembali. Dialektika antara hatinurani
dan hawa nafsu berdampak besar dalam pembentukan karakter seseorang, baik
sebagai individu maupun bagian dari kelompok.
28 Februari 2015 ·
Sahabat,
filsuf Yunani kuno, Anaxagoras (500-428 SM), mengatakan: "Ummat manusia
akan hidup dalam ketenangan seandainya dua kata ini bisa dihilangkan: 'milikku'
dan 'milikmu'." Hak untuk memiliki (property right) merupakan salah satu
faktor yang memotivasi manusia untuk bekerja keras, maju, dan membangun budaya
serta peradaban. Sayangnya, sebagaimana hal-hal lain, apabila hak tersebut
digunakan secara berlebihan dan tanpa pengawasan serta kontrol yang baik, maka
bisa juga menjadi pendorong keserakahan, kepelitan, dominasi manusia atas
manusia, dan bahkan kehancuran. Sejarah mencatat bangun dan hilangnya suatu
peradaban manusia karena kehendak utk memiliki dan menguasai tersebut.
MARET
31 Maret 2015
Sahabat, spiritualis Budhist dari
Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Agama-2 senantiasa berada dalam bahaya
menjadi jauh dari para pemeluknya, ketika para agamawannya lupa utk merenung
dengan hati-2 terhadap perilaku mereka sendiri sebagai para pemilik
otoritas."
Dalam sejarah kemanusiaan, para agamawan
merupakan otoritas yang ikut bertanggungjawab dan b erkontribusi bagi kemajuan
dan kehancuran bangsa-bangsa. Ketika para agamawan menggunakan otoritasnya utk
kepentingan-2 jangka pendek dan eksklusif, maka ruh keber-agama-an pun padam
dan agama hanya menjadi alat kekuasaan yg menindas dan merugikan kemanusiaan.
0 Maret 2015
Sahabat, pejuang kemanusiaan dari
India, Mahatma Gandhi (1869 – 1948), mengatakan: “Manusia acapkali menjadi
seperti apa yang diyakini terhadap dirinya sendiri. Jika saya selalu mengatakan
terhadap diri sendiri tidak mampu melakukan sesuatu, maka kemungkinan saya tdk
akan bisa melakukannya. Sebaliknya, jika saya yakin bisa melakukannya, maka
mungkin saja akan meraih hal tersebut kendati mula-mula saya belum memiliki
kemampuan tsb."
Menanamkan keyakinan terhadap
diri sendirikepada generasi muda bangsa ini, sungguh sangat penting mengingat
besarnya tantangan yang dihadapi bangsa dan negara ini dalam percaturan
kehidupan antar-bangsa. Itulah yg sering saya ingatkan kpd anak saya agar
selalu berkerja keras dan bertanggungjawab bagi bangsanya, khususnya dalam
pendidikan. Indonesia tdk mungkin maju jika anak-2 mudanya lebih suka berada di
luar negeri karena hidup lebih mudah dan melupakan kesusahan rakyat di
negerinya...
29 Maret 2015
Sahabat, filsuf Tiongkok kuno,
Meng Tzu (372-289 SM), mengatakan: " Sejatinya jalan kebenaran itu ibarat
jalan raya yang semua orang bisa melihatnya. Persoalannya menjadi sulit ketika
orang tidak mau mengikuti jalan tersebut."
Banyak jalan menuju kebenaran dan semua
petunjuk juga sudah diberikan. Hanya saja, manusia memiliki kemampuan memilih,
termasuk memilih utk tidak mau menggunakan jalan tersebut. Itulah yg menjadikan
persoalan dalam perjalanan sejarah manusia sehingga jalan kebenaran seringkali
sulit ditemukan dan bahkan diingkari.
27 Maret 2015
Sahabat, novelis peraih Nobel utk
kesusastraan dari AS, William Faulkner (1897-1962), mengatakan: "Apapun
yang ada di Los Angeles terlalu besar, terlalu bising, dan biasanya banal dalam
hal konsep. (Los Angeles) adalah plastik paling keparat di dunia."
LA, dengan segala kehebohan dan kehebatannya,
termasuk menjadi pusat perfilman AS dan dunia, senantiasa mengundang kekaguman
dan kecaman, pesona dan kutukan. Lebih dari kota-kota besar lain di dunia, LA
menjadi tujuan kedatangan begitu banyak orang tetapi hanya untuk sementara. Ia
adalah sebuah kota persinggahan yang sarat oleh gemerlapnya impian dan
sekaligus sumpah serapah. LA mengingatkan saya kepada Jakarta.
26 Maret 2015
Sahabat, Maulana Jalaludin Rumi
mengatakan : "Ketuk pintuNya, dan Dia akan membuka pintu buatmu/
Menghablurlah, dan Dia akan membuatmu bersinar bagai mentari/ Merendahlah, dan
Dia akan mengangkatmu ke langit/ Kosongkan dirimu, dan Dia akan merubahmu
menjadi semuanya."
Manusia akan mendapatkan nilai2
yg lebih ketika ia mampu menyadari kelemahannya di hadapan Sang Maha Pencipta.
Kesadaran tsb bukan untuk berikap pasif tetapi pro-aktif.
25 Maret 2015
Sahabat, filsuf dan spiritualis
Amerika, Reinhold Niebuhr (1889-1971), mengatakan: "Kemampuan manusia utk
berlaku adil MEMUNGKINKAN terwujudnya demokrasi. Tetapi kecenderungan manusia
untuk tidak berlaku adil, MENGHARUSKAN terwujudnya demokrasi."
Demokrasi masih tetap diperlukan
dalam suatu masyarakat yg warganya sudah menikmati keadilan, apalagi di dalam
masyarakat yang para warganya masih belum menikmati keadilan. Mereka yang
meremehkan demokrasi atau bahkan memusuhinya, kemungkinan besar adalah mereka yang
merasa terancam kepentingannya jika demokrasi terwujud. Sebab sistem demokrasi
memungkinkan terjadinya koreksi dan perubahan yg dapat diupayakan oleh warga
masyarakat secara bersama dan berlandaskan nilai keadilan.
24 Maret 2015
Sahabat, sejarawan Yunani Kuno,
Thucydides (460-395 SM), mengatakan: "Kebanyakan orang pada kenyataannya
tidak mau repot-repot untuk menemukan kebenaran, tetapi lebih cenderung
menerima cerita yang didengar paling awal saja."
Mencari sumber berita yang akurat
dan dapat dipercaya bukanlah perkara yang mudah dan biasanya membutuhkan usaha
serta pengalaman. Yang paling mudah adalah mendapatkan sumber yang memang
disukai dan cocok dengan selera. Sebab, mencari sumber berita dan kebenaran
berita memerlukan penalaran dan daya kritis. Sedangkan pada umumnya orang hanya
mencari-2 apa yang dia suka dan takut jika harus berhadapan dengan kenyataan
yang berbeda dg harapannya
23 Maret 2015
Sahabat, pejuang anti-apartheid
dan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela (1918-2013), mengatakan: "Janganlah
anda menilai saya berdasarkan keberhasilan yang saya capai. Tetapi nilailah
saya dari berapa kali saya mengalami kegagalan tetapi kemudian saya bangkit
kembali." Keberhasilan atau sukses kadang merupakan faktor yang terlalu
dibesar-besarkan dan akibatnya malah mengecilkan arti sebuah perjuangan.
Penilaian yang tak kalah penting adalah bagaimana seseorang bangkit dan
mengatasi kegagalan dan mengubahnya menjadi sarana pendorong untuk mencapai
sukses. Bangsa yang besar tidak berarti selalu sukses, tetapi mereka besar
ketika berhasil merubah kegagalan menjadi pendorong utk bekerja lebih keras dan
bangkit kembali.
22 Maret 2015
Sahabat, penulis Amerika, William Saroyan
(1908-1981), mengatakan: "Tak ada satu pun kota yang mampu mengundang
bangkitnya rasa keindahan seperti San Francisco. Datang berkunjung di San
Francisco adalah sebuah pengalaman hidup tersendiri."
Malam Minggu waktu setempat (21/3/15), saya
tiba di kota budaya yang paling beken di California dan bahkan di AS, sejajar
dengan New York atau bahkan menurut sebagian seniman lebih bagus. Saya akan
mencoba menikmati kota ini kendati hanya sehari. Orang bilang, kesan pertama
adalah paling menentukan. Dan saya baru pertama kali menginjakkan kaki di kota
ini. Biasanya hanya transit di bandaranya saja. tentu saya akan berbagi
pengalaman juga dengan para sahabat.
21 Maret 2015
Sahabat, spiritualis dan filsuf Tingkok kuno,
Lao Tzu (abad ke 5 SM), mengatakan: "Bergabunglah ke dalam masyarakat,
hidup bersama mereka, belajar dan cintailah mereka. Bekerjalah dengan apa yang
mereka pahami dan membangun dengan yang mereka miliki. Jika anda pemimpin yang
baik, masyarakat akan merasa bahwa mereka sendirilah yang merampungkan
pekerjaan tersebut."
Kualitas pemimpin yang unggul
bisa dilihat dari bagaimana para pengikutnya merasakan kebersamaan dalam
kesuksesan mereka menjalankan tugas. Yang paling ideal adalah jika para
pengikut merasakan bahwa sukses tersebut adalah hasil kerja mereka, bukan hanya
hasil sang pemimpin semata.
20 Maret 2015
Sahabat, novelis terkemuka AS, Ernest
Hemmingway (1899-1961), mengatakan: "Manusia-2 unggulan memiliki berbagai
keutamaan, seperti bercitarasa keindahan, berani utk mengambil resiko,
berdisiplin dlm menyampaikan kebenaran, dan punya kapasitas utk berkorban.
Ironisnya, keutamaan-2 tsb justru membuat mereka rentan sehingga acapkali mudah
dilukai dan bahkan dihancurkan."
Manusia-manusia yang memiliki keunggulan bukan
berarti imun dari berbagai cobaan. Keunggulan dan kebesaran mereka seringkali
harus dibayar mahal dengan serangan fitnah, konspirasi, penjara, dan bahkan
pembunuhan. Karena itu menilai keunggulan manusia bukan hanya pada kiprah suatu
saat, tetapi juga pada dampak-2nya bagi kehidupan dan masyarakat setelah ia
tiada.
19 Maret 2015
Sahabat, novelis Inggris yg lahir di Paris,
Perancis, W Somerset Maugham (1874-1965), mengatakan: "Kalaupun seseorang
kadangkala terpaksa membohongi orang lain, tetap saja akan sangat merendahkan
dirinya jika ia pun masih mau berbohong terhadap dirinya sendiri.“
Kejujuran, terutama terhadap diri sendiri,
merupakan modal utama agar keseimbangan dalam kehidupan dapat diupayakan. Jika
jujur terhadap diri sendiri saja sudah sulit dilakukan, maka semakin besar
kemungkinan utk tidak jujur kepada pihak lain. Kebohongan pun kemudian menjadi
'normal' dan dianggap hanya sebagai salah satu taktik atau strategi belaka.
Bukan sesuatu yang prinsip.
18 Maret 2015
Sahabat, filsuf dan mahaguru hukum konstitusi
AS, Ronald Dworkin (1931-2013), mengatakan: "Integritas moral adalah kunci
untuk memahami praktik hukum. Kekuatan hukum ditentukan oleh perilaku, dan
bukan oleh wilayah, kekuasan, maupun proses."
Dalam praktik di dunia hukum,
posisi Hakim sangat menentukan. Ia menginterpretasikan hukum berlandaskan
prinsip-2 moral yang dipercaya dan dipegang teguh oleh masyarakat. Khususnya
prinsip-2 ttg keadilan dan tak diskriminatif atau fairness. Jika seorang hakim
hanya berdiam diri ketika ada ketidak adilan atau potensi kekacauan, dengan
alasan khawatir tindakannya akan menciptakan persoalan, maka dia sejatinya telah
melanggar integritas moral yang menjadi landasan dari keberadaannya.
17 Maret 2015
Sahabat, filsuf aliran Sekolah
Frankfurt Jerman, Juergen Habermas, mengatakan: "Dipandang dari perspektif
moral, tidak ada alasan pembenar apapun bagi aksi terorisme, terlepas dari
apapun motif dan situasi yang menyebabkan para pelakunya melaksanakan aksi
tersebut."
Prinsip moral bahwa tidak ada
legitimasi apapun utk aksi teror berlaku utk siapapun pelakunya, termasuk yang
berasal dari negara, masyarakat sipil, dan/ atau individual. Maraknya gagasan
dan praksis teror yang mendapat dukungan sementara pihak di semua bagian dunia
menunjukkan adanya krisis prinsip moral tersebut di tataran global, nasional,
sosial, dan individual.
16 Maret 2015
Sahabat, tokoh Muslim kulit hitam Amerika,
Malcolm X (H. Malik El-Shabazz, 1925-1965), mengatakan: "Seperti layaknya
minum kopi, jika terlalu hitam dianggap terlalu keras/pahit. Apa yg anda
lakukan? Anda mencampurnya dg susu supaya tak terlalu keras/pahit. Namun kalau
susunya terlalu banyak, anda tdk merasakan lagi kopi itu. Kopi yg dulunya
diminum panas2, kini diminum dingin. Yg dulunya keras/ pahit, kini jadi hambar.
Yg dulunya membuat anda tetap melek, kini malah bikin lelap!"
15 Maret 2015
Sahabat, filsuf Yunani Kuno,
Epicurus (341-217 SM), mengatakan: "Seandainya para Dewa mengabulkan semua
keinginan dan doa manusia, niscaya ummat manusia akan musnah dalam tempo tak
lama. Sebab kebanyakan manusia saling menginginkan dan mendoakan agar keburukan
menimpa satu sama lainnya."
Mengupayakan suatu peri kehidupan
yang damai dan sejahtera bukan hanya
dimanifestasikan dalam praksis
atau kegiatan yang bersifat fisik, tetapi diawali dari cita-cita,
harapan-harapan, gagasan, pemikiran. Gagasan dan pikiran yang menonjolkan pada
kekerasan dan pengingkaran terhadap keberadaan liyan tentunya akan mempengaruhi
perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, terutama masyarakat yang majemuk.
Demikian pula sebaliknya.
14 Maret 2015
sahabat, penulis dan mahaguru
jurnalisme AS, Charles Seife, mengatakan: "Sistem peradilan tidak mungkin
sepenuhnya terbebas dari kebohongan dan distorsi-2. Sebab, bagaimanapun juga,
gedung Pengadilan itu dipenuhi oleh para ahli hukum dan pengacara."
Hukum idealnya memang memberikan jaminan akan
terpenuhinya rasa keadilan dalam masyarakat. Dalam praktiknya, hukum bisa jadi
malah berperan sebaliknya. Sebab hukum dan keadilan tetap saja memerlukan
perantara yang terdiri atas para ahli hukum, praktisi hukum, dll. Jika pihak-2
ini tidak mendapat pengawasan secara ketat (legal, politik, moral), maka justru
yang akan terjadi adalah maraknya ketidak adilan.
13 Maret 2015
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi
Thalib (Karromallahu Wajhah), memberi kiat agar kehidupan kita sejahtera lahir
dan bathin: "1) Jangan engkau terlalu membenci seseorang kendati ia telah
mempersulitmu; 2) Janganlah hidup berlebih-2an kendati engkau kaya raya; 3)
Berfikirlah positif kendati engkau sedang menghadapi kesulitan; 4) Berikanlah
yg lebih besar kendati engkau menerima lebih kecil; 5) Ajaklah bersilaturrahim
kendati kpd mereka yg sudah melupakanmu; 6) Berikanlah maafmu kepada mereka yg
berbuat salah padamu; dan 7) Jangan engkau berhenti mendoakan mereka-2 yg kamu
cintai." SELAMAT MENGAMALKANNYA.
12 Maret 2015
Sahabat, di dalam Bhagawatgita dikatakan:
"Lebih baik gugur dalam melaksanakan swadharma yang niscaya membawa kepada
kemuliaan, ketimbang terlibat dalam paradharma yang membuat seseorang diliputi
rasa takut dan ragu."
(3: 35) Swadharma berarti tugas dan kewajiban
yg sesuai potensi diri, sedang paradharma adalah sebaliknya (tidak sesuai
potensi diri). Manusia tumbuh dan berkembang hendaknya mencari dan melaksanakan
potensi diri secara konsisten. Kesejahteraan, kemajuan, dan kedamaian dalam
kehidupan umat manusia akan tercapai manakala pelaksanaan swadharma tersebut
menjadi rule (aturan umum), bukan exception (pengecualian).
11 Maret 2015
Sahabat, penulis dan aktivis feminis AS,
Gloria Steinem, mengatakan: "Saya belum pernah mendengar ada seorang
laki-laki yang mencari nasihat tentang bagaimana caranya menggabungkan karir
dengan kehidupan rumah tangganya."
Salah satu bukti masih
persistennya kesenjangan jender dapat dilihat pada wacana tentang kaitan antara
karir dan kehidupan rumah tangga. Wacana tersebut menjadi topik dominan yang
ditujukan kepada perempuan, seakan-akan karir bukanlah sesuatu yang 'lazim' dan
menjadi masalah mereka ketika telah berumah tangga. Sehingga kadang dua hal tsb
dianggap sebagai sebuah dikotomi, 'either/or', atau dua hal yang mesti dipilih
salah satu. Anehnya, laki-laki nyaris tidak pernah menganggap hal itu 'berlaku'
bagi mereka, seakan-akan persoalan karir dan rumah tangga bukanlah domain
persoalan lelaki. Maka kaum lelaki pun merasa dirinya lebih unggul ketimbang
perempuan karena dia tdk punya 'persoalan' tsb.
10 Maret 2015
Sahabat, novelis dan peraih Nobel
kesusasteraan dari Turki, Orhan Pamuk, mengatakan: “Persoalan sebenarnya adalah
sebesar apa penderitaan yang telah kita ciptakan bagi kaum perempuan dengan
cara merubah penutup kepala menjadi sekadar simbol belaka - dan kemudian
menggunakan mereka sebagai permainan politik?"
Pertarungan ideologi muncul dalam berbagai
bentuk, termasuk simbolisasi dan penciptaan 'subyektivitas' kaum perempuan.
Penutup kepala, hijab, jilbab, dll yang sejatinya merupakan sebuah ekspressi
budaya yang luhur, kemudian berubah menjadi ladang peperangan ideologi melalui
politik simbolisasi. Hasilnya, alih alih ia memuliakan kaum perempuan, justru
malah membuat stigmatisasi, eksklusifisme, dan arogansi, serta membuka jalan
bagi politik pecah belah.
9 Maret 2015
Sahabat, penulis dan pakar pengobatan
alternatif terkemuka asal India, Deepak Chopra, mengatakan: "Kutukan
terburuk yang menimpa seseorang adalah kemandegan, keberadaan yang membosankan,
dan kenestapaan yg dihasilkan oleh keperluan utk selalu mengikuti arus."
Kehidupan manusia bersifat dinamis dan
menantang kiat utk dinamis. Jiwa yang statis, apalagi stagnan, merupakan
penghambat kreatifitas seseorang sehingga ia akan mudah ditundukkan oleh status
quo. Hasilnya adalah suatu kehidupan yang membosankan dan tidak menggairahkan
atau menstimulir kreatifitas.
8 Maret 2015
sahabat, penyair Amerika asal
Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Kala dirimu berpisah
dengan sahabat tercinta/ Jangan terlalu tenggelam dalam duka/ Kerna yang paling
engkau cinta darinya/ Mungkin akan makin nyata/ Dengan ketiadaannya/ Seperti
gunung dan para pendakinya/ Lebih terang ketika ia menjauhinya."
Keutamaan seseorang seringkali terlihat dan
muncul saat ia telah tidak beserta kita. Kita merasa kehilangan karena kemudian
terbukti ada berbagai kelebihan yang tak kita sadari dan ketahui saat bersama
kita, bahkan kadangkala diabaikan atau dicemooh.
7 Maret 2015
Sahabat, penemu termasyhur,
Thomas Alva Edison (1847-1931), mengatakan: "Keresahan adalah ketidakpuasan
terhadap sesuatu. Ketidakpuasan adalah keniscayaan pertama bagi kemajuan.
Tunjukkan saya seseorang yang puas dalam segala-galanya dan saya akan tunjukkan
kepada anda sebuah kegagalan."
Dalam kehidupan manusia
ketidakpuasan sejatinya bisa dimaknai secara positif yakni sebagai pendorong
bagi perubahan positif dan kemajuan. Peradaban dan kebudayaan manusia pada
hakekatnya tumbuh dan berkembang karena ada faktor ketidakpuasan dan keinginan
untuk lebih maju dan lebih baik. Pemimpin yang baik adalah yang mampu mengelola
aspek ini secara positif untuk menjadi daya dorong bagi kemajuan. Pemimpin yang
hanya berpuas diri dan tidak mendorong perubahan adalah pemimpin yang gagal.
6 Maret 2015
Sahabat, Presiden AS ke 33, Harry
S. Truman (1884-1972), mengatakan: "Para pemberani tidak hanya dimiliki
oleh satu negara tertentu saja. Saya menghormati keberanian di manapun saya
menjumpainya."
Karakter pemberani bisa ditemukan
di mana pun dan dalam masyarakat apapun. Seorang pemimpin yang memiliki
karakter pemberani tidak hanya karena punya fisik gagah. Sebab karakter itu
adanya dalam jiwa yang kemudian terlahir secara konsisten dalam ucapan dan
perbuatan kongkrit. Seorang pemimpin bisa saja punya fisik yang super gagah
dan/atau punya pengalaman militer atau olahragawan bina raga, tinju, dsb.
Tetapi jika karakternya bukan seorang pemberani, maka ia tdk berani mengambil
berbagai keputusan beresiko pada situasi kritis dan sulit.
5 Maret 2015
Sahabat, spiritualis asal suku
bangsa Indian Sioux, Black Elk (1863-1950), mengatakan: "... Seorang yang
menyatakan diri punya kemampuan bisa melihat jauh ke masa depan, belum bisa
dipercaya sampai suatu saat ia mampu mewujudkan kemampuan tersebut dengan
disaksikan oleh semua orang."
Pembuktian adalah hal yang utama
dan terutama dari seorang pemimpin. Kendati pemimpin mengklaim, dicitrakan, dan
dipuja-puji sebagai orang besar dan punya kapasitas luar biasa, tetapi jika ia
tak mampu membuktikan dengan perbuatan-2 yang kongkrit, tentu semuanya hanya
tinggal klaim dan pencitraan belaka.
4 Maret 2015
Sahabat,filsuf India, Swami
Vivekananda (1863-1902), mengatakan: “Selama masih ada jutaan rakyat yang
berada dalam kondisi kelaparan dan kebodohan, maka siapapun yang telah mendapat
pendidikan dengan uang rakyat tetapi tidak peduli kepada mereka, saya anggap
termasuk penghianat."
Mereka yang berpendidikan
hendaklah mengembalikan sumbangsih rakyatnya kepada yang masih berada dalam
kondisi terkebelakang. Bukan malah menggunakan kepandaiannya untuk mencuri dan
menindas dengan sewenang-wenang kaum lemah dan terpinggirkan. Tanggungjawab
sosial kaum berpendidikan sangat berat karena mereka bertanggungjawab, langsung
maupun tidak, terhadap kemajuan dan kemunduran rakyat di sebuah negara.
3 Maret 2015
Sahabat, Presiden Amerika ke 32, Franklin
Delano Roosevelt (FDR, 1882-1945), mengatakan: "Dalam politik, tak pernah
ada suatu peristiwa yang terjadi hanya karena kebetulan. Seandainya hal seperti
itu terjadi, anda bisa bertaruh bahwa ia memang dirancang supaya kelihatan
seperti itu."
Peristiwa-2 politik seringkali
mengagetkan dan penuh dengan 'surprise' dan kejutan. Karena itu lantas diberi
'cap' sebagai seni dari segala kemungkinan (dan ketidak-mungkinan). Politik
adalah kreasi dan rekayasa (engineering) yg penuh dengan segala trick dan
kamuflase. Namun pada dasarnya, secara etika, politik adalah usaha manusia utk
mengelola sumberdaya kekuasaan utk kepentingan bersama.
2 Maret 2015
Sahabat, filsuf Inggris, Bertrand Russell
(1872-1970), mengatakan: "Sistem-sistem demokrasi masih cenderung
berprasangka bhw orang yang dungu mungkin lebih jujur ketimbang yang pintar.
Karena itu para politisi lantas mengambil manfaat dengan berpura-2 lebih dungu
lagi ketimbang yang diberikan oleh alam kpd mereka."
Dalam praktik demokrasi, sangat
riskan jika terlalu mengidolakan kekuatan massa rakyat di atas kekuatan
pemikiran dan pencerahan. Karena massa adalah rakyat yg 'lugu', maka dianggap
juga sebagai rakyat yang lebih 'jujur' dan 'tulus.' Akibatnya, para politisi pun
menggunakan cara-2 manipulatif utk memobilisasi massa demi kepentingan mereka,
dan mengabaikan penalaran dan kecerdasan. Praktik demokrasi kemudian berubah
menjadi upaya menang-menangan dg mengandalkan keroyokan massa. yg ditopang oleh
kekerasan para elit.
1 Maret 2015
Sahabat, Kaisar Romawi Kuno, Marcus Aurelius
(180-128 SM), mengatakan: "Jadilah seperti batu karang yang selalu diterpa
ombak. Tetapi ia tetap berdiri kokoh dan mampu melenturkan gempuran air di
sekitarnya."
Pemimpin yg berkarakter kuat, bukan
hanya tegar dan tegas dalam menghadapi tantangan tetapi juga mampu memberikan
solusi yang mencairkan ketegangan dan memperlunak permasalahan yang dihadapi.
APRIL
3 April 2015 ·
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi
Thalib (Karramallahu Wajhah), mengatakan: "Jangan biarkan kesulitanmu
menciptakan kecemasan yang berlebihan. Sebab, hanya di kala malam yang gelap
gulita cahaya bintang akan tampak cemerlangnya." Sudah menjadi naluri
manusia untuk merasa cemas ketika menghadapi kesulitan. Namun akan lebih baik
jika kecemasan tersebut tidak berlebihan sehingga membuat bertambahnya
kesulitan yg dirasakan. Justru dalam kesulitan dan kecemasan itu kita perlu
melakukan koreksi dan refleksi. Bisa jadi selain menghasilkan pemecahan juga
memberikan kita hikmah dari kesulitan yang kita hadapi.
1 April 2015 ·
Sahabat, filsuf dan sufi agung
asal Persia, Imam Al Ghazali (1058-1111), mengatakan: "Berjihadlah melawan
12 musuh yang tak tampak: egoisme, sombong, khianat, mementingkan diri,
serakah, nafsu seksual, intoleransi, kemarahan, kebohongan, menipu, gosip, dan
fitnah. Jika kamu berhasil mengontrol dan mengalahkan mereka, maka kamu akan
siap berjihad melawan musuh-2 yang tampak." Berjuang melawan musuh yg ada
dalam diri setiap pribadi, kendatipun tak tampak, bukan berarti lebih ringan
ketimbang musuh-2 yang kelihatan dan besar serta menakutkan. Bahkan mungkin
saja perjuangan tersebut tidak kunjung paripurna selama hayat dikandung badan.
2 April 2015 ·
Sahabat, filsuf dan penulis
Inggris masa Pencerahan, Thomas Paine (1737-1809), mengatakan:
"Barangsiapa berharap untuk bisa memperoleh manfaat dari kemerdekaan, ia
harus juga bersiap-siap bercapai-lelah untuk terus mempertahankannya."
Kemerdekaan dan kebebasan yang menjadi dasar bagi kemajuan dan kebesaran
seseorang atau sekelompok orang termasuk bangsa, bukanlah suatu hal yang jatuh
dari langit. Ia harus diperjuangkan, direbut, dan terus menerus dipertahankan
melalui upaya yang tak ada hentinya. Sayangnya, jarang sekali orang merasakan
penting perjuangan tersebut sampai ketika kemerdekaan dan/atau kebebasan mereka
terancam dan bahkan terenggut darinya.
3 April 2015 ·
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi
Thalib (Karramallahu Wajhah), mengatakan: "Jangan biarkan kesulitanmu
menciptakan kecemasan yang berlebihan. Sebab, hanya di kala malam yang gelap
gulita cahaya bintang akan tampak cemerlangnya." Sudah menjadi naluri
manusia untuk merasa cemas ketika menghadapi kesulitan. Namun akan lebih baik
jika kecemasan tersebut tidak berlebihan sehingga membuat bertambahnya
kesulitan yg dirasakan. Justru dalam kesulitan dan kecemasan itu kita perlu
melakukan koreksi dan refleksi. Bisa jadi selain menghasilkan pemecahan juga
memberikan kita hikmah dari kesulitan yang kita hadapi.
4 April 2015 ·
Sahabat, pejuang anti-kekerasan
India, Mahatma Gandhi (1869-1948), mengatakan: "(Yesus) adalah orang yang
sama sekali tak bersalah, (tetapi beliau) menawarkan dirinya utk dikorbankan
demi kebaikan orang-2 lain termasuk musuh-2nya, dan menjadi tebusan bagi dunia.
Itulah sebuah tindakan yang paling sempurna." Sebuah refleksi yang sangat
bermakna bagi semua orang yang mendambakan kedamaian di dlm kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yg saat ini sedang menyaksikan maraknya
kekerasan dan ketifakadilan. Selamat memperingati Paskah bagi para sahabat
kristiani.
5 April 2015 ·
Sahabat, novelis peraih Nobel
kesusasteraan asal Lithuania, Czeslaw Milosz (1911-2004), mengatakan: “Dalam
sebuah ruangan di mana semua orang bersekongkol untuk tutup mulut, maka satu
kata kebenaran akan terdengar seperti letusan tembakan pistol." Menyatakan
suatu kebenaran yang sederhana, bisa beresiko sangat serius dalam suatu
masyarakat yang telah terbiasa dan dibiasakan utk hidup dalam kebohongan. Sebab
kebohongan tsb bisa muncul sebagai kenyataan, kenormalan, dan bahkan
'kebenaran'. Para Rasul, Nabi, cendekiawan, budayawan, pejuang, dan mereka yang
menyampaikan kebenaran pasti menghadapi tantangan dan mengambil resiko-resiko
besar di tengah-tengah masyarakat yang menganggap kebohongan sebagai hal yang
normal.
6 April 2015 ·
Sahabat, dalam Serat Nitiprana,
ciptaan Pujangga Jawa, R. Ng. Yasadipura (1729-1803), dikatakan : "Mancur
ing tyas iku anyumuki/ marang badan awakira dhawak/ sumrambah kabecikane/
nyupet cilakanipun/ suka sukur ingkang pinanggih/ uga manggih kagungan/ sinebut
wong agung/ anggenggeng santosanira/ rinasan wong iku ambek basuki/ ngusweng
tyas karaharjan." (Pancaran hati mempengaruhi pribadi dan kebaikannya
menghilangkan malapetaka. Sikap bersyukur merupakan keagungan, kemuliaan, dan
sentosa. Ia disebut orang baik karena budinya dan telah meraih kebahagiaan
dalam hati). Suasana batin seseorangakan memancarkan efeknya pada kondisi fisik
seseorang. Jika batin penuh dengan rasa syukur, maka akan terfleksikan juga
pada perilakunya. Ada rasa bahagia yang bisa menular kepada kehidupan
sekitarnya. Bersyukur, bukan hanya utk diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi
lingkungan anda.
7 April 2015 ·
Sahabat, teolog asal Swiss, Hans
Kung, mengatakan: "Berulang kali kita menyaksikan bagaimana para agamawan
dan pengikut-2 mereka menyulut agresi, fanatisme, kebencian, dan xenofobia.
Mereka bahkan menyulut dan mengabsahkan penggunaan kekerasan dan konflik-2
berdarah." Sejarah menyaksikan dan mencatat berbagai kejahatan atas
kemanusiaan yang bersumber dari perilaku para agamawan dan pengikutnya. Mereka
memanipulasi ajaran-ajaran agama dan keyakinan mereka utk mengabsahkan konflik
dan kekerasan terhadap sesama manusia. Ajaran agama-2 yang secara azali
merupakan sebuah respon yg memberikan jalan penyelamatan dan kebahagiaan
manusia diubah dan direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi kontradiktif
pada tataran pelaksanaannya. Ajaran-2 tsb diubah fungsinya, dari yg semula
adalah petunjuk utk kebahagiaan menjadi sumber petaka bagi kemanusiaan.
8 April 2015 ·
Sahabat, pengarang terkemuka dari
Perancis, Marcel Proust (1871-1922), mengatakan: "Seyogyanya kita perlu
berterimakasih kepada orang-2 yang telah membuat kita bahagia. Mereka itu
ibarat para pekebun bunga yang membuat jiwa kita bermekaran." Kebahagiaan
adalah hasil dari sebuah keterlibatan (engagement) antara seseorang dengan
pihak lain. Tak ada salahnya jika kita berbagi dan berterimakasih kepada
orang-2 sekitar kita yang, sadar atau tidak, sejatinya telah ikut bersaham
dalam kebahagiaan kita. Sharing kebahagiaan kita dengan yang lain akan semakin
memberikan makna dalam kehidupan.
9 April 2015 ·
Sahabat, filsuf eksistensialis
asal Rusia, Nikolai Berdyaev (1874-1948), mengatakan: "Persoalan tentang
ketersediaan roti utk (makanan) saya adalah persoalan material. Tetapi
persoalan tentang ketersediaan roti utk (makanan) para tetangga saya, adalah
perosalan spiritual." Keberadaan kita sebagai manusia, baik pribadi maupun
kelompok, tak terpisahkan dari liyan dan kepentingan mereka. Bahkan dalam
konteks tertentu diperlukan sikap dan etika tanggungjawab utk leih
mengedepankan kepentingan-2 liyan tersebut apabila mengalami persoalan
eksistensial, seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
10 April 2015 ·
Sahabat, Sufi Agung dari Persia,
Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Engkau bukanlah setetes
air dalam samudera, tetapi engkau (sejatinya) adalah samudera itu sendiri yang
menjadi setetes air." Manusia ciptaan Tuhan memiliki potensi yang luar
biasa; tergantung dirinya sendiri apakah potensi itu hanya akan berhenti
sebagai potensi atau bahkan tdk disadari dimilikinya. Ataukah potensi itu akan
dikembangkan sejauh mungkin bagi kebaikannya serta kebaikan masyarakat serta
lingkungannya. Keberadaan manusia ikut ditentukan oleh bagaimana ia melakukan
pengembangan potensi diri tersebut.
11 April 2015 ·
Sahabat, Filsuf, Sufi,
matematikawan, dan penyair termasyhur dari Iran, Omar Khayyam (1048-1131),
mengatakan: "Di balik langit dan bumi/ Aku bersusah payah jelajahi/ Surga
dan Neraka yang kucari/ Lalu kudengar suara ini/ 'Surga dan Neraka ada dalam
diri'." Keber-agamaan yang formalistik tidak mampu menjawab tantangan kemanusiaan,
karena ia hanya terpaku pada satu dimensi yakni tampilan luar. Keber-agamaan
melibatkan berbagai dimensi, termasuk tanggungjawab sosial dan juga kebersihan
nurani sebagai manusia. Tanpa kesadaran ruhaniah dan sosial, maka keber-agamaan
menjadi kering dan bahkan egoistik.
12 April 2015 ·
Sahabat, pemimpin Bhudist dari
Tibet, Dalai Lama ke XIV (lahir 1935), mengatakan: "Manusia menempuh jalan
yang berbeda-beda dalam rangka mencari pemenuhan diri dan kebahagiaan mereka.
Kalau pun diantara mereka tidak menempuh jalan yang anda gunakan, tidak berarti
mereka itu pasti telah tersesat." Mengetahui, memahami, dan mengapresiasi
keberbagaian dan kemajemukan, termasuk dalam hal budaya, orientasi nilai-nilai,
dan keyakinan, akan meningkatkan kualitas dan kemampuan kita sebagai pribadi
dan anggota masyarakat. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia
kemampuan ini akan berkontribusi besar dalam membangun dan mencapai kemajuan.
13 April 2015 ·
Sahabat, penulis terkemuka dan
aktivis gerakan Solidaritas, Polandia, Adam Michnik (lahir 1946), mengatakan:
"Ketika anda sedang berkuasa, sangat mungkin bila anda buta dan tuli
terhadap sinyal-sinyal (peringatan dan kritik) yang ada di luar anda."
Para penguasa baik dalam sistem totaliter dan otoriter memiliki karakter yang
mirip, yaitu tidak mau melihat dan mendengar kritik dan peringatan publik
ketika mereka melakukan kesalahan dan penindasan.Dalam sistem demokrasi, kritik
dan peringatan publik adalah suatu keniscayaan karena pada hakekatnya kekuasaan
adalah amanah publik. Namun bukan tidak mungkin para penguasa dlm sistem
demokrasi juga mencoba meniru penguasa totaliter dan otoriter dg mengabaikan
kritik dan peringatan publik tsb.
14 April 2015 ·
Sahabat, novelis Perancis, Albert
Camus (1913-1960) mengatakan: "Berbagai kejahatan yang terjadi di dunia
nyaris selalu bersumber dari ketidakpahaman. Bahkan, niatan-2 yang baik pun
bisa berakibat yang sama dengan kejahatan jika tidak didukung oleh saling
memahami." Sikap saling memahami perbedaan dalam sebuah masyarakat yang
kompleks dan majemuk adalah syarat utama bagi sebuah kehidupan yang produktif,
damai, dan sejahtera. Memahami tdk berarti setuju total, tetapi bisa saling
memberikan peringatan, krtitik, dan masukan karena mereka share nasib yang sama
sebagai manusia yg memiliki keterbatasan.
15 April 2015 ·
Sahabat, penyair Inggris di era
victorian, Lord Byron (1788-1824), mengatakan: "Rasa cinta diri adalah
ibarat seekor ular berbisa yg selalu merayap dan menyemburkan bisanya pada apa
saja yg menghalangi dirinya." Manusia harus selalu berhati2 dan berusaha mengelola
rasa cinta dan kebanggaan thd diri sendiri agar tidak berlebihan dan membahayan
dirinya serta orang2 sekitarnya. Cinta diri yg berlebihan akan meracuni jiwa
dan membuat keseimbangan dlm kehidupan terganggu dan bahkan rusak.
16 April 2015 ·
Sahabat, spiritualis Budhis dari
Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Kita bukanlah semacam barang gadaian
yg pasif dari kekuatan-kekuatan sejarah. Kita juga bukan hanya korban-korban
dari masa lalu. Kita adalah manusia yang mampu membentuk dan mengarahkan perjalanan
sejarah." Memahami sejarah dan belajar darinya adalah sebuah keniscayaan
jika kita ingin melakukan perubahan dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan di
masa lalu. Manusia memiliki kemampuan utk memengaruhi gerak perubahan, sehingga
ia tidak melestarikan ketertindasan dan keterbelakangan. Manusia adalah
satu-2nya mahluk yang menyadari kesejarahannya dan menggunakannya utk melakukan
perbaikan kondisinya di masa depan.
17 April 2015 ·
Sahabat, Sufi dan Filsuf agung
Imam Al-Ghazaly RA (1057-1111), mengatakan: "Setiap tarikan nafasmu adalah
ibarat permata yang tak ternilai harganya karena ia tak akan tergantikan.
Sekali ia hilang, ia tidak akan kembali lagi." Jalanilah kehidupan yang
diberikan oleh sang Maha Pencipta dengan memanfaatkannya bagi diri dan lingkungan
anda. Setiap saat kita harus selalu menyadari bahwa kehidupan adalah sesuatu
yang paling berharga, dan tidak ada lagi yang melebihinya. Hidup mesti
produktif, baik secara jasmaniah maupun rokhaniah. Jika kita menyia-nyiakannya,
maka hal itu berarti pula menyia-nyiakan pemberianNya.
18 April 2015 ·
Sahabat, filsuf eksistensialis
dari Denmark, Soren Kierkegaard (1813-1855), mengatakan: "Jika seseorang
sedang berada dalam suatu keputusan utk bertindak, lalu ia menilai tindakannya
hanya dari sisi hasil yg akan didapatnya, maka ia tak akan pernah mulai."
Dalam melakukan tindakan penting, termasuk di dalamnya pengambilan keputusan,
tentu diperlukan berbagai pertimbangan termasuk hasil yang akan dicapai.
Kendati demikian, masalah hasil yang akan dicapai tsb tidak boleh menjadi
satu-2nya bahan pertimbangan dalam tindakan. Sebab keraguan akan hasil bisa
menghentikan dan memberantakkan keputusan utk bertindak itu sendiri.
19 April 2015 ·
Sahabat, tokoh Teologi Pembebasan
(Liberation Theology) asal Spanyol, Jon Sobrino, SJ (lahir 1938), mengatakan:
“Beriman kepada Tuhan bukanlah hanya sekadar mencintai kehidupan saja, tetapi
juga bekerja keras sehingga kehidupan itu terwujud." Salah satu
manifestasi keber-agamaan (religiositas) adalah dalam menyikapi kehidupan.
Salah satunya adalah sikap yang aktif utk mengupayakan kehidupan yang
bermanfaat bukan saja bagi diri sendiri, tetapo juga bagi sekitarnya. Sikap
yang aktif juga berarti iku dalam upaya membebaskan manusia dari ketertindasan
dan ketidakadilan, dengan segala kemampuan yang dimiliki. Dengan elan seperti
itu, mencintai kehidupan bisa mewujud menjadi suatu ekspressi keimanan
20 April 2015 ·
Sahabat, Presiden RI ke I, Bung
Karno, Putra Sang Fajar (1901-1970), mengatakan: "Jikalau ingin menjadi
satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk
bekerja, perlu pula mempunyai “imagination!.." Pemimpin yang memiliki
kemampuan melakukan perubahan-2 besar, dan memiliki daya tarik yang besar
memiliki kekuatan imajinasi yang juga besar. Sedemikian besar imajinasi
tersebut sehingga bagi orang-orang awam akan dianggap sebagai utopia. Dan oleh
lawan-lawannya akan dijonru dan dilecehkan. Tetapi karena imajinasi itu dapat
diwujudkan dalam proses sejarah, maka sang pemimpin pun akan menjadi kenangan
dan teladan serta rujukan selama-lamanya. Seperti BK.
21 April 2015 ·
Sahabat, pejuang
anti-kolonialisme, filsuf, dan spiritualis India, Sri Aurobindo Ghose
(1872-1950), mengatakan: "Keberadaan kemiskinan adalah bukti paling nyata
keberadaan sebuah mayarakat yang tidak adil dan lemah pengorganisasiannya.
Kedermawanan-2 publik hanya ibarat kesadaran seorang perampok yang sudah
telat." Pemberantasan kemiskinan tidak hanya dilakukan dengan membentuk
dan mengembangkan kesalehan-2 pribadi, seperti usaha-2 karitatif. Tetapi ia
harus pula didukung dengan upaya perbaikan/perubahan struktural yang menjadi
penyebab proses kemiskinan dan pengokohannya. Kerja-2 karitatif tanpa perubahan
struktural akan muspro dan bahkan bisa melestarikan kemiskinan.
22 April 2015 ·
Sahabat, peraih Nobel dalam
fisika, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Kebijaksanaan bukanlah
sebuah produk dari bersekolah, tetapi dari usaha keras seumur hidup untuk
mendapatkannya." Pendidikan formal adalah salah satu saja dari upaya memberikan
bekal kepada generasi muda agar lebih siap dalam menghadapi tantangan
kehidupan. Pada akhirnya, pengalaman dalam hidup itulah yang akan menempa dan
membentuk kepribadiannya. Sistem pendidikan formal yg menghalangi terbentuknya
sikap dan perilaku yg berani menghadapi tantangan kehidupan, akan menghancurkan
generasi muda itu.
23 April 2015 ·
Sahabat, pelukis masyhur dari
Spanyol, Salvador Dali (1904-1989), mengatakan: "Perbedaan antara memori-2
sejarah yang asli dan palsu, tak jauh beda dengan perbedaan permata. Penampakan
permata-2 yang palsu seringkali lebih kinclong dan asli." Apa yang
tampaknya normal, beres, dan bahkan indah secara kasatmata belum tentu bisa
dipercaya begitu saja. Diperlukan pembuktian akan kebenaran dan keaslian
tampilan-2 tersebut. Hal ini termasuk narasi sejarah yang digunakan sebagai
referensi utk memahami masa lalu dan memperbaiki masa kini dan masa depan.
24 April 2015 ·
Sahabat, tokoh Muslim Amerika,
Malcolm X atau Malik El-Shabazz (1925-1965), mengatakan: "Media adalah
entitas paling berkuasa di planet bumi ini. Mereka mampu membuat pihak yang tak
bersalah menjadi salah, dan pihak yang salah menjadi tak bersalah. Itulah
kekuasaan. Media mampu mengontrol pikiran massa rakyat." Kekuasaan yang
dimilik oleh media harus mendapat pengawalan dan pengawasan dari publik yang
menjadi pihak pemangku kepentingan. Jika media sudah menjadi bagian dan/atau
instrumen dari industri, bisnis, dan politik, maka demokrasi terancam
kelestariannya. Masyarakat modern dan demokratis memerlukan kehadiran media
yang mampu memberikan informasi akurat dan opini yang mencerahkan.
25 April 2015 ·
Sahabat, sejarawan dan filsuf
Islam, Ibn Khaldun (1332-1406), mengatakan: "Propaganda keagamaan
memberikan tambahan kekuatan kepada suatu penguasa selain sentimen kelompok
yang mereka miliki berasal dari para pendukungnya." Ideologi, termasuk yang
dikembangkan dari sentimen keagamaan, adalah komponen utama semua sistem
politik dan kekuasan. Ajaran agama yang menjadi sumber bisa jadi dikalahkan
oleh ideologi yang sejatinya hanya merupakan gagasan manusia yg sarat dg
kepentingan pribadi dan kelompok. Ajaran agama malah kemudian menjadi musuh
dari ideologi dan para pendukungnya.
26 April 2015 ·
Sahabat, novelis dan jurnalis
Inggris, Daniel Defoe (1661-1731), mengatakan: "Dimana Tuhan membangun
rumah-2 peribadatan, di situ Setan selalu akan membangun kapel-kapel. Dan jika
diselidiki dengan seksama, yang disebut terakhir itu ternyata lebih banyak
pengikutnya." Kebajikan, kesalehan, dan keutamaan akan selalu mendapat
saingan, tantangan, dan tandingan dari lawan-2nya. Bahkan lawan-2 tersebut bisa
tampil dalam bentuk yang sama, sehingga susah utk dibedakan. Kekerasan dan
kekejaman dengan sangat mudah dilakukan atas nama kebajikan, kesalehan, dan
keutamaan.
27 April 2015 ·
Sahabat, penyair dan dramawan
Inggris, Oscar Wilde (1854-1900), mengatakan: "Pendidikan jelas merupakan
perkara yg sangat penting. Namun ada kalanya perkara2 yg sejatinya amat
berharga utk diketahui ternyata tidak bisa hanya (diperoleh) melalui pendidikan
semata." Manusia tumbuh dan berkembang melalui proses, termasuk
pendidikan. Pendidikan yg baik akan menuntun ke arah kemajuan dan keadaban.
Namun demikian, ia perlu dilengkapi dg pengalaman dalam kancah perjuangan.
Pengalaman selain merupakan guru yg baik juga merupakan penguji yang obyektif
dan tanpa kompromi.
28 April 2015 ·
Sahabat, filsuf asal Skotlandia,
Thomas Carlyle (1795-1881), mengatakan: "Sebongkah batu granit akan
dipandang sebagai penghalang jalan oleh orang yang lemah, tetapi bagi orang
yang kuat justru dianggap sebagai batu loncatan." Kapasitas mental yang
dimiliki pribadi orang-per-orang, kelompok, masyarakat, dan bangsa ikut
menentukan bagaimana memandang persoalan, rintangan, halangan, dan hambatan yg
dihadapinya. Mental yg lemah akan menganggap semua hal menjadi alasan utk
mundur dan kalah, bahkan menyalahkan pihak lain. Mental yang kuat akan
mempersepsikan semua masalah tsb menjadi bagian dari proses yang mesti
dilewati, dikelola, dan dicari segi positifnya.
29 April 2015
Sahabat, penulis asal
Cekoslowakia, Milan Kundera (lahir 1929), mengatakan: "Perjuangan manusia
melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa." Dalam
perjalanan sejarah, penguasa melakukan penindasan bukan hanya secara fisik,
mulai dari penjara sampai pada genosida. Tetapi mereka juga melakukan
penindasan terhadap ingatan para korbannya. Melalui represi terhadap ingatan
tersebut, maka kekejaman yang luar biasa pun menjadi terlupakan dan seolah-olah
normal. Karena itu perjuangan melalui ingatan tidak kalah pentingnya dibanding
perjuangan fisik, karena dengan ingatan tersebut semangat perjuangan akan terus
tertanam..
30 April 2015 ·
Sahabat, filsuf asal Jerman,
Arthur Schopenhauer (1788-1860), mengatakan: "Jika orang-2 yg berkemampuan
terbatas bersikap biasa, itu adalah suatu kejujuran. Tetapi jika orang-orang
yang punya kemampuan besar lalu bersikap biasa, maka hal itu adalah semacam
kemunafikan." Kemampuan, bakat, dan kesempatan yang dimiliki oleh
seseorang hendaknya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Mulai dari
memberikan pendidikan yang baik sampai dengan membuka kesempatan agar mengembangkan
pengalaman dalam kehidupan serta perjuangan. Menyia-nyiakan potensi manusia
adalah salah satu bentuk hipokrisi yg akan menjadikan kemunduran bagi diri
sendiri dan lingkungannya.
MEI
1
Mei 2015
Sahabat, novelis asal Rusia dan peraih Nobel
kesusateraan, Boris Pasternak (1890-1960), mengatakan: "Mereka yang sedang
berkuasa punya hasrat utk menciptakan mitos bhw mereka tidak bisa salah, dan
mereka akan melakukan apa saja demi mengabaikan kebenaran." Pengawasan dan
kontrol terhadap kelompok yang berkuasa sejatinya bernilai positif bagi mereka,
karena mengurangi kemungkinan mereka terjebak dalam ambisi yg mencelakakan.
Sebab kekuasaan bisa membuat para pemegangnya merasa tidak pernah keliru sehingga
jika tak terkontrol akan mencelakakan diri dan para pemangku kepentingan lain.
3
Mei 2015
Sahabat,
salah seorang pendiri bangsa dan negara serta pahlawan nasional Indonesia,
Sutan Sjahrir (1906-1966), mengatakan: "Perjuangan kita sekarang ini tak
lain dari perjuangan untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita. Kedewasaan
bangsa kita adalah jalan untuk mencapai kedudukan sebagai manusia dewasa bagi
diri kita." Kebebasan jiwa dan kedewasaan sebagai bangsa adalah dua
prasyarat bagi tercapainya kemajuan NKRI. Jika para bangsa Indonesia tak mampu
membebaskan jiwanya dari perangkap ketergantungan dan sistem politik dan budaya
feodal-otoritarianisme, maka mustahil akan menjadi bangsa yg dewasa. Ia akan
tetap seperti katak dalam tempurung, kendati jumlah manusianya sangat besar dan
memiliki potensi kekayaan luar biasa. Sebab kebebasan dan kedewasaanlah yg akan
membuat manusia bisa mandiri, kreatif, dan bertangungjawab.
5
Mei 2015
Sahabat,
Khonghucu (551-479 SM), mengatakan: "Memperhatikan dan mendengarkan
orang-orang yang jahat adalah langkah pertama menuju kejahatan itu
sendiri." Manusia memiliki tanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya.
Jika ia tahu sesuatu yang tidak bermanfaat atau bahkan membahayakan thd diri
dan lingkungannya, tetapi ia tetap mendekati dan bahkan mengikutinya, maka ia
juga harus bertangungjawab atas akibatnya. Menghindarkan diri dari sesuatu yang
merugikan dan membahayakan merupakan langkah strategis yang harus diupayakan,
baik sendiri maupun bersama-sama.
6
Mei 2015
Sahabat,
fisikawan peraih Nobel, Niels Bohr (1885-1962), mengatakan: "Fakta bahwa
sejak dahulu kala agama-2 menggunakan imaji, hikayat, dan paradoks-2 dalam
wacananya, menunjukkan bahwa tidak ada cara yg lebih pas utk menangkap
realitas-2 yang mereka gambarkan. Dan itu tak berarti bhw realitas-2 tersebut
bukan asli (genuine). Membagi realitas-2 hanya dari sisi obyektif dan subyektif
tidak akan membawa kita berkembang." Kompleksitas realitas dalam kehidupan
dan lingkungan manusia tdk bisa direduksi dg cara pandang yang dikotomistik, apalagi
dengan memaksakan cara pandang tsb sebagai yg paling sah. Memaksakan tafsir,
baik ttg ajaran agama maupun lainnya, tidak akan produktif dan mampu
menciptakan kesejahteraan lahir dan batin bagi kehidupan manusia.
8
Mei 2015
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah, mengatakan: "Kedengkian
adalah penyebab Qabil menjadi pembunuh pertama di dunia, dg membunuh saudaranya
sendiri, Habil. Dengki bagi manusia adalah ibarat karat bagi besi."
Kedengkian dan iri hati menjadi salah satu penyebab dari kebencian yang merusak
jiwa dan jasmani manusia. Kedengkian dan kebencian bisa saja dibalut dan
dibungkus dengan berbagai retorika dan alasan yang tampak menarik dan
"nalar'. Ia bahkan bisa muncul dalam aksi-aksi karitatif dan program-2
humanitarian. Kehati-2an dan kewaspadaan dalam mencermati bahaya kedengkian
akan menentukan jalannya kehidupan baik sebagai pribadi maupun anggota
masyarakat yg lebih luas.
9
Mei 2015
Sahabat,
novelis legendaris Jepang, Eiji Yoshikawa (1892-1962), mengatakan: "Puncak
gunung acapkali disebut sebagai tujuan pendakian. Padahal, sejatinya yang
membuat pendakian menggembirakan bukanlah puncak gunung itu sendiri, tetapi
kemampuan mengatasi rintangan dalam perjalanan menuju ke atas ..." Proses
"menjadi" adalah lebih penting ketimbang capaian, karena dalam proses
itu kita akan merasakan bagaimana menghadapi segala macam rintangan dan
halangan dan berjuang mengatasinya. Dalam proses itulah kita harus mengabil
keputusan: apakah kita akan terus atau menyerah. Ketika tujuan telah tercapai
dan kita merefleksikannya, akan kita sadari dan dapati bahwa perjuangan adalah
suatu capaian yg lebih besar.
12
Mei 2015
Sahabat,
mahaguru sastra, penulis terkemuka, dan aktivis pembebasan Palestina, Edward
Said (1935-2003), mengatakan: "Sejarah diciptakan oleh manusia, baik pria
maupun wanita. Oleh sebab itu sejarah juga bisa tidak diciptakan atau ditulis
ulang oleh mereka. Sejarah selalu ditulis dengan variasi-2 kesenyapan dan
penghapusan. Ia selalu mucul dengan berbagai jenis pemaksaan dan pemotongan-2
yg ditolerir." Sejarah sebagai salah satu hasil kreasi manusia selalu
mengandung tafsir dan karenanya rentan terhadap berbagai manipulasi, distorsi,
dan bahkan kepalsuan. Kekuasaan senantiasa mengikuti setiap upaya menuliskan
dan menafsirkan sejarah. Karena itu sejarah tentang apapun tak akan dan tak
mungkin tunggal. Sejarah ttg sesuatu adalah selalu 'sejarah-sejarah' ttg
sesuatu tsb.
13
Mei 2015
Sahabat,
filsuf eksistensialis asal Denmark, Søren Kierkegaard (1813-1855), mengatakan:
"Orang-orang menuntut untuk mendapatkan kebebasan berbicara sebagai
kompensasi kebebasan untuk berfikir yang jarang mereka gunakan." Hak
mengemukakan pendapat dan berbicara (freedom of speech) seharusnya juga
disertai dan diimbangi dengan hak untuk berfikir (freedom of thought). Kedua
hal itu mirip tetapi tidak sepenuhnya sama. Berbicara dan mengemukakan
pendapat, belum tentu juga diiringi dengan berfikir dengan nalar. Jika tidak
konggruen antara keduanya, maka hasilnya paling-2 hanya asal njeplak belaka.
14
Mei 2015
Sahabat,
artis dan penyair perempuan Amerika, Maya Angelou (1928-2014): “Kebanyakan
orang-orang tidak pernah tumbuh dewasa, tetapi hanya menua saja. Orang-2 hanya
mencari tempat parkir, menggesek kartu kredit, menikah, punya anak, dst, lalu
mereka menganggap sebagai kematangan dan kedewasaan. Padahal itu hanya berarti
mereka menjadi lebih tua saja." Kedewasaan dan kematangan seseorang tidak
selalu mengikuti pertambahan usia. Bahkan tak jarang orang-2 yang bertambah tua
usianya malah mengalami kemunduran dalam kematangan dan kedewasaan.
16
Mei 2015
Sahabat,
filsuf Yunani kuno, Plato (428-348 SM), mengatakan: "Harga yg mesti
dibayar oleh para warganegara yg baik namun cuek terhadap masalah-2 publik
adalah mereka akan diperintah oleh para penguasa yang dzalim." Kepedulian
terhadap masalah-2 publik merupakan salah satu cara utk menghindarkan tumbuh
dan bercokolnya penguasa-2 yg sewenang-2. Sebab, dengan kepedulian terhadap
persoalan publik, warganegara ikut melakukan pengawasan dan kontrol secara
aktif thd kekuasaan dan penguasa. Kekuasaan dan para penguasa tanpa pengawasan
dan kontrol dari pihak yg dikuasai, pelan tapi pasti, akan menjadi
kesewenang-2an.
18
Mei 2015
Sahabat,
biarawati dan peraih Nobel asal Albania, Bunda Teresa (1910-1997), mengatakan:
"Kemiskinan yang paling menyiksa adalah rasa kesepian dan rasa tidak
mendapat kasih sayang." Kemiskinan bisa berupa kemiskinan berbentuk
material dan fisik, tetapi juga non-material dan ada dalam jiwa. Termasuk
didalam kategori yg disebut terakhir itu adalah rasa sepi karena kasih sayang
yg tak pernah dirasa. Hidup dan kehidupan menjadi tidak bermakna dan pada
gilirannya gairah utk hiduppun sirna. Orang boleh menjadi super kaya dan super
kuasa, tetapi jika kemiskinan ini mendera, maka hidup pun terasa hampa dan merana.
19 Mei 2015
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Plato
(428-348 SM), mengatakan: "Janganlah anda melatih seorang anak dengan
paksa dan tekanan; tetapi arahkan agar ia menemukan apa yang paling menarik dan
mempesona pikirannya. Dengan cara itu anda akan bisa menemukan keunikan jenius
yang ia punyai." Sistem pendidikan yg baik akan bisa menemukan berbagai
potensi unik yang dimiliki para anak didik, bukan membuat mereka menjadi sebuah
produk yang seragam. Jika hasil pendidikan adalah manusia-2 yang seragam, niscaya
tidak akan muncul kreatifitas, inovasi, dan kemajuan bangsa, tetapi robot-robot
bernyawa. Dan belum ada peradaban yg diciptakan para robot, sepintar apapun
mereka.
20
Mei 2015
Sahabat,
Presiden RI ke 1, Bung Karno (1901-1970), mengatakan: "Apakah kita mau
Indonesia merdeka, yang kaum Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya
sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam
kesejahteraan." Semangat kebangsaan Indonesia telah bangkit dan berkembang
dinamis lebih dari seabad. Dalam perjalanannya, bangsa (nation) Indonesia tentu
telah, sedang, dan akan menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah
ketimpangan pembangunan (uneven development) sebagai salah satu dampak negatif
dari kapitalisme global. Pertanyaan BK akan tetap relevan utk selalu diingat
dan dijawab oleh para penyelenggara negara dan juga warganegara.
21
Mei 2015
Sahabat,
novelis Inggris, EM. Forster (1879-1970), mengatakan: "Yang terasa
menyakitkan bukanlah perbuatan (buruk) yang dilakukan orang terhadap anda,
tetapi apa yang menjadi maksud perbuatan itu." Acapkali hal-hal yang tidak
mengenakkan yg dilakukan orang kepada kita, sejatinya dimaksudkan utk kebaikan
kita. Demikian pula sebaliknya, perlakuan yg tampak baik tetapi ternyata
maksudnya jelek dan merugikan kita. Untuk itu perlu mawas diri dalam menyikapi
perbuatan baik dan buruk pihak lain kepada kita, dengan berusaha memahami lebih
jauh apa motif dan maksud di baliknya sebelum kita memberikan penilaian.
22
Mei 2015
Sahabat,
peraih Nobel fisika, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Kita harus
selalu menjaga agar tidak menganggap intelek sebagai tuhan. Tentu saja intelek
memiliki kekuatan, tetapi intelek tidak memiliki kepribadian." Kecerdasan
dan kepintaran intelektual harus selalu didampingi, diawasi dan dibimbing oleh
nurani. Nurani bisa memberikan tilikan yg lebih mendalam untuk mengarahkan
intelek sehingga tdk mudah dijadikan instrumen oleh kekuasaan dan nafsu
angkara.
23
Mei 2015
Sahabat,
spiritualis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Setiap agama
bisa dibuat menjadi pendorong kekuatan untuk kebajikan atau kejahatan oleh para
penganutnya." Kasih sayang, kedermawanan, kedamaian bisa dilahirkan dan
ditumbuhkembangkan serta disebarluaskan oleh para penganut agama, mulai dari
yang paling atas sampai yang paling bawah. Tetapi kebencian, kekerasan,
kekejaman, bahkan genosida pun bisa dilakukan atas nama agama oleh para
penganut agama-agama tersebut. Adalah manusia yang menggunakan agama, dan bukan
agamanya itu sendiri yang menentukan apakah ajaran-ajarannya digunakan utk
kebaikan atau dimanipulasi utk kejahatan.
24
Mei 2015
Sahabat,
aktivis perdamaian asal AS, Greg Mortenson (lahir1957), mengatakan: "Di
masa perang, anda kerap mendengar para pemimpin -Kristen, Muslim, Yahudi, dll-
mengklaim 'Tuhan di pihak kami'. Itu tidak benar. Di masa perang, Tuhan memihak
para pengungsi, janda-janda, dan para yatim piatu." Konflik, kekerasan,
penindasan, dan peperangan seringkali mengatasnamakan Tuhan dan ajaran agama
sebagai justifikasi. Dengan klaim seperti itu, para korbannya yang paling
menderita, seperti para pengungsi, kaum perempuan, dan anak-anak (terutama
yatim piatu) dapat dilupakan, diletakkan pada marjin, atau bahkan hanya
dianggap resiko kolateral. Padahal mereka juga manusia yang memiliki hak-hak
asasi, termasuk hak hidup dan mendapat perlindungan dari konflik yang dibuat
oleh para pemimpin mereka.
25
Mei 2015
Sahabat,
Sayyidina Abu Bakr As-Shiddiq RA (573-634), mengatakan: "Jangan sekali-2
anda merendahkan sesama ummat Islam. Sebab di hadapan Tuhan serendah-2nya orang
yg beriman tetaplah sangat berharga." Para pemeluk agama saat ini
seringkali mempertontonkan sikap arogan dan kebencian thd sesama pemeluk agama,
termasuk agama yg sama, berdasarkan klaim kebenaran aliran, faham, sekte, dll
yg dianutnya. Mereka menganggap penganut aliran dan faham yg berbeda sebagai
lebih rendah dan bahkan sesat. Padahal belum tentu aliran yg diikutinya pasti
akan diterima Tuhan di hari akhir. Aliran dan faham adalah pilihan2 yg dibuat
oleh manusia dan tanggungjawabnya, bukan pilihan yg diperintahkan Tuhan. Di
akhirat nanti Tuhan tidak mempertanyakan aliran, madzhab, dan sekte anda.
Tetapi keimanan, ketaqwaan, dan amal shalih anda.
26
Mei 2015
Sahabat,
Bapak psikoanalisa asal Austria, Sigmund Freud (1856-1939), mengatakan: "Sejatinya
kebanyakan manusia tidak suka dengan kemerdekaan, karena kemerdekaan berarti
melibatkan suatu tanggungjawab. Padahal, kebanyakan orang ketakutan utk memikul
tanggungjawab." Kecenderungan orang yang menuntut kebebasan dan/ atau
kemerdekaan adalah melupakan, mengabaikan, dan/atau pura-pura lupa terhadap
sisi yang lain yaitu tanggungjawab. Menuntut terpenuhinya hak, sejatinya pada
saat yang sama adalah juga memenuhi tanggungjawab terhadap hak yg sama dari
pihak lain. Menuntut kebebasan dan/atau kemerdekaan berarti juga
bertanggungjawab atas seluruh konsekuensi yang mengikutinya, termasuk dan
terutama menjamin dan melindungi kebebasan dan/ atau kemerdekaan dari pihak
lain.
27
Mei 2015
Sahabat,
filsuf dan ahli strategi perang asal Tiongkok kuno, Sun Tzu (544-496),
mengatakan: "Tidak ada satupun negara yang beruntung dengan terlibat dalam
suatu peperangan yang tak berkeputusan (protracted war)." Kendati kata
perang di sini mula-mula bermakna perang fisik/militer, namun bisa juga
dimaknai dengan perang yang bentuknya bukan militer, misalnya perang melawan
kemiskinan dan kebodohan serta keterbelakangan dalam masyarakat. Jika sebuah
negara membiarkan kemsikinan, kebodohan, dan keterbelakanagan berkesinambungan,
maka ia akan mengalami kehancuran dan bahkan hilang dari keberadaannya.
28
Mei 2015
Sahabat,
filsuf Yunani kuno, Aristoteles, mengatakan: "Dalam kondisi terbaiknya,
manusia adlh mahluk paling mulia. Tetapi ketila dipisahkan dari hukum dan
keadilan, manusia adalah mahluk yg paling buruk." Hukum dan keadilan
merupakan faktor utama yg membedakan manusia dari mahluk citaan Tuhan yg lain
dan membuatnya mulia serta beradab. Hukum yg tidak memberikan rasa keadilan
menjadikan manusia jatuh dalam kondisi yg paling buruk dan tak beradab.
30
Mei 2015
Sahabat,
Sufi Agung asal Iran, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Ada
kekuatan kehidupan dalam jiwa/ Carilah ia/ Dalam badanmu ada mutiara/ Carilah
ia/ Wahai para pengembara/ Jika engkau sedang mencari mereka/ Jangan hanya
melihat di luarnya/ Telusuri engkau punya jiwa/ Dan temukanlah mereka."
Kekuatan yang sejati ada di dalam diri manusia, bukan hanya yang tampak di
luar. Kekuatan yg bersifat fisik atau wadag sepintas memang tampak luarbiasa
dan bisa mengerikan akibatnya. Namun kekuatan yg ada di dalam mampu merubah
yang mengerikan tsb menjadi produktif dan menyejahterakan. Kekuatan di dalam
itulah yang menjadi sumber tumbuhnya kepribadian utama dan peradaban manusia.
JUNI
4 Juni 2015 ·
Sahabat,
novelis Saul Bellow (1914-2005), mengatakan: "Ketika kita meminta nasihat,
kadang-2 kita sebenarnya sedang mencari sekutu." Manusia memerlukan
pandangan pihak lain, komentar, kritik, dan nasihat utk meningkatkan kualitas
atau mengoreksi dari kekeliruan dan proses belajar. Mk itu sangat disayangkan
jika nasihat hanya digunakan utk mencari pembenaran dr kekeliruan termasuk
penyalahgunaan kekuasaan.
5 Juni 2015 ·
Sahabat,
Presiden Amerika, John F. Kennedy (1917-1963), mengatakan : "Perjuangan
dan keberanian tidak cukup tanpa ada tujuan dan arah yang jelas."
Perjuangan selalu memerlukan keberanian menghadapi rintangan dan halangan.
Tetapi keberanian saja tidak efektif apabila perjuangan tidak dilandasi visi
dan tujuan yg jelas. Kerja keras dan keberanian menjadi sia2 dan malah
kontraproduktif jika dilakukan tanpa arah.
7 Juni 2015 ·
Sahabat,
aktivis dan pendidik dari Brazil, Paulo Freire (1921-1997), mengatakan:
"Kepercayaan dari rakyat terhadap para pemimpinnya merefleksikan
kepercayaan diri para pemimpin terhadap rakyatnya." Kepercayaan (trust)
adalah suatu hal yang bersifat timbal balik, bukan hanya satu arah. Jika
seorang pemimpin ingin dipercaya oleh rakyatnya, maka ia pun harus memiliki
tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap rakyatnya. Pemimpin tidak bisa hanya
menuntut agar rakyatnya percaya terhadap kebijakan yang dibuatnya dan
mengatasnamakan kepentingan rakyat, jika ternyata hasilnya malah sebaliknya.
Pembuktian bhw pemimpin mempercayai rakyat adalah ada dalam bukti kebijakan-2
yg dibuatnya. Bukan pada pidato dan retorikanya.
8 Juni 2015 ·
Sahabat,
Ibnu Atho'illah As-Sakandary (1250-1309) mengatakan: "Pertanda
ketertutupan kalbu seseorang adalah ketika ia sangat bersungguh-sungguh dalam
memburu rizki yang sebenarnya telah disediakan oleh Allah untuk diperolehnya,
sambil mengurangi kewajiban terhadap Allah yang seharusnya dilakukannya sebagai
seorang hamba." Baik mencari rizki maupun menjalankan perintah dari sang
Maha Pencipta adalah kewajiban bagi manusia. Sayangnya, kewajiban kedua
acapkali diabaikan atau minimum dikurangi intensitas dan kualitasnya, karena ia
dianggap tidak mendesak dan/ atau tidak relevan dengan kenyataan kehidupan yg
dihadapi pada saat ini. Orang seringkali lupa atau pura-2 lupa bahwa yg namanya
kewajiban menjalankan perintahNya itu termasuk di dalamnya adlh masalah
moralitas dan etika yg menuntun kehidupan sehari-hari yg nyata itu. Akibatnya,
manusia lantas hidup tanpa mau dibimbing oleh nurani dan moralitas sehingga
membahayakan diri dan orang lain serta lingkungannya.
9 Juni 2015 ·
Sahabat,
filsuf dan novelis Perancis, Albert Camus (1913-1960), mengatakan:
"Kejahatan yg terjadi di dunia hampir selalu bersumber dari ketidaktahuan.
Maksud2 yg baik bisa saja malah menciptakan keburukan seperti halnya kejahatan
apabila tidak diiringi dg pemahaman yg benar." Sering orang hanya melihat
suatu peristiwa hanya dari perspektif yg sempit, misalnya dari tampilan atau
penampakan luar. Akibatnya akar persoalan tidak tersentuh dan dipecahkan secara
tuntas. Maka terjadilah pengulangan2 masalah seakan2 tak berkesudahan dan
membuat orang berputus asa serta menyerah.
10 Juni 2015 ·
Sahabat,
Khonghucu (550-479 SM) mengatakan: "Orang-orang yg mengajukan pertanyaan
akan tampak bodoh sesaat, tetapi mereka yg tak pernah mengajukan pertanyaan
akan benar-2 bodoh seumur hidup." Pengetahuan dan kebijaksanaan diperoleh
melalui proses panjang dan pencarian terus menerus, baik dalam diri maupun
fenomena di luar. Karena itu pertanyaan merupakan salah satu metode yg paling
inti dalam proses tsb. Jika manusia dihalang-2i untuk mengajukan pertanyaan,
berarti ia telah dihalangi akses utamanya utk memperoleh pengetahuan dan
kebijaksanaan dlm hidupnya.
11 Juni 2015 ·
Sahabat,
pejuang kemerdekaan India dan tokoh anti-kekerasan, Mahatma Gandhi (1869-1948),
mengatakan: "Diam bisa berarti kepengecutan ketika situasi memerlukan
disuarakannya kebenaran dan tindakan untuk membelanya." Sikap diam tidak
selalu berarti keutamaan. Jika kita berdiam diri ketika terjadi suatu tindakan
kekerasan dan kekejaman terhadap pihak yang lemah, justru bisa disebut sebuah
kepengecutan yang dibungkus rapi dan indah. Setidaknya upaya utk menyuarakan
kebenaran harus dilakukan jika tindakan masih belum bisa dilaksanakan karena
berbagai alasan. Jika aparat pemerintah dan negara melakukan pembiaran thd
kekerasan dan penindasan dalam masyarakat, maka kemungkinan besar para elit dan
aparatnya memang terjangkiti penyakit kepengecutan itu.
12 Juni 2015 ·
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah, mengatakan: "Janganlah
engkau menjadi orang yang kebal terhadap nasihat, sehingga memerlukan deraan
utk membuatnya sadar. Bagi orang yang berakal, bimbingan melalui nasihat-2
sudah cukup. Hanya hewan dan manusia tak beradab saja yg memerlukan deraan
sebagi alat untuk menyadarkan mereka." Saling menasihati tentang kebenaran
dan dan kebaikan adalah keperluan eksistensial manusia. Hukuman dan deraan
sejatinya tidak diperlukan sejauh manusia memang menggunakan nalar dan
nuraninya secara optimal. Namun dalam kehidupan kita saat ini, kekerasan pun
dilakukan sebagai cara utk meyakinkan ajaran. Padahal sejatinya hanya utk
mencari, mempertahankan, dan memperkuat ambisi dan kekuasaan.
13 Juni 2015 ·
Sahabat,
filsuf eksistensiaI dan teolog Kristiani asal Jerman, Paul Tillich (1886-1965),
mengatakan: "Aku berharap bahwa akan datang saatnya ketika semua orang
bicara tentang Tuhan tanpa harus merasa malu." Dalam sejarah kemanusiaan,
agama-agama pernah menjadi sumber solusi masalah-2 kehidupan yang terpenting
dan bernilai sangat positif serta mampu memajukan peradaban manusia. Namun saat
ini, ketika kekerasan dan aksi teror terjadi dengan mengatasnamakan ajaran
agama, maka membicarakan tentang peran agama dalam kehidupan masyarakat sering
dianggap tak relevan dan bahkan ditepikan. Agama malah dituding sebagai
'masalah' atau bahkan 'salah satu sumber masalah' bagi kemanusiaan. Memberikan
solusi dengan pendekatan agama pun kerap dianggap hanya semacam utopia
moralistik kerena berlawanan dengan perilaku dan tindakan si agamawan sendiri.
14 Juni 2015 ·
Sahabat,
Presiden RI ke 4, KH. Abdurrahman "Gus Dur" Wahid (1940-2009), mengatakan:
“Pertanyaan dasarnya adalah, sanggupkah kita sebagai bangsa mengembangkan sikap
meninggikan kepentingan bersama itu dan mengalahkan kepentingan pribadi para
pemimpin bangsa kita?” Para pemimpin pada level nasional tentu wajib berfikir
tentang kepentingan nasional (national interests) dalam tataran lingkup
internasional, bukan di bawahnya, apalagi hanya berfikir pada tataran
kepentingan diri sendiri dan keluarganya. Jika pemimpin nasional hanya
memikirkan kepentingan diri sendiri dan keluarga serta kelompok-2nya, maka
bangsa dan negara akan rentan terhadap ancaman dalam berbagai bentuk, termasuk
di dalamnya: praktik-2 diskriminasi politik dan sosial, ketidak-seimbangan
pembangunan daerah, disparitas kaya-miskin yg melebar, dan pembiaran thd kemiskinan
struktural.
Sahabat,
penyair Persia, Hafidz (1325–1389), menulis:
"Buatlah
rumah untuk manusia dan burung-2
Duduklah bersama dan bersenandung
Sehari, cukup sehari saja
Berbicaralah tentang hal tanpa duka
Dan bawalah damai, kawan
Dalam matamu yang penuh keindahan."
Duduklah bersama dan bersenandung
Sehari, cukup sehari saja
Berbicaralah tentang hal tanpa duka
Dan bawalah damai, kawan
Dalam matamu yang penuh keindahan."
Ada
saatnya kita memerlukan permenungan dan meditasi dalam kehidupan keseharian
yang penuh dengan kesibukan dan kegalauan. Ada saatnya mencari kedamaian dalam
diri melalui keindahan alam dan keheningan ruhani.
16
Juni 2015 ·
Sahabat,
penyair Amerika asal Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan:
"Engkau bisa saja melupakan dengan siapa engkau pernah tertawa, tetapi
engkau tidak akan pernah lupa dengan siapa engkau menangis." Kegembiraan,
kesenangan, bahkan kebahagiaan pun bisa terlupakan dengan cepat. Namun
kesedihan, derita, kesengsaraan yang pernah terjadi kpd seseorang atau
sekelompok orang, seringkali tidak mudah terlupakan. Bahkan ia menjadi trauma
yang membekas dalam jiwa. Luka batin dalam pengalam kehidupan dan sejarah lebih
sulit terhapuskan ketimbang kegembiraan yg pernah dialami. Trauma sejarah dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bahkan bisa menjadi sumber
konflik tak berkeputusan dan menggerogoti kesatuan dan persatuan.
17 Juni 2015 ·
Sahabat,
politisi perempuan dan mantan Hakim pada Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
asal Filipina, Miriam D. Santiago, mengatakan: "Ketika seorang pegawai
negeri yg miskin bekerja pada sebuah kantor yang korup, mungkin saja ia masih
bisa bertahan terhadap apapun. Kecuali bertahan terhadap godaan (utk ikut
korup)!". Korupsi adalah sebuah produk relasi dialektis antara kualitas
manusia dan kualitas lingkungan dan/ atau lembaga di mana ia berada. Orang miskin
saja belum tentu akan korupsi jika tidak dibarengi dengan tekanan dan pengaruh
lingkungan yg juga korup. Demikian pula, lingkungan korup tidak otomatis
membuat orang yg di dalamnya pasti korup semua. Pemberantasan korupsi harusnya
berlaku simultan terhadap keduanya, baik para aktor dan lembaga-2nya.
18 Juni 2015 ·
Sahabat,
Ramadhan 1436H/2015 telah tiba. Selamat menjalankan ibadah puasa kepada seluruh
ummat Islam di Indonesia sampai paripurna dengan ikhlas dan penuh takwa. Semoga
seluruh amal saleh anda diterima di sisi Allah swt. Puasa merupakan kewajiban
setiap pribadi Muslim/Muslimah sebagaimana difirmankan oleh Allah swt dalam
Al-Qur'an: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk
berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pula kepada ummat sebelumnya agar kamu
bertakwa." (Al-Baqarah: 183). Marhaban Ya Ramadhan.
19 Juni 2015 ·
Sahabat,
filsuf Perancis, Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955), mengatakan: "Anda
bukanlah manusia yg sedang mencari pengalaman spiritual, tetapi anda adalah
mahluk spiritual yg sedang menyatu dengan pengalaman kemanusiaan." Pada
umumnya spiritualitas dianggap sbg dimensi tambahan atau yg datang dari luar
diri manusia. Akibatnya spiritualitas kadang dianggap sesuatu yg eksternal
bahkan asing dari manusia. Jika pemahaman paradigmatik tsb diubah total, mk
justru pengalaman kemanusiaan sejatinya adlh bagian dr spiritualitas manusia.
Kedua dimensi tsb bukan lagi sesuatu yg asing dan eksternal dr kehidupan,
tetapi menyatu.
Sahabat,
Alhamdulillah sebagaimana saya janjikan beberapa waktu lalu, buku saya yg
pertama, "DEMOKRASI DAN CIVIL SOCIETY' (Jakarta: LP3ES, 1996, 1999) kini
muncul dalam edisi e-book.
Sahabat,
Alhamdulillah sebagaimana saya janjikan beberapa waktu lalu, buku saya yg
pertama, "DEMOKRASI DAN CIVIL SOCIETY' (Jakarta: LP3ES, 1996, 1999) kini
muncul dalam edisi e-book. Anda bisa mengunduhnya di link ini (https://president.academia.edu/mashikam/Papers),
dan juga di "scribd.com" ( https://www.scribd.com/…/26909…/DEMOKRASI-DAN-CIVIL-SOCIETY…).
Terimakasih. (MASH)
20 Juni 2015 ·
Sahabat,
dalam Serat Wedhatama dikatakan: "Mangkono janma utama/ Tuman tumanem ing
sepi/ Ing saben rikala mangsa/ Masah amemasuh budi/ Laire anetepi/ Ing reh
kasatriyanipun/ Susilo anor raga/ Wignya met tyasing sesami/ Yeku aran wong
barek berag agama." (Seorang manusia utama menyukai kesepian utk semadi dg
tujuan mempertajam dan membersihkan budi. Ia berupaya melaksanakan tugas
sebagai kesatria yang rendah hati dan memberi kesejukan. Kemampuan seperti
itulah yg disebut penghayatan terhadap ajaran agama) (Sinom: 31). Menjadi
manusia yang bermanfaat (manusia utama) memerlukan bukan saja keunggulan secara
fisik, seperti keilmuan, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi juga kemampuan utk
mempertajam dan membersihkan ruhaninya. Kedua kemampuan itulah yg akan membuat
pemiliknya mampu memberikan kesejukan, perlindungan, dan kesejahteraan bagi sesama.
21 Juni 2015 ·
Sahabat,
spiritualis Budhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Manusia hanya
akan mampu hidup secara penuh apabila saling membantu liyan utk hidup. Jika
anda membantu sahabat anda, di situlah anda sebenarnya benar-benar hidup.
Kebudayaan hanya akan mampu menunjukkan kekayaannya dengan cara menghormati
kebudayaan dan tradisi-2 milik liyan...". Manusia dan kebudayaan serta
peradaban yang dimilikinya, pada hakekatnya memerlukan kehadiran liyan atau
pihak lain agar bisa tumbuh dan berkembang serta maju. Tanpa kehadiran liyan
yang dihormati dan dihargai sebagaimana dirinya sendiri, maka yg terjadi
bukanlah kehidupan yang produktif dan terhormat. Justru sebaliknya, dengan
mengingkari kebutuhan terhadap liyan maka kehidupan manusia dan kebudayaan akan
menjadi kering dan menghancurkan diri (self-destruct).
22 Juni 2015 ·
Sahabat,
mantan Senator AS, Robert Kennedy (1925-1968), mengatakan: "Yang membuat
kaum ekstremis berbahaya dan harus ditolak bukanlah karena mereka ekstrim,
tetapi karena sikap intoleran mereka. Kejahatan kaum elstrimis bukan terletak
pd tujuan mereka, tetapi pada apa yg mereka katakan tentang lawan2
mereka." Ideologi intoleran dan kebencian kpd sesama adlh sumber utama
munculnya elstrimisme, radikalisme, dan kekerasan. Bisa jadi klaim ttg apa yg
mereka perjuangkan terdengar bagus, tetapi ideologi kebencian dan intoleran pd akhirnya
tdk memungkinkan terwujudnya klaim2 tsb. Yg terjadi adlh kehancuran bg
kemanusiaan.
22 Juni 2015 ·
Sahabat,
satu lagi buku saya, "ISLAM, DEMOKRATISASI, DAN PEMBERDAYAAN CIVIL
SOCIETY", yang terbit pada 2000 (Jakarta: Penerbit Erlangga), akan muncul
versi e-book nya. Mungkin dalam tempo tiga empat hari ke depan dapat diunduh di
situs yang sama dengan buku saya sebelumnya. Isi buku tetap tidak ada perubahan
apapun, kecuali sampul (cover) nya yg saya buat baru agar lebih menarik. Buku
ini juga sudah tidak ada di pasaran, namun mungkin masih relevan utk bahan
referensi. Trims. (MASH)
23 Juni 2015 ·
Sahabat,
filsuf dan penulis asal Bulgaria, Tzvetan Todorov, mengatakan: "Ketika
prinsip 'semua cara diperbolehkan' dlm upaya memberantas terorisme, maka pelaku
kontrateror tak lagi bisa dibedakan dg teroris sendiri. Selanjutnya para
teroris akan menyatakan diri mereka sebagai kelompok kontrateror juga. Sebab
mereka berdalih merespon teror yg dilakukan thd mereka... Dg cara berfikir
demikian, perang melawan teror tidak akan pernah berhenti!" Memberantas
kejahatan tdk bisa dilakukan dg cara yg sama dg kejahatan tsb, apapun alasan
dan dalihnya. Sebab cara demikian malah menimbulkan dua kejahatan, bukan
mengurangi atau menghilangkan satu kejahatan.
24 Juni 2015 ·
Sahabat,
politisi perempuan dan mantan Hakim Pengadilan Pidana Internasional (ICC) asal
Filipina, Miriam D. Santiago, mengatakan: "Akibat yg ditimbulkan oleh
politik genthong babi di negeri ini (Filipina, red.) adalah semakin
terlembaganya korupsi. Proyek2 genthong babi itu menjadi senjata ampuh utk
menghancur leburkan anggaran utk rakyat." Apa yg dialami Filipina akan
dialami Indonesia jika proyek genthong babi yg diusulkan dan disetujui DPR
terwujud. DPR yg merupakan salah satu sendi negara akan berubah menjadi monster
penghancur demokrasi dan kehidupan bernegara karena korupsi yg makin
terlembaga.
26 Juni 2015 ·
Sahabat,
mantan Presiden dan pemimpin gerakan prodemokrasi Cekoslowakia, Vaclav Havel,
mengatakan: "Tragedi yg dihadapi manusia modern bukanlah karena ia semakin
tidak paham tentang makna kehidupannya, tetapi karena ia semakin tidak peduli
terhadapnya." Jika manusia tdk paham ttg makna hidup, ia masih punya kesempatan
dan harapan utk menemukannya dg berbagai cara dan usaha. Tetapi jika orang
sudah tak peduli lagi, maka tidak ada lagi yg bisa diusahakan. Kehidupannya
menjadi semacam robot dan/atau bahkan lebih rendah dari hewan.
27 Juni 2015 ·
Sahabat,
aktivis feminis dan penulis perempuan, bell hooks (Gloria Jean Watkins),
mengatakan: "Ketika kita telah mampu mengenyahkan ketakutan, maka kita
akan mampu lebih dekat dengan rakyat, dengan bumi, dan bahkan dengan
mahluk-mahluk di seuruh alam semesta yg mengitari kita." Salah satu
penghalang yang paling besar bagi perjuangan (apapun) adalah adanya ketakutan,
kekhawatiran, kecemasan, dan sejenisnya. Hal-2 demikian memiliki berbagai variasi,
ukuran, dan besaran (magnitude)nya masing-2. Karena itu, salah satu target
paling penting dlm kehidupan adalah melawan ketakutan, karena begitu ia telah
tertundukkan atau dpt dienyahkan, maka segala rintangan lain akan terasa lebih
ringan.
28 Juni 2015
·
Sahabat, penyair Amerika asal
Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Anda berdoa ketika dalam
kondisi dan situasi tertekan dan punya kepentingan. Tetapi apakah anda juga
berdoa ketika anda dalam kebahagiaan yang penuh dan di hari-hari yg penuh
kesejahteraan?" Sudah menjadi sifat manusia ketika ia berada dalam kondisi
tidak enak lantas berdoa dan beribadat dengan sangat serius; dan ketika ia
dalam kemudahan dan kegembiraan lalu mengurangi doa dan ibadatnya seakan-akan
ia sudah tak membutuhkan sang Penciptanya. Doa seharusnya bukan dianggap
sebagai tawar-menawar; sebab ia adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan manusia
dalam kondisi apapun.
29 Juni 2015 ·
Sahabat,
penyair Romawi kuno, Virgil (70-10 SM), mengatakan: "Sesuatu masalah yang
ditakutkan akan terjadi pada diri seseorang, tidak ia takutkan apabila hal itu
terjadi pada orang lain." Jika manusia memahami bahwa hidup dan
keberadaannya merupakan satu kesatuan dan tergantung dengan keberadaan yang
lain (liyan), semestinya ia juga memikirkan dan memedulikan pihak lain tsb.
Sayangnya, yang sering kita temukan adalah kecenderungan utk mementingkan diri
sendiri dan mengabaikan kepentingan liyan. Bahkan jika perlu membiarkan pihak
lain mengalami kesulitan dan penderitaan, asalkan diri sendiri selamat dan
bahagia.
30 Juni 2015 ·
Sahabat,
penyair perempuan asal AS, Maya Angelou (1928-2014), mengatakan:
"Kebencian sudah jelas telah menghasilkan banyak persoalan dlm kehidupan.
Tetapi ia belum pernah menyelesaikan satu pun masalah kehidupan." Kendati
orang tahu bhw kebencian tdk akan pernah menyelesaikan masalah, tetapi ia
selalu hadir dan bahkan dipilih sebagai solusi. Seakan2 kebencian menjadi
keutamaan dan landasan moral dalam kehidupan. Ia bahkan dijadikan landasan
ideologi politik utk meraih kekuasaan.
JULI
1
Juli 2015
Sahabat,
penyanyi pop legendaris, Michael Jackson (1958-2009), mengatakan:
"Pengetahuan manusia tdk hanya ada di perpustakaan dlm bentuk buku2 dan
tinta saja. Ia juga terdiri atas pengetahuan yg tertulis di hati manusia,
terukir pada jiwa mereka, dan tercetak pada psyche mereka." Belajar
memahami manusia tdk cukup hanya melalui jalan yg biasa seperti ketika
mempelajari benda-2. Memahami manusia harus melibatkan rasa dan sejarah
kehidupan serta budaya mereka. Memahami tdk hanya sekedar tahu dari aspek
fisik, tetapi juga dari aspek psikis dan his tak adatoris. Memahami manusia
adlh kerja hampir tak ada hentinya.
2
Juli 2015
Sahabat,
filsuf Tiongkok kuno, Lao Tzu, mengatakan : "Pada saat engkau telah merasa
cukup untuk menjadi diri sendiri dan tak lagi perlu berkompetisi atau
membandingkan dengan orang lain, maka semua orang akan menaruh hormat
kepadamu." Jika seseorang telah mencapai kesadaran untuk menjadi diri
sendirinya sendiri dan merasa cukup, maka ia tidak lagi tertarik utk berebut,
bersaing, apalagi merugikan orang lain, demi keuntungan dan ambisi pribadi.
Orang seperti itu biasanya akan memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi orang
lain utk menghargai dan menghargainya, lantaran memberi keteduhan, kedamaian,
dan rasa aman. Kualitas seperti ini tentu tidak mudah dicapai dalam sebuah
masyarakat yang memberi nilai lebih kepada persaingan, perebutan, dan
gontok-2an yang utk pemenuhan ambisi pribadi dan kelompoknya.
3
Juli 2015
Sahabat,
Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill (1874-1965), mengatakan: "Kita
adalah majikan dari kata2 yg belum terucapkan, tetapi budak dari kata2 yg
terlanjur kita ucapkan." Apa yg kita ucapkan atau tuliskan acapkali
memiliki konsekuensi yg tak kita perhitungkan sebelumnya atau bahkan dapat kita
kontrol sepenuhnya. Ucapan dan tulisan yg kita produksi bisa menjadi sumber
keberuntungan dan persoalan kita sebagai pribadi maupun kelompok. Komunikasi
adalah salah satu dasar keberadaan manusia dan ikut menentukan keberhasilan dan
kegagalannya.
4
Juli 2015
Sahabat,
biarawati peraih Nobel perdamaian, Bunda Teresa (1910-1997), mengatakan:
"Senyumlah antara satu sama lain. Senyumlah pada isteri, pada suami, pada
anak-anak, pada sesama - tak peduli siapa pun -. Senyum akan membantu anda
tumbuh utk lebih menyayangi satu sama lain." Salah satu perkara yang
paling mudah, namun efektif utk menjalin komunikasi, adalah senyuman. Ia adalah
pintu yang terbuka dan sebuah jaminan rasa aman serta sinyal penerimaan kepada
liyan. Senyuman adalah anugerah yang tak ternilai namun seringkali kita lalai.
Tersenyumlah dan dunia pun akan tersenyum kepada kita.
5
Juli 2015
Sahabat,
fisikawan peraih Nobel, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Dunia,
sebagaimana yang sedang dibuat manusia, adalah sebuah proses dari berfikir
manusia. Oleh karenanya, ia tidak akan bisa diubah tanpa mengubah pemikiran
kita sebagai manusia." Seringkali ketika kita menghadapi persoalan yang
sangat rumit, kita bingung darimana kita harus memulai melakukan perubahan dan
mengurai kerumitan tsb agar bisa dicarikan solusi. Mungkin kita lupa bahwa
kerumitan tersebut berasal dari perbuatan kita sendiri, yang kemudian tak lagi
terkontrol dan seakan-akan tak terpecahkan. Padahal perbuatan adalah kreasi yg
berawal dari pemikiran manusia. Merubah persoalan yang dianggap sudah terlalu
rumit, bisa jadi, harus dimulai dg merubah pemikiran kita sendiri.
7
Juli 2015
Sahabat,
filsuf Jerman aliran Sekolah Frankfurt, Theodor W. Adorno (1903-1969),
mengatakan: "Suatu masyarakat yg terbebaskan... bukanlah yg berbentuk
sebuah masyarakat hanya satu jenis, tetapi masyarakat yg menyadari adanya
universalitas dalam perbedaan-2." Hasrat untuk menyatukan perbedaan selalu
muncul ketika ada perbedaan. Namun jika kesatuan itu tanpa landasan kesadaran
bhw perbedaan adalah sebuah keniscayaan dlm kehidupan, maka akan menjadi alasan
bg pemaksaan. Yg seharusnya ditempuh dlm mengatasi perbedaan adlh
menumbuhkembangkan kesadaran bhw dlm perbedaan2 tsb ada nilai universal yg
mengikat sehingga manusia adalah satu kesatuan.
8
Juli 2015
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Kaaromallohu Wajhah, mengatakan: "Orang yg
bersikap pelit (bakhil) terhadap apa yang dimilikinya adalah salah satu
pertanda tiadanya kepercayaan dirinya kepada (kekuasaan) Tuhan." Manusia
yg memiliki sifat pelit sejatinya mengidap rasa ketidakpercayaan thd diri sendiri
dan kepada sang Maha Pencipta. Dirinya ketakutan menghadapi kekurangan
sedemikian rupa shg mengorbankan hak liyan terutama mereka yg membutuhkan
bantuan. Dia tdk percaya bhw Tuhan telah menyiapkan rizkinya utk hidup dan
bahkan berbagi dg sesama.
9
Juli 2015
Sahabat,
filsuf zaman Pencerahan asal Jerman, Immanuel Kant (1724-1804), mengatakan:
"Melalui kebohongan, manusia menghancurkan martabat dirinya sendiri."
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kebohongan seringkali
dilegitimasi dengan berbagai cara, termasuk fatwa agama dan aturan
perundang2an. Kemampuan utk mengungkap dan membongkar kebohongan2 terselubung
itu sangat menentukan apakah kehidupan tsb akan memiliki martabat atau menuju
kenistaan dan kehancuran.
10
Juli 2015
Sahabat,
filsuf Yunani kuno, Plutarch (46-120 SM), mengatakan: "Adanya jurang
pemisah antara yg kaya dan yang miskin adalah penyakit yg paling tua dan paling
fatal bagi semua negara." Adanya kelompok manusia yg kaya dan yang miskin
adalah suatu fakta dlm kehidupan sejarah manusia. Namun fakta tsb tidak selalu
berarti kehancuran bg kehidupan manusia sejauh kedua kelompok tsb tdk
terpisahkan secara drastis, mendalam, dan eksploitatif serta repressif. Jika
kelompok miskin semakin berkurangb jumlahnya dan kelompok kaya bersikap peduli,
mk ancaman bahaya kehancuran akan makin bisa dihindari.
11
Juli 2015
Sahabat,
dramawan dan penyair asal Jerman, Bertolt Brecht (1901-1956), mengatakan:
"Kebutahurufan paling buruk adalah butahuruf politik... Mereka yg
butahuruf politik itu, saking dungunya, malah bangga dan menepuk dada dg
menyatakan benci terhadap politik. Para idiot itu tidak tahu bahwa justru
karena ketidak mau tahuan mereka ttg politik itulah yg melahirkan berbagai
malapetakan sosial seperti maraknya pelacuran dan anak-anak terlantar,
munculnya para pencuri yang paling jahat yaitu para politisi sontoloyo
(poliyo), dan berkembangnya korporasi nasional dan multinasional yang
korup." Rakyat yg melek politik adalah salah satu landasan utama bagi
terbangunnya sebuah tata politik demokratis yg substantif dan alat memerangi
berbagai penyakit sosial serta mencegah karutmarutnya kehidupan berbangsa dan
bernegara.
12
Juli 2015
Sahabat,
dalam Serat Wedhatama dikatakan: "Taman limut/ Durgameng tyas kang weh
limput/ Kerem ing karamat/ Karana karoban ing sih/ Sihing suksma ngrebda saardi
gengira." (Bila orang memiliki perasaan senang yang berlebihan, kadang-2
ia lupa, sebab ilmu itu pada dasarnya dapat menyenangkan. Namun jika ia
memperhatikan dengan seksama, cermat disertai rasa cinta pada sesama, maka
perasaan yang berlebihan itu dapat dikendalikan) (Pucung: 4)
Jebakan
bagi orang yang mendapat rahmat berupa ilmu adalah rasa bangga yang berlebihan,
seakan-akan seluruh kehidupan bisa diselesaikan dan dipecahkan sendiri tanpa
kontribusi elemen-elemen lain. Karena itu penguasan ilmu harus diawasi,
dikontrol, dan dikendalikan oleh etika, sehingga kecenderungan negatif tersebut
tidak dominan dan akhirnya malah merusak diri sendiri dan liyan.
13
Juli 2015
Sahabat,
Presiden AS ke 32, Franklin D. Roosevelt (1882-1945 ), mengatakan: "Jangan
pernah dilupakan bhw Pemerintah adlh kita sendiri, bukannya kekuatan asing di
luar kita. Penguasa tertinggi dalam demokrasi kita bukanlah Presiden, Senator,
para anggota Konggres, atau para pejabat kantor2 Pemerintah. Tetapi (penguasa
tertinggi tsb) adalah para pemilih di negeri ini." Rakyat yg punya hak
pilih sebagai penguasa tertinggi dlm demokrasi sudah seharusnya melek politik
dan peduli thd keamanan negaranya serta menolak semua gagasan dan praktik2 yg
bisa merusak dan menghancurkan negeri dan sistem demokrasi itu.
15
Juli 2015
Sahabat,
penyair dan novelis perempuan asal Inggris, Elizabeth Bibesco (1897-1945),
mengatakan: "Diberkatilah kiranya orang2 yang memberi tetapi tak pernah
mengingat-2nya, dan orang-2 yang menerima (pemberian) tetapi tak pernah
melupakannya." Baik pihak yg memberi dan menerima suatu kebaikan keduanya
memperoleh rahmat. Apalagi jika yg pihak pertama didasari motif tanggungjawab
sosial dan yg kedua memanfaatkannya demi hal2 yg positif. Memberi tak perlu
diingat2 dan dihitung2 sedang menerima tak harus rendah diri tetapi mengingat
kebaikan itu.
16
Juli 2015
Sahabat,
Junjungan kita Rasulullah saw bersabda: "Ada dua kebahagiaan yang
dirasakan oleh orang-2 yang berpuasa: kebahagiaan saat berbuka puasa, dan
kebahagiaan nanti saat bertemu dengan Allah swt.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Menjelang berakhirnya Ramadhan 1436, seluruh ummat Islam yang telah menjalankan
ibadah puasa Insya Allah akan merasakan kebahagiaan tersebut. Dan hendaknya
kebahagiaan itu juga sumrambah kepada seluruh ummat manusia. Jangan sampai rasa
kebahagiaan karena kemenangan memerangi hawa nafsu hanya menjadi sebuah klaim
yang tak bisa dibuktikan. Sebab, kaum setiap Muslim bertanggungjawab utk
mewujudkan amanat Allah swt bahwa Islam adalah pembawa rahmat bagi semua.
18
Juli 2015
Sahabat,
pejuang persamaan hak-hak asasi dan perdamaian, Dr. Martin Luther King, Jr.
(1929-1968), mengatakan: "Memaafkan bukanlah tindakan yang musiman belaka.
Ia adalah sikap yang terus menerus berkesinambungan." Budaya dan tradisi
bermaaf-maafan adalah sangat terpuji dan harus dilestarikan. Dan dalam rangka
pelestarian tersebut, ia harus terus menerus ditanamkan dan di pupuk serta
disosialisasikan. Dengan demikian, tradisi itu bukan sekadar tindakan musiman
tetapi telah menjadi sikap (attitude) yg inheren dan menyatu dalam pribadi
seseorang serta kelompok. Hanya dengan cara demikian pemaafan menemukan makna
yang substantif, bukan hanya tindakan yang asesoris.
19
Juli 2015
Sahabat,
pejuang perdamaian dan kemerdekaan asal India, Mahatma Gandhi (1869-1948),
mengatakan: "Manusia yang berjiwa lemah tidak akan pernah mau memaafkan.
Sebab memaafkan adalah karakter yang hanya dimiliki oleh mereka yang berjiwa
kuat." Kendati semua orang bisa bicara tentang memaafkan dan bahkan punya
tradisi maaf-memaafkan, tetapi tetap harus dibuktikan dalam kenyataan. Sebab
kesediaan memberi maaf memerlukan kekuatan mental dan keberanian mengambil
berbagai resiko yang acapkali sangat berat. Memaafkan bukan berarti membiarkan
dan melupakan suatu kekeliruan, apalagi kejahatan, begitu saja. Yang lebih
penting di dalamnya adalah kesediaan memberi kesempatan agar kekeliruan tak
terulang dan memperbaiki kembali hubungan antar manusia yang sempat terganggu.
20
Juli 2015
Sahabat,
pejuang anti apartheid dan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela (1918-2013),
mengatakan: "Membenci itu ibarat anda yang minum racun tetapi berharap
musuh anda yang tewas." Muncul dan maraknya kebencian tidak tergantung
pada cuaca dan musim, tetapi kapan saja dan dimana saja karena bibitnya ada
dalam diri pribadi-2 dan kelompok. Seperti layaknya racun adiktif yang bekerja
pelan tetapi mematikan, ia sering dianggap sebagai sesuatu yang menyemangati
dan diperlukan dalam kehidupan. Para pemujanya pun berhalusinasi seakan dg
membenci maka lawanpun akan dikalahkan. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah
proses penghancuran diri (self-destruction).
21
Juli 2015
Sahabat,
sejarawan dan rohaniwan Inggris, Thomas Fuller (1608-1661), mengatakan:
"Barangsiapa yang tidak mampu memaafkan orang lain, ibarat telah
menghancurkan jembatan yang akan dia lewati sendiri. Sebab setiap manusia
memerlukan pemaafan." Memaafkan bukan hanya suatu keperluan bagi pihak
yang dimaafkan saja, tetapi juga bagi pihak yang memaafkan. Sama halnya dengan
kedermawanan, ia bukan hanya keperluan dari si miskin tetapi juga keperluan
mereka yang punya. Sikap-sikap pemaaf dan kedermawanan adalah pengikat tali
kemanusiaan dan salah satu indikator adanya unsur kemanusiaan dalam diri
seseorang.
22
Juli 2015
Sahabat,
pembawa acara radio terkemuka asal AS, Bernard Meltzer (1916-1998), mengatakan:
"Ketika anda memberi maaf, anda tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi
di masa lalu, tetapi anda sudah jelas mengubah masa depan." Memaafkan
adalah salah satu kemampuan yang khas dimiliki mahluk ciptaan Tuhan yang
namanya manusia. Pemaafan biasanya ditujukan untuk perbuatan yang telah lewat,
padahal peristiwa yang dimaksud sudah jelas tidak akan berubah lagi. Namun
sebenarnya efek atau akibat yang diharapkan dari pemaafan adalah di masa depan,
yakni suatu perubahan yang lebih positif. Memaafkan memiliki potensi melahirkan
perubahan yg positif bagi kehidupannya apabila dilakukan secara sungguh-2, baik
lahir maupun batin.
23
Juli 2015
Sahabat,
rohaniwan asal AS, Lewis B. Smedes (1921-2002), mengatakan: "Keadilan
restoratif (pemulihan) bukanlah pengganti, tetapi pelengkap dari keadilan
retributif (pembalasan). Ia mengupayakan rehabilitasi bagi pelakunya dan
penyembuhan luka-2 dari para korbannya." Para pencari keadilan umumnya
menekankan pada prinsip dan paradigma retributive justice (keadilan utk
pembalasan). Target utamanya adalah para pelaku agar mendapat sanksi atau
hukuman setimpal atas kesalahannya. Masih jarang yang memahami pentingnya
prinsip dan paradigma restorative justice (keadilan utk pemulihan), sebagai
pelengkap dari yg pertama. Sebab dlm pemulihan tsb, bukan saja ditargetkan pada
membalas si pelaku tetapi juga memulihkan pelaku dan korban. Keduanya, sanksi
dan pemulihan, seharusnya perlu diupayakan bersama.
24
Juli 2015
Sahabat,
pejuang anti-apartheid dan rohaniwan Afrika Selatan, Desmond Tutu, mengatakan:
"Kasih sayang Tuhan terlalu besar untuk dibatasi hanya oleh salah satu
pihak yang berkonflik, atau bahkan oleh pengikut salah satu agama saja."
Berbagai konflik dan kekerasan yang berkedok ajaran agama memiliki akar masalah
pemahaman yang absolutis, monopolistik, eksklusif, dan diskriminatif. Akibatnya
terjadilah klaim-klaim yang kebablasan dan malah bertentangan serta
kontradiktif dan, pada gilirannya, mengancam keselarasan hubungan
antar-manusia. Ajaran tentang kasih sayang terhadap sesama yg dipunyai seluruh
agama, misalnya, malah didistorsi habis-2an menjadi alat pengabsahan bagi
konflik, penindasan oleh manusia atas manusia, penjajahan, perbudakan, dan
bahkan genosida!.
25
Juli 2015
Sahabat,
filsuf Romawi kuno asal Spanyol, Lucius Annaeus Seneca (4 SM-65 M), mengatakan:
"Sebenarnya, (dlm hidup ini) bukannya kita tak punya cukup waktu, tetapi
karena kita buang-buang waktu... Bukannya hidup ini singkat, tetapi karena kita
membuatnya tak bermanfaat. Bukannya karena kita tak punya bekal, tetapi karena
kita menyia-2kan bekal tsb." Kehidupan manusia memerlukan pengelolaan yang
tepat dan efektif, sehingga manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain serta lingkungan
bisa optimal. Kita sendirilah yg terutama harus bertanggungjawab jika kehidupan
kita tidak optimal, kendati ada saatnya ketika faktor-2 eksternal memang ikut
berperan. Sebelum kita menyalahkan pihak lain, kita perlu bekerja keras
melakukan yg terbaik.
26 Juli 2015
Sahabat, Sufi agung asal Persia,
Maulana Jalaludin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Kemarin akulah yang
pintar sehingga aku ingin merubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, sehingga
aku ingin merubah diriku sendiri." Manusia sejatinya berpotensi dan mampu
melakukan berbagai perubahan, termasuk perubahan kesadaran tentang keberadaanya
di dunia. Salah satu kesadaran tertinggi yang dicapai manusia adalah ketika ia
menyadari kelemahannya dan dari sana ia kemudian berupaya keras mengubahnya.
27
Juli 2015
Sahabat,
filsuf pasca-modernisme asal Perancis, Michel Foucault (1926-1984), mengatakan:
"Kerja politik yang paling nyata dalam masyarakat saat ini adalah
bagaimana melakukan kritik terhadap kinerja lembaga-lembaga yang seakan-akan
netral dan independen. (Kita perlu) mengritik dan mengupasnya sedemikian rupa
sehingga berbagai kekerasan politik yang mereka sembunyikan dapat kita bongkar
dan lawan bersama-sama." Kritik yang produktif dan bermanfaat adalah
apabila ia mampu membantu membongkar berbagai potensi kerusakan yang ditutup-2i
dan disembunyikan di balik gagasan, lembaga-lembaga, dan posisi-posisi yang
seakan-akan netral, independen, dan legitimate. Kritik seperti itulah yg
diperlukan dalam upaya membebaskan manusia dari belenggu ketertindasan dan
ancaman kekerasan.
28
Juli 2015
Sahabat,
spiritualis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Setiap batang
bambu tampak tumbuh tegak sendiri-sendiri, menjulang ke atas menantang langit.
Padahal akar-akar mereka di dalam tanah yang tak tampak, ternyata berkait
berkelindan satu sama lain. Dengan cara yang sama, pertemanan antar-manusia
adalah keterkaitan kuat yang menghubungkan pribadi-pribadi mandiri."
Gotong royong, persatuan, dan kebersamaan bukan berarti lenyapnya kepribadian
dan kemandirian. Masing-2 pribadi berhak mandiri dalam keunikan dan
perbedaannya, tetapi terjalin keakraban dan rasa keterkaitan erat dalam
sanubari yg tak terlihat.
29
Juli 2015
Sahabat,
penemu hukum relativitas dan peraih Hadiah Nobel dalam ilmu fisika, Albert Einstein
(1879-1955) , mengatakan : "Hukum relativitas hanya berlaku untuk fisika.
Ia tdk berlaku untuk etika." Etika yg merupakan landasan moral terkait
nilai2 kehidupan manusia, tidak mengenal hukum relativitas sebagaimana dikenal
dlm fisika . Etika bisa saja diaplikasikan secara kontekstual sehingga
memunculkan berbagai tafsir, namun pada prinsipnya ia hanya mengenal dua
pilihan antara nilai2 yang baik dan yang buruk. Merelatifkan etika sama halnya
dengan menghancurkan landasan kehidupan dan kemanusiaan.
30
Juli 2015
Sahabat,
filsuf eksistensialis dan novelis asal Perancis, Albert Camus (1913-1960),
mengatakan: "Orang yang sedang mencari apa yang benar itu tidak sama
dengan mencari apa yang menjadi hasratnya." Seringkali manusia mengacaukan
antara kebenaran dg hasrat atau kepentingan. Padahal bisa saja terjadi keduanya
bertentangan satu sama lain walaupun di atas permukaan tampak sama atau tidak
tampak secara transparan bedanya. Diperlukan kewaspadaan dan kehati2an serta
peringatan agar kita semakin bisa memisahkan apa yg benar dg apa yg hanya
menjadi hasrat kita.
31
Juli 2015
Sahabat,
Imam Al-Ghazali RA (1058-1111), mengatakan: "Terkorupsinya ajaran agama
terjadi karena ia berubah menjadi hanya sekadar kata-2 dan pencitraan
belaka." Kendati ajaran agama memiliki potensi memberikan pencerahan dan
perubahan bagi ummat manusia, tetapi ia juga bisa terkorupsi dan termanipulasi.
Tanda2 bhw ajaran agama dikorupsi adlh ketika ia hanya diomongkan dan dijadikan
alat pencitraan, sehingga tdk bermakna atau kehilangan relevansi dlm dinamika.
Alih2 agama menginspirasi perubahan menuju pembebasan, ia malah menjadi
kendala.
AGUSTUS
1
Agustus 2015 ·
Sahabat,
ekonom dan penulis best seller AS, John Perkins, mengatakan: “Apabila para
pemilik suara tidak tahu instrumen-2 terpenting yang digunakan oleh para
pemimpin mereka, bisakah bangsa tersebut mengklaim dirinya sebagai bangsa yang
demokratis?” Para pemilih memiliki kewajiban-2 yang tak kalah besarnya dengan
mereka yang dipilih utk mewakili dan/ atau memerintah. Salah satunya adalah
mengetahui dengan baik dan melakukan pengawasan terhadap cara dan alat yang
digunakan oleh para pemimpinnya. Rakyat tidak boleh membiarkan para pemimpin
tsb menggunakan cara-cara dan alat-alat utk berkuasa serta melaksanakan amanat
yang bertentangan dengan prinsip dan etika kemanusiaan. Bangsa yang demokratis
bukanlah bangsa yang lepas tangan dan tidak bersikap kritis terhadap para
pemimpinnya.
2
Agustus 2015 ·
Sahabat,
penulis dan pemikir masalah spiritualitas, sosial, dan lingkungan asal India,
Deepak Chopra (lahir 1946), mengatakan: "Kita membutuhkan kualitas2
kepemimpinan yg feminin. Artinya kepemimpinan yg memberi perhatian besar kepada
estetika dan lingkungan, pengasuhan, kasih sayang, intuisi dan beberapa
kemampuan yg membuat orang merasa aman dam dipedulikan." Model
kepemimpinan yg dominan masih cenderung berkarakter maskulin. Ia didominasi
oleh kekuasaan, kekuatan, kontrol, machoisme, kharisma, kegagahan fisik dan
sejenisnya yg lebih berorientasi pada fisik dan kekerasan. Itu sebabnya masyarakat
dan rakyat juga terpengaruh dan lebih cenderung menggunakan pendekatan2 dan
gaya maskulin ketimbang feminin. Termasuk di kalangan kaum perempuan juga.
6
Agustus 2015 ·
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah, mengatakan: "Kekayaan
yang termahal adalah kecerdasan; kehancuran terbesar adalah ketololan;
kebiadaban yang paling liar adalah kesombongan, dan prestasi yang terbaik ialah
kebaikan akhlak." Kemajuan manusia baik pribadi maupun kelompok, termasuk
juga kemajuan dan keunggulan sebuah bangsa, ditentukan oleh empat perkara tsb.
Jika pemimpin sebuah bangsa bermaksud melakukan revolusi mental, seyogyanya
empat perkara ini menjadi landasan paradigma yang utama.
7
Agustus 2015 ·
Sahabat,
pemimpin spiritual Buddha, Dalai Lama, mengatakan: "Kita perlu merangkul
(pendekatan) 'perlucutan senjata di dalam diri', yaitu memperkecil rasa curiga,
kebencian, dan kemarahan terhadap saudara dan saudari sesama manusia."
Jika kita berusaha menerapkan pendekatan antikekerasan (non violence), maka harus
dimulai dari diri kita sendiri. Yaitu membiasakan diri dengan keterbukaan dan
tidak menjadikan kebencian sebagai pedoman dalam bergaul serta berkomunikasi dg
sesama manusia. Ini bukanlah pekerjaan mudah, bahkan tidak semua pemimpin,
termasuk agamawan, yang mampu melakukan 'perlucutan senjata' di dalam dirinya.
8
Agustus 2015 ·
Sahabat,
penulis perempuan asal Inggris, Karen Armstrong, mengatakan: "Orang-orang
beragama acapkali lebih menyukai "kebenaran" ketimbang kasih sayang.
(Dengan sikap demikian) mereka tidak mau meninggalkan sikap egotisme, malah
kalau perlu menggunakan agama untuk mendukung keegoan dan identitas
mereka." Keberagamaan bisa menjadi salah satu akar permasalahan relasi
antar-manusia, ketika fokus diarahkan pada klaim kebenaran masing-2.
Kecenderungan ini membuat orang lupa atau mengabaikan dimensi yang sangat
penting dalam ajaran semua agama, yakni hubungan antara manusia yang damai,
harmonis, produktif, serta beradab. Akibatnya keberagamaan menjadi wahana bagi
sikap mau menang dan/atau mau benar sendiri serta menghakimi liyan dengan
carapandang egoistik. Keberagamaan yg sebenarnya bisa menjadi wahana bagi
kebaikan utk semua, lantas berbalik menjadi wahana bagi ancaman utk semua.
9
Agustus 2015 ·
Sahabat,
filsuf dan matematikawan asal Perancis, Blaise Pascal (1626-1662), mengatakan:
"Manusia tak bisa melakukan kejahatan dg begitu sungguh-2 dan dg sukacita
melebihi ketika ia menggunakan dalih keyakinan beragama." Kekerasan dan
konflik sepanjang sejarah manusia memiliki akar masalah dan sumber yg berbeda2.
Tetapi sampai hari ini akar masalah pemahaman keagamaan masih tetap menjadi
salah satu persoalan utama. Ia bukan saja menjadi sumber tetapi juga obyek yg
paling rentan thd manipulasi.
10
Agustus 2015 ·
Sahabat,
Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Upayamu untuk mencari
kekurangan-2 yg tersembunyi dalam dirimu lebih baik ketimbang upayamu untuk
mengungkap rahasia-2 yang tersembunyi bagimu." (32) Kadang manusia tergoda
oleh hasrat mencari dan menguasai kemampuan-2 atau ilmu-2 yang rahasia, agar
semakin dihormati, menambah kewibawaan, atau berkuasa. Padahal akan lebih
bermanfaat jika waktu dan upayanya difokuskan utk merenungkan diri dan
memperbaiki berbagai kekurangan sebagai mahluk. Sebab pilihan kedua itu jelas
lebih dekat dengan perintah Tuhan agar selalu mawas diri, sementara pilihan
pertama lebih didorong oleh keinginan diri melebihi dan/ atau menguasai orang
lain.
11
Agustus 2015 ·
Sahabat,
sipiritualis Buddhis asal Vietnam, Thich Nath Hanh, mengatakan:
"Bermeditasi bukan berarti menghindari masyarakat. Ia adalah upaya utk
memperoleh tilikan mendalam yang diperlukan utk bertindak. Adalah keliru jika
menganggap bermeditasi hanya soal duduk dan menimati ketenangan serta kedamaian
sekitar." Melakukan meditasi atau bertafakur seyogyanya merupakan bagian
integral dalam kehidupan manusia. Ia adalah momen bagi kita utk mengambil jarak
dari kesibukan keseharian dan paya meraih kesadaran ruhani yg terdalam. Namun
pada saat yg sama, meditasi dan /atau tafakur adalah bekal utama utk kembali
hidup dalam masyarakat dengan segala kompleksitasnya.
12
Agustus 2015 ·
Sahabat,
mahaguru dan filsuf linguistik dari MIT, AS, Noam Chomsky, mengatakan:
"Bagi pihak yang punya kekuasaan, perilaku pihak lainlah yg selalu
dituding keliru." Kritik terhadap pemilik kekuasaan adlh suatu keniscayaan
agar ia tidak terjebak dalam halusinasi seakan-akan paling benar dan tidak bisa
keliru. Hanya pihak oposisi atau yg lemah yg bisa keliru. Padahal justru mereka
yg sedang berkuasalah yg potensinya utk bersalah dan melakukan keleliruan bisa
lebih besar.
13
Agustus 2015 ·
Sahabat,
Sayyidina 'Umar Ibn Al-Khattab, RA (577-644), mengatakan: "Aku tidak
terlalu khawatir apabila do'a-2ku ditolak (oleh Tuhan); tetapi aku sangat
khawatir jangan-jangan tidak mendapat hidayah untuk terus mampu berdoa
kepadaNya." Begitu pentingnya berdoa kepadaNya secara konsisten sehingga
ia lebih diutamakan ketimbang khawatir apakah doa-2 tsb akan dikabulkan
olehNya. Terkabul atau tidaknya doa adalah hak prerogatif Sang Maha Pemberi,
sementara berdoa adalah sebuah kewajiban dari mahluk kepada Penciptanya. Bukan
hanya soal hasil yang dipentingkan, tetapi juga menjaga konsistensi
melakukannya.
14
Agustus 2015 ·
Sahabat,
Ibnu Atho'illah As-Sakandary, mengatakan: "Ada tiga macam respon manusia
ketika mendapat nikmat dari Allah swt: 1) Gembira thd nikmat yang diperolehnya;
2) Gembira thd nikmat yg diperolehnya dan thd Allah swt yg memberinya; dan 3)
Gembira hanya thd Allah swt." Pada umumnya respon manusia ketika mendapat
suatu kenikmatan adlh seakan-2 hal tsb merupakan hasil jerih payahnya dan bhw
dirinya berhak utk meraihnya. Seharusnya, manusia bersyukur kpd Tuhan ketika
mendapat karunia tsb dan menggunakannya utk pengambian padaNya. Ada pula
manusia yg mampu mengambil jarak dengan baik kenikmatan maupun penderitaan,
serta hanya berfokus kepada pengabdian padaNya. Inilah capaian yg luar biasa
dari mereka yg telah sampai pada derajat 'Arif, atau orang-2 yg telah
memperoleh pencerahan spiritual.
15
Agustus 2015 ·
Sahabat,
sastrawan dan filsuf eksistensialis asal Perancis, Jean Paul Sartre
(1905-1980), mengatakan: "Sekali anda sudah mengetahui detail-detail dari
sebuah kemenangan, maka akan sulit untuk membedakan antara kemenangan dengan
kekalahan." Manusia pada umumnya hanya melihat kemenangan, kesuksesan,
keberhasilan pada ujungnya saja. Jarang ada yang mau menghitung atau
merenungkan betapa banyak pengorbanan, kesulitan, kekalahan yang mesti dilewati
dan ditanggung. Apa yg disebut kemenangan, termasuk dalam merebut kekuasaan,
kadangkala disertai dengan begitu banyak korban yg jatuh dalam proses dan
pertarungan memerebutkannya. Belum lagi jika dipahami bahwa kemenangan
seseorang, bisa jadi, merupakan penderitaan bagi yang lain.
16
Agustus 2015 ·
Sahabat,
filsuf dan Kaisar Romawi, Marcus Aurelius (121-180), mengatakan: “Kebahagiaan
hidupmu ditentukan oleh kualitas pemikiranmu. Karena itu, peliharalah
(pemikiran tsb) dengan sebaik-2nya." Memelihara kualitas pemikiran adalah
upaya memperbaiki kualitas kehidupan. Bukan berarti tidak memperbolehkan perubahan
dalam pemikiran tersebut, karena hal itu berarti membuat hasil pemikiran
menjadi dogma beku. Yang dimaksud memelihara di sini adlh mengembangkan
pemikiran-2 tsb sesuai dg dinamika lingkungan, dari yang lokal sampai yang
global. Salah satunya adlh dengan sering bertukar pikiran untuk mencari,
memperkaya, dan memperbaikinya.
17
Agustus 2015 ·
Sahabat,
Presiden RI ke 1, Bung Karno (1901-1970), mengatakan: "Kita belum hidup
dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah
bersemangat elang rajawali “. Indonesia telah berusia 70 tahun, namun sebagai
sebuah negara-bangsa ia masih berada dalam kondisi 'pancaroba': sebuah keadaan
yang tak menentu dan belum stabil. Karenanya seluruh penyelenggara negara dan
warganegara RI mesti 'cancut taliwondo', bekerja keras, mewujudkan dan meraih
cita-cita Proklamasi 1945. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan
petunjuk dan rahmatNya kepada kita semua. Amin.. DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE
70.
18
Agustus 2015 ·
Sahabat,
rohaniwan Katolik dari Ordo Oblat Maria Imakulata (OMI), Kardinal Francis
George (1937-2015), mengatakan: “Berbagai macam konflik tragis yang merobek
kemanusiaan, dan salah satu sumbernya adlh motif keagamaan yg disalahpahami,
telah meninggalkan kebencian dan kekerasan yg membekas di antara umat
manusia." Motif keagamaan yang mungkin saja baik dan bermanfaat, bisa
menjadi sumber persoalan dan bahkan konflik yg besar manakala disalah pahami
atau disampaikan dengan cara yang keliru. Substansi dan penyampaiannya harus
integratif dan sinergis agar pesan profetik keagamaan benar-2 sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi masyarakat. Sehingga pesan-2 tsb tidak terdistorsi dan
kemudian malah menjadi sumber konflik yang destruktif.
19
Agustus 2015 ·
Sahabat,
Sufi Agung asal Iran, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan:
"Naikkanlah mutu kata-katamu, bukan kerasnya suaramu. Yang membantu
tumbuhnya bunga adalah siraman air hujan, bukan suara petir." Pidato,
khotbah, ceramah, tausiah, dll lebih laris jika menggunakan gaya demagog
ketimbang upaya dialog. Kualitas kata dan kalimat seringkali dikalahkan oleh
pameran retorika yang bukan saja kosong makna dan berkah, tetapi juga sumber
kebencian dan fitnah. Retorika para demagog dianggap sebagai kebenaran,
walaupun isinya bertabrakan dengan nurani dan penalaran. Hasil akhirnya adalah
maraknya kemunafikan yang dipertontonkan tanpa rikuh tanpa segan...
20
Agustus 2015 ·
Sahabat,
filsuf dan spiritualis Hindu, Swami Vivekananda (1863-1902), mengatakan:
"Anda tak perlu takut, sebab semua kekuatan besar dalam sejarah manusia
selalu bersama rakyat. Dari jajaran merekalah para jenius dunia muncul, dan
sejarah selalu mengulangi hal itu. Jangan takut terhadap (tantangan) apapun,
maka anda bekerja dengan mengagumkan." Ketika bangsa kita menghadapi
persoalan-persoalan yang sulit dan membuat kita begitu pesimis serta merasa tak
punya jalan keluar, maka kepercayaan diri sebagai bangsa mesti diperkuat. Sebab
rasa percaya diri itulah yang menjadi salah satu pendorong utama perjuangan
menghadapi tantangan di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kepercayaan diri
itulah yg dapat memotivasi kita utk kembali bangkit mengatasi semua kesulitan
dan bekerja keras menemukan jawaban serta solusi.
21
Agustus 2015 ·
Sahabat,
filsuf Jerman, Friedrich Nietszche (1844-1900), mengatakan: "Barangsiapa
ingin belajar untuk bisa terbang pd suatu hari, maka ia mesti lebih dahulu
belajar utk berdiri, berjalan, dan berlari serta menari. Ia tidak mungkin bisa
terbang begitu saja." Proses utk mencapai hasil sesuatu tak kalah
pentingnya dengan capaian itu sendiri. Orang atau masyarakat yg tdk menghargai
pentingnya proses akan mengidap mental menerabas dan tdk mau susah payah yg, pd
akhirnya, akan berakibat buruk bg usahanya. Tidak ada bangsa manapun di muka
bumi ini yg bisa besar dan maju dengan memakai landasan budaya mental menerabas
itu.
22
Agustus 2015 ·
Sahabat,
penyair Amerika asal Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Aku
berguru tentang diam kepada para tukang omong, tentang toleransi kepada mereka
yg intoleran, tentang kebajikan kepada mereka yg jahat. Tetapi aku tidak akan
pernah berterimakasih kepada semua 'guru-guru' tersebut." Belajar atau mengambil
hikmah bisa dati berbagai sumber tetapi tak berarti bhw semua sumber itu lantas
bernilai sama. Kejahatan dan keburukan tetap saja tidak baik dan harus
dihindari, kendati mungkin kita bisa mengambil hikmah dan 'pelajaran' darinya.
23
Agustus 2015 ·
Sahabat,
filsuf Yunani kuno, Socrates (469-399 SM), mengatakan: "Manusia yg
bernalar sangat baik akan suka mendiskusikan pemikiran. Yang bernalar rata2
akan suka mendiskusikan peristiwa-2. Yang bernalar di bawah rata2 akan memilih
membicarakan orang." Ngrumpi, gossip, menyebar rumor dan sebangsanya
merupakan aktivitas yg tak memerlukan nalar. Karenanya hobby seperti itu bisa
menjadi indikator kapasitas penalaran para pemiliknya.
24
Agustus 2015 ·
Sahabat,
rohaniwan asal Amerika, Robert H. Schuller (1926-2015), mengatakan: "Jika
anda hanya mendengarkan ketakutan dan kehawatiran anda, maka sampai matipun
anda tak pernah tahu betapa hebatnya diri anda sebenarnya." Manusia yg
kehidupannya selalu dibayangi, diarahkan, dan bahkan diatur oleh kecemasan,
kekhawatiran, dan ketakutan, tdk akan pernah mencapai optimasi dari potensi
yang dimilikinya. Ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan akan menjadi tembok-2
yg mengurungnya dan kian menyempit seiring dengan bertambahnya usia. Potensi-2
bagus dan kreatifitas tidak mungkin akan bisa diwujudkan jika tembok-2 tsb kian
menyempit dan akhirnya memenjarakan diri sendiri.
25
Agustus 2015 ·
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah (599-661), mengatakan:
"Sahabat yang baik adalah dia yg ketika kamu tidak membutuhkannya, akan
bertambah cinta kepadamu, sementara jika kamu sedang membutuhkannya, dia juga
tidak akan berkurang sedikitpun kecintaannya kepadamu." Sebagai mahluk
sosial, kita memerlukan sahabat yang dapat diajak sharing baik dalam kondisi
suka maupun duka. Dan kitapun lalu berusaha mencari sahabat-2 yg berkualitas.
Seharusnya bukan hanya kita yang mencari orang seperti itu, tetapi diri kita
pun mestinya berkualitas seperti itu. Sehingga kita tetap dalam posisi siap
baik ketika membutuhkan maupun dibutuhkan.
26
Agustus 2015 ·
Sahabat,
filsuf perempuan, pakar fisika kuantum, dan aktivis lingkungan asal India,
Vandana Shiva, mengatakan: "Demokrasi dimulai dengan mewujudkan
kebebasan-kebebasan dari kelaparan, pengangguran, ketakutan, dan kebencian.
Itulah yang, menurut hemat saya, benar-2 kebebasan yang nyata dan harus
dijadikan landasan kehidupan kemasyarakatan yang baik.” Mengupayakan,
memelihara, dan mengembangkan sistem demokrasi memerlukan adanya kondisi
struktural tertentu, selain jaminan terhadap hak-hak asasi, sebagai
landasannya. Sistem demokrasi tdk mungkin berkembang dan/ atau terpelihara dg
baik jika sebagain dari pendukungnya masih mengalami berbagai persoalan dan
kendala struktural seperti kemiskinan akut, ancaman kekerasan, ketakutan, dan kebencian
dalam kehidupan mereka. Demokrasi yg tidak punya landasan dan struktur yg kokoh
hanya merupakan demokrasi seolah-2 dan mudah dirubuhkan oleh lawan-lawannya.
27
Agustus 2015 ·
Sahabat,
sutradara, penulis, dan peraih Nobel asal Irlandia, George Bernard Shaw
(1856-1950), mengatakan: "Demokrasi bisa jadi adalah sebuah bentuk
pemerintahan yang menggantikan pemilihan yang dilakukan oleh banyak orang yang
inkompeten menjadi penunjukan beberapa orang-orang yang korup." Ketika
sistem demokrasi hanya dipahami sebagai prosedur belaka dan mengabaikan
substansi serta kualitas para pelakunya, maka ia menjadi sebuah parodi dan
mengancam kehidupan masyarakat dan bangsa. Sebab demokrasi yg hanya prosedural
belaka bisa menghasilkan para pemimpin korup dan tidak becus yang merupakan
hasil pilihan mayoritas manusia-2 yang tidak memiliki kapasitas. Prosedur dan
substansi dalam sistem demokrasi adalah dwitunggal yg tak terpisahkan.
28
Agustus 2015 ·
Sahabat,
filsuf agung asal Persia, Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, mengatakan:
"Ingatlah bahwa separo dr dosa2 manusia yg mengingkari Tuhan akan
dibebankan kepada para agamawan yg telah menyebabkan mereka bersikap
menolakNya." Kedudukan yg luhur sebagai agamawan juga memiliki
tanggungjawab yg luar biasa besarnya. Jika agama yg diajarkan mereka malah
menciptakan kerusakan, perpecahan, kebencian, dan malapetaka bg kemanusiaan,
hal itu sebagian adlh menjadi tanggungjawab para agamawan tsb. Apalagi jika
para agamawan tsb mengakibatkan manusia makin menjauhi agama karena pemahaman yg
mereka ajarkan ternyata membuat manusia kian menjauh dari Tuhan.
29
Agustus 2015 ·
Sahabat,
teolog dan filsuf asal Italia, Thomas Aquinas (1225-1274), mengatakan:
"Kebaikan bisa saja ada tanpa adanya kejahatan, tetapi kejahatan tidak
mungkin ada tanpa adanya kebaikan." Sebuah ironi dalam kehidupan bahwa
kejahatan memerlukan kebaikan utk bisa hidup. Seperti benalu yg tak akan tumbuh
tanpa ada pohon yg hidup. Kejahatan, seperti benalu, hidup dari mengkorupsi
kebaikan. Namun dmk tdk berarti tak perlu ada kebaikan supaya kejahatan tdk
ada. Justru kebaikan harus tetap ada dan diperkuat agar kejahatan tdk mampu
mengkorupsinya.
30
Agustus 2015 ·
Sahabat,
pelukis dunia asal Belanda, Vincent van Gogh (1853-1890), mengatakan:
"Para nelayan tahu belaka bahwa laut sangat berbahaya dan badainya sangat
mengerikan, tetapi mereka tidak pernah menjadikannya alasan utk tetap di
daratan." Tantangan dan persoalan, disukai atau tidak, dicari atau tidak,
akan terus ada dan berdatangan selama manusia masih hidup. Kita lebih baik
selalu menyiapkan diri menghadapi dan berusaha keras utk memecahkannya kendati
tak ada jaminan akan berhasil sepenuhnya. Cemunguuudd...!!
31
Agustus 2015 ·
Sahabat,
Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i RA (767-819), mengatakan: "Ada
sementara manusia yang telah wafat, tetapi wataknya tetap membuat mereka seakan
masih hidup. Namun ada sementara manusia yang secara fisik masih hidup, tetapi
wataknya telah membunuh mereka." Manusia yang memiliki karakter baik dan
bermanfaat bagi manusia lain, akan diabadikan dalam ingatan kolektif dan
dijadikan sebagai rujukan sehingga seakan-akan ia masih selalu berada
ditengah-tengah kita. Sebaliknya, walaupun seseorang masih hidup, memiliki nama
besar, dan kedudukan terhormat, tetapi ia malah menjadi bahan olok-olok, hujatan,
dsb seakan-akan tak bermanfaat. Kalau ia mati justru banyak yang bersyukur
karena dunia terhindar dari kerusakan yg lebih parah.
SEPTEMBER
Tgl
4 sept 15
Sahabat,
filsuf dan negarawan Romawi kuno, Marcus Tullius Cicero (106-43 SM),
mengatakan: "Alam tidak menyukai kesendirian dan ia senantiasa mencari
dukungan. Dan dukungan yang terindah ditemukan dalam persahabatan yang
erat." Persahabatan, adalah salah satu inti dan ciri kemanusiaan karena ia
juga merupakan hukum alam. Manusia dan alam saling membutuhkan sebagaimana
sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain. Foto ini adalah bukti bahwa
persahabatan bisa terjadi dalam kondisi yang tak terbayangkan. Saya mendapat
sahabat baru, seekor cicak yang selalu nongol di meja kerja di rumah. Dan utk menghormatinya,
saya sediakan makanan buah-2an seperti pepaya, pisang, dll. Cicak, yang saya
namakan Cicero, bisa menjadi teman utk mencari inspirasi renungan pagi.
Tgl
5 sept 15
Sahabat,
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah (656-661), bertausiyah:
"Janganlah engkau merasa kesepian ketika sedang berada di jalan kebenaran,
kendati hanya sedikit sekali orang-orang yang ikut berjalan di sana."
Membela suatu kebenaran tidak mudah, karena seringkali akan menempatkan orang
pada posisi sulit. Misalnya resiko merasa kesepian dan/ atau terasing,
seakan-akan tak ada pihak yang bersimpati apalagi ikut membelanya. Rasa
kesepian itulah yg berpotensi menyuburkan bibit keragu-2 an yg ada dalam hati
dan melemahkan rasa percaya diri. Karenanya memerangi perasaan kesepian dan
rasa kurang percaya diri merupakan bagian integral dari perjuangan menegakkan
kebenaran.
Tgl
7 sept 15
Sahabat,
aktivis dan mahaguru teologi dan filsafat asal AS, Cornel West, mengatakan:
"Salah satu prasyarat utama agar kebenaran bisa muncul adalah memberi
peluang kepada penderitaan agar ia ikut berbicara." Mencari solusi bagi
berbagai persoalan kemasyarakat seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan,
dan kekerasan memerlukan keberanian utk membongkar akar-akar persoalan tsb.
Para korban yang mengalami penderitaan harus diberi ruang yg cukup dan
perlindungan keamanan agar bisa memberikan pandangan dan pengalaman mereka
serta mengajukan fakta-fakta tanpa didistorsi atau merasa ketakutan. Tanpa
partisipasi para pihak yang menjadi korban, maka akan rentan terhadap
manipulasi dan politisasi, sehingga solusi-solusi yg ditawarkan pun menjadi
muspro alias sia-sia.
Tgl
8 sept 15
Sahabat,
dalam drama "Saudagar dari Venesia" karya William Shakespeare
(1563-1616) dikatakan, "Setan pun bisa menyitir Kitab Suci untuk
(mendukung) kemauannya." Kritik adalah salah satu cara utk membuka topeng
(unmasking) kepalsuan yang dibungkus dengan berbagai retorika, termasuk
retorika utk mengabsahkan tindak kekerasan, intimidasi, represi, diskriminasi,
dll. Kritik bukan sekedar mengecam demi keperluan kecaman belaka, tetapi ia
memilik fungsi menunjukkan dan memerbaiki kekeliruan, baik yg di sengaja atau
bukan. Terutama jika berhadapan dengan kekuasaan yang seringkali menggunakan
retorika dan demagogi utk mengelabui rakyat yang dianggapnya bodoh dan
ketakutan.
Tgl
9 sept 15
Sahabat,
fisikawan dan peraih Nobel asal Denmark, Niels Bohr (1885-1962), mengatakan:
“Yang menjadi tujuan dalam menjelaskan fenomena alam bukanlah utk menguak inti
dari fenomena tsb, tetapi utk menelusuri sejauh mungkin berbagai aspek hubungan
yg berlapis-2 dari pengalaman kita." Relasi manusia dengan alam merupakan
sumber tak habis-2nya bagi pengembangan kemanusiaan. Pemahaman tentang relasi
itulah yg menghasilkan temuan-2 besar dalam khazanah filsafat, ilmu pengetahuan
dan teknologi serta peradaban manusia sepanjang sejarah. Sangat disayangkan
apabila manusia merusak relasinya dengan alam, karena berarti ia sedang
menghancurkan sumber utama dari kehidupannya, baik pada tataran individu maupun
kolektif.
Tgl
11 sept 15
Sahabat,
Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Pangkal dari segala kemaksiatan,
kelalaian, dan hawa nafsu adalah sikap berpuas diri thd keadaan. Pangkal dari
ketakwaan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tak puas diri dengan
keadaan." (AL-HIKAM 1: 35). Sikap berpuas diri bukan saja berakibat
negatif terhadap kehidupan jasmaniah, tetapi juga rohaniah. Karena sikap
tersebut maka manusia menjadi tertutup dan kehilangan motovasi utk berbuat
lebih baik dan maju. Demikain pula. suatu bangsa yg hanya bisa berpuas diri
adalah bangsa yang akan sulit utk maju dan rentan terhadap bahaya kemerosotan.
Secara rohaniah pun demikian, kepuasan thd diri bisa semakin menyesatkan dan
mendorong munculnya arogansi dan kepongahan yang pada gilirannya merusak keikhlasan
dan ketakwaan.
Tgl
12 sept 15
Sahabat,
novelis perempuan terkemuka dari India, Arundhati Roy, mengatakan:
"(Pemahaman ttg terorisme saat ini) mengabaikan terorisme ekonomi yang
disebarluaskan oleh neoliberalisme dan telah menghancurkan jutaan kehidupan
manusia. Terorisme tsb mengakibatkan mereka menderita kekurangan air, makanan,
listrik, obat-obatan, dan pendidikan. Terorisme jenis ini merupakan kepanjangan
dari logika ekonomi pasar bebas. Terorisme jenis ini adalah privatisasi
perang." Memerangi terorisme secara komprehensif, selain diarahkan kepada
dimensi-2 ideologi, sistem politik, dan kekuatan militer, juga harus melibatkan
dimensi ekonomi. Sebab, hasil akhir dari terorisme ekonomi tak kalah dahsyatnya
dengan terorisme dg serangan militer, baik yang disponsori aparat negara maupun
aktor-2 non-negara. Kehancuran kehidupan ratusan juta manusia, akibat sistem
ekonomi yang eksploitatif dan menindas, merupakan fakta yang tak bisa dibantah.
Tgl
14 sept 15
Sahabat,
Presiden AS ke 32, Franklin D. Roosevelt (1882-1945), mengatakan:
"(Prinsip) kebebasan yang ada dlm demokrasi tidak akan bertahan apabila
rakyat membiarkan kekuasaan korporasi mencapai suatu titik di mana ia lebih
kuat ketimbang negara sendiri. Esensinya, itu adalah fasisme." Sistem demokrasi
memberi tempat kepada korporasi utk tumbuh dan mengembangkan diri, namun tetap
harus bisa dikendalikan oleh negara yang menjadi pelindung kepentingan rakyat
sebagai warganegara. Aapabila korporasi lepas dari pengawasan dan malah
mempengaruhi dan mengontrol negara, maka yang akan muncul adalah fasisme.
Korporasi, secara prinsipil, tidak mungkin menjadi penyokong utama demokrasi
yang mensyaratkan adanya kebebasan dan persamaan para pendukungnya.
Tgl
15 sept 15
ahabat,
pemegang tahta suci Vatikan ke 266, Paus Fransiskus, mengatakan: "Pemujaan
pada berhala sapi emas pada zaman kuno kini kembali muncul dalam bentuknya yg
baru dan kejam. (Yaitu) penyembahan terhadap uang dan kediktatoran ekonomi tak
berbentuk, serta tak berperi-kemanusiaan." Akumulasi kekayaan, pertumbuhan
ekonomi, dan penumpukan modal yang seharusnya hanya merupakan alat untuk
menyejahterakan manusia, berubah menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. Kekayaan
akhirnya menjadi faktor utama dalam proses penyengsaraan dan penghancuran
kemanusiaan dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Jutaan manusia saling
hancur-menghancurkan sebagai akibat dari pemujaan terhadap kekayaan. Yang
seharusnya alat kini berubah menjadi tuan dan pengendali.
Tgl
16 sept 15
Sahabat,
fisikawan terkemuka dan peraih Nobel, Albert Einstein, mengatakan:
"Barangsiapa yang mengabaikan kepercayaan utk urusan2 yg kecil, maka ia
tidak bisa dipercaya memegang urusan2 yg besar." Rekam jejak seseorang yg
akan diserahi tugas, khususnya terkait kepentingan orang banyak, sangat penting
utk dijadikan sebagai salah satu kriteria. Sebab tugas tsb terkait dg
kepercayaan atau ananah (public trust). Seringkali karena hanya tergiur oleh
tampilan luar seseorang atau sekelompok orang, terjadi kekecewaan besar setelah
beberapa waktu. Prinsip "trust and verify" (percaya dan periksa)
sangat perlu diterapkan utk mereka yg diserahi tugas.
Tgl
17 sept 15
Sahabat,
filsuf agung Tiongkok kuno, Lao Tzu, mengatakan: "Ketika kepompong
menyebutnya sebagai akhir, oleh dunia disebut sebagai kupu-kupu." Kita
memiliki kecenderungan utk melihat sesuatu dengan sangat terbatas sesuai
perspektif dan kepentingan yg kita miliki. Padahal, belum tentu perspektif dan
kepentingan kita sama dengan yang dimiliki pihak lain yang mungkin lebih baik.
Yang kita sebut sebagai sebuah kegagalan, bisa jadi ternyata adalah sebuah awal
dari kesuksesan yg besar. Memperluas perspektif dan meninggalkan cara berfikir
yang sempit adalah jalan yang mesti ditempuh utk memperkaya dan memperluas
cakrawala kita.
Tgl
20 sept 15
Sahabat,
Sang Buddha mengatakan: "Adalah pikiran manusia sendiri yg menggodanya utk
menempuh jalan yg salah, bukan karena musuh atau lawannya. Tak ada yg lebih
melawan dan tak ada yg lebih patuh kecuali pikiran. Tak ada yg lebih mengancam
dirimu melebihi pikiran yang tak terjaga." Kemampuan utk menjaga dan
mengelola pikiran kita bisa membawa pada suatu kondisi yg positif dan produktif
dlm kehidupan pribadi maupun kolektif. Kegagalan dlm menjaga dan mengelola
pikiran bisa berdampak serius dlm kehidupan pribadi, sosial, dan bahkan bagi
perkembangan peradaban.
Tgl
24 sept 15
Sahabat,
Sang Buddha mengatakan: "Adalah pikiran manusia sendiri yg menggodanya utk
menempuh jalan yg salah, bukan karena musuh atau lawannya. Tak ada yg lebih
melawan dan tak ada yg lebih patuh kecuali pikiran. Tak ada yg lebih mengancam
dirimu melebihi pikiran yang tak terjaga." Kemampuan utk menjaga dan
mengelola pikiran kita bisa membawa pada suatu kondisi yg positif dan produktif
dlm kehidupan pribadi maupun kolektif. Kegagalan dlm menjaga dan mengelola pikiran
bisa berdampak serius dlm kehidupan pribadi, sosial, dan bahkan bagi
perkembangan peradaban.
Tgl
26 sept 15
Sahabat,
Paus Fransiskus mengatakan: "Dunia kita kian menjadi tempat konflik dengan
kekerasan, kejahatan brutal dan kebencian yang dilakukan bahkan atas nama Tuhan
dan agama. Kita tahu bahwa tidak ada agama yang imun dari berbagai jenis
kegilaan individual dan ekstremisme ideologis. Dan itu berarti kita harus
mewaspadai segala bentuk fundamentalisme, baik berdasarkan agama maupun yang
lainnya." (Pidato di depan Konggres AS, 24/09/2015).
Upaya
menghentikan kekerasan, konflik brutal, ekstremisme ideologis, dll merupakan
tugas kemanusiaan. Salah satunya adalah dengan mencermati dan mewaspadai
berbagai pemahaman fundamentalistik yang berpotensi merusak kehidupan manusia,
baik individual maupun kolektif. Fundamentalisme bisa muncul dari penafsiran
ajaran agama, tetapi juga pemikiran-2 non agama (sekuler), sehingga kerja ini
merupakan tugas dan tanggungjawab kemanusiaan bersama.
Tgl
28 sept 15
Sahabat,
Sufi Agung Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Tugasmu sebenarnya
bukan mencari cinta, tetapi mencari dan menemukan tembok-2 dalam dirimu yg
engkau bangun utk menghalangi cinta." Manusia diciptakan Tuhan dilengkapi
dengan kemampuan utk mendapat dan menerima kasih sayang, baik dari sesama
manusia maupun dariNya. Namun manusia sendirilah yg membuat kemampuan itu kian
tumpul, terhalang, bahkan malah tertutup sama sekali. Jika ia ingin memperoleh
kasih sayang tsb, yang perlu dilakukan manusia adalah membongkar penghalang-2
yang ia ciptakan sendiri. Pada dirinya sendiri terletak tanggungjawab itu.
OKTOBER
Sahabat, pengarang
besar Amerika, Mark Twain (1835-1910), mengatakan: "Saya tidak akan pernah
membiarkan (proses) sekolah saya mengintervensi pendidikan (yg saya
jalani)." Sekolah formal adalah kebutuhan dan merupakan salah satu jenis
pendidikan dalam masyarakat modern. Namun pendidikan tak bisa direduksi menjadi
hanya sekolah. Sekolah merupakan formalisasi dan sistematisasi proses
pendidikan yg terikat oleh waktu dan jenjang. Pendidikan tidak mengenal batas
ruang dan waktu, apalagi penjenjangan resmi. Mereduksi proses pendidikan dengan
sekolah, sama saja dg mereduksi rimba raya menjadi sebatang pohon.
Sahabat, novelis,
sineas, dan tokoh feminis AS, Susan Sontag (1933-2004), mengatakan:
"Adanya kemungkinan bhw perlawanan anda tak akan mampu menghentikan
ketidak adilan, tidak melepaskan anda dari tanggungjawab utk bertindak sesuai
apa yang anda percayai sebagai kepentingan utama komunitas anda."
Perjuangan melawan ketidak adilan tidak bisa hanya berorientasi pada hasil belaka.
Ia juga memerlukan fondasi berupa keteguhan dan keyakinan bahwa perjuangan
tersebut harus dilakukan. Perhitungan-2 dan strategi perjuangan memang sangat
penting, tetapi lebih penting lagi adalah keyakinan dan keteguhan terhadap apa
yg diperjuangkan.
Sahabat, Sayyidina
Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah, mengatakan: "Orang yang hanya
menyibukkan diri dengan perkara-2 yg tidak terkait dengan peningkatan kualitas
dirinya akan selalu berada dalam kegelapan dan bingung dalam kesia-siaan.
Jiwanya terseret begitu dalamnya oleh kejahatan sehingga ia akan menganggap
keburukan menjadi keindahan." Kehidupan manusia seharusnya diukur dengan
kemauan dan kemampuan utk meningkatkan kualitas diri, baik sebagai pribadi
maupun kelompok. Meningkatkan kualitas berarti bergeser dari level yang lebih
rendah menuju yang lebih tinggi, baik secara jasmaniah maupun ruhaniah. Itulah
salah satu makna Hijrah bagi kita sebagai manusia: berpindah dari kualitas yang
rendah kepada kualitas yang lebih baik.
15 Oktober 2015 ·
Sahabat,
filsuf Perancis, Charles de Secondat (1689-1755), mengatakan: "Peperangan
atas nama agama bukan disebabkan karena jumlah agama yg lebih dati satu, tetapi
karena semangat intoleran. Penyebaran semangat intoleran merupakan penyebab
keterpurukan total dari penalaran manusia." Keberadaan agama2 acapkali
dituding sebagai penyebab konflik sehingga terjadi berbagai upaya memberangus
kehidupan beragama dan bahkan melarangnya. Padahal tak kalah penting utk
memahami konflik itu dari bgmn ajaran agama tsb dipahami. Bisa jd bhw pemahaman
ajaran yg sarat dg semangat kebencian dan intoleranlah yg mengorupsi ajaran
tsb.
Sahabat, pemimpin
pergerakan demokrasi Burma/ Myanmar dan peraih Nobel perdamaian, Aung San Su
Kyi, mengataan: "Para pemimpin pemerintahan adalah orang-orang yang sangat
ajaib. Mereka itu sering menjadi pihak terakhir utk mengerti apa yang
diinginkan oleh rakyatnya." Para elite penguasa yang hanya sibuk dengan
urusan dan kepentingan sendiri serta kelompoknya, tentu tidak bisa diharapkan
utk memahami dan peduli dengan kepentingan rakyat. Bahkan kepentingan negara
dan bangsa yg menjadi tugas utama utk diperjuangkanpun tidak dipahami, dan
biasanya secara sengaja. Ketika krisis melanda barulah mereka ikut-2an
berteriak dan mengatasnamakan kepentingan rakyat, seakan-akan peduli.
Sahabat, filsuf,
penyair, dan tokoh pendidikan dunia asal India, Rabindranath Tagore
(1861-1941), mengatakan: "Sikap intoleransi mutlak (bigotry) adalah
menggenggam kebenaran di tangan dengan begitu kerasnya sehingga malah
membunuhnya." Orang-orang yang punya sikap intoleran, terutama yang sudah
total, menganggap bahwa kebenaran yg mereka miliki begitu mutlak dan menolak
membuka celah sedikitpun kepada liyan utk berbeda. Sikap demikian bukan hanya
berpotensi menciptakan konflik antar manusia, tetapi yg lebih parah lagi adalah
mencederai kebenaran yg mereka sedang perjuangkan sendiri.
Sahabat, filsuf
Yunani kuno, Diogenes (412-323 SM), mengatakan: "Raja-2 yang bijak
biasanya memiliki para penasehat yang bijak juga. Dan sang raja pun tentu harus
orang yang bijak, karena ia harus tahu kualitas para penasehatnya." Para
pemimpin senantiasa memerlukan para penasehat atau pembantu yang berkualitas,
dan kesuksesan kepemimpinannya acapkali sangat dipengaruhi oleh kualitas para
penasehat dan pembantunya. Namun demikian, pemimpin itu sendiri yang harus
memilih dan menentukan para penasihat dan pembantunya. Kalau pilihannya tidak
tepat, maka sulit utk hanya mengecam para penasehat dan pembantu jika ia gagal.
Pada akhirnya pemimpinlah yang harus baik kualitasnya, bukan hanya penasehat
atau pembantunya saja.
Sahabat,
spiritualis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan:
"Pengejawantahan kekuatan diri seseorang baru bisa terwujud manakala ia
telah berinteraksi dengan dunia nyata dalam hidup keseharian." Manusia
memiliki potensi diri masing-masing dan perlu diwujudkan serta dikembangkan.
Dalam hal ini pengalaman bergaul dan berinteraksi dg manusia dan lingkungan
menjadi wahana paling penting agar potensi tsb menemukan perwujudannya. Manusia
yang tak berinteraksi, baik fisik maupun mental, dg yang lain tak mungkin bisa
menunjukkan potensi dirinya. Paling pol hanya klaim saja.
Sahabat, penyair
Amerika asal Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Diriku tak
akan kehilangan kepercayaan kepada keadilan dalam hidup ini, karena ternyata
mimpi orang yang tidur di kasur empuk tak lebih indah ketimbang mimpi orang yg
tidur di atas tanah." Pada hakekatnya manusia memiliki hak dan pemenuhan
hak yang sama dalam hidupnya. Keadilan merupakan salah satu prinsip dasar dalam
upaya memperjuangkan perwujudan keduanya. Dalam kenyataan hidup senantiasa
didapati berbagai kendala yg menyebabkan hak dan pelaksanaannya tak seimbang
dan bahkan cenderung ditindas. Namun jika prinsip keadilan masih dipegang, maka
perjuangan pun masih tetap bisa dilakukan.
Sahabat, penyair
perempuan AS, Emily Dickinson (1830-1886), mengatakan:
"Harapan, seperti mahluk
bersayap
Ia bertengger pada jiwa
Melantunkan nada tanpa kata-kata
Dan tak pernah berhenti selamanya."
Ia bertengger pada jiwa
Melantunkan nada tanpa kata-kata
Dan tak pernah berhenti selamanya."
Selama manusia ada,
harapan akan menjadi bagian yang sangat penting. Kehidupan memerlukan harapan
meski seakan tidak kunjung datang. Tanpa ada harapan, kehidupan menjadi tanpa
makna dan usaha kita menjadi seakan-akan sia-sia. Berharap bukan berarti
berdiam tanpa usaha. Kemauan dan kemampuan bekerja sambil berharap adalah yang
membedakan manusia dari mahluk lainnya.
Sahabat, Ibnu
Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Tatkala seorang pencari derajat
tertinggi (salik) ingin berhenti pada tataran ma'rifatnya, maka hakikat akan
mengingatkannya, "yang engkau cari ada di depanmu!". Dan pada saat
keindahan dunia coba menariknya, hakikat akan mengingatkannya, 'itu semua
adalah ujian, jangan engkau turuti!." (AL-HIKAM 1: 20) Selama manusia
masih hidup, godaan dan cobaan pasti akan selalu mengikuti. Bahkan terhadap
orang-2 yang telah dikaruniai ma'rifat atau
pencerahan spiritual (spiritual enlightenment) pun, ujian itu masih ada, yakni
keinginan utk berhenti karena merasa sudah 'sampai.' Apalagi orang-2 yang
biasa, tentu ujian dan godaan dunia juga akan terus menggelora. Perjuangan
meraih kesuksesan, bahkan termasuk dalam hal pencerahan spiritual, tak mengenal
berhenti, sebab manusia tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Sahabat, filsuf
Yunani kuno, Aristoteles, mengatakan: "Keunggulan merupakan seni yang
diperoleh dari latihan dan pembiasaan. Manusia tidak bertindak dengan tepat
karena ia unggul, tetapi ia ungggul karena bertindak secara tepat. Manusia
terbentuk karena apa yang dilakukannya terus menerus. Keunggulan, jadinya,
terlahir karena kebiasaan." Kerja keras, pembiasaan (habituation) dan bertindak
secara konsisten utk meraih keunggulan, lebih bermanfaat ketimbang hanya
menggantungkan pada bakat atau bawaan. Memang benar bhw ada manusia-2 yg
berbakat alam dan berpotensi, tetapi perkembangan dan kemajuan peradaban
terjadi karena usaha manusia yang bekerja keras dan bertindak tepat.
Sahabat, filsuf
Inggris asal Austria, Karl R. Popper (1902-1994), mengatakan: "Toleransi
tanpa pembatasan justru akan membawa pada hilangnya toleransi. Jika kita
membiarkan toleransi tanpa batas... maka orang-2 yang toleran dan toleransi itu
sendiri akan dihancurkan." Toleransi bukan berarti tanpa batas sehingga
membiarkan pihak-2 intoleran bebas bergerak dan berpropaganda. Toleransi hanya
akan bermakna dan efektif utk menjamin keberbedaan serta pluralisme, manakala
masyarakat tegas menolak sikap intoleran dan para penyebarnya. Ini seakan-akan
sebuah paradoks, tetapi sejatinya merupakan sebuah prinsip yang harus dipegang.
Sahabat, pejuang
antiperbudakan dan penulis kulit hitam AS, Frederick Douglass (1818-1895),
mengatakan: "Kekuatan para tiran ditentukan oleh ketahanan perlawanan
pihak-pihak yang tertindas." Penguasa dan kekuasaan menindas dalam segala
bentuk, seperti perbudakan, kediktatoran, fasisme, totaliterisme, otoriterisme,
akan berlaku dan berlangsung lama ketika tidak dilawan oleh mereka yang
ditindas. Semakin lemah perlawanan terhadap mereka, maka kekuasaan tsb semakin
bertahan lama dan bahkan dianggap menjadi kondisi 'normal'. Normalisasi
terhadap penindasan adalah cita-cita dan target utama para penindas. Perlawanan
terhadap penindasan, dengan segala bentuknya, adalah mimpi buruk para penindas.
Sahabat, pejuang
kemerdekaan India dan tokoh anti kekerasan, Mahatma Gandhi (1869-1948),
mengatakan: "Saya punya keyakinan bahwa kemajuan Islam tidak tergantung
pada penggunaan senjata oleh para pemeluknya, tetapi hasil dari perjuangan
seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Husein." Islam dan ummat Islam patut
mencontoh dan meneladani jiwa kesatria dan anti kekerasan yang ditunjukkan oleh
pengorbanan Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika menghadapi para
penguasa zalim di padang Karbala. Teladan beliau bukan hanya bagi satu kelompok
belaka, tetapi bagi seluruh ummat Islam dan kemanusiaan di dunia.
Sahabat, penulis,
sejarawan, dan filsuf asal Inggris, Thomas Carlyle (1795-1881), mengatakan:
“Tunjukkan pada saya orang-2 yang anda kagumi, dan saya akan tahu anda orang
seperti apa." Salah satu cara untuk mengetahui dan memahami karakter
seseorang adalah dengan melihat dan menganalisa siapa yang dikagumi, dihormati,
diteladani oleh orang tsb. Sebab dari sana akan bisa dijajaki dan bahkan
diperkirakan gambaran ideal yag ingin dia ikuti dan tiru. Mendidik anak-anak
melalui biografi tokoh-tokoh, pahlawan, pemimpin, dan orang-orang yang memiliki
reputasi unggul dan terpuji adalah salah satu cara pembentukan karakter dan
watak dalam pribadi-2 mereka.
28 Oktober 2015 ·
Sahabat,
penyair Amerika, Samuel Ullman (1840-1942), mengatakan: "Muda bukanlah
suatu masa dlm kehidupan, tetapi sebuah pola pikir. Ia bukanlah masalah rona
segar pada pipi, bibir merah atau lutut yg kokoh. Tetapi muda adalah soal
kuatnya kemauan, kualitas imajinasi, keuletan emosi2. Muda adlh kesegaran
sumber kehidupan yg dalam." Jiwa muda tak bisa dibatasi oleh usia atau
fisik. Acapkali orang2 yg berusia muda dan fisiknya kuat tetapi telah
kehilangan semangat juang dan bahkan menjadi beban bagi keluarga, masyarakat,
dan bangsa. Jiwa muda adalah sebuah sikap dan pola pikir yg diperlukan utk
perubahan, penyegaran, dan kemajuan.
SELAMAT HARI PEMUDA INDONESIA KE 87.
SELAMAT HARI PEMUDA INDONESIA KE 87.
Sahabat, novelis
dan peraih Nobel asal Rusia, Alexandr Solzhenitsyn (1918-2008), mengatakan:
"Apabila kita tidak menghukum atau mengecam para pelaku kejahatan, kita
bukan saja sedang menjamin agar orang-2 itu bisa menikmati usia tua mereka, tetapi
kita juga sedang menghancurkan landasan keadilan bagi generasi yang akan
datang." Jika kita tidak melakukan pembiaran terhadap kekuasaan yang
menindas, sebenarnya kita juga ikut melestarikan penindasan tsb. Lebih parah
lagi, pembiaran tersebut juga merupakan saham kita menghancurkan masa depan dan
landasan kehidupan yang baik bagi generasi yang akan datang. Mendukung
kekuasaan yang menindas tidak hanya berakibat buruk pada saat kita masih hidup
tetapi akan berlangsung setelah kita tiada.
Sahabat, Sufi
Agung Imam Al Ghazali, RA (1058-1111), mengatakan: "Setengah dari penyebab
mengapa orang di dunia tidak mematuhi perintah Tuhan adalah adanya orang-orang
yang telah membuat agama tampak begitu buruk melalui perilaku jahat dan
kebodohan mereka." Agama dan ajaran-ajaran agama seringkali dituding
sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap terjadinya kekejaman, penindasan,
dan perpecahan di muka bumi ini. Padahal penyebab utamanya bukan agama dan
ajaran agama per se, tetapi kelakuan dan kebodohan orang-orang yang
mengatasnamakan agama dan ajarannya. Mereka inilah yang seharusnya diminta
pertanggungjawaban karena telah melakukan distorsi dan menyalahgunakan agama
untuk kepentingan pribadi dan golongan, bukan utk kebaikan ummat manusia secara
keseluruhan.
Sahabat, filsuf
asal Jerman, Friedrich Nietszche (1844-1900), mengatakan: "Kegilaan
merupakan hal yang jarang ditemukan pada orang perorang. Tetapi kegilaan
merupakan semacam kelaziman yg ada dalam pengelompokan, golongan, bangsa, dan
era." Dalam sejarah kemanusiaan, kita menemukan dan mempelajari terjadinya
berbagai malapetaka, kebiadaban, dan bahkan kehancuran yg dilakukan manusia.
Pada semua peristiwa2 tsb nyaris tidak pernah sumbernya hanya karena ulah
orang-perorang, tetapi karena kekuatan yang mengatasnamakan kepentingan
kolektif. Atas nama kolektivitas maka manusia bisa berubah menjadi kejam, buas,
dan beringas. Kolektivitas bukan hanya menjadi sumber kebaikan dan
kesejahteraan manusia, tetapi juga bisa menjadi sumber keburukan dan
kesengsaraan.
NOVEMBER
29
November 2015
Sahabat,
filsuf, spiritualis Hindu, dan pendidik, Swami Vivekananda (1803-1902),
mengatakan: "Acapkali orang malah merusak (masa depan) para murid karena
tetap bersama mereka. Jika murid-2 sudah diberi pelajaran, maka sangat penting
bagi guru utk meninggalkan mereka.Jika tidak maka sang murid takkan pernah
berkembang. Ibaratnya, sebatang pohon tdk akan tumbuh jadi tinggi jika
terhalang oleh pohon besar." Mendidik bukan hanya urusan transfer
pengetahuan, tetapi juga menumbuh-kembangkan kemandirian serta tanggungjawab si
terdidik. Model pendidikan yang menghendaki murid selalu sama dan mengikuti apa
maunya guru, bukanlah model yang tepat utk manusia, tetapi hanya untuk melatih
beo. Sehebat-2nya beo, ia tidak akan pernah menciptakan peradaban.
28
November 2015
Sahabat,
filsuf Agung Yunani Kuno, Socrates (470-399 SM), mengatakan: "Peperangan,
revolusi, dan pertempuran-2 terjadi karena (kepentingan) jasmaniah dan
nafsunya. Semua peperangan dilakukan dengan tujuan akhir mengumpulkan kekayaan.
Dan alasan mengapa kita mengumpulkan kekayaan, tak lain karena kepentingan
jasmaniah dan kita adalah budak-2 yg melayaninya." Sejarah peradaban
manusia tak pernah sepi dari konflik, khususnya yang berbentuk kekerasan
seperti peperangan. Dengan berbagai alasan dan justifikasi perang dilakukan,
termasuk justifikasi moral dan etika. Namun apapun justifikasi atau
pengabsahannya, perang dan kekerasan tetaplah merupakan suatu cara penyelesaian
konflik yang lebih cenderung dikuasai kepentingan-2 nafsu jasmaniah.
27
November 2015
Sahabat,
Sufi Agung asal Andalusia, Spanyol, Ibnu 'Arabi (1165-1240), mengatakan:
"Janganlah engkau membatasi dirimu dg kepercayaan sendiri dan menolak yang
lain. Sebab kebaikan-2, termasuk pengetahuan tentang kenyataan hidup, malah
akan meninggalkanmu." Kecenderungan manusia utk hanya menghargai dan
mempercayai apa yang dia miliki belum tentu akan berbuah kebaikan.
Kadang-kadang justru sikap seperti itu akan menutup dan menghalangi kemungkinan
belajar tentang kebaikan yang bisa diperoleh dari liyan. Sikap memutlakkan
kebenaran yg dimiliki dan menolak apapun yang dimiliki pihak lain justru
berpotensi negatif, yakni pemaksaan kehendak dan pembodohan bagi diri sendiri
dan orang lain di sekitarnya.
23
November 2015
Sahabat,
novelis asal Brazilia, Paulo Coelho, mengatakan: "Setiap orang tampaknya
punya gagasan yg jelas ttg cara bagaimana orang lain mesti menjalani kehidupan,
namun ia malah tak tahu bagaimana menjalani kehidupannya sendiri." Salah
satu manfaat dari pergaulan dan komunikasi dengan liyan adalah menghindari
kecenderungan untuk menganggap apa yg kita pahami, mengerti, dan praktikkan
dalam kehidupan sebagai hal yang sempurna dan jadi ukuran mutlak bagi semua
orang. Menggunakan ukuran kita sebagai satu-2nya pilihan dan mengabaikan
pandangan liyan, bisa sangat menyesatkan dan merugikan semua pihak. Dalam
kehidupan masyarakat yang majemuk, kemampuan saling memahami antar-kelompok
merupakan syarat mutlak bagi keberadaan dan keberlanjutan masyarakat tsb.
21
November 2015
Sahabat,
rohaniwan, filsuf dan aktivis kulit hitam asal AS, Cornel West, mengatakan:
"Kita harus berani bertanya kepada mereka yg sedang berkuasa, berani utk
tidak sabar terhadap kejahatan, berani bersabar dengan rakyat, dan berani
memperjuangkan keadilan sosial. Acapkali kita tidak akan mendapatkan sesuatu
dari perjuangan itu dan hanya bisa berharap, atau meraih capaian kecil. Tetapi
itulah perjuangan. Hidup memang merupakan pertarungan melawan keterpurukan,
tetapi jangan biarkan keterpurukan menentukan hidup kita." Cemunguuddd,
ea!! Dalam perjuangan tak perlu terlalu dipikirkan bagaimana dan kapan akan
berhasil. Lebih baik kita memupuk keberanian dan keberlanjutannya. Jika terlalu
terobsesi pada hasil, maka kita akan rentan thd kekecewaan dan, pada
gilirannya, melemahkan semangat dan memadamkan keberanian utk berjuang.
20
November 2015
Sahabat,
filsuf, penulis, dan sastrawan asal Bulgaria, Tzvetan Todorov, mengatakan:
"Dahaga terhadap pembalasan dendam tak perlu menunggu kehadiran Islam di
dunia, dan daya tarik utk menerapkan hukum mata di balas mata, gigi dibalas
gigi adalah universal." Gagasan dan praksis yang merayakan kekerasan,
teror, penindasan, dll bukan hanya monopoli agama tertentu, sebagaimana kini
sedang dipropagandakan dan berjangkit di berbagai negara. Tafsir atas ajaran
agama dan/atau pemikiran sekuler, keduanya berpotensi utk menumbuh-kembangkan
kekejian thd manusia dan kemanusiaan. Mengetahui dan memahami secara kritis
terhadap berbagai tafsir dan klaim kebenaran dalam wacana keagamaan, politik,
ekonomi, dan sosial lebih bermanfaat ketimbang menyebarluaskan kebencian
terhadap agama atau penganut agama tertentu.
19
November 2015
Sahabat,
Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Persahabatanmu dengan
orang-orang yang kualitas (akhlaq)nya lebih buruk darimu, bisa jadi membuatmu
merasa bhw perbuatan burukmu tampak baik di matamu." (AL-HIKAM 1: 46)
Bergaul dengan orang-2 yang akhlaqnya berkualitas akan menjadi pendorong dan
standar agar kita setidaknya meniru dan/ atau meningkatkan kualitas kita. Jika
kita lebih suka bergaul dengan mereka yang akhlaqnya kurang baik dengan tujuan
agar kita tampak sudah cukup atau bahkan sudah lebih baik, maka hal itu
hanyalah sebuah penipuan thd diri sendiri (self deception). Dalam usaha
meningkatkan kualitas ahlaq, salah satu metoda yang terbaik adalah dengan mendekati,
bersahabat, bermitra, bergaul, dan/atau meneladani orang-2 yang akhlaqnya lebih
unggul daripada kita.
13
November 2015
Sahabat,
aktivis dan intelektual terkemuka dari Iran, Abdolkarim Soroush, mengatakan:
"Dalam banyak hal perbuatan manusia, sebenarnya yang menjadi pusat
perhatian adalah diri mereka sendiri. Tetapi mereka kemudian membubuhkan nama-2
lain pada bendera-2 yang mereka kibarkan." Sikap cermat dan kritis sangat
diperlukan terhadap berbagai klaim kebenaran yang dilontarkan dengan mengatas
namakan agama, bangsa, dan/ atau negara. Seringkali klaim-klaim tersebut
hanyalah bungkus yg menutupi kepentingan pribadi atau kelompok. Mereka
menggunakan cara itu agar tampak bahwa apa yg diklaim dan diperjuangkan adalah
kepentingan yang luhur dan luas jangkauannya. Padahal sebenarnya hanya
kepentingan diri mereka sendiri
11
November 2015
Sahabat,
sejawarawan asal AS, Howard Zinn (1922-2010), mengatakan: "Jeritan
orang-orang miskin tidaklah selalu berarti masalah keadilan. Namun jika anda
tidak pernah mau mendengar jeritan mereka, maka anda tidak akan pernah paham
apa keadilan itu." Empati dan kepedulian terhadap mereka yang
terpinggirkan adalah dasar terpenting bagi semua upaya menegakkan keadilan
sosial dan pemerataan kesejahteraan. Sebanyak dan sebesar apapun upaya tsb jika
tidak dilandasi oleh empati dan kepedulian, akan terancam sia-sia (muspro) dan
hanya menjadi proyek-proyek utk kepentingan politik dan program-program jangka
pendek belaka.
9
November 2015
Sahabat,
penyair dan dramawan Inggris, Joseph Addison (1672-1719), mengatakan: "Tak
ada penindasan yang lebih mengerikan dan berdampak sangat luas melebihi
(penindasan) yang dilaksanakan melalui penyimpangan hukum dan kesewenang-2an
pemegang otoritas hukum." Dalam berbagai peristiwa sejarah terkait
penindasan dan penghancuran kemanusiaan, yang paling dahsyat adalah apabila
dilakukan dg mengatasnamakan otoritas hukum tertinggi yakni negara. Kejahatan
kemanusiaan seperti penjajahan, perbudakan, genosida, terorisme, dsb dilakukan
atas nama hukum dan oleh pihak yang menganggap dirinya memiliki otoritas itu.
Hukum dan otoritas hukum perlu mendapat pengawasan dan kontrol secara tepat
untuk menghindari bahaya seperti itu.
8
November 2015
Sahabat,
Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Hendaknya engkau tidak
berpindah-pindah dari alam satu ke alam yang lain sehingga engkau mirip dengan
keledai penggilingan yang hanya berputar-putar di satu tempat yang ia tuju.
Tetapi hendaknya engkau pergi menuju pada sang Pencipta alam." (AL-HIKAM
1: 43). Keikhlasan adalah salah satu prinsip utama dalam perbuatan kita. Dan
keikhlasan itu hanya tertuju kepada Tuhan sang Maha pencipta, bukan kepada
manusia atau lainnya. Jika perbuatan-2 kita berorientasi pada selainNya, maka
hakikatnya kita masih tak beranjak jauh. Malah bisa jadi kita terjerumus pada
sikap riya' atau pamer belaka. Keikhlasan akan membebaskan diri kita dan
mendorong pada kerja keras dan produktifitas tinggi.
7
November 2015
Sahabat,
Presiden AS ke 26, Theodore Roosevelt (1858-1919), mengatakan: "Tidak pernah
ada dalam sejarah yang menunjukkan bahwa orang-orang yang tak pernah mengalami
kesusahan dalam kehidupannya, cukup layak untuk diingat namanya." Salah
satu hal yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah kerja keras dan
manfaatnya untuk masyarakat. Para pahlawan, tokoh besar, pembaharu, pemimpin
terkemuka, cendekiawan kaliber dunia, dst adalah mereka-2 yang bekerja keras
dan mengalami berbagai kesulitan dalam kehidupan. Dan sudah barang tentu mereka
memberikan manfaat yang besar bukan saja bagi komunitas dan bangsanya, tetapi
juga kemanusiaan
6
November 2015
Sahabat,
pakar fisika teoritis dan kosmologi asal Inggris, Stephen Hawking, mengatakan:
"Menjaga keaktifan nalar sama pentingnya dengan memertahankan cita rasa
humor agar saya tetap bertahan hidup." Cita rasa humor (sense of humor)
merupakan salah satu elemen yang memiliki korelasi positif dengan kecerdasan,
baik nalar maupun rohani. Manusia tanpa cita rasa humor, memiliki pandangan
yang kering dan nestapa terhadap dunia dan manusia, kendati secara tampilan ia
pintar, kaya, dan berkuasa. Manusia demikian melihat dunia dan manusia secara
hitam-putih, sehingga ia gagal melihat hal-hal positif dalam perbedaan dan
keunikan. Hidup lantas menjadi ajang pertarungan dirinya dengan liyan dengan
tujuan menghancurkan apapun yg berbeda dengannya.
5
November 2015
Sahabat,
filsuf agung dari Tiongkok kuno, Lao Tzu, mengatakan: "Masa lalu tak punya
kekuatan menghentikan kehadiranmu pada saat ini. Hanya keluhanmu terhadap masa
lalu yang bisa menghentikanmu. Apa keluhan itu? Ia adalah beban pikiran dan
emosi thd masa lalu." Manusia kadang kala terobsesi masa lalu dan
menginginkan keberadaanya persis seperti masa lalu, yang ia tidak akan pernah
tahu. Obsesi seperti itu akan menjadi halangan manusia utk meningkatkan
kualitas hidupnya dan merusak relasinya dengan masyarakat. Apalagi jika ia
memaksakan obsesi tsb dengan kekerasan. Pemahaman thd masa lalu yg bermanfaat
adlh sebagai pelajaran agar manusia bisa mengambil apa yang baik dan tidak
mengulangi kesalahan-2 yang sama.
3
November 2015
Sahabat,
novelis asal Inggris, George Orwell (1903-1950), mengatakan: “Cara yang paling
efektif untuk menghancurkan rakyat adalah dengan menolak serta memberantakkan
pemahaman mereka tentang sejarahnya sendiri." Dalam sebuah negara
totaliter, sejarah merupakan salah satu alat terpenting untuk mengontrol dan
menghancurkan perlawanan rakyat. Melalui pemahaman sejarah yang dipaksakan oleh
penguasa, rakyat diadu domba, dihilangkan peran dan sumbangsihnya kepada
bangsa, dicitrakan sebagai sumber masalah, dan dijadikan target kebencian umum
dan bahkan pengabsahan aksi genosida. Perjuangan rakyat utk melepaskan diri
dari ketertindasan selalu diawali dengan pemahaman sejarah yang berbeda dari
pemahaman penguasa. Melalui cara ini identitas, semangat, dan kebanggaan akan
bisa dipulihkan, dimunculkan, dan menjadi pendorong perlawanan terhadap
kesewenang-2an.
1
November 2015
Sahabat,
Sufi Agung dari Persia, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Setiap
penglihatan tentang keindahan akan lenyap/ Setiap perkataan yang manis akan
memudar/ Namun, janganlah kau berputus asa, karena mereka semua datang dari
sumber yang sama, dari Keabadian./ Masukilah Keabadian itu, maka kau akan
melihat segala sesuatu tumbuh dan berkembang, memberi hidup baru dan
kegembiraan baru bagimu
DESEMBER
29
Desember 2015
Sahabat,
filsuf, penulis, dan pencinta alam, Henry D. Thoreau (1817-1862), mengatakan:
"Semua kebijaksanaan di dunia ini, pada suatu saat pernah dianggap sebagai
semacam penyimpangan aneh yang berasal dari orang-orang bijak." Tidak
semua hal yang baik dan bermanfaat bagi manusia akan langsung diakui, diterima,
dan/ atau diadosi sebagai suatu hal yang normal dan baik. Justru biasanya,
hal-hal tersebut harus mengalami berbagai macam rintangan dan penolakan. Bahkan
bukan tidak mungkin hal-hal tsb pada zamannya dianggap sebagai pelanggaran thd
kenormalan. Sejarah kemanusiaan dan peradaban penuh dengan catatan bahwa
kebenaran dan kebajikan serta kebijaksanaan mengalami berbagai rintangan,
halangan, dan penindasan sebelum diterima dan dipraktikkan.
28
Desember 2015
Sahabat,
filsuf, penulis, dan cendekiawan AS asal Palestina, Edward W. Said (1935-2003),
mengatakan: "Ketimbang terlibat dalam benturan peradaban, kita mendingan
berkonsentrasi pada budaya-2 yang pelan-pelan sedang bekerjasama, saling
tumpang tindih, saling meminjam, dan hidup bersama dengan cara yang lebih
menarik ketimbang yang bisa ditawarkan oleh model pemahaman (budaya) yang
terpangkas dan tak otentik." Saat ini kita acapkali disodori dengan
tawaran utk memandang, memahami, dan memilih berbudaya secara sektarian yang
penuh pertentangan, karena kita berada dalam situasi 'benturan peradaban'.
Padahal kita juga bisa memilih utk memahami dan memilih berbudaya secara
kerjasama dan saling memberi serta meminjam khazanah yg kita miliki. Ketimbang
menempuh jalan "benturan peradaban', kita bisa menempuh jalan "dialog
peradaban" utk kebaikan dan kemajuan kemanusiaan.
25
Desember 2015
Sahabat,
kami sekeluarga menyampaikan: "SELAMAT MERAYAKAN NATAL", 25 Desember
2015" kepada ummat Kristiani di Indonesia dan di manapun berada, khususnya
yang menjadi sahabat di Forum saya ini. Semoga semangat "damai di bumi dan
damai di hati" senantiasa terpancar dalam kehidupan kita sebagai anak
bangsa dan ummat manusia. (MAS Hikam).
24
Desember 2015
Sahabat,
dalam sebuah Hadits yg diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi RA dikatakan bahwa
Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanyalah
untuk meningkatkan kualitas akhlak manusia.” Salah satu ukuran terpenting bagi
kualitas keber-agamaan seorang Muslim adalah kualitas akhlaq (akhlaqul karimah)
nya. Dalam hal ini pembuktian dalam kehidupan nyata menjadi sangat penting
apakah seorang Muslim/ Muslimah bisa memberikan manfaat bagi diri dan komunitas
sekelilingnya, mulai yang paling kecil hingga yang paling besar. Inilah yang
disebut sebagai kesalehan individual dan sosial (individual and social piety)
yg menjadi standard mutu keberagamaan seorang Muslim/ Muslimah. Keberagamaan yg
berkualitas tak hanya berhenti dalam ucapan(speeches), tetapi mencakup kiprah
(actions)nya.
23
Desember 2015
Sahabat,
sufi Agung dari Persia, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan:
"Lupakan
segala apa yg membuat kamu ketakutan dan duka/ Yang menjerumuskan kamu pada
kesakitan dan binasa." Salah satu penghalang terbesar bagi manusia utk
meraih kemajuan dan keunggulan adalah ketakutan. Oleh karena itu ketakutan
merupakan senjata ampuh yg selalu digunakan oleh penguasa yg lalim utk
mengontrol dan mengendalikan pihak yg dikuasai. Melepaskan diri dari ketakutan
adlh perjuangan besar utk meraih kemerdekaan dan kemajuan. Tunduk kpd ketakutan
adalah jalan menuju kehinaan dan kebinasaan.
22
Desember 2015
Sahabat,
Sufi Agung Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (1058-1111), mengatakan: "Orang
bangga telah menyebut nama Tuhan sambil menghitung-2 dengan tasbihnya. Tetapi
ia tidak pernah menghitung berapa banyak omong kosong yang diucapkannya setiap
saat." Perilaku formalistik dalam keberagamaan cenderung memberikan ilusi
kepada pelakunya bahwa dirinya telah memiliki spiritualitas. Padahal perlu ditelisik
sampai sejauhmana ia telah benar-benar secara konsisten menerapkannya dalam
kehidupan sehari-2. Bisa saja secara formal ia mengklaim beragama, tetapi dalam
perilakunya justru bertolak belakang dengan ajaran-2 dasar dari agama.
21
Desember 2015
Sahabat,
pejuang anti-diskriminasi rasial AS, Martin Luther King, Jr. (1929-1968),
mengatakan: "Peribadatan dalam bentuk terbaiknya adlh sebuah pengalaman
sosial bersama-2 dengan semua orang dari semua level kehidupan yang hadir utk
membuktikan kesatuan dan penyatuan mereka dengan Tuhan." Ummat beragama
seharusnya membuktikan kesalehan pribadi dan sosialnya dengan mewujudkan
kerukunan dan kedamaian bersama. Keberagamaan yang memiliki nilai spiritualitas
adalah yang mampu menembus perbedaan-perbedaan yang tampak, dan menjadikannya
sebagai tantangan utk menciptakan kebaikan bersama.
19
Desember 2015
Sahabat,
filsuf dan penulis tragedi Yunani Kuno, Euripides (480-406 SM), mengatakan:
"Ketika ada orang mengucapkan kalimat-kalimat semanis madu tetapi dengan
pikiran jahat untuk memengaruhi kerumunan manusia, maka malapetaka besar akan
menimpa negaranya." Melakukan kritik dan evaluasi terhadap papun yang
dijanjikan dan dikemukakan pemimpin adalah salah satu alat deteksi dini dalam
sebuah masyarakat dan negara demokratis. Retorika yang sangat menawan publik
harus selalu diuji apakah substansinya dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.
Jangan sampai publik dininabobokkan oleh retorika para pemimpin sehingga tak
sadar bahwa negara dan masyarakat sesungguhnya berada dalam bahaya.
16
Desember 2015
Sahabat,
filsuf asal Jerman, Immanuel Kant (1724-1804), mengatakan: "Jika seseorang
membuat dirinya sendiri seperti cacing, ia seharusnya tidak perlu mengeluh jika
dirinya terinjak." Manusia sebagai pribadi dan anggota kelompok memiliki
kewajiban utk menjadikan dirinya sendiri sebagai pihak yang memiliki harkat dan
martabat, serta berjuang agar tidak mengalami ketertindasan. Memuliakan dan
menjunjung harkat dan martabat mesti dimulai dari dan oleh diri sendiri,
sebelum meminta pihak lain utk melakukannya. Jika kita sendiri tidak berusaha
keras meraih martabat dan menjaga harga diri, maka akan mustahil utk menyuruh
orang lain memenuhinya.
14
Desember 2015
Sahabat,
penyair sufi asal Nisapur, Iran, Fariduddin 'Attar (1110-1221), mengatakan: "Wajahmu
bukanlah sementara, bukan pula abadi/ Engkau tak akan pernah melihat wajahmu
sendiri/ Kecuali hanya refleksi, bukan yang asli." Manusia tak akan pernah
benar-benar tahu tentang dirinya secara komplet. Ibarat wajah, yang diketahui
hanya refleksi (pantulan) melalui cermin atau gambar yang sangat tergantung
pada konteks dari mana ia diambil atau dipandang. Kendati demikian, bukan
berarti kita tak bisa memahami diri sendiri, atau bahwa kehadiran kita di dunia
tak memiliki makna. Kita sendiri yang bertanggungjawab memberikan makna tsb
dengan perbuatan yang bermanfaat bagi semua.
13
Desember 2015
Sahabat,
spiritualis Katolik dari Ordo Jesuit asal Perancis, Teilhard de Chardin
(1881-1955), mengatakan: "Pertanyaan mengapa hal-hal buruk menimpa
orang-orang yang baik seharusnya diubah menjadi pertanyaan lain yang tidak lagi
terkait dengan mengapa sesuatu harus terjadi. Pertanyaan penting yang perlu
diajukan adalah bagaimana kita merespon kejadian tsb ketika ia telah
muncul." Sebagai manusia kadang kita dihadapkan pada kenyataan pahit,
seperti menyaksikan musibah dan kemalangan yang menimpa orang-orang yang tak
bersalah, si lemah, dan/ atau yang tidak seharusnya mendapatkannya. Kadang kita
mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi, dan hal tsb sangat manusiawi
juga. Namun demikian, upaya merespon dampak-2 negatif dari musibah atau
kemalangan tsb. lebih produktif dan bermanfaat.
10
Desember 2015
Sahabat,
filsuf, pendidik, dan psikolog terkemuka asal AS, John Dewey (1859-1952),
mengatakan: "Kepribadian bukanlah sesuatu yang siap jadi, tetapi sesuatu
yang selalu dalam proses pembentukan melalu pilihan-pilihan tindakan."
Membentuk kepribadian seseorang, bukan seperti menempa besi menjadi sebuah
produk tertentu. Sebab kepribadian terbentuk bukan hanya dari luar tetapi yang
lebih penting adalah determinasi dan komitmen dari dalam diri orang tsb. Oleh
sebab itu kepribadian seseorang selalu dinamis, bisa mengalami perubahan. Dan
pengubah kepribadian yang penting, antara lain, adalah tindakan-tindakan yang
secara sadar menjadi pilihan orang itu.
7
Desember 2015
Sahabat,
filsuf, pendidik, dan psikolog terkemuka asal AS, John Dewey (1859-1952),
mengatakan: "Kepribadian bukanlah sesuatu yang siap jadi, tetapi sesuatu
yang selalu dalam proses pembentukan melalu pilihan-pilihan tindakan."
Membentuk kepribadian seseorang, bukan seperti menempa besi menjadi sebuah
produk tertentu. Sebab kepribadian terbentuk bukan hanya dari luar tetapi yang
lebih penting adalah determinasi dan komitmen dari dalam diri orang tsb. Oleh
sebab itu kepribadian seseorang selalu dinamis, bisa mengalami perubahan. Dan
pengubah kepribadian yang penting, antara lain, adalah tindakan-tindakan yang
secara sadar menjadi pilihan orang itu.
6
Desember 2015
Sahabat,
novelis perempuan asal Inggris, Virginia Woolf (1882-1941), mengatakan:
"Anda bisa saja mengunci perpustakaan jika mau; tetapi ketahuilah bahwa
tak ada pagar, kunci, dan gembok yang bisa anda gunakan untuk menghalangi
kebebasan pemikiranku." Usaha untuk menghalangi kebebasan berfikir selalu
dilakukan untuk membungkam kritik dan menghambat kemajuan peradaban. Segala
cara, baik yang lunak maupun yang keras, telah, sedang, dan akan diciptakan.
Namun pikiran tak mungkin dikendalikan dan dihambat secara total, karena ia
adalah esensi bagi kemanusiaan. Selagi manusia masih menghendaki kehidupan yang
bermakna dan peradaban yang mencerahkan, maka pikiran adalah salah satu sumber
utamanya.
3
Desember 2015
Sahabat,
Raja dan panglima perang asal Perancis, Napoleon Bonaparte (1769-1821),
mengatakan: "Dalam politik, kedunguan bukanlah suatu hal yang dianggap
sebagai penghalang." Di mata orang awam, sebagian politisi acap kali
memamerkan omongan dan perilaku yang mungkin dapat dinilai atau dikategorikan
sebagai kedunguan. Namun bagi politisi tsb, penilaian tsb dianggap sepele atau
diabaikan karena mereka menganggap apa yang dilakukannya adalah taktik hebat,
manuver canggih, serta representasi dari kekuasaan. Tak heran jika pameran-2
kedunguan diumbar oleh sementara politisi di ruang publik tanpa risih, malu,
apalagi rasa bersalah. Bayangkan saja jika sebuah negara dibiarkan diatur oleh
para politisi seperti itu!
1
Desember 2015
Sahabat,
kepala suku dan spiritualis Indian Lakota, Sitting Bull (1831-1890), mengataan:
"Di dalam diriku ada dua ekor anjing, satunya sangat ganas dan jahat, yang
satu lagi sangat baik. Mereka selalu bertarung tiap saat. Kalau saya ditanya
anjing mana yang akhirnya menang, saya jawab 'yang saya beri makan lebih
banyak'." Pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam diri manusia,
baik pada tataran pribadi maupun kelompok, senantiasa terjadi karena dua elemen
itu selalu ada beserta kita. Sikap dan determinasi kita dalam menentukan elemen
negatif atau positif yang akan menentukan. Sebab hidup adalah perjuangan dan
keberpihakan. Tidak ada netralitas dalam menghadapi pilihan antara kejahatan
dan kebaikan.
DAFTAR PUSTAKA
-
https://www.facebook.com/mashikam

No comments:
Post a Comment