Search

Monday, May 30, 2016

KUTIPAN MOTIVASI



KUTIPAN MOTIVASI
Kata – Kata Bijak
Dr. Muhammad A.S. Hikam, APU

Diajukan sebagai tugas Universitas Esa Unggul Semester Genap
Mata Kuliah Motivasi Usaha

 


  Kelompok I

Di Susun Oleh :
-          Priska Putri Asmiranti  (201571217)
-          Hanafi Tirtayogci           (201581290)
-          Nyoto                               (201581288)
-          Tito Dwi Nurtanto         (201581287)
-          Darmayanti                     (201411162)
-          Eko Widodo                    (201511229)
-          Zulhaimi                          (201581291)


UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA
                                                            Tahun  2016            

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan tugas paper ini  yang merupakan kumpulan kata – kata bijak dan movasi yang dirangkum dari postingan Facebook Muhamad As Hikam. Paper ini di susun guna memenuhi tugas mata kuliah Motivasi Usaha.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca, agar kami dapat membuat tugas ini ke depannya lebih baik lagi
   Akhir kata kami berharap semoga paper ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.



Jakarta, 9 April 2016
     Penyusun,



Kelompok 1
Kutipan Bijak






DAFTAR ISI

                                                                                                                                    Halaman
KATA PENGANTAR   ..........................................................................................  I
DAFTAR ISI............................................................................................................ II
BAB I PENDAHULUAN
JANUARI........................................................................................................... 1
FEBRUARI ....................................................................................................... 7
MARET ............................................................................................................. 16
APRIL ................................................................................................................ 26
MEI .................................................................................................................... 36
JUNI ................................................................................................................... 42
JULI ................................................................................................................... 52
AGUSTUS ......................................................................................................... 60
SEPTEMBER .................................................................................................... 70
OKTOBER ........................................................................................................ 75
NOVEMBER ..................................................................................................... 82
DESEMBER ...................................................................................................... 88
DAFTAR PUSTAKA                            


BAB I
JANUARI

January 2, 2015
Sahabat, Konghucu (551-449 SM) mengatakan: "Ketimbang anda bersusah hati karena tidak punya jabatan, lebih baik anda menilai diri sendiri apakah memang sudah pantas untuk menduduki suatu jabatan. Ketimbang anda prihatin karena merasa tidak dikenal orang, lebih baik anda mengerjakan sesuatu yg pantas utk dikenal orang." Etos kerja yang mengedepankan kerja dan hasil yang bermanfaat, bukan posisi dan nama besar, harus terus menerus ditanamkan kepada anak-anak, remaja, pemuda, dan juga orang dewasa. Terutama bagi masyarakat dan bangsa yang sedang mengalami krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan terhadap para elitnya seperti yg kita alami saat ini di Indonesia.

January 3,2015
Sahabat, pejuang anti totaliterisme dan Presiden Ceko, Vaclav Havel (1936-2011), mengatakan: “Jagalah persahabatan anda dengan orang-orang yang selalu berusaha mencari kebenaran. Tinggalkan orang-orang yang mengklaim dirinya sudah menemukannya."  Salah satu cara untuk menghindari dan membendung gagasan dan perbuatan yang merusak adalah dengan berhati-hati dalam memilih teman atau kelompok utk dijadikan teman. Terutama berhati-2 dan kritis thd berbagai gagasan, pemikiran, dan aksi-2 mereka yang mengklaim memiliki kebenaran mutlak dan/atau memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Orang-orang semacam ini hanya akan membuat kita menjadi budak nafsu angkara yang sama sekali tidak akan bermanfaat bagi manusia dan lingkungan. Sejarah telah mencatat berbagai kerusakan dan kehancuran gara-gara gagasan dan perilaku manusia-2 seperti itu.

January 5, 2015
Sahabat, filsuf eksistensialis asal Jerman, Martin Heidegger (1889-1976), mengatakan:  “Apa yang sekarang tampak alami buat kita, mungkin adalah sesuatu yang sudah lama dikenal dalam tradisi. Tradisi itu sendiri sudah melupakan sumber yang tidak  alami dan tak dikenal sebelumnya. Padahal yang tidak alami itulah sejatinya yg sebelumnya dianggap aneh dan membuat orang berfikir serta mengagumi." Orang mudah meremehkan suatu hal yg sudah dianggap biasa, atau sebagai tradisi. Padahal suatu kebiasaan atau tradisi bukan sesuatu yg jatuh dari langit, melainkan hasil kreatifitas dan upaya manusia yang bertahan dan menjadi sesuatu yang kemudian dianggap "biasa". Tradisi, dengan demikian, bisa selalu menginspirasi kemungkinan-2 baru. Tetapi hal tsb memerlukan kecerdasan dan kepiawaian dalam berfikir dan mencipta.

January 6, 2015
Sahabat, penyair dan dramawan besar Indonesia, WS Rendra (1935-2009), mengatakan: "Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan? Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?" Tak peduli apapun aktifitas manusia dan kariernya, ia hanya akan berarti jika ada keterlibatan (engagement) dengan masyarakat dan lingkungannya. Seorang tukang ojek yang ikut aktif dalam kiprah kemasyarakatn di RTnya, jauh lebih bermanfaat bagi kemanusiaan dibanding dg ilmuwan, ulama, konglomerat, politisi, dll yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarganya, kelompoknya, namun ia terpisah dengan sekitarnya. Keterlibatan dan tanggungjawab sosial lebih utama ketimbang kesalehan individual.

January 9, 2015
Sahabat, filsuf Inggris, Aldous Huxley (1894-1964), mengayakan: "Pengalaman bukanlah sesuatu yang terjadi pada anda, tetapi apa yang anda perbuat thd apa yg terjadi pada diri anda." Orang yg berusoa panjang belum tentu lebih berpengalaman ketimbang orang yg berusia tak terlalu panjang. Orang yg sekolah tinggi belum tentu lebih berpengalan ketimbang yang sekolah biasa saja. Yg membuat orang berpengalaman adalah tindakan mereka yg bermanfaat bg diri dan lingkungan, sebagai dialektika antara peristiwa dengan respon atasnya.

January 10, 2015
Sahabat, Presiden Amerika ke 16, Abraham Lincoln (1809-1865), mengatakan: "Persoalan saya bukanlah apakah Tuhan berada di pihak kita; tetapi apakah kita benar-benar telah berada di pihak Tuhan. Sebab Dia selalu benar." Sebagian manusia ada yang selalu gembar gembor seolah-olah selalu berada dan, bahkan, mengklaim telah dan sedang mewakili Tuhan dan kehendakNya. Karena itu mereka menganggap semua perkataan dan perbuatan mereka adalah persis sama dengan kehendakNya. Padahal sejatinya manusia tdk memiliki hak maupun wewenang utk mengklaim seperti itu. Manusia harus berusaha keras agar pikiran dan perbuatan mereka di dunia telah sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian, tidak akan terjadi klaim thd kebenaran (claim of truth) yang berlebihan yang berpotensi menghasilkan berbagai kesewenang-2an dan penindasan thd sesama manusia atas nama kehendak Tuhan.

January 13,2015
Sahabat, spiritulalis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Dalam ajaran Buddhis diterangkan bahwa ketika kita mampu merubah 'satu elemen dalam pikiran', yakni cara berfikir yg paling dasar, maka kita akan mampu merubah diri dan, pada gilirannya, lingkungan kita pun ikut berubah." Revolusi Mental, yg kini sering didengungkan itu, sejatinya bersumber dari ajaran-ajaran spiritual yang ada dalam agama dan keyakinan serta tradisi. Pada akhirnya, perubahan revolusioner itu harus terjadi pada fondasi berfikir manusia, bukan pada tampilan dan kelembagaan yang berada pada kulit luarnya. Kampanye dan slogan-slogan bisa saja bejibun dan dibiayai triliunan, tetapi jika fondasi berfikir tidak berubah, maka sampai kiamat pun tdk akan terjadi revolusi mental tsb.

January 16,2015
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Karramallahu Wajhah), mengatakan: "Janganlah engkau menjadikan ilmu menjadi sumber kebodohan, dan keyakinanmu menjadi sumber keragu-raguan. Jika engkau memiliki pengetahuan, maka lakukanlah; dan jika engkau yakin, maka maju (berjuang)lah." Memiliki ilmu dan keyakinan tak berarti otomatis membuat orang akan berbuat kebaikan. Demikian pula orang yang memiliki keyakinan belum tentu membuatnya berani berjuang dan mengambil resiko. Banyak orang yang memiliki gelar kesarjanaan dan posisi dalam dunia keilmuan justru malah menebar kebodohan bagi manusia lain. Demikian juga banyak orang yg berpretensi membela keyakinan, tetapi malah menciptakan kepengecutan, keraguan, dan ketakutan mengambil resiko.

January 17,2015
Sahabat, sutradara terkemuka asal Perancis, Eugene Ionesco (1912-1994), mengatakan: "Para pegawai negeri tidak akan bisa membuat lelucon." Birokrasi di manapun juga cenderung membuat manusia yg ada di dalamnya (bahkan yang ada di luarnya) menjadi seperti mesin yg kaku dan bergerak mekanistik, sesuai perintah, aturan baku, dan hirarki. Birokrasi, sebagai "alat" yg diciptakan manusia utk mengelola organisasi memang harus demikian. Karenanya, para birokrat semestinya menyadari keterbatasan dan kelemahan lingkungannya itu. Bukan malah mencoba menggunakan birokrasi utk kepentingan-2 kekuasaan yang bisa menindas. Birokrasi dan birokrat adalah hasil ciptaan manusia yang bermanfaat manakala ia ikut mempermudah urusan manusia.

January 20,2015
Sahabat, salah seorang pendiri bangsa Amerika Serikat, Thomas Jefferson (1743-1826), mengatakan: “Saya tidak pernah menganggap suatu perbedaan dalam politik, agama, dan/atau filsafat sebagai sebab utk meninggalkan seorang sahabat." Prinsip yang tampaknya sangat sederhana dan mudah sekali diucapkan ini sama sekali tak sederhana atau mudah utk dilaksanakan dalam kenyataan. Diperlukan usaha dan kerja keras dan kegigihan yang luar biasa serta perjuangan setiap saat utk mencapainya, baik sendirian maupun bersama-sama.

January 22,2015
Sahabat, filsuf eksistensialis Perancis, Henri Bergson (1859-1941), mengatakan:  "Agar mampu tetap eksis, maka orang harus melakukan perubahan; agar bisa melakukan perubahan, ia harus menjadi dewasa; dan agar bisa menjadi dewasa, maka ia harus melakukan cipta-diri tanpa henti." Ciptadiri (self creating) adalah proses mental utk senantiasa melakukan peningkatan kualitas. Ia menjadi dasar bagi proses pendewasaan dan perubahan  yang lebih jauh. Tanpa kemauan dan kemampuan melakukan 'self-creating', maka eksistensi manusia di dunia tidak akan memiliki dampak positif bagi diri dan lingkungannya.

January 23,2015
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Karramallahu Wajhahu) mengatakan: “Dunia ini bagaikan lautan,  tempat tenggelamnya  banyak ciptaan-ciptaan Tuhan. Jelajahilah dunia ini dengan selalu menyebut namaNya. Jadikan KETAKWAAN sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkan KEIMANAN utk layarmu, gunakan NALAR sebagai nahkoda; dan jadikan KESABARAN  utk jangkar menghadapi badai yg menghantammu.” Empat komponen utama utk bekal mengarungi samudera kehidupan agar selama sejahtera dan mencapai tujuan akhir dengan bahagia. Selamat pagi!



January 24,2015
Sahabat, intelektual terkemuka Amerika keturunan Libanon, Edward Said (1935-2003), mengatakan: “Anda tidak boleh terus menerus menjadikan pihak lain sebagai korban anda hanya karena anda sendiri pada suatu saat pernah menjadi korban. Batas harus selalu harus ada." Viktimisasi satu pihak kepada pihak lain, bisamuncul karena dendam atau juga karena merasa pernah menjadi kurban sebelumnya. Edward Said bicara tentang konflik Israel-Palestina, tetapi relevan juga dengan yg  terjadi di sekitar kita. Konflik Polri vs KPK, misalnya, mengindikasikan sebuah viktimisasi karena ada pihak yg merasa dendam sehinga menggunakan kekuasaan dan institusi untuk menindas pihak lain. Inilah yg harus dihentikan dg segera sebelum tak terkontrol lagi serta meruyak kemana-mana.

January 26, 2015
Sahabat, spiritualis Yahudi asal Polandia, Rabbi Abraham J. Heschel (1907-1972), mengatakan: "Manusia di dunia ini (ibarat) seorang utusan yang sedang lupa dengan pesan yg dibawanya." Sebagai mahluk yang memiliki tanggungjawab kemanusiaaan, manusia seharusnya selalu mengingat dan melaksanakan tgjwb tsb. Sayangnya hal tsb tidaklah mudah dan sering dilupakan, baik sengaja maupun tidak. Itu sebabnya saling memberikan peringatan dalam bentuk wacana, tausiah, kritik, dll menjadi sangat penting dlm kehidupan. Agar supaya manusia tidak terus menerus lupa dan/atau melupakan dengan tanggungjawabnya.

January 27,2015
Sahabat, aktivis perempuan asal Rusia, Rosa Luxemburg (1870-1919) mengatakan: "Tanpa ada pemilu, kebebasan pers, berpendapat dan berkumpul, dan tanpa ada kebebasan utk bertempur tentang gagasan-2, maka kehidupan di ruang publik akan lenyap. Ia hanya semacam karikatur tentang dirinya sendiri, dan (ujung-2nya) birokrasilah yg akan menjadi faktor penentu segalanya." Ruang publik yg bebas adlh salah satu soko guru bagi kehidupan demokrasi yg sehat. Ketika ruang publik dikuasai oleh birokrasi, maka saat itu pula demokrasi mengalami kemerosotan substantif; kendati tampilan luarnya masih tampak bagus.




January 28,2015
Sahabat, Sufi Agung Persia, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Jadilah seperti sungai dalam kedermawanan dan kemurahhatian/ Jadilah seperti mentari dalam kelembutan sentuhan/ Jadilah seperti malam dalam menutupi kesalahan liyan/ Jadilah seperti jenazah dalam kemurkaan/ Jadilah seperti bumi dalam kerendahhatian dan kesederhanaan/ Jadilah seperti laut dalam bersikap toleran/ Jadilah dirimu sendiri sebagaimana yg engkau tampilkan." Manusia bisa belajar dari alam sekitar utk meningkatkan kualitas diri, baik jasmaniah maupun rohaniah. Dan pada akhirnya konsistensi antara tampilan dengan yang ada di dalam adalah yang paling ideal. Dan tentu saja paling berat utk dilakukan.

January 29,2015
Sahabat, Presiden AS ke 26, Theodore Roosevelt, mengatakan: "Di saat-saat penentuan, apa yang terbaik yang dapat anda lakukan, itulah keputusan yang benar. Setelah itu adalah keputusan-2 yang kurang baik, dan yang paling buruk adalah tidak melakukan apapun!" Dalam kehidupan, acapkali kita dihadapkan pada suatu kondisi yang sulit sehingga keputusan kita menjadi sangat penting. Jika kita memiliki ruang untuk membuat dan memilih alternatif, maka hal itu masih belum mendesak. Namun adakalanya ruang tsb sudah tidak ada. Maka satu-2nya yg bisa lakukan adalah memutuskan apa yg kita anggap terbaik dan bersiap menghadapi resiko serta rencana darurat (contingency plan). Sikap membiarkan adakalanya  malah lebih berbahaya ketimbang membuat keputusan yg mungkin salah.









FEBRUARI
1 Februari 2015 ·
Sahabat, dalam Serat Wulangreh dikatakan: "Kalamun ana manungsa/ tan anganggo ing duga lan prayogi/ iku watake tan patut/ awor lawan wong kathah/ degsura ndaludur tan wruh ing edur/ aja sira pedhak-pedhak nora wurung neniwasi." (Kalau ada manusia meninggalkan 'duga' dan 'prayoga,' dia tidak layak bergaul dengan orang banyak. Orang yang degsura, daludur, tan wruh ing edur jangan didekati karena hanya menimbulkan kesusahan). (Pangkur: 4)
Etiket dan etika pergaulan pribadi dan sosial dalam budaya Jawa. Tinggalkan sikap 'degsura' yg berarti tanpa tatakrama, 'daludur' yg berarti kurang ajar, 'tan weruh edur' yg berarti arogan. Sebaliknya, terapkan selalu sikap 'duga' yg berarti perhitungan, dan 'prayoga' yg berarti seusai dg konteks dalam mengambil keputusan.
2 Februari 2015 ·
Sahabat, saintis terkemuka abad 19 dari Inggris, Thomas Huxley (1825-1895), mengatakan: "Mantapkan pikiran anda utk bertindak tegas dan menanggung konsekuensi-2 yg mungkin terjadi. Tidak ada kebaikan yang bisa diperoleh di dunia ini dengan keragu-raguan dlm bertindak." Keragu-raguan dalam bertindak cenderung lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Hal itu bisa terjadi karena petimbangan yang belum matang, atau karena memang sifat peragu yg dimiliki oleh seseorang. Jika yg pertama itu masalahnya, maka perlu pemantapan pertimbangan. Jika yang kedua, maka harus diusahakan berlatih menghilangkan atau mengurangi kebiasaan peragu. Apalagi jika dalam posisi menjadi pemimpin.
3 Februari 2015 ·
Sahabat, filsuf masa Pencerahan asal Jerman, Immanuel Kant (1724-1804), mengatakan: "Tanpa manusia dan kemampuannya utk meningkatkan kualitas moral, maka realitas di dunia ini hanya mirip belantara, suatu kesia-siaan, dan tanpa tujuan akhir." Moral pada hakekatnya menjadi landas tumpu bagi manusia dan dunia yg bermakna dan mampu mencapai kemajuan (progress). Jika moral tercerabut dari kemanusiaan, maka tidak ada lagi elemen yang membedakan antara manusia dg hewan dan benda-benda lain. Hanya dengan manusia yg bermoral maka cita-2 kemanusiaan yg adil dan beradab menjadi mungkin diupayakan.
4 Februari 2015 ·
Sahabat, penulis dan dramawan Perancis, Victor Hugo (1802-1885), mengatakan: "Berbagai pemikiran tertentu bisa merupakan doa-doa. Sebab ada momen-momen tertentu, apapun yg sedang dilakukan oleh jasmani saat itu, tetapi sang jiwa sedang bersujud." Aktifitas berfikir merupakan kegiatan rohani, sehingga ia bisa saja terlepas dari apa yang dilakukan oleh jasmani pada saat yg sama. Berfikir adakalanya merupakan suatu olah spiritual, yang mampu mendekatkan manusia pada sang Pencipta. Pembedaan antara pikiran dan mental, sejatinya tidaklah mutlak, tetapi kontekstual dan relasional.
5 Februari 2015 ·
Sahabat, novelis Inggris zaman Victorian, Charles Dickens (1812-1870), mengatakan: "Dimanapun, jika sebuah agama sudah disulap menjadi semacam minuman yg keras dan tempat melarikan diri dari kenyataan hidup yg membosankan, maka para agamawan yang paling keraslah yang paling dihormati. Para agamawan yg paling banyak menebar bara api menuju jalan ke akhirat, sambil menginjak-injak bunga-2 dan dedaunan di pinggirnya, akan disebut yang paling saleh." Pemahaman terhadap ajaran agama bisa menciptakan gagasan dan perilaku yg berlawanan dengan inti pesan agama itu sendiri. Agama yg mengajarkan pesan perdamaian, bisa disulap menjadi sumber perilaku kekerasan. Agama yg mengedepankan kasih sayang menjadi sumber penindasan atas nama Tuhan. Para agamawanlah yg paling bertanggungjawab atas penafsiran-2 ajaran, apakah akan membuat agama menjadi penyebar kedamaian dan kasih sayang, atau malah sebaliknya.
6 Februari 2015 ·
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Aristoteles (384-322 SM), mengatakan: "Pendidikan otak/akal/nalar tanpa pendidikan hati nurani bukanlah pendidikan sama sekali." Hasil dari sistem pendidikan yang hanya memfokuskan pada mengasah penalaran pada ujungnya memunculkan generasi yang tidak seimbang kehidupannya. Mungkin saja masyarakat yg dihasilkannya maju dan pintar, namun tanpa karakter dan kehilangan pijakan etisnya. Pendidikan demikian tidak mungkin bisa menjadi instrumen membangun sebuah bangsa dan negara yang kokoh dan mampu bertahan dari dinamika sejarah yg menerpanya.


7 Februari 2015 ·
Sahabat, Sufi Agung dari Persia, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "(Jika) ada sebuah paguyuban ruhani/ Masuklah dan rasakan dengan sukahati/ Seperti berada di jalan ramai/ Jadikan dirimu keramaian itu sendiri." Sebagai mahluk yang memiliki dimensi ruhani, manusia seharusnya senantiasa mencari dan menyerap keruhanian tersebut. Seperti halnya ketika manusia berusaha ingin memenuhi hasrat jasmaniahnya, seperti itu pula manusia mengimbangi keruhaniannya. Bahkan lebih berat, karena dimensi ruhani merupakan inti, seperti panas dlm sinar matahari, seperti basah dalam air, seperti keramaian dalam ramai.
8 Februari 2015 ·
Sahabat, pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional, Tan Malaka (1894-1949), mengatakan: "Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali." Memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan merupakan keharusan, namun ia tak bisa dilepaskan dari tanggungjawab kepada masyarakat dan bangsa. Sistem pendidikan yang bermanfaat utk pemajuan bangsa, harus memberikan porsi besar kepada komponen tanggungjawab sosial dan tidak melulu pada komponen akuisisi ilmu pengetahuan. Manusia yang pintar tetapi tercerabut dan tak peduli dg masyarakatnya justru bisa menjadi ancaman berbahaya bagi kelestarian dan kemajuan bangsanya.
9 Februari 2015 ·
Sahabat, fisikawan AS peraih Nobel, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Hanya sedikit sekali orang yang mampu menyampaikan dg tabah pandangan-2 berbeda dengan masyarakat sekitarnya. Justru kebanyakan orang bahkan tidak mampu membentuk pandangan-2 seperti itu." Memiliki pandangan-2 yg berlawanan dengan apa yang sudah disepakati oleh lingkungan bukanlah perkara gampang. Apalagi menyampaikannya dengan konsisten dan tabah serta berani menanggung resiko yg besar. Diperlukan suatu kemampuan dan ketahanan mental yg tinggi untuk mampu melakukan perubahan pandangan dlm masyarakat. Terutama dlm masyarakat yang sangat majemuk.


10 Februari 2015 ·
Sahabat, Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, mengatakan: "Kalau anda sudah menguasai penegak hukumnya, merampok sehebat-hebatnyapun tidak akan kena. Aman." (Wawancara dg Majalah TEMPO, ed. 15 Februari 2015, hal. 110). Penegak hukum bukan hanya berpeluang melakukan pelanggaran hukum bagi dirinya, tetapi juga membuka peluang bagi pelanggaran hukum bagi pihak lain. Ketika hal yg terakhir itu terjadi, penegak hukum tsb sejatinya telah melakukan pelanggaran dobel. Sebab ketika ia memberi peluang kepada yg lain utk melanggar hukum ia juga melanggar aturan itu sendiri dan bersama-sama dg pihak lain.
11 Februari 2015 ·
Sahabat, sebuah pepatah Italia mengatakan: "Chi non sa obbedir, non sa comandar." (Barang siapa yang tidak pernah diperintah maka ia tidak layak untuk memberi perintah). Menjadi pemimpin bukan hanya karena keturunan, keilmuan, penampilan fisik, maupun dukungan banyak orang. Menjadi pemimpin memerlukan pengalaman, termasuk pengalaman dipimpin. Tanpa pengalaman yang cukup dan/atau pernah menjadi anak buah, maka orang yang duduk dalam posisi memimpin bisa beresiko menjadi tiran atau sebaliknya, mudah diatur dan diarahkan oleh pihak-pihak di luar. Pengalaman menjadi pihak yang dipimpin membuat perspektif menjadi lebih luas di samping belajar dari sang pemimpin.
12 Februari 2015 ·
Sahabat, pejuang pendidikan asal Brazil, Paulo Freire (1921-1997), mengatakan: "Sikap 'cuci tangan' ketika menyaksikan konflik antara pihak yang berkuasa dan pihak yang tertindas, sejatinya sama dengan memihak kepada pihak yang berkuasa. Bukan sikap netral." Berdiam diri terhadap ketidak adilan dan penindasan, adalah sikap yang akan menguntungkan para penindas kendatipun tidak dimaksudkan utk itu. Pada hakekatnya, penindasan terjadi bukan semata-mata karena kekuasaan dan kekuatan penindas yg bekerja, tetapi juga keikut sertaan dan bantuan pihak-2 yang mengklaim 'netral' dan cuci tangan. Ibaratnya, satu orang penindas jika ditambah dg sejuta orang yg bersikap cuci tangan, kekuatannya seolah-olah sejuta orang penindas.

14 Februari 2015 ·
Sahabat, sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia utk saling mencintai dan dicintai. Cinta dan kasih sayang merupakan suatu pemberian Tuhan yang azali. Manusia boleh selalu berikhtiar dan berusaha mencari. Namun sejatinya, cinta dan kasih sayang telah terpateri. Ikhtiar kita hanyalah melengkapi. Dan suatu hal yang sangat manusiawi.
15 Februari 2015 ·
Sahabat, filsuf asal Jerman, Friedrich Wihelm Nietszche (1844-1900), mengatakan: "Semakin tinggi kita melanglang angkasa, semakin kecil pula kita tampak dalam pandangan mereka yang tak mampu terbang." Kedengkian dan irihati merupakan suatu paradigma kehidupan yang distortif dan destruktif sekaligus. Ia distortif karena menciptakan perspektif atau sudut pandang yang meremehkan dan mengecilkan realita. Ia menjadi destruktif karena akibat perspektif tsb mengajak pada gagasan dan tindakan yang ingin menguasai tanpa simpati dan mengambil tanpa mau memberi.
16 Februari 2015 ·
Sahabat, pemikir dan intelektual Muslim asal Hongaria, Muhammad Asad (Leopold Weiss) (1900-1992), mengatakan: "Kengototan mereka [kelompok konserfatif/ fundamentalis] bahwa sebuah 'negara Islam' modern harus merupakan replika yg persis sama dengan preseden sejarah masa lalu, hanya akan membuat gagasan tentang negara Islam diremehkan dan menjadi bahan guyonan." Sejarah manusia, tak terkecuali ummat Islam, adalah sebuah catatan ttg upaya dan perjuangan mencari jawaban-2 atas persoalan dan tantangan yang dihadapi pada masanya. Berbagai gagasan dan konsep muncul dan tenggelam dalam dinamikanya. Apa yg dulu relevan bisa saja kemudian dipertanyakan dan bahkan ditinggalkan serta dicari inovasi yang lebih mampu menjawab tantangan baru. Memaksakan kehendak atas nama 'kejayaan masa lalu' dan ideologi yg mengagungkan masa lalu tanpa sikap kritis, akan bertabrakan dengan keniscayaan dinamika sejarah.
17 Februari 2015 ·
Sahabat, pejuang anti kekerasan dan persamaan hak asasi AS, Dr. Martin Luther KIng, Jr. (1929-1968), mengatakan: "... Saya punya mimpi, bahwa pada suatu hari, bahkan di sebuah negara bagian seperti Mississippi yang kering dan terik panas karena ketidak adilan pun akan berubah menjadi oase kemerdekaan dan keadilan. Saya punya mimpi, bahwa suatu hari, keempat anak saya akan hidup dalam sebuah bangsa di mana mereka tidak diadili berdasarkan warna kulit mereka, tetapi berdasarkan kualitas karakter mereka." Kutipan dari pidato monumental MLK ini masih sangat relevan saat ini dan termasuk utk bangsa Indonesia, yang hari-2 ini sedang berada dalam situasi yang memprihatinkan. Negeri ini akan ditarik oleh sementara elit kembali ke musim kemarau dan terik panas ketidak adilan. Upaya para elit itu menjadi harus dicegah dan kita arahkan menuju oase kemerdekaan dan keadilan bagi semua. Cemunguuuddd...!
18 Februari 2015 ·
Sahabat, filsuf Perancis masa Pencerahan, Denis Diderot (1713-1784), mengatakan: "Kekuasaan yang diperoleh melalui kekerasan, sejatinya hanyalah sebuah perampokan belaka. Kekuasaan tsb hanya bertahan selama si perampok masih menguasai pihak yang patuh padanya." Kekuasaan pada akhirnya akan dinilai bukan saja oleh sang pemilik, tetapi juga pihak yang dikuasai. Penilaian tsb bisa berbentuk fisik dan transparan, tetapi juga bisa berbentuk legitimasi yg tdk transparan atau moral. Salah satu persoalan legitimasi thd kekuasaan adalah bagaimana ia diperoleh dan dilaksanakan. Kekuasaan yg diperoleh melalaui kekerasan, kendati tampilannya menakutkan dan mengerikan, tetapi legitimasi etisnya sangat lemah.
19 Februari 2015 ·
Sahabat, Khong Hu Cu (551–479 SM) mengatakan: "Mengetahui apa yang benar tetapi tidak (mau) melaksanakannya adalah kepengecutan yang terburuk." SELAMAT MERAYAKAN TAHUN BARU IMLEK 2566 (2015)." Semoga di Tahun Domba ini keberanian menyatakan kebenaran dan melaksanakannya, sejauh kemampuan, dari pemimpin dan rakyat Indonesia akan terus terjaga. Sehingga cita-2 menjadikan bangsa dan negara kita adil, makmur, dan jaya terlaksana. GONGXI FA CHAI, GONGXI CHIEN NIEN...
20 Februari 2015 ·
Sahabat, sejarawan Perancis, Alexis deTocqueville (1805-1859), mengatakan: "Republik Amerika akan tetap bertahan sampai pada suatu saat Konggres berhasil menyuap publik dengan uang dari publik sendiri." Salah satu cara mempertahankan sistem demokrasi adalah dengan membentengi rakyat dari bahaya penyuapan (money politics) yg dilakukan oleh para politisi, baik yg berada di Parlemen maupun di luarnya. Jika rakyat sudah disuap dan dibeli para politisi, apalagi dg menggunakan uang Negara, maka sistem demokrasi sudah terancam keberadaannya. Karena pada saat itu, prinsip "dari, oleh, dan utk rakyat" sudah tinggal retorika belaka. Yang ada adalah kontrol dan cengkeraman para politisi thd rakyat melalui uang.
21 Februari 2015 ·
Sahabat, spiritualis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda mengatakan: "Betapa adil pun suatu cita-cita diperjuangkan, tetapi penggunaan kekerasan di dalamnya hanya akan menanam kepahitan dalam hati generasi yang berikutnya dan bisa menyebabkan perluasan serta pengulangan konflik." Sejarah manusia bisa dilukiskan sebagai sejarah penggunaan kekerasan atas nama cita-2, ideologi, agama dll. Hasilnya selain muncul dan berkembangnya berbagai kemajuan dan munculnya peradaban-2 manusia, tetapi juga kesengsaraan (miseries) yang luar biasa yang diwariskan turun temurun setiap generasi. Konflik yang dicoba diselesaikan (dengan kekerasan) malah menjadi konflik yang tertanam terus dalam kesadaran dan ketaksadaran manusia, dan sulit utk bisa dihilangkan.
22 Februari 2015 ·
Sahabat, fisikawan dunia dan penerima Nobel dari AS, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Sebuah kapal tentu akan aman-aman saja jika ia bersandar di pelabuhan. Tetapi bukan hanya untuk tujuan itu (bersandar di pelabuhan) sebuah kapal dibangun." Dalam kehidupannya, manusia selalu akan dihadapkan dengan tantangan dan resiko. Kendati manusia bisa saja berdiam diri dan tidak melakukan sesuatu, resiko akan mendatanginya. Sejarah juga penuh dengan catatan bahwa manusia-manusia yang sukses dalam kehidupan mereka adalah para pejuang dan penanggung resiko-2 besar namun mereka pantang menyerah. Menghindari dan memperkecil dampak negatif resiko tak berarti harus berdiam diri dan tak berusaha, tetapi justru sebaliknya: menghadapinya dengan tegar dan berupaya keras agar resiko berubah menjadi peluang bagi keberhasilan.
23 Februari 2015 ·
Sahabat, dalam Bhagawatgita dikatakan: "Apapun yang dilakukan oleh para petinggi dan mereka yang berpengaruh, menjadi contoh bagi rakyat jelata. Keteladanan yang mereka berikan menjadi anutan dan akan diikuti oleh masyarakat umum." (3: 21). Pemimpin dalam semua level, akan menjadi semacam referensi atau rujukan bagi yg dipimpin, baik disengaja maupun tidak. Implikasi dari posisi tsb adalah bahwa ketika pihak yang dipimpin melihat, merasa, dan membuktikan adanya inkonsistensi antara apa yg dikatakan dan diperbuat oleh yang memimpin, maka legitimasi pihak yg disebut terakhir itu akan mengalami erosi. Salah satu sumber delegitimasi kepemimpinan adalah inkonsistensi tsb.
24 Februari 2015 ·
Sahabat, filsuf zaman Pencerahan dari Perancis, Voltaire (1694-1778), mengatakan: "Nilailah seseorang dari pertanyaan-pertanyaan yg diajukannya, bukan dari jawaban-jawabannya." Pertanyaan yang muncul dari seseorang bisa jadi bukan sekedar ekspresi ketidaktahuannya atau keingintahuannya. Tetapi merupakan cerminan kepribadian dan kualitasnya. Kadang-2 dari pertanyaan-pertanyaan seseorang kita akan mendapat tilikan mendalam mengenai kepribadian orang tsb dan bisa memahami pola pikirnya secara lebih baik. Tindakan bertanya merupakan bagian dari pembeberan (disclosure) kepribadian seseorang.
25 Februari 2015 ·
Sahabat, penulis dan aktifis feminis, Naomi Wolf, mengatakan: "Kecantikan perempuan dianggap sebagai penyebab terjadinya pelecehan. Tetapi definisi tentang apa pelecehan itu seringkali dibuat dg memakai cara pandang laki-laki." Salah satu jenis kekerasan struktural dpm masyarakat adalah kekerasan berdasarkan perbedaan jender (bukan hanya perbedaan jenis kelamin). Kaum perempuan adlh korban paling nyata dan utama dari kekerasan ini. Ini disebabkan karena kekuatan penafsiran thd hal2 yg terkait dg perempuan dimiliki secara tdk merata atau seimbang. Umumnya kaum laki2 yg leboh dominan dlm membuat tafsir tsb, termasuk tafsir tentang kaitan antara kecantikan dan pelecehan seksual, sopan santun, pelanggaran etika dan hukum dsb.
26 Februari 2015 ·
Sahabat, novelis Inggris asal Polandia, Joseph Conrad (1857-1924), mengatakan: "Semua ambisi manusia adalah sah, kecuali ambisi untuk naik (status sosial) ke atas dengan landasan penderitaan orang lain dan pengabaian terhadap kemanusiaan." Manusia secara alami memang memiliki ambisi utk meraih suatu cita-cita atau harapan tertentu, dan karenanya merupakan kewajaran. Bahkan ambisi (baik yg dikemukakan terbuka atau tersimpan) bisa menjadi daya dorong positif begi kemajuan pribadi maupun kelompok. Namun jika ambisi telah mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan, apalagi menciptakan penderitaan terhadap sesama, maka ia merupakan sebuah pelanggaran moral dan bahkan bisa mendorong muncul dan berkembangnya tindak kriminal serta penindasan.
27 Februari 2015 ·
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mengatakan: "Bertanyalah kepada hati nuranimu tentang segala perkara, karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap." Pada dasarnya setiap manusia memiliki komponen hati nurani yang akan memberikan kesaksian dan peringatan serta arahan kepada pemiliknya tentang kebaikan dan keburukan tindakan-tindakan dan pilihan-pilihan dalam kehidupan. Hanya saja apa yang dikatakan oleh hati nurani acapkali dikalahkan oleh kepentingan dan hawa nafsu, sehingga ia tersembunyi dan tertutupi dan bisa jadi tak pernah muncul kembali. Dialektika antara hatinurani dan hawa nafsu berdampak besar dalam pembentukan karakter seseorang, baik sebagai individu maupun bagian dari kelompok.
28 Februari 2015 ·
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Anaxagoras (500-428 SM), mengatakan: "Ummat manusia akan hidup dalam ketenangan seandainya dua kata ini bisa dihilangkan: 'milikku' dan 'milikmu'." Hak untuk memiliki (property right) merupakan salah satu faktor yang memotivasi manusia untuk bekerja keras, maju, dan membangun budaya serta peradaban. Sayangnya, sebagaimana hal-hal lain, apabila hak tersebut digunakan secara berlebihan dan tanpa pengawasan serta kontrol yang baik, maka bisa juga menjadi pendorong keserakahan, kepelitan, dominasi manusia atas manusia, dan bahkan kehancuran. Sejarah mencatat bangun dan hilangnya suatu peradaban manusia karena kehendak utk memiliki dan menguasai tersebut.

MARET
31 Maret 2015
Sahabat, spiritualis Budhist dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Agama-2 senantiasa berada dalam bahaya menjadi jauh dari para pemeluknya, ketika para agamawannya lupa utk merenung dengan hati-2 terhadap perilaku mereka sendiri sebagai para pemilik otoritas."
 Dalam sejarah kemanusiaan, para agamawan merupakan otoritas yang ikut bertanggungjawab dan b erkontribusi bagi kemajuan dan kehancuran bangsa-bangsa. Ketika para agamawan menggunakan otoritasnya utk kepentingan-2 jangka pendek dan eksklusif, maka ruh keber-agama-an pun padam dan agama hanya menjadi alat kekuasaan yg menindas dan merugikan kemanusiaan.
0 Maret 2015
Sahabat, pejuang kemanusiaan dari India, Mahatma Gandhi (1869 – 1948), mengatakan: “Manusia acapkali menjadi seperti apa yang diyakini terhadap dirinya sendiri. Jika saya selalu mengatakan terhadap diri sendiri tidak mampu melakukan sesuatu, maka kemungkinan saya tdk akan bisa melakukannya. Sebaliknya, jika saya yakin bisa melakukannya, maka mungkin saja akan meraih hal tersebut kendati mula-mula saya belum memiliki kemampuan tsb."
Menanamkan keyakinan terhadap diri sendirikepada generasi muda bangsa ini, sungguh sangat penting mengingat besarnya tantangan yang dihadapi bangsa dan negara ini dalam percaturan kehidupan antar-bangsa. Itulah yg sering saya ingatkan kpd anak saya agar selalu berkerja keras dan bertanggungjawab bagi bangsanya, khususnya dalam pendidikan. Indonesia tdk mungkin maju jika anak-2 mudanya lebih suka berada di luar negeri karena hidup lebih mudah dan melupakan kesusahan rakyat di negerinya...

29  Maret 2015
Sahabat, filsuf Tiongkok kuno, Meng Tzu (372-289 SM), mengatakan: " Sejatinya jalan kebenaran itu ibarat jalan raya yang semua orang bisa melihatnya. Persoalannya menjadi sulit ketika orang tidak mau mengikuti jalan tersebut."
 Banyak jalan menuju kebenaran dan semua petunjuk juga sudah diberikan. Hanya saja, manusia memiliki kemampuan memilih, termasuk memilih utk tidak mau menggunakan jalan tersebut. Itulah yg menjadikan persoalan dalam perjalanan sejarah manusia sehingga jalan kebenaran seringkali sulit ditemukan dan bahkan diingkari.
27 Maret 2015
Sahabat, novelis peraih Nobel utk kesusastraan dari AS, William Faulkner (1897-1962), mengatakan: "Apapun yang ada di Los Angeles terlalu besar, terlalu bising, dan biasanya banal dalam hal konsep. (Los Angeles) adalah plastik paling keparat di dunia."
 LA, dengan segala kehebohan dan kehebatannya, termasuk menjadi pusat perfilman AS dan dunia, senantiasa mengundang kekaguman dan kecaman, pesona dan kutukan. Lebih dari kota-kota besar lain di dunia, LA menjadi tujuan kedatangan begitu banyak orang tetapi hanya untuk sementara. Ia adalah sebuah kota persinggahan yang sarat oleh gemerlapnya impian dan sekaligus sumpah serapah. LA mengingatkan saya kepada Jakarta.
26  Maret 2015
Sahabat, Maulana Jalaludin Rumi mengatakan : "Ketuk pintuNya, dan Dia akan membuka pintu buatmu/ Menghablurlah, dan Dia akan membuatmu bersinar bagai mentari/ Merendahlah, dan Dia akan mengangkatmu ke langit/ Kosongkan dirimu, dan Dia akan merubahmu menjadi semuanya."
Manusia akan mendapatkan nilai2 yg lebih ketika ia mampu menyadari kelemahannya di hadapan Sang Maha Pencipta. Kesadaran tsb bukan untuk berikap pasif tetapi pro-aktif.
25  Maret 2015
Sahabat, filsuf dan spiritualis Amerika, Reinhold Niebuhr (1889-1971), mengatakan: "Kemampuan manusia utk berlaku adil MEMUNGKINKAN terwujudnya demokrasi. Tetapi kecenderungan manusia untuk tidak berlaku adil, MENGHARUSKAN terwujudnya demokrasi."
Demokrasi masih tetap diperlukan dalam suatu masyarakat yg warganya sudah menikmati keadilan, apalagi di dalam masyarakat yang para warganya masih belum menikmati keadilan. Mereka yang meremehkan demokrasi atau bahkan memusuhinya, kemungkinan besar adalah mereka yang merasa terancam kepentingannya jika demokrasi terwujud. Sebab sistem demokrasi memungkinkan terjadinya koreksi dan perubahan yg dapat diupayakan oleh warga masyarakat secara bersama dan berlandaskan nilai keadilan.

24 Maret 2015
Sahabat, sejarawan Yunani Kuno, Thucydides (460-395 SM), mengatakan: "Kebanyakan orang pada kenyataannya tidak mau repot-repot untuk menemukan kebenaran, tetapi lebih cenderung menerima cerita yang didengar paling awal saja."
Mencari sumber berita yang akurat dan dapat dipercaya bukanlah perkara yang mudah dan biasanya membutuhkan usaha serta pengalaman. Yang paling mudah adalah mendapatkan sumber yang memang disukai dan cocok dengan selera. Sebab, mencari sumber berita dan kebenaran berita memerlukan penalaran dan daya kritis. Sedangkan pada umumnya orang hanya mencari-2 apa yang dia suka dan takut jika harus berhadapan dengan kenyataan yang berbeda dg harapannya
23 Maret 2015
Sahabat, pejuang anti-apartheid dan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela (1918-2013), mengatakan: "Janganlah anda menilai saya berdasarkan keberhasilan yang saya capai. Tetapi nilailah saya dari berapa kali saya mengalami kegagalan tetapi kemudian saya bangkit kembali." Keberhasilan atau sukses kadang merupakan faktor yang terlalu dibesar-besarkan dan akibatnya malah mengecilkan arti sebuah perjuangan. Penilaian yang tak kalah penting adalah bagaimana seseorang bangkit dan mengatasi kegagalan dan mengubahnya menjadi sarana pendorong untuk mencapai sukses. Bangsa yang besar tidak berarti selalu sukses, tetapi mereka besar ketika berhasil merubah kegagalan menjadi pendorong utk bekerja lebih keras dan bangkit kembali.
22 Maret 2015
 Sahabat, penulis Amerika, William Saroyan (1908-1981), mengatakan: "Tak ada satu pun kota yang mampu mengundang bangkitnya rasa keindahan seperti San Francisco. Datang berkunjung di San Francisco adalah sebuah pengalaman hidup tersendiri."
 Malam Minggu waktu setempat (21/3/15), saya tiba di kota budaya yang paling beken di California dan bahkan di AS, sejajar dengan New York atau bahkan menurut sebagian seniman lebih bagus. Saya akan mencoba menikmati kota ini kendati hanya sehari. Orang bilang, kesan pertama adalah paling menentukan. Dan saya baru pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Biasanya hanya transit di bandaranya saja. tentu saya akan berbagi pengalaman juga dengan para sahabat.

21 Maret 2015
 Sahabat, spiritualis dan filsuf Tingkok kuno, Lao Tzu (abad ke 5 SM), mengatakan: "Bergabunglah ke dalam masyarakat, hidup bersama mereka, belajar dan cintailah mereka. Bekerjalah dengan apa yang mereka pahami dan membangun dengan yang mereka miliki. Jika anda pemimpin yang baik, masyarakat akan merasa bahwa mereka sendirilah yang merampungkan pekerjaan tersebut."
Kualitas pemimpin yang unggul bisa dilihat dari bagaimana para pengikutnya merasakan kebersamaan dalam kesuksesan mereka menjalankan tugas. Yang paling ideal adalah jika para pengikut merasakan bahwa sukses tersebut adalah hasil kerja mereka, bukan hanya hasil sang pemimpin semata.
20 Maret 2015
 Sahabat, novelis terkemuka AS, Ernest Hemmingway (1899-1961), mengatakan: "Manusia-2 unggulan memiliki berbagai keutamaan, seperti bercitarasa keindahan, berani utk mengambil resiko, berdisiplin dlm menyampaikan kebenaran, dan punya kapasitas utk berkorban. Ironisnya, keutamaan-2 tsb justru membuat mereka rentan sehingga acapkali mudah dilukai dan bahkan dihancurkan."
 Manusia-manusia yang memiliki keunggulan bukan berarti imun dari berbagai cobaan. Keunggulan dan kebesaran mereka seringkali harus dibayar mahal dengan serangan fitnah, konspirasi, penjara, dan bahkan pembunuhan. Karena itu menilai keunggulan manusia bukan hanya pada kiprah suatu saat, tetapi juga pada dampak-2nya bagi kehidupan dan masyarakat setelah ia tiada.
19 Maret 2015
 Sahabat, novelis Inggris yg lahir di Paris, Perancis, W Somerset Maugham (1874-1965), mengatakan: "Kalaupun seseorang kadangkala terpaksa membohongi orang lain, tetap saja akan sangat merendahkan dirinya jika ia pun masih mau berbohong terhadap dirinya sendiri.“
 Kejujuran, terutama terhadap diri sendiri, merupakan modal utama agar keseimbangan dalam kehidupan dapat diupayakan. Jika jujur terhadap diri sendiri saja sudah sulit dilakukan, maka semakin besar kemungkinan utk tidak jujur kepada pihak lain. Kebohongan pun kemudian menjadi 'normal' dan dianggap hanya sebagai salah satu taktik atau strategi belaka. Bukan sesuatu yang prinsip.


18  Maret 2015
 Sahabat, filsuf dan mahaguru hukum konstitusi AS, Ronald Dworkin (1931-2013), mengatakan: "Integritas moral adalah kunci untuk memahami praktik hukum. Kekuatan hukum ditentukan oleh perilaku, dan bukan oleh wilayah, kekuasan, maupun proses."
Dalam praktik di dunia hukum, posisi Hakim sangat menentukan. Ia menginterpretasikan hukum berlandaskan prinsip-2 moral yang dipercaya dan dipegang teguh oleh masyarakat. Khususnya prinsip-2 ttg keadilan dan tak diskriminatif atau fairness. Jika seorang hakim hanya berdiam diri ketika ada ketidak adilan atau potensi kekacauan, dengan alasan khawatir tindakannya akan menciptakan persoalan, maka dia sejatinya telah melanggar integritas moral yang menjadi landasan dari keberadaannya.
17 Maret 2015
Sahabat, filsuf aliran Sekolah Frankfurt Jerman, Juergen Habermas, mengatakan: "Dipandang dari perspektif moral, tidak ada alasan pembenar apapun bagi aksi terorisme, terlepas dari apapun motif dan situasi yang menyebabkan para pelakunya melaksanakan aksi tersebut."
Prinsip moral bahwa tidak ada legitimasi apapun utk aksi teror berlaku utk siapapun pelakunya, termasuk yang berasal dari negara, masyarakat sipil, dan/ atau individual. Maraknya gagasan dan praksis teror yang mendapat dukungan sementara pihak di semua bagian dunia menunjukkan adanya krisis prinsip moral tersebut di tataran global, nasional, sosial, dan individual.
16 Maret 2015
 Sahabat, tokoh Muslim kulit hitam Amerika, Malcolm X (H. Malik El-Shabazz, 1925-1965), mengatakan: "Seperti layaknya minum kopi, jika terlalu hitam dianggap terlalu keras/pahit. Apa yg anda lakukan? Anda mencampurnya dg susu supaya tak terlalu keras/pahit. Namun kalau susunya terlalu banyak, anda tdk merasakan lagi kopi itu. Kopi yg dulunya diminum panas2, kini diminum dingin. Yg dulunya keras/ pahit, kini jadi hambar. Yg dulunya membuat anda tetap melek, kini malah bikin lelap!"
15 Maret 2015
Sahabat, filsuf Yunani Kuno, Epicurus (341-217 SM), mengatakan: "Seandainya para Dewa mengabulkan semua keinginan dan doa manusia, niscaya ummat manusia akan musnah dalam tempo tak lama. Sebab kebanyakan manusia saling menginginkan dan mendoakan agar keburukan menimpa satu sama lainnya."
Mengupayakan suatu peri kehidupan yang damai dan sejahtera bukan hanya
dimanifestasikan dalam praksis atau kegiatan yang bersifat fisik, tetapi diawali dari cita-cita, harapan-harapan, gagasan, pemikiran. Gagasan dan pikiran yang menonjolkan pada kekerasan dan pengingkaran terhadap keberadaan liyan tentunya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, terutama masyarakat yang majemuk. Demikian pula sebaliknya.
14 Maret 2015
sahabat, penulis dan mahaguru jurnalisme AS, Charles Seife, mengatakan: "Sistem peradilan tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari kebohongan dan distorsi-2. Sebab, bagaimanapun juga, gedung Pengadilan itu dipenuhi oleh para ahli hukum dan pengacara."
 Hukum idealnya memang memberikan jaminan akan terpenuhinya rasa keadilan dalam masyarakat. Dalam praktiknya, hukum bisa jadi malah berperan sebaliknya. Sebab hukum dan keadilan tetap saja memerlukan perantara yang terdiri atas para ahli hukum, praktisi hukum, dll. Jika pihak-2 ini tidak mendapat pengawasan secara ketat (legal, politik, moral), maka justru yang akan terjadi adalah maraknya ketidak adilan.
13 Maret 2015
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Karromallahu Wajhah), memberi kiat agar kehidupan kita sejahtera lahir dan bathin: "1) Jangan engkau terlalu membenci seseorang kendati ia telah mempersulitmu; 2) Janganlah hidup berlebih-2an kendati engkau kaya raya; 3) Berfikirlah positif kendati engkau sedang menghadapi kesulitan; 4) Berikanlah yg lebih besar kendati engkau menerima lebih kecil; 5) Ajaklah bersilaturrahim kendati kpd mereka yg sudah melupakanmu; 6) Berikanlah maafmu kepada mereka yg berbuat salah padamu; dan 7) Jangan engkau berhenti mendoakan mereka-2 yg kamu cintai." SELAMAT MENGAMALKANNYA.
12 Maret 2015
 Sahabat, di dalam Bhagawatgita dikatakan: "Lebih baik gugur dalam melaksanakan swadharma yang niscaya membawa kepada kemuliaan, ketimbang terlibat dalam paradharma yang membuat seseorang diliputi rasa takut dan ragu."
 (3: 35) Swadharma berarti tugas dan kewajiban yg sesuai potensi diri, sedang paradharma adalah sebaliknya (tidak sesuai potensi diri). Manusia tumbuh dan berkembang hendaknya mencari dan melaksanakan potensi diri secara konsisten. Kesejahteraan, kemajuan, dan kedamaian dalam kehidupan umat manusia akan tercapai manakala pelaksanaan swadharma tersebut menjadi rule (aturan umum), bukan exception (pengecualian).
11 Maret 2015
 Sahabat, penulis dan aktivis feminis AS, Gloria Steinem, mengatakan: "Saya belum pernah mendengar ada seorang laki-laki yang mencari nasihat tentang bagaimana caranya menggabungkan karir dengan kehidupan rumah tangganya."
Salah satu bukti masih persistennya kesenjangan jender dapat dilihat pada wacana tentang kaitan antara karir dan kehidupan rumah tangga. Wacana tersebut menjadi topik dominan yang ditujukan kepada perempuan, seakan-akan karir bukanlah sesuatu yang 'lazim' dan menjadi masalah mereka ketika telah berumah tangga. Sehingga kadang dua hal tsb dianggap sebagai sebuah dikotomi, 'either/or', atau dua hal yang mesti dipilih salah satu. Anehnya, laki-laki nyaris tidak pernah menganggap hal itu 'berlaku' bagi mereka, seakan-akan persoalan karir dan rumah tangga bukanlah domain persoalan lelaki. Maka kaum lelaki pun merasa dirinya lebih unggul ketimbang perempuan karena dia tdk punya 'persoalan' tsb.
10 Maret 2015
Sahabat, novelis dan peraih Nobel kesusasteraan dari Turki, Orhan Pamuk, mengatakan: “Persoalan sebenarnya adalah sebesar apa penderitaan yang telah kita ciptakan bagi kaum perempuan dengan cara merubah penutup kepala menjadi sekadar simbol belaka - dan kemudian menggunakan mereka sebagai permainan politik?"
 Pertarungan ideologi muncul dalam berbagai bentuk, termasuk simbolisasi dan penciptaan 'subyektivitas' kaum perempuan. Penutup kepala, hijab, jilbab, dll yang sejatinya merupakan sebuah ekspressi budaya yang luhur, kemudian berubah menjadi ladang peperangan ideologi melalui politik simbolisasi. Hasilnya, alih alih ia memuliakan kaum perempuan, justru malah membuat stigmatisasi, eksklusifisme, dan arogansi, serta membuka jalan bagi politik pecah belah.

9 Maret 2015
 Sahabat, penulis dan pakar pengobatan alternatif terkemuka asal India, Deepak Chopra, mengatakan: "Kutukan terburuk yang menimpa seseorang adalah kemandegan, keberadaan yang membosankan, dan kenestapaan yg dihasilkan oleh keperluan utk selalu mengikuti arus."
 Kehidupan manusia bersifat dinamis dan menantang kiat utk dinamis. Jiwa yang statis, apalagi stagnan, merupakan penghambat kreatifitas seseorang sehingga ia akan mudah ditundukkan oleh status quo. Hasilnya adalah suatu kehidupan yang membosankan dan tidak menggairahkan atau menstimulir kreatifitas.
8 Maret 2015
sahabat, penyair Amerika asal Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Kala dirimu berpisah dengan sahabat tercinta/ Jangan terlalu tenggelam dalam duka/ Kerna yang paling engkau cinta darinya/ Mungkin akan makin nyata/ Dengan ketiadaannya/ Seperti gunung dan para pendakinya/ Lebih terang ketika ia menjauhinya."
 Keutamaan seseorang seringkali terlihat dan muncul saat ia telah tidak beserta kita. Kita merasa kehilangan karena kemudian terbukti ada berbagai kelebihan yang tak kita sadari dan ketahui saat bersama kita, bahkan kadangkala diabaikan atau dicemooh.
7 Maret 2015
Sahabat, penemu termasyhur, Thomas Alva Edison (1847-1931), mengatakan: "Keresahan adalah ketidakpuasan terhadap sesuatu. Ketidakpuasan adalah keniscayaan pertama bagi kemajuan. Tunjukkan saya seseorang yang puas dalam segala-galanya dan saya akan tunjukkan kepada anda sebuah kegagalan."
Dalam kehidupan manusia ketidakpuasan sejatinya bisa dimaknai secara positif yakni sebagai pendorong bagi perubahan positif dan kemajuan. Peradaban dan kebudayaan manusia pada hakekatnya tumbuh dan berkembang karena ada faktor ketidakpuasan dan keinginan untuk lebih maju dan lebih baik. Pemimpin yang baik adalah yang mampu mengelola aspek ini secara positif untuk menjadi daya dorong bagi kemajuan. Pemimpin yang hanya berpuas diri dan tidak mendorong perubahan adalah pemimpin yang gagal.

6 Maret 2015
Sahabat, Presiden AS ke 33, Harry S. Truman (1884-1972), mengatakan: "Para pemberani tidak hanya dimiliki oleh satu negara tertentu saja. Saya menghormati keberanian di manapun saya menjumpainya."
Karakter pemberani bisa ditemukan di mana pun dan dalam masyarakat apapun. Seorang pemimpin yang memiliki karakter pemberani tidak hanya karena punya fisik gagah. Sebab karakter itu adanya dalam jiwa yang kemudian terlahir secara konsisten dalam ucapan dan perbuatan kongkrit. Seorang pemimpin bisa saja punya fisik yang super gagah dan/atau punya pengalaman militer atau olahragawan bina raga, tinju, dsb. Tetapi jika karakternya bukan seorang pemberani, maka ia tdk berani mengambil berbagai keputusan beresiko pada situasi kritis dan sulit.
5 Maret 2015
Sahabat, spiritualis asal suku bangsa Indian Sioux, Black Elk (1863-1950), mengatakan: "... Seorang yang menyatakan diri punya kemampuan bisa melihat jauh ke masa depan, belum bisa dipercaya sampai suatu saat ia mampu mewujudkan kemampuan tersebut dengan disaksikan oleh semua orang."
Pembuktian adalah hal yang utama dan terutama dari seorang pemimpin. Kendati pemimpin mengklaim, dicitrakan, dan dipuja-puji sebagai orang besar dan punya kapasitas luar biasa, tetapi jika ia tak mampu membuktikan dengan perbuatan-2 yang kongkrit, tentu semuanya hanya tinggal klaim dan pencitraan belaka.
4 Maret 2015
Sahabat,filsuf India, Swami Vivekananda (1863-1902), mengatakan: “Selama masih ada jutaan rakyat yang berada dalam kondisi kelaparan dan kebodohan, maka siapapun yang telah mendapat pendidikan dengan uang rakyat tetapi tidak peduli kepada mereka, saya anggap termasuk penghianat."
Mereka yang berpendidikan hendaklah mengembalikan sumbangsih rakyatnya kepada yang masih berada dalam kondisi terkebelakang. Bukan malah menggunakan kepandaiannya untuk mencuri dan menindas dengan sewenang-wenang kaum lemah dan terpinggirkan. Tanggungjawab sosial kaum berpendidikan sangat berat karena mereka bertanggungjawab, langsung maupun tidak, terhadap kemajuan dan kemunduran rakyat di sebuah negara.
3 Maret 2015
 Sahabat, Presiden Amerika ke 32, Franklin Delano Roosevelt (FDR, 1882-1945), mengatakan: "Dalam politik, tak pernah ada suatu peristiwa yang terjadi hanya karena kebetulan. Seandainya hal seperti itu terjadi, anda bisa bertaruh bahwa ia memang dirancang supaya kelihatan seperti itu."
Peristiwa-2 politik seringkali mengagetkan dan penuh dengan 'surprise' dan kejutan. Karena itu lantas diberi 'cap' sebagai seni dari segala kemungkinan (dan ketidak-mungkinan). Politik adalah kreasi dan rekayasa (engineering) yg penuh dengan segala trick dan kamuflase. Namun pada dasarnya, secara etika, politik adalah usaha manusia utk mengelola sumberdaya kekuasaan utk kepentingan bersama.
2 Maret 2015
 Sahabat, filsuf Inggris, Bertrand Russell (1872-1970), mengatakan: "Sistem-sistem demokrasi masih cenderung berprasangka bhw orang yang dungu mungkin lebih jujur ketimbang yang pintar. Karena itu para politisi lantas mengambil manfaat dengan berpura-2 lebih dungu lagi ketimbang yang diberikan oleh alam kpd mereka."
Dalam praktik demokrasi, sangat riskan jika terlalu mengidolakan kekuatan massa rakyat di atas kekuatan pemikiran dan pencerahan. Karena massa adalah rakyat yg 'lugu', maka dianggap juga sebagai rakyat yang lebih 'jujur' dan 'tulus.' Akibatnya, para politisi pun menggunakan cara-2 manipulatif utk memobilisasi massa demi kepentingan mereka, dan mengabaikan penalaran dan kecerdasan. Praktik demokrasi kemudian berubah menjadi upaya menang-menangan dg mengandalkan keroyokan massa. yg ditopang oleh kekerasan para elit.
1 Maret 2015
 Sahabat, Kaisar Romawi Kuno, Marcus Aurelius (180-128 SM), mengatakan: "Jadilah seperti batu karang yang selalu diterpa ombak. Tetapi ia tetap berdiri kokoh dan mampu melenturkan gempuran air di sekitarnya."
Pemimpin yg berkarakter kuat, bukan hanya tegar dan tegas dalam menghadapi tantangan tetapi juga mampu memberikan solusi yang mencairkan ketegangan dan memperlunak permasalahan yang dihadapi.

APRIL
3 April 2015 ·
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Karramallahu Wajhah), mengatakan: "Jangan biarkan kesulitanmu menciptakan kecemasan yang berlebihan. Sebab, hanya di kala malam yang gelap gulita cahaya bintang akan tampak cemerlangnya." Sudah menjadi naluri manusia untuk merasa cemas ketika menghadapi kesulitan. Namun akan lebih baik jika kecemasan tersebut tidak berlebihan sehingga membuat bertambahnya kesulitan yg dirasakan. Justru dalam kesulitan dan kecemasan itu kita perlu melakukan koreksi dan refleksi. Bisa jadi selain menghasilkan pemecahan juga memberikan kita hikmah dari kesulitan yang kita hadapi.
1 April 2015 ·
Sahabat, filsuf dan sufi agung asal Persia, Imam Al Ghazali (1058-1111), mengatakan: "Berjihadlah melawan 12 musuh yang tak tampak: egoisme, sombong, khianat, mementingkan diri, serakah, nafsu seksual, intoleransi, kemarahan, kebohongan, menipu, gosip, dan fitnah. Jika kamu berhasil mengontrol dan mengalahkan mereka, maka kamu akan siap berjihad melawan musuh-2 yang tampak." Berjuang melawan musuh yg ada dalam diri setiap pribadi, kendatipun tak tampak, bukan berarti lebih ringan ketimbang musuh-2 yang kelihatan dan besar serta menakutkan. Bahkan mungkin saja perjuangan tersebut tidak kunjung paripurna selama hayat dikandung badan.
2 April 2015 ·
Sahabat, filsuf dan penulis Inggris masa Pencerahan, Thomas Paine (1737-1809), mengatakan: "Barangsiapa berharap untuk bisa memperoleh manfaat dari kemerdekaan, ia harus juga bersiap-siap bercapai-lelah untuk terus mempertahankannya." Kemerdekaan dan kebebasan yang menjadi dasar bagi kemajuan dan kebesaran seseorang atau sekelompok orang termasuk bangsa, bukanlah suatu hal yang jatuh dari langit. Ia harus diperjuangkan, direbut, dan terus menerus dipertahankan melalui upaya yang tak ada hentinya. Sayangnya, jarang sekali orang merasakan penting perjuangan tersebut sampai ketika kemerdekaan dan/atau kebebasan mereka terancam dan bahkan terenggut darinya.
 3 April 2015 ·
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Karramallahu Wajhah), mengatakan: "Jangan biarkan kesulitanmu menciptakan kecemasan yang berlebihan. Sebab, hanya di kala malam yang gelap gulita cahaya bintang akan tampak cemerlangnya." Sudah menjadi naluri manusia untuk merasa cemas ketika menghadapi kesulitan. Namun akan lebih baik jika kecemasan tersebut tidak berlebihan sehingga membuat bertambahnya kesulitan yg dirasakan. Justru dalam kesulitan dan kecemasan itu kita perlu melakukan koreksi dan refleksi. Bisa jadi selain menghasilkan pemecahan juga memberikan kita hikmah dari kesulitan yang kita hadapi.
4 April 2015 ·
Sahabat, pejuang anti-kekerasan India, Mahatma Gandhi (1869-1948), mengatakan: "(Yesus) adalah orang yang sama sekali tak bersalah, (tetapi beliau) menawarkan dirinya utk dikorbankan demi kebaikan orang-2 lain termasuk musuh-2nya, dan menjadi tebusan bagi dunia. Itulah sebuah tindakan yang paling sempurna." Sebuah refleksi yang sangat bermakna bagi semua orang yang mendambakan kedamaian di dlm kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yg saat ini sedang menyaksikan maraknya kekerasan dan ketifakadilan. Selamat memperingati Paskah bagi para sahabat kristiani.
5 April 2015 ·
Sahabat, novelis peraih Nobel kesusasteraan asal Lithuania, Czeslaw Milosz (1911-2004), mengatakan: “Dalam sebuah ruangan di mana semua orang bersekongkol untuk tutup mulut, maka satu kata kebenaran akan terdengar seperti letusan tembakan pistol." Menyatakan suatu kebenaran yang sederhana, bisa beresiko sangat serius dalam suatu masyarakat yang telah terbiasa dan dibiasakan utk hidup dalam kebohongan. Sebab kebohongan tsb bisa muncul sebagai kenyataan, kenormalan, dan bahkan 'kebenaran'. Para Rasul, Nabi, cendekiawan, budayawan, pejuang, dan mereka yang menyampaikan kebenaran pasti menghadapi tantangan dan mengambil resiko-resiko besar di tengah-tengah masyarakat yang menganggap kebohongan sebagai hal yang normal.
 6 April 2015 ·
Sahabat, dalam Serat Nitiprana, ciptaan Pujangga Jawa, R. Ng. Yasadipura (1729-1803), dikatakan : "Mancur ing tyas iku anyumuki/ marang badan awakira dhawak/ sumrambah kabecikane/ nyupet cilakanipun/ suka sukur ingkang pinanggih/ uga manggih kagungan/ sinebut wong agung/ anggenggeng santosanira/ rinasan wong iku ambek basuki/ ngusweng tyas karaharjan." (Pancaran hati mempengaruhi pribadi dan kebaikannya menghilangkan malapetaka. Sikap bersyukur merupakan keagungan, kemuliaan, dan sentosa. Ia disebut orang baik karena budinya dan telah meraih kebahagiaan dalam hati). Suasana batin seseorangakan memancarkan efeknya pada kondisi fisik seseorang. Jika batin penuh dengan rasa syukur, maka akan terfleksikan juga pada perilakunya. Ada rasa bahagia yang bisa menular kepada kehidupan sekitarnya. Bersyukur, bukan hanya utk diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan anda.
7 April 2015 ·
Sahabat, teolog asal Swiss, Hans Kung, mengatakan: "Berulang kali kita menyaksikan bagaimana para agamawan dan pengikut-2 mereka menyulut agresi, fanatisme, kebencian, dan xenofobia. Mereka bahkan menyulut dan mengabsahkan penggunaan kekerasan dan konflik-2 berdarah." Sejarah menyaksikan dan mencatat berbagai kejahatan atas kemanusiaan yang bersumber dari perilaku para agamawan dan pengikutnya. Mereka memanipulasi ajaran-ajaran agama dan keyakinan mereka utk mengabsahkan konflik dan kekerasan terhadap sesama manusia. Ajaran agama-2 yang secara azali merupakan sebuah respon yg memberikan jalan penyelamatan dan kebahagiaan manusia diubah dan direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi kontradiktif pada tataran pelaksanaannya. Ajaran-2 tsb diubah fungsinya, dari yg semula adalah petunjuk utk kebahagiaan menjadi sumber petaka bagi kemanusiaan.
8 April 2015 ·
Sahabat, pengarang terkemuka dari Perancis, Marcel Proust (1871-1922), mengatakan: "Seyogyanya kita perlu berterimakasih kepada orang-2 yang telah membuat kita bahagia. Mereka itu ibarat para pekebun bunga yang membuat jiwa kita bermekaran." Kebahagiaan adalah hasil dari sebuah keterlibatan (engagement) antara seseorang dengan pihak lain. Tak ada salahnya jika kita berbagi dan berterimakasih kepada orang-2 sekitar kita yang, sadar atau tidak, sejatinya telah ikut bersaham dalam kebahagiaan kita. Sharing kebahagiaan kita dengan yang lain akan semakin memberikan makna dalam kehidupan.
9 April 2015 ·
Sahabat, filsuf eksistensialis asal Rusia, Nikolai Berdyaev (1874-1948), mengatakan: "Persoalan tentang ketersediaan roti utk (makanan) saya adalah persoalan material. Tetapi persoalan tentang ketersediaan roti utk (makanan) para tetangga saya, adalah perosalan spiritual." Keberadaan kita sebagai manusia, baik pribadi maupun kelompok, tak terpisahkan dari liyan dan kepentingan mereka. Bahkan dalam konteks tertentu diperlukan sikap dan etika tanggungjawab utk leih mengedepankan kepentingan-2 liyan tersebut apabila mengalami persoalan eksistensial, seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
10 April 2015 ·
Sahabat, Sufi Agung dari Persia, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Engkau bukanlah setetes air dalam samudera, tetapi engkau (sejatinya) adalah samudera itu sendiri yang menjadi setetes air." Manusia ciptaan Tuhan memiliki potensi yang luar biasa; tergantung dirinya sendiri apakah potensi itu hanya akan berhenti sebagai potensi atau bahkan tdk disadari dimilikinya. Ataukah potensi itu akan dikembangkan sejauh mungkin bagi kebaikannya serta kebaikan masyarakat serta lingkungannya. Keberadaan manusia ikut ditentukan oleh bagaimana ia melakukan pengembangan potensi diri tersebut.
11 April 2015 ·
Sahabat, Filsuf, Sufi, matematikawan, dan penyair termasyhur dari Iran, Omar Khayyam (1048-1131), mengatakan: "Di balik langit dan bumi/ Aku bersusah payah jelajahi/ Surga dan Neraka yang kucari/ Lalu kudengar suara ini/ 'Surga dan Neraka ada dalam diri'." Keber-agamaan yang formalistik tidak mampu menjawab tantangan kemanusiaan, karena ia hanya terpaku pada satu dimensi yakni tampilan luar. Keber-agamaan melibatkan berbagai dimensi, termasuk tanggungjawab sosial dan juga kebersihan nurani sebagai manusia. Tanpa kesadaran ruhaniah dan sosial, maka keber-agamaan menjadi kering dan bahkan egoistik.
12 April 2015 ·
Sahabat, pemimpin Bhudist dari Tibet, Dalai Lama ke XIV (lahir 1935), mengatakan: "Manusia menempuh jalan yang berbeda-beda dalam rangka mencari pemenuhan diri dan kebahagiaan mereka. Kalau pun diantara mereka tidak menempuh jalan yang anda gunakan, tidak berarti mereka itu pasti telah tersesat." Mengetahui, memahami, dan mengapresiasi keberbagaian dan kemajemukan, termasuk dalam hal budaya, orientasi nilai-nilai, dan keyakinan, akan meningkatkan kualitas dan kemampuan kita sebagai pribadi dan anggota masyarakat. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia kemampuan ini akan berkontribusi besar dalam membangun dan mencapai kemajuan.
13 April 2015 ·
Sahabat, penulis terkemuka dan aktivis gerakan Solidaritas, Polandia, Adam Michnik (lahir 1946), mengatakan: "Ketika anda sedang berkuasa, sangat mungkin bila anda buta dan tuli terhadap sinyal-sinyal (peringatan dan kritik) yang ada di luar anda." Para penguasa baik dalam sistem totaliter dan otoriter memiliki karakter yang mirip, yaitu tidak mau melihat dan mendengar kritik dan peringatan publik ketika mereka melakukan kesalahan dan penindasan.Dalam sistem demokrasi, kritik dan peringatan publik adalah suatu keniscayaan karena pada hakekatnya kekuasaan adalah amanah publik. Namun bukan tidak mungkin para penguasa dlm sistem demokrasi juga mencoba meniru penguasa totaliter dan otoriter dg mengabaikan kritik dan peringatan publik tsb.
14 April 2015 ·
Sahabat, novelis Perancis, Albert Camus (1913-1960) mengatakan: "Berbagai kejahatan yang terjadi di dunia nyaris selalu bersumber dari ketidakpahaman. Bahkan, niatan-2 yang baik pun bisa berakibat yang sama dengan kejahatan jika tidak didukung oleh saling memahami." Sikap saling memahami perbedaan dalam sebuah masyarakat yang kompleks dan majemuk adalah syarat utama bagi sebuah kehidupan yang produktif, damai, dan sejahtera. Memahami tdk berarti setuju total, tetapi bisa saling memberikan peringatan, krtitik, dan masukan karena mereka share nasib yang sama sebagai manusia yg memiliki keterbatasan.
15 April 2015 ·
Sahabat, penyair Inggris di era victorian, Lord Byron (1788-1824), mengatakan: "Rasa cinta diri adalah ibarat seekor ular berbisa yg selalu merayap dan menyemburkan bisanya pada apa saja yg menghalangi dirinya." Manusia harus selalu berhati2 dan berusaha mengelola rasa cinta dan kebanggaan thd diri sendiri agar tidak berlebihan dan membahayan dirinya serta orang2 sekitarnya. Cinta diri yg berlebihan akan meracuni jiwa dan membuat keseimbangan dlm kehidupan terganggu dan bahkan rusak.

16 April 2015 ·
Sahabat, spiritualis Budhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Kita bukanlah semacam barang gadaian yg pasif dari kekuatan-kekuatan sejarah. Kita juga bukan hanya korban-korban dari masa lalu. Kita adalah manusia yang mampu membentuk dan mengarahkan perjalanan sejarah." Memahami sejarah dan belajar darinya adalah sebuah keniscayaan jika kita ingin melakukan perubahan dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. Manusia memiliki kemampuan utk memengaruhi gerak perubahan, sehingga ia tidak melestarikan ketertindasan dan keterbelakangan. Manusia adalah satu-2nya mahluk yang menyadari kesejarahannya dan menggunakannya utk melakukan perbaikan kondisinya di masa depan.
17 April 2015 ·
Sahabat, Sufi dan Filsuf agung Imam Al-Ghazaly RA (1057-1111), mengatakan: "Setiap tarikan nafasmu adalah ibarat permata yang tak ternilai harganya karena ia tak akan tergantikan. Sekali ia hilang, ia tidak akan kembali lagi." Jalanilah kehidupan yang diberikan oleh sang Maha Pencipta dengan memanfaatkannya bagi diri dan lingkungan anda. Setiap saat kita harus selalu menyadari bahwa kehidupan adalah sesuatu yang paling berharga, dan tidak ada lagi yang melebihinya. Hidup mesti produktif, baik secara jasmaniah maupun rokhaniah. Jika kita menyia-nyiakannya, maka hal itu berarti pula menyia-nyiakan pemberianNya.
18 April 2015 ·
Sahabat, filsuf eksistensialis dari Denmark, Soren Kierkegaard (1813-1855), mengatakan: "Jika seseorang sedang berada dalam suatu keputusan utk bertindak, lalu ia menilai tindakannya hanya dari sisi hasil yg akan didapatnya, maka ia tak akan pernah mulai." Dalam melakukan tindakan penting, termasuk di dalamnya pengambilan keputusan, tentu diperlukan berbagai pertimbangan termasuk hasil yang akan dicapai. Kendati demikian, masalah hasil yang akan dicapai tsb tidak boleh menjadi satu-2nya bahan pertimbangan dalam tindakan. Sebab keraguan akan hasil bisa menghentikan dan memberantakkan keputusan utk bertindak itu sendiri.
19 April 2015 ·
Sahabat, tokoh Teologi Pembebasan (Liberation Theology) asal Spanyol, Jon Sobrino, SJ (lahir 1938), mengatakan: “Beriman kepada Tuhan bukanlah hanya sekadar mencintai kehidupan saja, tetapi juga bekerja keras sehingga kehidupan itu terwujud." Salah satu manifestasi keber-agamaan (religiositas) adalah dalam menyikapi kehidupan. Salah satunya adalah sikap yang aktif utk mengupayakan kehidupan yang bermanfaat bukan saja bagi diri sendiri, tetapo juga bagi sekitarnya. Sikap yang aktif juga berarti iku dalam upaya membebaskan manusia dari ketertindasan dan ketidakadilan, dengan segala kemampuan yang dimiliki. Dengan elan seperti itu, mencintai kehidupan bisa mewujud menjadi suatu ekspressi keimanan
20 April 2015 ·
Sahabat, Presiden RI ke I, Bung Karno, Putra Sang Fajar (1901-1970), mengatakan: "Jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai “imagination!.." Pemimpin yang memiliki kemampuan melakukan perubahan-2 besar, dan memiliki daya tarik yang besar memiliki kekuatan imajinasi yang juga besar. Sedemikian besar imajinasi tersebut sehingga bagi orang-orang awam akan dianggap sebagai utopia. Dan oleh lawan-lawannya akan dijonru dan dilecehkan. Tetapi karena imajinasi itu dapat diwujudkan dalam proses sejarah, maka sang pemimpin pun akan menjadi kenangan dan teladan serta rujukan selama-lamanya. Seperti BK.
21 April 2015 ·
Sahabat, pejuang anti-kolonialisme, filsuf, dan spiritualis India, Sri Aurobindo Ghose (1872-1950), mengatakan: "Keberadaan kemiskinan adalah bukti paling nyata keberadaan sebuah mayarakat yang tidak adil dan lemah pengorganisasiannya. Kedermawanan-2 publik hanya ibarat kesadaran seorang perampok yang sudah telat." Pemberantasan kemiskinan tidak hanya dilakukan dengan membentuk dan mengembangkan kesalehan-2 pribadi, seperti usaha-2 karitatif. Tetapi ia harus pula didukung dengan upaya perbaikan/perubahan struktural yang menjadi penyebab proses kemiskinan dan pengokohannya. Kerja-2 karitatif tanpa perubahan struktural akan muspro dan bahkan bisa melestarikan kemiskinan.
22 April 2015 ·
Sahabat, peraih Nobel dalam fisika, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Kebijaksanaan bukanlah sebuah produk dari bersekolah, tetapi dari usaha keras seumur hidup untuk mendapatkannya." Pendidikan formal adalah salah satu saja dari upaya memberikan bekal kepada generasi muda agar lebih siap dalam menghadapi tantangan kehidupan. Pada akhirnya, pengalaman dalam hidup itulah yang akan menempa dan membentuk kepribadiannya. Sistem pendidikan formal yg menghalangi terbentuknya sikap dan perilaku yg berani menghadapi tantangan kehidupan, akan menghancurkan generasi muda itu.
23 April 2015 ·
Sahabat, pelukis masyhur dari Spanyol, Salvador Dali (1904-1989), mengatakan: "Perbedaan antara memori-2 sejarah yang asli dan palsu, tak jauh beda dengan perbedaan permata. Penampakan permata-2 yang palsu seringkali lebih kinclong dan asli." Apa yang tampaknya normal, beres, dan bahkan indah secara kasatmata belum tentu bisa dipercaya begitu saja. Diperlukan pembuktian akan kebenaran dan keaslian tampilan-2 tersebut. Hal ini termasuk narasi sejarah yang digunakan sebagai referensi utk memahami masa lalu dan memperbaiki masa kini dan masa depan.
24 April 2015 ·
Sahabat, tokoh Muslim Amerika, Malcolm X atau Malik El-Shabazz (1925-1965), mengatakan: "Media adalah entitas paling berkuasa di planet bumi ini. Mereka mampu membuat pihak yang tak bersalah menjadi salah, dan pihak yang salah menjadi tak bersalah. Itulah kekuasaan. Media mampu mengontrol pikiran massa rakyat." Kekuasaan yang dimilik oleh media harus mendapat pengawalan dan pengawasan dari publik yang menjadi pihak pemangku kepentingan. Jika media sudah menjadi bagian dan/atau instrumen dari industri, bisnis, dan politik, maka demokrasi terancam kelestariannya. Masyarakat modern dan demokratis memerlukan kehadiran media yang mampu memberikan informasi akurat dan opini yang mencerahkan.
25 April 2015 ·
Sahabat, sejarawan dan filsuf Islam, Ibn Khaldun (1332-1406), mengatakan: "Propaganda keagamaan memberikan tambahan kekuatan kepada suatu penguasa selain sentimen kelompok yang mereka miliki berasal dari para pendukungnya." Ideologi, termasuk yang dikembangkan dari sentimen keagamaan, adalah komponen utama semua sistem politik dan kekuasan. Ajaran agama yang menjadi sumber bisa jadi dikalahkan oleh ideologi yang sejatinya hanya merupakan gagasan manusia yg sarat dg kepentingan pribadi dan kelompok. Ajaran agama malah kemudian menjadi musuh dari ideologi dan para pendukungnya.
26 April 2015 ·
Sahabat, novelis dan jurnalis Inggris, Daniel Defoe (1661-1731), mengatakan: "Dimana Tuhan membangun rumah-2 peribadatan, di situ Setan selalu akan membangun kapel-kapel. Dan jika diselidiki dengan seksama, yang disebut terakhir itu ternyata lebih banyak pengikutnya." Kebajikan, kesalehan, dan keutamaan akan selalu mendapat saingan, tantangan, dan tandingan dari lawan-2nya. Bahkan lawan-2 tersebut bisa tampil dalam bentuk yang sama, sehingga susah utk dibedakan. Kekerasan dan kekejaman dengan sangat mudah dilakukan atas nama kebajikan, kesalehan, dan keutamaan.
27 April 2015 ·
Sahabat, penyair dan dramawan Inggris, Oscar Wilde (1854-1900), mengatakan: "Pendidikan jelas merupakan perkara yg sangat penting. Namun ada kalanya perkara2 yg sejatinya amat berharga utk diketahui ternyata tidak bisa hanya (diperoleh) melalui pendidikan semata." Manusia tumbuh dan berkembang melalui proses, termasuk pendidikan. Pendidikan yg baik akan menuntun ke arah kemajuan dan keadaban. Namun demikian, ia perlu dilengkapi dg pengalaman dalam kancah perjuangan. Pengalaman selain merupakan guru yg baik juga merupakan penguji yang obyektif dan tanpa kompromi.
28 April 2015 ·
Sahabat, filsuf asal Skotlandia, Thomas Carlyle (1795-1881), mengatakan: "Sebongkah batu granit akan dipandang sebagai penghalang jalan oleh orang yang lemah, tetapi bagi orang yang kuat justru dianggap sebagai batu loncatan." Kapasitas mental yang dimiliki pribadi orang-per-orang, kelompok, masyarakat, dan bangsa ikut menentukan bagaimana memandang persoalan, rintangan, halangan, dan hambatan yg dihadapinya. Mental yg lemah akan menganggap semua hal menjadi alasan utk mundur dan kalah, bahkan menyalahkan pihak lain. Mental yang kuat akan mempersepsikan semua masalah tsb menjadi bagian dari proses yang mesti dilewati, dikelola, dan dicari segi positifnya.
29 April 2015
Sahabat, penulis asal Cekoslowakia, Milan Kundera (lahir 1929), mengatakan: "Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa." Dalam perjalanan sejarah, penguasa melakukan penindasan bukan hanya secara fisik, mulai dari penjara sampai pada genosida. Tetapi mereka juga melakukan penindasan terhadap ingatan para korbannya. Melalui represi terhadap ingatan tersebut, maka kekejaman yang luar biasa pun menjadi terlupakan dan seolah-olah normal. Karena itu perjuangan melalui ingatan tidak kalah pentingnya dibanding perjuangan fisik, karena dengan ingatan tersebut semangat perjuangan akan terus tertanam..
30 April 2015 ·
Sahabat, filsuf asal Jerman, Arthur Schopenhauer (1788-1860), mengatakan: "Jika orang-2 yg berkemampuan terbatas bersikap biasa, itu adalah suatu kejujuran. Tetapi jika orang-orang yang punya kemampuan besar lalu bersikap biasa, maka hal itu adalah semacam kemunafikan." Kemampuan, bakat, dan kesempatan yang dimiliki oleh seseorang hendaknya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Mulai dari memberikan pendidikan yang baik sampai dengan membuka kesempatan agar mengembangkan pengalaman dalam kehidupan serta perjuangan. Menyia-nyiakan potensi manusia adalah salah satu bentuk hipokrisi yg akan menjadikan kemunduran bagi diri sendiri dan lingkungannya.



MEI
1 Mei 2015
 Sahabat, novelis asal Rusia dan peraih Nobel kesusateraan, Boris Pasternak (1890-1960), mengatakan: "Mereka yang sedang berkuasa punya hasrat utk menciptakan mitos bhw mereka tidak bisa salah, dan mereka akan melakukan apa saja demi mengabaikan kebenaran." Pengawasan dan kontrol terhadap kelompok yang berkuasa sejatinya bernilai positif bagi mereka, karena mengurangi kemungkinan mereka terjebak dalam ambisi yg mencelakakan. Sebab kekuasaan bisa membuat para pemegangnya merasa tidak pernah keliru sehingga jika tak terkontrol akan mencelakakan diri dan para pemangku kepentingan lain.
3 Mei 2015
Sahabat, salah seorang pendiri bangsa dan negara serta pahlawan nasional Indonesia, Sutan Sjahrir (1906-1966), mengatakan: "Perjuangan kita sekarang ini tak lain dari perjuangan untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita. Kedewasaan bangsa kita adalah jalan untuk mencapai kedudukan sebagai manusia dewasa bagi diri kita." Kebebasan jiwa dan kedewasaan sebagai bangsa adalah dua prasyarat bagi tercapainya kemajuan NKRI. Jika para bangsa Indonesia tak mampu membebaskan jiwanya dari perangkap ketergantungan dan sistem politik dan budaya feodal-otoritarianisme, maka mustahil akan menjadi bangsa yg dewasa. Ia akan tetap seperti katak dalam tempurung, kendati jumlah manusianya sangat besar dan memiliki potensi kekayaan luar biasa. Sebab kebebasan dan kedewasaanlah yg akan membuat manusia bisa mandiri, kreatif, dan bertangungjawab.
5 Mei 2015
Sahabat, Khonghucu (551-479 SM), mengatakan: "Memperhatikan dan mendengarkan orang-orang yang jahat adalah langkah pertama menuju kejahatan itu sendiri." Manusia memiliki tanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya. Jika ia tahu sesuatu yang tidak bermanfaat atau bahkan membahayakan thd diri dan lingkungannya, tetapi ia tetap mendekati dan bahkan mengikutinya, maka ia juga harus bertangungjawab atas akibatnya. Menghindarkan diri dari sesuatu yang merugikan dan membahayakan merupakan langkah strategis yang harus diupayakan, baik sendiri maupun bersama-sama.

6 Mei 2015
Sahabat, fisikawan peraih Nobel, Niels Bohr (1885-1962), mengatakan: "Fakta bahwa sejak dahulu kala agama-2 menggunakan imaji, hikayat, dan paradoks-2 dalam wacananya, menunjukkan bahwa tidak ada cara yg lebih pas utk menangkap realitas-2 yang mereka gambarkan. Dan itu tak berarti bhw realitas-2 tersebut bukan asli (genuine). Membagi realitas-2 hanya dari sisi obyektif dan subyektif tidak akan membawa kita berkembang." Kompleksitas realitas dalam kehidupan dan lingkungan manusia tdk bisa direduksi dg cara pandang yang dikotomistik, apalagi dengan memaksakan cara pandang tsb sebagai yg paling sah. Memaksakan tafsir, baik ttg ajaran agama maupun lainnya, tidak akan produktif dan mampu menciptakan kesejahteraan lahir dan batin bagi kehidupan manusia.
8 Mei 2015
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah, mengatakan: "Kedengkian adalah penyebab Qabil menjadi pembunuh pertama di dunia, dg membunuh saudaranya sendiri, Habil. Dengki bagi manusia adalah ibarat karat bagi besi." Kedengkian dan iri hati menjadi salah satu penyebab dari kebencian yang merusak jiwa dan jasmani manusia. Kedengkian dan kebencian bisa saja dibalut dan dibungkus dengan berbagai retorika dan alasan yang tampak menarik dan "nalar'. Ia bahkan bisa muncul dalam aksi-aksi karitatif dan program-2 humanitarian. Kehati-2an dan kewaspadaan dalam mencermati bahaya kedengkian akan menentukan jalannya kehidupan baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat yg lebih luas.
9 Mei 2015
Sahabat, novelis legendaris Jepang, Eiji Yoshikawa (1892-1962), mengatakan: "Puncak gunung acapkali disebut sebagai tujuan pendakian. Padahal, sejatinya yang membuat pendakian menggembirakan bukanlah puncak gunung itu sendiri, tetapi kemampuan mengatasi rintangan dalam perjalanan menuju ke atas ..." Proses "menjadi" adalah lebih penting ketimbang capaian, karena dalam proses itu kita akan merasakan bagaimana menghadapi segala macam rintangan dan halangan dan berjuang mengatasinya. Dalam proses itulah kita harus mengabil keputusan: apakah kita akan terus atau menyerah. Ketika tujuan telah tercapai dan kita merefleksikannya, akan kita sadari dan dapati bahwa perjuangan adalah suatu capaian yg lebih besar.


12 Mei 2015
Sahabat, mahaguru sastra, penulis terkemuka, dan aktivis pembebasan Palestina, Edward Said (1935-2003), mengatakan: "Sejarah diciptakan oleh manusia, baik pria maupun wanita. Oleh sebab itu sejarah juga bisa tidak diciptakan atau ditulis ulang oleh mereka. Sejarah selalu ditulis dengan variasi-2 kesenyapan dan penghapusan. Ia selalu mucul dengan berbagai jenis pemaksaan dan pemotongan-2 yg ditolerir." Sejarah sebagai salah satu hasil kreasi manusia selalu mengandung tafsir dan karenanya rentan terhadap berbagai manipulasi, distorsi, dan bahkan kepalsuan. Kekuasaan senantiasa mengikuti setiap upaya menuliskan dan menafsirkan sejarah. Karena itu sejarah tentang apapun tak akan dan tak mungkin tunggal. Sejarah ttg sesuatu adalah selalu 'sejarah-sejarah' ttg sesuatu tsb.
13 Mei 2015
Sahabat, filsuf eksistensialis asal Denmark, Søren Kierkegaard (1813-1855), mengatakan: "Orang-orang menuntut untuk mendapatkan kebebasan berbicara sebagai kompensasi kebebasan untuk berfikir yang jarang mereka gunakan." Hak mengemukakan pendapat dan berbicara (freedom of speech) seharusnya juga disertai dan diimbangi dengan hak untuk berfikir (freedom of thought). Kedua hal itu mirip tetapi tidak sepenuhnya sama. Berbicara dan mengemukakan pendapat, belum tentu juga diiringi dengan berfikir dengan nalar. Jika tidak konggruen antara keduanya, maka hasilnya paling-2 hanya asal njeplak belaka.
14 Mei 2015
Sahabat, artis dan penyair perempuan Amerika, Maya Angelou (1928-2014): “Kebanyakan orang-orang tidak pernah tumbuh dewasa, tetapi hanya menua saja. Orang-2 hanya mencari tempat parkir, menggesek kartu kredit, menikah, punya anak, dst, lalu mereka menganggap sebagai kematangan dan kedewasaan. Padahal itu hanya berarti mereka menjadi lebih tua saja." Kedewasaan dan kematangan seseorang tidak selalu mengikuti pertambahan usia. Bahkan tak jarang orang-2 yang bertambah tua usianya malah mengalami kemunduran dalam kematangan dan kedewasaan.



16 Mei 2015
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Plato (428-348 SM), mengatakan: "Harga yg mesti dibayar oleh para warganegara yg baik namun cuek terhadap masalah-2 publik adalah mereka akan diperintah oleh para penguasa yang dzalim." Kepedulian terhadap masalah-2 publik merupakan salah satu cara utk menghindarkan tumbuh dan bercokolnya penguasa-2 yg sewenang-2. Sebab, dengan kepedulian terhadap persoalan publik, warganegara ikut melakukan pengawasan dan kontrol secara aktif thd kekuasaan dan penguasa. Kekuasaan dan para penguasa tanpa pengawasan dan kontrol dari pihak yg dikuasai, pelan tapi pasti, akan menjadi kesewenang-2an.
18 Mei 2015
Sahabat, biarawati dan peraih Nobel asal Albania, Bunda Teresa (1910-1997), mengatakan: "Kemiskinan yang paling menyiksa adalah rasa kesepian dan rasa tidak mendapat kasih sayang." Kemiskinan bisa berupa kemiskinan berbentuk material dan fisik, tetapi juga non-material dan ada dalam jiwa. Termasuk didalam kategori yg disebut terakhir itu adalah rasa sepi karena kasih sayang yg tak pernah dirasa. Hidup dan kehidupan menjadi tidak bermakna dan pada gilirannya gairah utk hiduppun sirna. Orang boleh menjadi super kaya dan super kuasa, tetapi jika kemiskinan ini mendera, maka hidup pun terasa hampa dan merana.
19 Mei 2015
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Plato (428-348 SM), mengatakan: "Janganlah anda melatih seorang anak dengan paksa dan tekanan; tetapi arahkan agar ia menemukan apa yang paling menarik dan mempesona pikirannya. Dengan cara itu anda akan bisa menemukan keunikan jenius yang ia punyai." Sistem pendidikan yg baik akan bisa menemukan berbagai potensi unik yang dimiliki para anak didik, bukan membuat mereka menjadi sebuah produk yang seragam. Jika hasil pendidikan adalah manusia-2 yang seragam, niscaya tidak akan muncul kreatifitas, inovasi, dan kemajuan bangsa, tetapi robot-robot bernyawa. Dan belum ada peradaban yg diciptakan para robot, sepintar apapun mereka.
20 Mei 2015
Sahabat, Presiden RI ke 1, Bung Karno (1901-1970), mengatakan: "Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan." Semangat kebangsaan Indonesia telah bangkit dan berkembang dinamis lebih dari seabad. Dalam perjalanannya, bangsa (nation) Indonesia tentu telah, sedang, dan akan menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah ketimpangan pembangunan (uneven development) sebagai salah satu dampak negatif dari kapitalisme global. Pertanyaan BK akan tetap relevan utk selalu diingat dan dijawab oleh para penyelenggara negara dan juga warganegara.
21 Mei 2015
Sahabat, novelis Inggris, EM. Forster (1879-1970), mengatakan: "Yang terasa menyakitkan bukanlah perbuatan (buruk) yang dilakukan orang terhadap anda, tetapi apa yang menjadi maksud perbuatan itu." Acapkali hal-hal yang tidak mengenakkan yg dilakukan orang kepada kita, sejatinya dimaksudkan utk kebaikan kita. Demikian pula sebaliknya, perlakuan yg tampak baik tetapi ternyata maksudnya jelek dan merugikan kita. Untuk itu perlu mawas diri dalam menyikapi perbuatan baik dan buruk pihak lain kepada kita, dengan berusaha memahami lebih jauh apa motif dan maksud di baliknya sebelum kita memberikan penilaian.
22 Mei 2015
Sahabat, peraih Nobel fisika, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Kita harus selalu menjaga agar tidak menganggap intelek sebagai tuhan. Tentu saja intelek memiliki kekuatan, tetapi intelek tidak memiliki kepribadian." Kecerdasan dan kepintaran intelektual harus selalu didampingi, diawasi dan dibimbing oleh nurani. Nurani bisa memberikan tilikan yg lebih mendalam untuk mengarahkan intelek sehingga tdk mudah dijadikan instrumen oleh kekuasaan dan nafsu angkara.
23 Mei 2015
Sahabat, spiritualis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Setiap agama bisa dibuat menjadi pendorong kekuatan untuk kebajikan atau kejahatan oleh para penganutnya." Kasih sayang, kedermawanan, kedamaian bisa dilahirkan dan ditumbuhkembangkan serta disebarluaskan oleh para penganut agama, mulai dari yang paling atas sampai yang paling bawah. Tetapi kebencian, kekerasan, kekejaman, bahkan genosida pun bisa dilakukan atas nama agama oleh para penganut agama-agama tersebut. Adalah manusia yang menggunakan agama, dan bukan agamanya itu sendiri yang menentukan apakah ajaran-ajarannya digunakan utk kebaikan atau dimanipulasi utk kejahatan.


24 Mei 2015
Sahabat, aktivis perdamaian asal AS, Greg Mortenson (lahir1957), mengatakan: "Di masa perang, anda kerap mendengar para pemimpin -Kristen, Muslim, Yahudi, dll- mengklaim 'Tuhan di pihak kami'. Itu tidak benar. Di masa perang, Tuhan memihak para pengungsi, janda-janda, dan para yatim piatu." Konflik, kekerasan, penindasan, dan peperangan seringkali mengatasnamakan Tuhan dan ajaran agama sebagai justifikasi. Dengan klaim seperti itu, para korbannya yang paling menderita, seperti para pengungsi, kaum perempuan, dan anak-anak (terutama yatim piatu) dapat dilupakan, diletakkan pada marjin, atau bahkan hanya dianggap resiko kolateral. Padahal mereka juga manusia yang memiliki hak-hak asasi, termasuk hak hidup dan mendapat perlindungan dari konflik yang dibuat oleh para pemimpin mereka.
25 Mei 2015
Sahabat, Sayyidina Abu Bakr As-Shiddiq RA (573-634), mengatakan: "Jangan sekali-2 anda merendahkan sesama ummat Islam. Sebab di hadapan Tuhan serendah-2nya orang yg beriman tetaplah sangat berharga." Para pemeluk agama saat ini seringkali mempertontonkan sikap arogan dan kebencian thd sesama pemeluk agama, termasuk agama yg sama, berdasarkan klaim kebenaran aliran, faham, sekte, dll yg dianutnya. Mereka menganggap penganut aliran dan faham yg berbeda sebagai lebih rendah dan bahkan sesat. Padahal belum tentu aliran yg diikutinya pasti akan diterima Tuhan di hari akhir. Aliran dan faham adalah pilihan2 yg dibuat oleh manusia dan tanggungjawabnya, bukan pilihan yg diperintahkan Tuhan. Di akhirat nanti Tuhan tidak mempertanyakan aliran, madzhab, dan sekte anda. Tetapi keimanan, ketaqwaan, dan amal shalih anda.
26 Mei 2015
Sahabat, Bapak psikoanalisa asal Austria, Sigmund Freud (1856-1939), mengatakan: "Sejatinya kebanyakan manusia tidak suka dengan kemerdekaan, karena kemerdekaan berarti melibatkan suatu tanggungjawab. Padahal, kebanyakan orang ketakutan utk memikul tanggungjawab." Kecenderungan orang yang menuntut kebebasan dan/ atau kemerdekaan adalah melupakan, mengabaikan, dan/atau pura-pura lupa terhadap sisi yang lain yaitu tanggungjawab. Menuntut terpenuhinya hak, sejatinya pada saat yang sama adalah juga memenuhi tanggungjawab terhadap hak yg sama dari pihak lain. Menuntut kebebasan dan/atau kemerdekaan berarti juga bertanggungjawab atas seluruh konsekuensi yang mengikutinya, termasuk dan terutama menjamin dan melindungi kebebasan dan/ atau kemerdekaan dari pihak lain.
27 Mei 2015
Sahabat, filsuf dan ahli strategi perang asal Tiongkok kuno, Sun Tzu (544-496), mengatakan: "Tidak ada satupun negara yang beruntung dengan terlibat dalam suatu peperangan yang tak berkeputusan (protracted war)." Kendati kata perang di sini mula-mula bermakna perang fisik/militer, namun bisa juga dimaknai dengan perang yang bentuknya bukan militer, misalnya perang melawan kemiskinan dan kebodohan serta keterbelakangan dalam masyarakat. Jika sebuah negara membiarkan kemsikinan, kebodohan, dan keterbelakanagan berkesinambungan, maka ia akan mengalami kehancuran dan bahkan hilang dari keberadaannya.
28 Mei 2015
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Aristoteles, mengatakan: "Dalam kondisi terbaiknya, manusia adlh mahluk paling mulia. Tetapi ketila dipisahkan dari hukum dan keadilan, manusia adalah mahluk yg paling buruk." Hukum dan keadilan merupakan faktor utama yg membedakan manusia dari mahluk citaan Tuhan yg lain dan membuatnya mulia serta beradab. Hukum yg tidak memberikan rasa keadilan menjadikan manusia jatuh dalam kondisi yg paling buruk dan tak beradab.
30 Mei 2015
Sahabat, Sufi Agung asal Iran, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Ada kekuatan kehidupan dalam jiwa/ Carilah ia/ Dalam badanmu ada mutiara/ Carilah ia/ Wahai para pengembara/ Jika engkau sedang mencari mereka/ Jangan hanya melihat di luarnya/ Telusuri engkau punya jiwa/ Dan temukanlah mereka." Kekuatan yang sejati ada di dalam diri manusia, bukan hanya yang tampak di luar. Kekuatan yg bersifat fisik atau wadag sepintas memang tampak luarbiasa dan bisa mengerikan akibatnya. Namun kekuatan yg ada di dalam mampu merubah yang mengerikan tsb menjadi produktif dan menyejahterakan. Kekuatan di dalam itulah yang menjadi sumber tumbuhnya kepribadian utama dan peradaban manusia.



JUNI
4 Juni 2015 ·
Sahabat, novelis Saul Bellow (1914-2005), mengatakan: "Ketika kita meminta nasihat, kadang-2 kita sebenarnya sedang mencari sekutu." Manusia memerlukan pandangan pihak lain, komentar, kritik, dan nasihat utk meningkatkan kualitas atau mengoreksi dari kekeliruan dan proses belajar. Mk itu sangat disayangkan jika nasihat hanya digunakan utk mencari pembenaran dr kekeliruan termasuk penyalahgunaan kekuasaan.
5 Juni 2015 ·
Sahabat, Presiden Amerika, John F. Kennedy (1917-1963), mengatakan : "Perjuangan dan keberanian tidak cukup tanpa ada tujuan dan arah yang jelas." Perjuangan selalu memerlukan keberanian menghadapi rintangan dan halangan. Tetapi keberanian saja tidak efektif apabila perjuangan tidak dilandasi visi dan tujuan yg jelas. Kerja keras dan keberanian menjadi sia2 dan malah kontraproduktif jika dilakukan tanpa arah.
7 Juni 2015 ·
Sahabat, aktivis dan pendidik dari Brazil, Paulo Freire (1921-1997), mengatakan: "Kepercayaan dari rakyat terhadap para pemimpinnya merefleksikan kepercayaan diri para pemimpin terhadap rakyatnya." Kepercayaan (trust) adalah suatu hal yang bersifat timbal balik, bukan hanya satu arah. Jika seorang pemimpin ingin dipercaya oleh rakyatnya, maka ia pun harus memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap rakyatnya. Pemimpin tidak bisa hanya menuntut agar rakyatnya percaya terhadap kebijakan yang dibuatnya dan mengatasnamakan kepentingan rakyat, jika ternyata hasilnya malah sebaliknya. Pembuktian bhw pemimpin mempercayai rakyat adalah ada dalam bukti kebijakan-2 yg dibuatnya. Bukan pada pidato dan retorikanya.
8 Juni 2015 ·
Sahabat, Ibnu Atho'illah As-Sakandary (1250-1309) mengatakan: "Pertanda ketertutupan kalbu seseorang adalah ketika ia sangat bersungguh-sungguh dalam memburu rizki yang sebenarnya telah disediakan oleh Allah untuk diperolehnya, sambil mengurangi kewajiban terhadap Allah yang seharusnya dilakukannya sebagai seorang hamba." Baik mencari rizki maupun menjalankan perintah dari sang Maha Pencipta adalah kewajiban bagi manusia. Sayangnya, kewajiban kedua acapkali diabaikan atau minimum dikurangi intensitas dan kualitasnya, karena ia dianggap tidak mendesak dan/ atau tidak relevan dengan kenyataan kehidupan yg dihadapi pada saat ini. Orang seringkali lupa atau pura-2 lupa bahwa yg namanya kewajiban menjalankan perintahNya itu termasuk di dalamnya adlh masalah moralitas dan etika yg menuntun kehidupan sehari-hari yg nyata itu. Akibatnya, manusia lantas hidup tanpa mau dibimbing oleh nurani dan moralitas sehingga membahayakan diri dan orang lain serta lingkungannya.
9 Juni 2015 ·
Sahabat, filsuf dan novelis Perancis, Albert Camus (1913-1960), mengatakan: "Kejahatan yg terjadi di dunia hampir selalu bersumber dari ketidaktahuan. Maksud2 yg baik bisa saja malah menciptakan keburukan seperti halnya kejahatan apabila tidak diiringi dg pemahaman yg benar." Sering orang hanya melihat suatu peristiwa hanya dari perspektif yg sempit, misalnya dari tampilan atau penampakan luar. Akibatnya akar persoalan tidak tersentuh dan dipecahkan secara tuntas. Maka terjadilah pengulangan2 masalah seakan2 tak berkesudahan dan membuat orang berputus asa serta menyerah.
10 Juni 2015 ·
Sahabat, Khonghucu (550-479 SM) mengatakan: "Orang-orang yg mengajukan pertanyaan akan tampak bodoh sesaat, tetapi mereka yg tak pernah mengajukan pertanyaan akan benar-2 bodoh seumur hidup." Pengetahuan dan kebijaksanaan diperoleh melalui proses panjang dan pencarian terus menerus, baik dalam diri maupun fenomena di luar. Karena itu pertanyaan merupakan salah satu metode yg paling inti dalam proses tsb. Jika manusia dihalang-2i untuk mengajukan pertanyaan, berarti ia telah dihalangi akses utamanya utk memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan dlm hidupnya.
11 Juni 2015 ·
Sahabat, pejuang kemerdekaan India dan tokoh anti-kekerasan, Mahatma Gandhi (1869-1948), mengatakan: "Diam bisa berarti kepengecutan ketika situasi memerlukan disuarakannya kebenaran dan tindakan untuk membelanya." Sikap diam tidak selalu berarti keutamaan. Jika kita berdiam diri ketika terjadi suatu tindakan kekerasan dan kekejaman terhadap pihak yang lemah, justru bisa disebut sebuah kepengecutan yang dibungkus rapi dan indah. Setidaknya upaya utk menyuarakan kebenaran harus dilakukan jika tindakan masih belum bisa dilaksanakan karena berbagai alasan. Jika aparat pemerintah dan negara melakukan pembiaran thd kekerasan dan penindasan dalam masyarakat, maka kemungkinan besar para elit dan aparatnya memang terjangkiti penyakit kepengecutan itu.
12 Juni 2015 ·
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah, mengatakan: "Janganlah engkau menjadi orang yang kebal terhadap nasihat, sehingga memerlukan deraan utk membuatnya sadar. Bagi orang yang berakal, bimbingan melalui nasihat-2 sudah cukup. Hanya hewan dan manusia tak beradab saja yg memerlukan deraan sebagi alat untuk menyadarkan mereka." Saling menasihati tentang kebenaran dan dan kebaikan adalah keperluan eksistensial manusia. Hukuman dan deraan sejatinya tidak diperlukan sejauh manusia memang menggunakan nalar dan nuraninya secara optimal. Namun dalam kehidupan kita saat ini, kekerasan pun dilakukan sebagai cara utk meyakinkan ajaran. Padahal sejatinya hanya utk mencari, mempertahankan, dan memperkuat ambisi dan kekuasaan.
13 Juni 2015 ·
Sahabat, filsuf eksistensiaI dan teolog Kristiani asal Jerman, Paul Tillich (1886-1965), mengatakan: "Aku berharap bahwa akan datang saatnya ketika semua orang bicara tentang Tuhan tanpa harus merasa malu." Dalam sejarah kemanusiaan, agama-agama pernah menjadi sumber solusi masalah-2 kehidupan yang terpenting dan bernilai sangat positif serta mampu memajukan peradaban manusia. Namun saat ini, ketika kekerasan dan aksi teror terjadi dengan mengatasnamakan ajaran agama, maka membicarakan tentang peran agama dalam kehidupan masyarakat sering dianggap tak relevan dan bahkan ditepikan. Agama malah dituding sebagai 'masalah' atau bahkan 'salah satu sumber masalah' bagi kemanusiaan. Memberikan solusi dengan pendekatan agama pun kerap dianggap hanya semacam utopia moralistik kerena berlawanan dengan perilaku dan tindakan si agamawan sendiri.


14 Juni 2015 ·
Sahabat, Presiden RI ke 4, KH. Abdurrahman "Gus Dur" Wahid (1940-2009), mengatakan: “Pertanyaan dasarnya adalah, sanggupkah kita sebagai bangsa mengembangkan sikap meninggikan kepentingan bersama itu dan mengalahkan kepentingan pribadi para pemimpin bangsa kita?” Para pemimpin pada level nasional tentu wajib berfikir tentang kepentingan nasional (national interests) dalam tataran lingkup internasional, bukan di bawahnya, apalagi hanya berfikir pada tataran kepentingan diri sendiri dan keluarganya. Jika pemimpin nasional hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan keluarga serta kelompok-2nya, maka bangsa dan negara akan rentan terhadap ancaman dalam berbagai bentuk, termasuk di dalamnya: praktik-2 diskriminasi politik dan sosial, ketidak-seimbangan pembangunan daerah, disparitas kaya-miskin yg melebar, dan pembiaran thd kemiskinan struktural.
Sahabat, penyair Persia, Hafidz (1325–1389), menulis:
"Buatlah rumah untuk manusia dan burung-2
Duduklah bersama dan bersenandung
Sehari, cukup sehari saja
Berbicaralah tentang hal tanpa duka
Dan bawalah damai, kawan
Dalam matamu yang penuh keindahan."
Ada saatnya kita memerlukan permenungan dan meditasi dalam kehidupan keseharian yang penuh dengan kesibukan dan kegalauan. Ada saatnya mencari kedamaian dalam diri melalui keindahan alam dan keheningan ruhani.
16 Juni 2015 ·
Sahabat, penyair Amerika asal Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Engkau bisa saja melupakan dengan siapa engkau pernah tertawa, tetapi engkau tidak akan pernah lupa dengan siapa engkau menangis." Kegembiraan, kesenangan, bahkan kebahagiaan pun bisa terlupakan dengan cepat. Namun kesedihan, derita, kesengsaraan yang pernah terjadi kpd seseorang atau sekelompok orang, seringkali tidak mudah terlupakan. Bahkan ia menjadi trauma yang membekas dalam jiwa. Luka batin dalam pengalam kehidupan dan sejarah lebih sulit terhapuskan ketimbang kegembiraan yg pernah dialami. Trauma sejarah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bahkan bisa menjadi sumber konflik tak berkeputusan dan menggerogoti kesatuan dan persatuan.
17 Juni 2015 ·
Sahabat, politisi perempuan dan mantan Hakim pada Mahkamah Pidana Internasional (ICC) asal Filipina, Miriam D. Santiago, mengatakan: "Ketika seorang pegawai negeri yg miskin bekerja pada sebuah kantor yang korup, mungkin saja ia masih bisa bertahan terhadap apapun. Kecuali bertahan terhadap godaan (utk ikut korup)!". Korupsi adalah sebuah produk relasi dialektis antara kualitas manusia dan kualitas lingkungan dan/ atau lembaga di mana ia berada. Orang miskin saja belum tentu akan korupsi jika tidak dibarengi dengan tekanan dan pengaruh lingkungan yg juga korup. Demikian pula, lingkungan korup tidak otomatis membuat orang yg di dalamnya pasti korup semua. Pemberantasan korupsi harusnya berlaku simultan terhadap keduanya, baik para aktor dan lembaga-2nya.
18 Juni 2015 ·
Sahabat, Ramadhan 1436H/2015 telah tiba. Selamat menjalankan ibadah puasa kepada seluruh ummat Islam di Indonesia sampai paripurna dengan ikhlas dan penuh takwa. Semoga seluruh amal saleh anda diterima di sisi Allah swt. Puasa merupakan kewajiban setiap pribadi Muslim/Muslimah sebagaimana difirmankan oleh Allah swt dalam Al-Qur'an: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pula kepada ummat sebelumnya agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183). Marhaban Ya Ramadhan.
19 Juni 2015 ·
Sahabat, filsuf Perancis, Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955), mengatakan: "Anda bukanlah manusia yg sedang mencari pengalaman spiritual, tetapi anda adalah mahluk spiritual yg sedang menyatu dengan pengalaman kemanusiaan." Pada umumnya spiritualitas dianggap sbg dimensi tambahan atau yg datang dari luar diri manusia. Akibatnya spiritualitas kadang dianggap sesuatu yg eksternal bahkan asing dari manusia. Jika pemahaman paradigmatik tsb diubah total, mk justru pengalaman kemanusiaan sejatinya adlh bagian dr spiritualitas manusia. Kedua dimensi tsb bukan lagi sesuatu yg asing dan eksternal dr kehidupan, tetapi menyatu.
19 Juni 2015 ·
Sahabat, Alhamdulillah sebagaimana saya janjikan beberapa waktu lalu, buku saya yg pertama, "DEMOKRASI DAN CIVIL SOCIETY' (Jakarta: LP3ES, 1996, 1999) kini muncul dalam edisi e-book.
19 Juni 2015 ·
Sahabat, Alhamdulillah sebagaimana saya janjikan beberapa waktu lalu, buku saya yg pertama, "DEMOKRASI DAN CIVIL SOCIETY' (Jakarta: LP3ES, 1996, 1999) kini muncul dalam edisi e-book. Anda bisa mengunduhnya di link ini (https://president.academia.edu/mashikam/Papers), dan juga di "scribd.com" ( https://www.scribd.com/…/26909…/DEMOKRASI-DAN-CIVIL-SOCIETY…). Terimakasih. (MASH)
20 Juni 2015 ·
Sahabat, dalam Serat Wedhatama dikatakan: "Mangkono janma utama/ Tuman tumanem ing sepi/ Ing saben rikala mangsa/ Masah amemasuh budi/ Laire anetepi/ Ing reh kasatriyanipun/ Susilo anor raga/ Wignya met tyasing sesami/ Yeku aran wong barek berag agama." (Seorang manusia utama menyukai kesepian utk semadi dg tujuan mempertajam dan membersihkan budi. Ia berupaya melaksanakan tugas sebagai kesatria yang rendah hati dan memberi kesejukan. Kemampuan seperti itulah yg disebut penghayatan terhadap ajaran agama) (Sinom: 31). Menjadi manusia yang bermanfaat (manusia utama) memerlukan bukan saja keunggulan secara fisik, seperti keilmuan, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi juga kemampuan utk mempertajam dan membersihkan ruhaninya. Kedua kemampuan itulah yg akan membuat pemiliknya mampu memberikan kesejukan, perlindungan, dan kesejahteraan bagi sesama.
21 Juni 2015 ·
Sahabat, spiritualis Budhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Manusia hanya akan mampu hidup secara penuh apabila saling membantu liyan utk hidup. Jika anda membantu sahabat anda, di situlah anda sebenarnya benar-benar hidup. Kebudayaan hanya akan mampu menunjukkan kekayaannya dengan cara menghormati kebudayaan dan tradisi-2 milik liyan...". Manusia dan kebudayaan serta peradaban yang dimilikinya, pada hakekatnya memerlukan kehadiran liyan atau pihak lain agar bisa tumbuh dan berkembang serta maju. Tanpa kehadiran liyan yang dihormati dan dihargai sebagaimana dirinya sendiri, maka yg terjadi bukanlah kehidupan yang produktif dan terhormat. Justru sebaliknya, dengan mengingkari kebutuhan terhadap liyan maka kehidupan manusia dan kebudayaan akan menjadi kering dan menghancurkan diri (self-destruct).
22 Juni 2015 ·
Sahabat, mantan Senator AS, Robert Kennedy (1925-1968), mengatakan: "Yang membuat kaum ekstremis berbahaya dan harus ditolak bukanlah karena mereka ekstrim, tetapi karena sikap intoleran mereka. Kejahatan kaum elstrimis bukan terletak pd tujuan mereka, tetapi pada apa yg mereka katakan tentang lawan2 mereka." Ideologi intoleran dan kebencian kpd sesama adlh sumber utama munculnya elstrimisme, radikalisme, dan kekerasan. Bisa jadi klaim ttg apa yg mereka perjuangkan terdengar bagus, tetapi ideologi kebencian dan intoleran pd akhirnya tdk memungkinkan terwujudnya klaim2 tsb. Yg terjadi adlh kehancuran bg kemanusiaan.
22 Juni 2015 ·
Sahabat, satu lagi buku saya, "ISLAM, DEMOKRATISASI, DAN PEMBERDAYAAN CIVIL SOCIETY", yang terbit pada 2000 (Jakarta: Penerbit Erlangga), akan muncul versi e-book nya. Mungkin dalam tempo tiga empat hari ke depan dapat diunduh di situs yang sama dengan buku saya sebelumnya. Isi buku tetap tidak ada perubahan apapun, kecuali sampul (cover) nya yg saya buat baru agar lebih menarik. Buku ini juga sudah tidak ada di pasaran, namun mungkin masih relevan utk bahan referensi. Trims. (MASH)
23 Juni 2015 ·
Sahabat, filsuf dan penulis asal Bulgaria, Tzvetan Todorov, mengatakan: "Ketika prinsip 'semua cara diperbolehkan' dlm upaya memberantas terorisme, maka pelaku kontrateror tak lagi bisa dibedakan dg teroris sendiri. Selanjutnya para teroris akan menyatakan diri mereka sebagai kelompok kontrateror juga. Sebab mereka berdalih merespon teror yg dilakukan thd mereka... Dg cara berfikir demikian, perang melawan teror tidak akan pernah berhenti!" Memberantas kejahatan tdk bisa dilakukan dg cara yg sama dg kejahatan tsb, apapun alasan dan dalihnya. Sebab cara demikian malah menimbulkan dua kejahatan, bukan mengurangi atau menghilangkan satu kejahatan.
24 Juni 2015 ·
Sahabat, politisi perempuan dan mantan Hakim Pengadilan Pidana Internasional (ICC) asal Filipina, Miriam D. Santiago, mengatakan: "Akibat yg ditimbulkan oleh politik genthong babi di negeri ini (Filipina, red.) adalah semakin terlembaganya korupsi. Proyek2 genthong babi itu menjadi senjata ampuh utk menghancur leburkan anggaran utk rakyat." Apa yg dialami Filipina akan dialami Indonesia jika proyek genthong babi yg diusulkan dan disetujui DPR terwujud. DPR yg merupakan salah satu sendi negara akan berubah menjadi monster penghancur demokrasi dan kehidupan bernegara karena korupsi yg makin terlembaga.
26 Juni 2015 ·
Sahabat, mantan Presiden dan pemimpin gerakan prodemokrasi Cekoslowakia, Vaclav Havel, mengatakan: "Tragedi yg dihadapi manusia modern bukanlah karena ia semakin tidak paham tentang makna kehidupannya, tetapi karena ia semakin tidak peduli terhadapnya." Jika manusia tdk paham ttg makna hidup, ia masih punya kesempatan dan harapan utk menemukannya dg berbagai cara dan usaha. Tetapi jika orang sudah tak peduli lagi, maka tidak ada lagi yg bisa diusahakan. Kehidupannya menjadi semacam robot dan/atau bahkan lebih rendah dari hewan.
27 Juni 2015 ·
Sahabat, aktivis feminis dan penulis perempuan, bell hooks (Gloria Jean Watkins), mengatakan: "Ketika kita telah mampu mengenyahkan ketakutan, maka kita akan mampu lebih dekat dengan rakyat, dengan bumi, dan bahkan dengan mahluk-mahluk di seuruh alam semesta yg mengitari kita." Salah satu penghalang yang paling besar bagi perjuangan (apapun) adalah adanya ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, dan sejenisnya. Hal-2 demikian memiliki berbagai variasi, ukuran, dan besaran (magnitude)nya masing-2. Karena itu, salah satu target paling penting dlm kehidupan adalah melawan ketakutan, karena begitu ia telah tertundukkan atau dpt dienyahkan, maka segala rintangan lain akan terasa lebih ringan.
28 Juni 2015 ·
Sahabat, penyair Amerika asal Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Anda berdoa ketika dalam kondisi dan situasi tertekan dan punya kepentingan. Tetapi apakah anda juga berdoa ketika anda dalam kebahagiaan yang penuh dan di hari-hari yg penuh kesejahteraan?" Sudah menjadi sifat manusia ketika ia berada dalam kondisi tidak enak lantas berdoa dan beribadat dengan sangat serius; dan ketika ia dalam kemudahan dan kegembiraan lalu mengurangi doa dan ibadatnya seakan-akan ia sudah tak membutuhkan sang Penciptanya. Doa seharusnya bukan dianggap sebagai tawar-menawar; sebab ia adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan manusia dalam kondisi apapun.
29 Juni 2015 ·
Sahabat, penyair Romawi kuno, Virgil (70-10 SM), mengatakan: "Sesuatu masalah yang ditakutkan akan terjadi pada diri seseorang, tidak ia takutkan apabila hal itu terjadi pada orang lain." Jika manusia memahami bahwa hidup dan keberadaannya merupakan satu kesatuan dan tergantung dengan keberadaan yang lain (liyan), semestinya ia juga memikirkan dan memedulikan pihak lain tsb. Sayangnya, yang sering kita temukan adalah kecenderungan utk mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan liyan. Bahkan jika perlu membiarkan pihak lain mengalami kesulitan dan penderitaan, asalkan diri sendiri selamat dan bahagia.
30 Juni 2015 ·
Sahabat, penyair perempuan asal AS, Maya Angelou (1928-2014), mengatakan: "Kebencian sudah jelas telah menghasilkan banyak persoalan dlm kehidupan. Tetapi ia belum pernah menyelesaikan satu pun masalah kehidupan." Kendati orang tahu bhw kebencian tdk akan pernah menyelesaikan masalah, tetapi ia selalu hadir dan bahkan dipilih sebagai solusi. Seakan2 kebencian menjadi keutamaan dan landasan moral dalam kehidupan. Ia bahkan dijadikan landasan ideologi politik utk meraih kekuasaan.





JULI
1 Juli 2015
Sahabat, penyanyi pop legendaris, Michael Jackson (1958-2009), mengatakan: "Pengetahuan manusia tdk hanya ada di perpustakaan dlm bentuk buku2 dan tinta saja. Ia juga terdiri atas pengetahuan yg tertulis di hati manusia, terukir pada jiwa mereka, dan tercetak pada psyche mereka." Belajar memahami manusia tdk cukup hanya melalui jalan yg biasa seperti ketika mempelajari benda-2. Memahami manusia harus melibatkan rasa dan sejarah kehidupan serta budaya mereka. Memahami tdk hanya sekedar tahu dari aspek fisik, tetapi juga dari aspek psikis dan his tak adatoris. Memahami manusia adlh kerja hampir tak ada hentinya.
2 Juli 2015
Sahabat, filsuf Tiongkok kuno, Lao Tzu, mengatakan : "Pada saat engkau telah merasa cukup untuk menjadi diri sendiri dan tak lagi perlu berkompetisi atau membandingkan dengan orang lain, maka semua orang akan menaruh hormat kepadamu." Jika seseorang telah mencapai kesadaran untuk menjadi diri sendirinya sendiri dan merasa cukup, maka ia tidak lagi tertarik utk berebut, bersaing, apalagi merugikan orang lain, demi keuntungan dan ambisi pribadi. Orang seperti itu biasanya akan memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi orang lain utk menghargai dan menghargainya, lantaran memberi keteduhan, kedamaian, dan rasa aman. Kualitas seperti ini tentu tidak mudah dicapai dalam sebuah masyarakat yang memberi nilai lebih kepada persaingan, perebutan, dan gontok-2an yang utk pemenuhan ambisi pribadi dan kelompoknya.
3 Juli 2015
Sahabat, Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill (1874-1965), mengatakan: "Kita adalah majikan dari kata2 yg belum terucapkan, tetapi budak dari kata2 yg terlanjur kita ucapkan." Apa yg kita ucapkan atau tuliskan acapkali memiliki konsekuensi yg tak kita perhitungkan sebelumnya atau bahkan dapat kita kontrol sepenuhnya. Ucapan dan tulisan yg kita produksi bisa menjadi sumber keberuntungan dan persoalan kita sebagai pribadi maupun kelompok. Komunikasi adalah salah satu dasar keberadaan manusia dan ikut menentukan keberhasilan dan kegagalannya.


4 Juli 2015
Sahabat, biarawati peraih Nobel perdamaian, Bunda Teresa (1910-1997), mengatakan: "Senyumlah antara satu sama lain. Senyumlah pada isteri, pada suami, pada anak-anak, pada sesama - tak peduli siapa pun -. Senyum akan membantu anda tumbuh utk lebih menyayangi satu sama lain." Salah satu perkara yang paling mudah, namun efektif utk menjalin komunikasi, adalah senyuman. Ia adalah pintu yang terbuka dan sebuah jaminan rasa aman serta sinyal penerimaan kepada liyan. Senyuman adalah anugerah yang tak ternilai namun seringkali kita lalai. Tersenyumlah dan dunia pun akan tersenyum kepada kita.
5 Juli 2015
Sahabat, fisikawan peraih Nobel, Albert Einstein (1879-1955), mengatakan: "Dunia, sebagaimana yang sedang dibuat manusia, adalah sebuah proses dari berfikir manusia. Oleh karenanya, ia tidak akan bisa diubah tanpa mengubah pemikiran kita sebagai manusia." Seringkali ketika kita menghadapi persoalan yang sangat rumit, kita bingung darimana kita harus memulai melakukan perubahan dan mengurai kerumitan tsb agar bisa dicarikan solusi. Mungkin kita lupa bahwa kerumitan tersebut berasal dari perbuatan kita sendiri, yang kemudian tak lagi terkontrol dan seakan-akan tak terpecahkan. Padahal perbuatan adalah kreasi yg berawal dari pemikiran manusia. Merubah persoalan yang dianggap sudah terlalu rumit, bisa jadi, harus dimulai dg merubah pemikiran kita sendiri.
7 Juli 2015
Sahabat, filsuf Jerman aliran Sekolah Frankfurt, Theodor W. Adorno (1903-1969), mengatakan: "Suatu masyarakat yg terbebaskan... bukanlah yg berbentuk sebuah masyarakat hanya satu jenis, tetapi masyarakat yg menyadari adanya universalitas dalam perbedaan-2." Hasrat untuk menyatukan perbedaan selalu muncul ketika ada perbedaan. Namun jika kesatuan itu tanpa landasan kesadaran bhw perbedaan adalah sebuah keniscayaan dlm kehidupan, maka akan menjadi alasan bg pemaksaan. Yg seharusnya ditempuh dlm mengatasi perbedaan adlh menumbuhkembangkan kesadaran bhw dlm perbedaan2 tsb ada nilai universal yg mengikat sehingga manusia adalah satu kesatuan.
8 Juli 2015
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Kaaromallohu Wajhah, mengatakan: "Orang yg bersikap pelit (bakhil) terhadap apa yang dimilikinya adalah salah satu pertanda tiadanya kepercayaan dirinya kepada (kekuasaan) Tuhan." Manusia yg memiliki sifat pelit sejatinya mengidap rasa ketidakpercayaan thd diri sendiri dan kepada sang Maha Pencipta. Dirinya ketakutan menghadapi kekurangan sedemikian rupa shg mengorbankan hak liyan terutama mereka yg membutuhkan bantuan. Dia tdk percaya bhw Tuhan telah menyiapkan rizkinya utk hidup dan bahkan berbagi dg sesama.
9 Juli 2015
Sahabat, filsuf zaman Pencerahan asal Jerman, Immanuel Kant (1724-1804), mengatakan: "Melalui kebohongan, manusia menghancurkan martabat dirinya sendiri." Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kebohongan seringkali dilegitimasi dengan berbagai cara, termasuk fatwa agama dan aturan perundang2an. Kemampuan utk mengungkap dan membongkar kebohongan2 terselubung itu sangat menentukan apakah kehidupan tsb akan memiliki martabat atau menuju kenistaan dan kehancuran.
10 Juli 2015
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Plutarch (46-120 SM), mengatakan: "Adanya jurang pemisah antara yg kaya dan yang miskin adalah penyakit yg paling tua dan paling fatal bagi semua negara." Adanya kelompok manusia yg kaya dan yang miskin adalah suatu fakta dlm kehidupan sejarah manusia. Namun fakta tsb tidak selalu berarti kehancuran bg kehidupan manusia sejauh kedua kelompok tsb tdk terpisahkan secara drastis, mendalam, dan eksploitatif serta repressif. Jika kelompok miskin semakin berkurangb jumlahnya dan kelompok kaya bersikap peduli, mk ancaman bahaya kehancuran akan makin bisa dihindari.
11 Juli 2015
Sahabat, dramawan dan penyair asal Jerman, Bertolt Brecht (1901-1956), mengatakan: "Kebutahurufan paling buruk adalah butahuruf politik... Mereka yg butahuruf politik itu, saking dungunya, malah bangga dan menepuk dada dg menyatakan benci terhadap politik. Para idiot itu tidak tahu bahwa justru karena ketidak mau tahuan mereka ttg politik itulah yg melahirkan berbagai malapetakan sosial seperti maraknya pelacuran dan anak-anak terlantar, munculnya para pencuri yang paling jahat yaitu para politisi sontoloyo (poliyo), dan berkembangnya korporasi nasional dan multinasional yang korup." Rakyat yg melek politik adalah salah satu landasan utama bagi terbangunnya sebuah tata politik demokratis yg substantif dan alat memerangi berbagai penyakit sosial serta mencegah karutmarutnya kehidupan berbangsa dan bernegara.
12 Juli 2015
Sahabat, dalam Serat Wedhatama dikatakan: "Taman limut/ Durgameng tyas kang weh limput/ Kerem ing karamat/ Karana karoban ing sih/ Sihing suksma ngrebda saardi gengira." (Bila orang memiliki perasaan senang yang berlebihan, kadang-2 ia lupa, sebab ilmu itu pada dasarnya dapat menyenangkan. Namun jika ia memperhatikan dengan seksama, cermat disertai rasa cinta pada sesama, maka perasaan yang berlebihan itu dapat dikendalikan) (Pucung: 4)
Jebakan bagi orang yang mendapat rahmat berupa ilmu adalah rasa bangga yang berlebihan, seakan-akan seluruh kehidupan bisa diselesaikan dan dipecahkan sendiri tanpa kontribusi elemen-elemen lain. Karena itu penguasan ilmu harus diawasi, dikontrol, dan dikendalikan oleh etika, sehingga kecenderungan negatif tersebut tidak dominan dan akhirnya malah merusak diri sendiri dan liyan.
13 Juli 2015
Sahabat, Presiden AS ke 32, Franklin D. Roosevelt (1882-1945 ), mengatakan: "Jangan pernah dilupakan bhw Pemerintah adlh kita sendiri, bukannya kekuatan asing di luar kita. Penguasa tertinggi dalam demokrasi kita bukanlah Presiden, Senator, para anggota Konggres, atau para pejabat kantor2 Pemerintah. Tetapi (penguasa tertinggi tsb) adalah para pemilih di negeri ini." Rakyat yg punya hak pilih sebagai penguasa tertinggi dlm demokrasi sudah seharusnya melek politik dan peduli thd keamanan negaranya serta menolak semua gagasan dan praktik2 yg bisa merusak dan menghancurkan negeri dan sistem demokrasi itu.
15 Juli 2015
Sahabat, penyair dan novelis perempuan asal Inggris, Elizabeth Bibesco (1897-1945), mengatakan: "Diberkatilah kiranya orang2 yang memberi tetapi tak pernah mengingat-2nya, dan orang-2 yang menerima (pemberian) tetapi tak pernah melupakannya." Baik pihak yg memberi dan menerima suatu kebaikan keduanya memperoleh rahmat. Apalagi jika yg pihak pertama didasari motif tanggungjawab sosial dan yg kedua memanfaatkannya demi hal2 yg positif. Memberi tak perlu diingat2 dan dihitung2 sedang menerima tak harus rendah diri tetapi mengingat kebaikan itu.
16 Juli 2015
Sahabat, Junjungan kita Rasulullah saw bersabda: "Ada dua kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-2 yang berpuasa: kebahagiaan saat berbuka puasa, dan kebahagiaan nanti saat bertemu dengan Allah swt.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Menjelang berakhirnya Ramadhan 1436, seluruh ummat Islam yang telah menjalankan ibadah puasa Insya Allah akan merasakan kebahagiaan tersebut. Dan hendaknya kebahagiaan itu juga sumrambah kepada seluruh ummat manusia. Jangan sampai rasa kebahagiaan karena kemenangan memerangi hawa nafsu hanya menjadi sebuah klaim yang tak bisa dibuktikan. Sebab, kaum setiap Muslim bertanggungjawab utk mewujudkan amanat Allah swt bahwa Islam adalah pembawa rahmat bagi semua.
18 Juli 2015
Sahabat, pejuang persamaan hak-hak asasi dan perdamaian, Dr. Martin Luther King, Jr. (1929-1968), mengatakan: "Memaafkan bukanlah tindakan yang musiman belaka. Ia adalah sikap yang terus menerus berkesinambungan." Budaya dan tradisi bermaaf-maafan adalah sangat terpuji dan harus dilestarikan. Dan dalam rangka pelestarian tersebut, ia harus terus menerus ditanamkan dan di pupuk serta disosialisasikan. Dengan demikian, tradisi itu bukan sekadar tindakan musiman tetapi telah menjadi sikap (attitude) yg inheren dan menyatu dalam pribadi seseorang serta kelompok. Hanya dengan cara demikian pemaafan menemukan makna yang substantif, bukan hanya tindakan yang asesoris.
19 Juli 2015
Sahabat, pejuang perdamaian dan kemerdekaan asal India, Mahatma Gandhi (1869-1948), mengatakan: "Manusia yang berjiwa lemah tidak akan pernah mau memaafkan. Sebab memaafkan adalah karakter yang hanya dimiliki oleh mereka yang berjiwa kuat." Kendati semua orang bisa bicara tentang memaafkan dan bahkan punya tradisi maaf-memaafkan, tetapi tetap harus dibuktikan dalam kenyataan. Sebab kesediaan memberi maaf memerlukan kekuatan mental dan keberanian mengambil berbagai resiko yang acapkali sangat berat. Memaafkan bukan berarti membiarkan dan melupakan suatu kekeliruan, apalagi kejahatan, begitu saja. Yang lebih penting di dalamnya adalah kesediaan memberi kesempatan agar kekeliruan tak terulang dan memperbaiki kembali hubungan antar manusia yang sempat terganggu.

20 Juli 2015
Sahabat, pejuang anti apartheid dan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela (1918-2013), mengatakan: "Membenci itu ibarat anda yang minum racun tetapi berharap musuh anda yang tewas." Muncul dan maraknya kebencian tidak tergantung pada cuaca dan musim, tetapi kapan saja dan dimana saja karena bibitnya ada dalam diri pribadi-2 dan kelompok. Seperti layaknya racun adiktif yang bekerja pelan tetapi mematikan, ia sering dianggap sebagai sesuatu yang menyemangati dan diperlukan dalam kehidupan. Para pemujanya pun berhalusinasi seakan dg membenci maka lawanpun akan dikalahkan. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah proses penghancuran diri (self-destruction).
21 Juli 2015
Sahabat, sejarawan dan rohaniwan Inggris, Thomas Fuller (1608-1661), mengatakan: "Barangsiapa yang tidak mampu memaafkan orang lain, ibarat telah menghancurkan jembatan yang akan dia lewati sendiri. Sebab setiap manusia memerlukan pemaafan." Memaafkan bukan hanya suatu keperluan bagi pihak yang dimaafkan saja, tetapi juga bagi pihak yang memaafkan. Sama halnya dengan kedermawanan, ia bukan hanya keperluan dari si miskin tetapi juga keperluan mereka yang punya. Sikap-sikap pemaaf dan kedermawanan adalah pengikat tali kemanusiaan dan salah satu indikator adanya unsur kemanusiaan dalam diri seseorang.
22 Juli 2015
Sahabat, pembawa acara radio terkemuka asal AS, Bernard Meltzer (1916-1998), mengatakan: "Ketika anda memberi maaf, anda tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu, tetapi anda sudah jelas mengubah masa depan." Memaafkan adalah salah satu kemampuan yang khas dimiliki mahluk ciptaan Tuhan yang namanya manusia. Pemaafan biasanya ditujukan untuk perbuatan yang telah lewat, padahal peristiwa yang dimaksud sudah jelas tidak akan berubah lagi. Namun sebenarnya efek atau akibat yang diharapkan dari pemaafan adalah di masa depan, yakni suatu perubahan yang lebih positif. Memaafkan memiliki potensi melahirkan perubahan yg positif bagi kehidupannya apabila dilakukan secara sungguh-2, baik lahir maupun batin.
23 Juli 2015
Sahabat, rohaniwan asal AS, Lewis B. Smedes (1921-2002), mengatakan: "Keadilan restoratif (pemulihan) bukanlah pengganti, tetapi pelengkap dari keadilan retributif (pembalasan). Ia mengupayakan rehabilitasi bagi pelakunya dan penyembuhan luka-2 dari para korbannya." Para pencari keadilan umumnya menekankan pada prinsip dan paradigma retributive justice (keadilan utk pembalasan). Target utamanya adalah para pelaku agar mendapat sanksi atau hukuman setimpal atas kesalahannya. Masih jarang yang memahami pentingnya prinsip dan paradigma restorative justice (keadilan utk pemulihan), sebagai pelengkap dari yg pertama. Sebab dlm pemulihan tsb, bukan saja ditargetkan pada membalas si pelaku tetapi juga memulihkan pelaku dan korban. Keduanya, sanksi dan pemulihan, seharusnya perlu diupayakan bersama.
24 Juli 2015
Sahabat, pejuang anti-apartheid dan rohaniwan Afrika Selatan, Desmond Tutu, mengatakan: "Kasih sayang Tuhan terlalu besar untuk dibatasi hanya oleh salah satu pihak yang berkonflik, atau bahkan oleh pengikut salah satu agama saja." Berbagai konflik dan kekerasan yang berkedok ajaran agama memiliki akar masalah pemahaman yang absolutis, monopolistik, eksklusif, dan diskriminatif. Akibatnya terjadilah klaim-klaim yang kebablasan dan malah bertentangan serta kontradiktif dan, pada gilirannya, mengancam keselarasan hubungan antar-manusia. Ajaran tentang kasih sayang terhadap sesama yg dipunyai seluruh agama, misalnya, malah didistorsi habis-2an menjadi alat pengabsahan bagi konflik, penindasan oleh manusia atas manusia, penjajahan, perbudakan, dan bahkan genosida!.
25 Juli 2015
Sahabat, filsuf Romawi kuno asal Spanyol, Lucius Annaeus Seneca (4 SM-65 M), mengatakan: "Sebenarnya, (dlm hidup ini) bukannya kita tak punya cukup waktu, tetapi karena kita buang-buang waktu... Bukannya hidup ini singkat, tetapi karena kita membuatnya tak bermanfaat. Bukannya karena kita tak punya bekal, tetapi karena kita menyia-2kan bekal tsb." Kehidupan manusia memerlukan pengelolaan yang tepat dan efektif, sehingga manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain serta lingkungan bisa optimal. Kita sendirilah yg terutama harus bertanggungjawab jika kehidupan kita tidak optimal, kendati ada saatnya ketika faktor-2 eksternal memang ikut berperan. Sebelum kita menyalahkan pihak lain, kita perlu bekerja keras melakukan yg terbaik.
26 Juli 2015
Sahabat, Sufi agung asal Persia, Maulana Jalaludin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Kemarin akulah yang pintar sehingga aku ingin merubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, sehingga aku ingin merubah diriku sendiri." Manusia sejatinya berpotensi dan mampu melakukan berbagai perubahan, termasuk perubahan kesadaran tentang keberadaanya di dunia. Salah satu kesadaran tertinggi yang dicapai manusia adalah ketika ia menyadari kelemahannya dan dari sana ia kemudian berupaya keras mengubahnya.
27 Juli 2015
Sahabat, filsuf pasca-modernisme asal Perancis, Michel Foucault (1926-1984), mengatakan: "Kerja politik yang paling nyata dalam masyarakat saat ini adalah bagaimana melakukan kritik terhadap kinerja lembaga-lembaga yang seakan-akan netral dan independen. (Kita perlu) mengritik dan mengupasnya sedemikian rupa sehingga berbagai kekerasan politik yang mereka sembunyikan dapat kita bongkar dan lawan bersama-sama." Kritik yang produktif dan bermanfaat adalah apabila ia mampu membantu membongkar berbagai potensi kerusakan yang ditutup-2i dan disembunyikan di balik gagasan, lembaga-lembaga, dan posisi-posisi yang seakan-akan netral, independen, dan legitimate. Kritik seperti itulah yg diperlukan dalam upaya membebaskan manusia dari belenggu ketertindasan dan ancaman kekerasan.
28 Juli 2015
Sahabat, spiritualis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Setiap batang bambu tampak tumbuh tegak sendiri-sendiri, menjulang ke atas menantang langit. Padahal akar-akar mereka di dalam tanah yang tak tampak, ternyata berkait berkelindan satu sama lain. Dengan cara yang sama, pertemanan antar-manusia adalah keterkaitan kuat yang menghubungkan pribadi-pribadi mandiri." Gotong royong, persatuan, dan kebersamaan bukan berarti lenyapnya kepribadian dan kemandirian. Masing-2 pribadi berhak mandiri dalam keunikan dan perbedaannya, tetapi terjalin keakraban dan rasa keterkaitan erat dalam sanubari yg tak terlihat.



29 Juli 2015
Sahabat, penemu hukum relativitas dan peraih Hadiah Nobel dalam ilmu fisika, Albert Einstein (1879-1955) , mengatakan : "Hukum relativitas hanya berlaku untuk fisika. Ia tdk berlaku untuk etika." Etika yg merupakan landasan moral terkait nilai2 kehidupan manusia, tidak mengenal hukum relativitas sebagaimana dikenal dlm fisika . Etika bisa saja diaplikasikan secara kontekstual sehingga memunculkan berbagai tafsir, namun pada prinsipnya ia hanya mengenal dua pilihan antara nilai2 yang baik dan yang buruk. Merelatifkan etika sama halnya dengan menghancurkan landasan kehidupan dan kemanusiaan.
30 Juli 2015
Sahabat, filsuf eksistensialis dan novelis asal Perancis, Albert Camus (1913-1960), mengatakan: "Orang yang sedang mencari apa yang benar itu tidak sama dengan mencari apa yang menjadi hasratnya." Seringkali manusia mengacaukan antara kebenaran dg hasrat atau kepentingan. Padahal bisa saja terjadi keduanya bertentangan satu sama lain walaupun di atas permukaan tampak sama atau tidak tampak secara transparan bedanya. Diperlukan kewaspadaan dan kehati2an serta peringatan agar kita semakin bisa memisahkan apa yg benar dg apa yg hanya menjadi hasrat kita.
31 Juli 2015
Sahabat, Imam Al-Ghazali RA (1058-1111), mengatakan: "Terkorupsinya ajaran agama terjadi karena ia berubah menjadi hanya sekadar kata-2 dan pencitraan belaka." Kendati ajaran agama memiliki potensi memberikan pencerahan dan perubahan bagi ummat manusia, tetapi ia juga bisa terkorupsi dan termanipulasi. Tanda2 bhw ajaran agama dikorupsi adlh ketika ia hanya diomongkan dan dijadikan alat pencitraan, sehingga tdk bermakna atau kehilangan relevansi dlm dinamika. Alih2 agama menginspirasi perubahan menuju pembebasan, ia malah menjadi kendala.





AGUSTUS
1 Agustus 2015 ·
Sahabat, ekonom dan penulis best seller AS, John Perkins, mengatakan: “Apabila para pemilik suara tidak tahu instrumen-2 terpenting yang digunakan oleh para pemimpin mereka, bisakah bangsa tersebut mengklaim dirinya sebagai bangsa yang demokratis?” Para pemilih memiliki kewajiban-2 yang tak kalah besarnya dengan mereka yang dipilih utk mewakili dan/ atau memerintah. Salah satunya adalah mengetahui dengan baik dan melakukan pengawasan terhadap cara dan alat yang digunakan oleh para pemimpinnya. Rakyat tidak boleh membiarkan para pemimpin tsb menggunakan cara-cara dan alat-alat utk berkuasa serta melaksanakan amanat yang bertentangan dengan prinsip dan etika kemanusiaan. Bangsa yang demokratis bukanlah bangsa yang lepas tangan dan tidak bersikap kritis terhadap para pemimpinnya.
2 Agustus 2015 ·
Sahabat, penulis dan pemikir masalah spiritualitas, sosial, dan lingkungan asal India, Deepak Chopra (lahir 1946), mengatakan: "Kita membutuhkan kualitas2 kepemimpinan yg feminin. Artinya kepemimpinan yg memberi perhatian besar kepada estetika dan lingkungan, pengasuhan, kasih sayang, intuisi dan beberapa kemampuan yg membuat orang merasa aman dam dipedulikan." Model kepemimpinan yg dominan masih cenderung berkarakter maskulin. Ia didominasi oleh kekuasaan, kekuatan, kontrol, machoisme, kharisma, kegagahan fisik dan sejenisnya yg lebih berorientasi pada fisik dan kekerasan. Itu sebabnya masyarakat dan rakyat juga terpengaruh dan lebih cenderung menggunakan pendekatan2 dan gaya maskulin ketimbang feminin. Termasuk di kalangan kaum perempuan juga.
6 Agustus 2015 ·
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah, mengatakan: "Kekayaan yang termahal adalah kecerdasan; kehancuran terbesar adalah ketololan; kebiadaban yang paling liar adalah kesombongan, dan prestasi yang terbaik ialah kebaikan akhlak." Kemajuan manusia baik pribadi maupun kelompok, termasuk juga kemajuan dan keunggulan sebuah bangsa, ditentukan oleh empat perkara tsb. Jika pemimpin sebuah bangsa bermaksud melakukan revolusi mental, seyogyanya empat perkara ini menjadi landasan paradigma yang utama.

7 Agustus 2015 ·
Sahabat, pemimpin spiritual Buddha, Dalai Lama, mengatakan: "Kita perlu merangkul (pendekatan) 'perlucutan senjata di dalam diri', yaitu memperkecil rasa curiga, kebencian, dan kemarahan terhadap saudara dan saudari sesama manusia." Jika kita berusaha menerapkan pendekatan antikekerasan (non violence), maka harus dimulai dari diri kita sendiri. Yaitu membiasakan diri dengan keterbukaan dan tidak menjadikan kebencian sebagai pedoman dalam bergaul serta berkomunikasi dg sesama manusia. Ini bukanlah pekerjaan mudah, bahkan tidak semua pemimpin, termasuk agamawan, yang mampu melakukan 'perlucutan senjata' di dalam dirinya.
8 Agustus 2015 ·
Sahabat, penulis perempuan asal Inggris, Karen Armstrong, mengatakan: "Orang-orang beragama acapkali lebih menyukai "kebenaran" ketimbang kasih sayang. (Dengan sikap demikian) mereka tidak mau meninggalkan sikap egotisme, malah kalau perlu menggunakan agama untuk mendukung keegoan dan identitas mereka." Keberagamaan bisa menjadi salah satu akar permasalahan relasi antar-manusia, ketika fokus diarahkan pada klaim kebenaran masing-2. Kecenderungan ini membuat orang lupa atau mengabaikan dimensi yang sangat penting dalam ajaran semua agama, yakni hubungan antara manusia yang damai, harmonis, produktif, serta beradab. Akibatnya keberagamaan menjadi wahana bagi sikap mau menang dan/atau mau benar sendiri serta menghakimi liyan dengan carapandang egoistik. Keberagamaan yg sebenarnya bisa menjadi wahana bagi kebaikan utk semua, lantas berbalik menjadi wahana bagi ancaman utk semua.
9 Agustus 2015 ·
Sahabat, filsuf dan matematikawan asal Perancis, Blaise Pascal (1626-1662), mengatakan: "Manusia tak bisa melakukan kejahatan dg begitu sungguh-2 dan dg sukacita melebihi ketika ia menggunakan dalih keyakinan beragama." Kekerasan dan konflik sepanjang sejarah manusia memiliki akar masalah dan sumber yg berbeda2. Tetapi sampai hari ini akar masalah pemahaman keagamaan masih tetap menjadi salah satu persoalan utama. Ia bukan saja menjadi sumber tetapi juga obyek yg paling rentan thd manipulasi.


10 Agustus 2015 ·
Sahabat, Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Upayamu untuk mencari kekurangan-2 yg tersembunyi dalam dirimu lebih baik ketimbang upayamu untuk mengungkap rahasia-2 yang tersembunyi bagimu." (32) Kadang manusia tergoda oleh hasrat mencari dan menguasai kemampuan-2 atau ilmu-2 yang rahasia, agar semakin dihormati, menambah kewibawaan, atau berkuasa. Padahal akan lebih bermanfaat jika waktu dan upayanya difokuskan utk merenungkan diri dan memperbaiki berbagai kekurangan sebagai mahluk. Sebab pilihan kedua itu jelas lebih dekat dengan perintah Tuhan agar selalu mawas diri, sementara pilihan pertama lebih didorong oleh keinginan diri melebihi dan/ atau menguasai orang lain.
11 Agustus 2015 ·
Sahabat, sipiritualis Buddhis asal Vietnam, Thich Nath Hanh, mengatakan: "Bermeditasi bukan berarti menghindari masyarakat. Ia adalah upaya utk memperoleh tilikan mendalam yang diperlukan utk bertindak. Adalah keliru jika menganggap bermeditasi hanya soal duduk dan menimati ketenangan serta kedamaian sekitar." Melakukan meditasi atau bertafakur seyogyanya merupakan bagian integral dalam kehidupan manusia. Ia adalah momen bagi kita utk mengambil jarak dari kesibukan keseharian dan paya meraih kesadaran ruhani yg terdalam. Namun pada saat yg sama, meditasi dan /atau tafakur adalah bekal utama utk kembali hidup dalam masyarakat dengan segala kompleksitasnya.
12 Agustus 2015 ·
Sahabat, mahaguru dan filsuf linguistik dari MIT, AS, Noam Chomsky, mengatakan: "Bagi pihak yang punya kekuasaan, perilaku pihak lainlah yg selalu dituding keliru." Kritik terhadap pemilik kekuasaan adlh suatu keniscayaan agar ia tidak terjebak dalam halusinasi seakan-akan paling benar dan tidak bisa keliru. Hanya pihak oposisi atau yg lemah yg bisa keliru. Padahal justru mereka yg sedang berkuasalah yg potensinya utk bersalah dan melakukan keleliruan bisa lebih besar.
13 Agustus 2015 ·
Sahabat, Sayyidina 'Umar Ibn Al-Khattab, RA (577-644), mengatakan: "Aku tidak terlalu khawatir apabila do'a-2ku ditolak (oleh Tuhan); tetapi aku sangat khawatir jangan-jangan tidak mendapat hidayah untuk terus mampu berdoa kepadaNya." Begitu pentingnya berdoa kepadaNya secara konsisten sehingga ia lebih diutamakan ketimbang khawatir apakah doa-2 tsb akan dikabulkan olehNya. Terkabul atau tidaknya doa adalah hak prerogatif Sang Maha Pemberi, sementara berdoa adalah sebuah kewajiban dari mahluk kepada Penciptanya. Bukan hanya soal hasil yang dipentingkan, tetapi juga menjaga konsistensi melakukannya.
14 Agustus 2015 ·
Sahabat, Ibnu Atho'illah As-Sakandary, mengatakan: "Ada tiga macam respon manusia ketika mendapat nikmat dari Allah swt: 1) Gembira thd nikmat yang diperolehnya; 2) Gembira thd nikmat yg diperolehnya dan thd Allah swt yg memberinya; dan 3) Gembira hanya thd Allah swt." Pada umumnya respon manusia ketika mendapat suatu kenikmatan adlh seakan-2 hal tsb merupakan hasil jerih payahnya dan bhw dirinya berhak utk meraihnya. Seharusnya, manusia bersyukur kpd Tuhan ketika mendapat karunia tsb dan menggunakannya utk pengambian padaNya. Ada pula manusia yg mampu mengambil jarak dengan baik kenikmatan maupun penderitaan, serta hanya berfokus kepada pengabdian padaNya. Inilah capaian yg luar biasa dari mereka yg telah sampai pada derajat 'Arif, atau orang-2 yg telah memperoleh pencerahan spiritual.
15 Agustus 2015 ·
Sahabat, sastrawan dan filsuf eksistensialis asal Perancis, Jean Paul Sartre (1905-1980), mengatakan: "Sekali anda sudah mengetahui detail-detail dari sebuah kemenangan, maka akan sulit untuk membedakan antara kemenangan dengan kekalahan." Manusia pada umumnya hanya melihat kemenangan, kesuksesan, keberhasilan pada ujungnya saja. Jarang ada yang mau menghitung atau merenungkan betapa banyak pengorbanan, kesulitan, kekalahan yang mesti dilewati dan ditanggung. Apa yg disebut kemenangan, termasuk dalam merebut kekuasaan, kadangkala disertai dengan begitu banyak korban yg jatuh dalam proses dan pertarungan memerebutkannya. Belum lagi jika dipahami bahwa kemenangan seseorang, bisa jadi, merupakan penderitaan bagi yang lain.
16 Agustus 2015 ·
Sahabat, filsuf dan Kaisar Romawi, Marcus Aurelius (121-180), mengatakan: “Kebahagiaan hidupmu ditentukan oleh kualitas pemikiranmu. Karena itu, peliharalah (pemikiran tsb) dengan sebaik-2nya." Memelihara kualitas pemikiran adalah upaya memperbaiki kualitas kehidupan. Bukan berarti tidak memperbolehkan perubahan dalam pemikiran tersebut, karena hal itu berarti membuat hasil pemikiran menjadi dogma beku. Yang dimaksud memelihara di sini adlh mengembangkan pemikiran-2 tsb sesuai dg dinamika lingkungan, dari yang lokal sampai yang global. Salah satunya adlh dengan sering bertukar pikiran untuk mencari, memperkaya, dan memperbaikinya.
17 Agustus 2015 ·
Sahabat, Presiden RI ke 1, Bung Karno (1901-1970), mengatakan: "Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. Indonesia telah berusia 70 tahun, namun sebagai sebuah negara-bangsa ia masih berada dalam kondisi 'pancaroba': sebuah keadaan yang tak menentu dan belum stabil. Karenanya seluruh penyelenggara negara dan warganegara RI mesti 'cancut taliwondo', bekerja keras, mewujudkan dan meraih cita-cita Proklamasi 1945. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan petunjuk dan rahmatNya kepada kita semua. Amin.. DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE 70.
18 Agustus 2015 ·
Sahabat, rohaniwan Katolik dari Ordo Oblat Maria Imakulata (OMI), Kardinal Francis George (1937-2015), mengatakan: “Berbagai macam konflik tragis yang merobek kemanusiaan, dan salah satu sumbernya adlh motif keagamaan yg disalahpahami, telah meninggalkan kebencian dan kekerasan yg membekas di antara umat manusia." Motif keagamaan yang mungkin saja baik dan bermanfaat, bisa menjadi sumber persoalan dan bahkan konflik yg besar manakala disalah pahami atau disampaikan dengan cara yang keliru. Substansi dan penyampaiannya harus integratif dan sinergis agar pesan profetik keagamaan benar-2 sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. Sehingga pesan-2 tsb tidak terdistorsi dan kemudian malah menjadi sumber konflik yang destruktif.
19 Agustus 2015 ·
Sahabat, Sufi Agung asal Iran, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Naikkanlah mutu kata-katamu, bukan kerasnya suaramu. Yang membantu tumbuhnya bunga adalah siraman air hujan, bukan suara petir." Pidato, khotbah, ceramah, tausiah, dll lebih laris jika menggunakan gaya demagog ketimbang upaya dialog. Kualitas kata dan kalimat seringkali dikalahkan oleh pameran retorika yang bukan saja kosong makna dan berkah, tetapi juga sumber kebencian dan fitnah. Retorika para demagog dianggap sebagai kebenaran, walaupun isinya bertabrakan dengan nurani dan penalaran. Hasil akhirnya adalah maraknya kemunafikan yang dipertontonkan tanpa rikuh tanpa segan...

20 Agustus 2015 ·
Sahabat, filsuf dan spiritualis Hindu, Swami Vivekananda (1863-1902), mengatakan: "Anda tak perlu takut, sebab semua kekuatan besar dalam sejarah manusia selalu bersama rakyat. Dari jajaran merekalah para jenius dunia muncul, dan sejarah selalu mengulangi hal itu. Jangan takut terhadap (tantangan) apapun, maka anda bekerja dengan mengagumkan." Ketika bangsa kita menghadapi persoalan-persoalan yang sulit dan membuat kita begitu pesimis serta merasa tak punya jalan keluar, maka kepercayaan diri sebagai bangsa mesti diperkuat. Sebab rasa percaya diri itulah yang menjadi salah satu pendorong utama perjuangan menghadapi tantangan di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kepercayaan diri itulah yg dapat memotivasi kita utk kembali bangkit mengatasi semua kesulitan dan bekerja keras menemukan jawaban serta solusi.
21 Agustus 2015 ·
Sahabat, filsuf Jerman, Friedrich Nietszche (1844-1900), mengatakan: "Barangsiapa ingin belajar untuk bisa terbang pd suatu hari, maka ia mesti lebih dahulu belajar utk berdiri, berjalan, dan berlari serta menari. Ia tidak mungkin bisa terbang begitu saja." Proses utk mencapai hasil sesuatu tak kalah pentingnya dengan capaian itu sendiri. Orang atau masyarakat yg tdk menghargai pentingnya proses akan mengidap mental menerabas dan tdk mau susah payah yg, pd akhirnya, akan berakibat buruk bg usahanya. Tidak ada bangsa manapun di muka bumi ini yg bisa besar dan maju dengan memakai landasan budaya mental menerabas itu.
22 Agustus 2015 ·
Sahabat, penyair Amerika asal Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Aku berguru tentang diam kepada para tukang omong, tentang toleransi kepada mereka yg intoleran, tentang kebajikan kepada mereka yg jahat. Tetapi aku tidak akan pernah berterimakasih kepada semua 'guru-guru' tersebut." Belajar atau mengambil hikmah bisa dati berbagai sumber tetapi tak berarti bhw semua sumber itu lantas bernilai sama. Kejahatan dan keburukan tetap saja tidak baik dan harus dihindari, kendati mungkin kita bisa mengambil hikmah dan 'pelajaran' darinya.



23 Agustus 2015 ·
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Socrates (469-399 SM), mengatakan: "Manusia yg bernalar sangat baik akan suka mendiskusikan pemikiran. Yang bernalar rata2 akan suka mendiskusikan peristiwa-2. Yang bernalar di bawah rata2 akan memilih membicarakan orang." Ngrumpi, gossip, menyebar rumor dan sebangsanya merupakan aktivitas yg tak memerlukan nalar. Karenanya hobby seperti itu bisa menjadi indikator kapasitas penalaran para pemiliknya.
24 Agustus 2015 ·
Sahabat, rohaniwan asal Amerika, Robert H. Schuller (1926-2015), mengatakan: "Jika anda hanya mendengarkan ketakutan dan kehawatiran anda, maka sampai matipun anda tak pernah tahu betapa hebatnya diri anda sebenarnya." Manusia yg kehidupannya selalu dibayangi, diarahkan, dan bahkan diatur oleh kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan, tdk akan pernah mencapai optimasi dari potensi yang dimilikinya. Ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan akan menjadi tembok-2 yg mengurungnya dan kian menyempit seiring dengan bertambahnya usia. Potensi-2 bagus dan kreatifitas tidak mungkin akan bisa diwujudkan jika tembok-2 tsb kian menyempit dan akhirnya memenjarakan diri sendiri.
25 Agustus 2015 ·
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah (599-661), mengatakan: "Sahabat yang baik adalah dia yg ketika kamu tidak membutuhkannya, akan bertambah cinta kepadamu, sementara jika kamu sedang membutuhkannya, dia juga tidak akan berkurang sedikitpun kecintaannya kepadamu." Sebagai mahluk sosial, kita memerlukan sahabat yang dapat diajak sharing baik dalam kondisi suka maupun duka. Dan kitapun lalu berusaha mencari sahabat-2 yg berkualitas. Seharusnya bukan hanya kita yang mencari orang seperti itu, tetapi diri kita pun mestinya berkualitas seperti itu. Sehingga kita tetap dalam posisi siap baik ketika membutuhkan maupun dibutuhkan.
26 Agustus 2015 ·
Sahabat, filsuf perempuan, pakar fisika kuantum, dan aktivis lingkungan asal India, Vandana Shiva, mengatakan: "Demokrasi dimulai dengan mewujudkan kebebasan-kebebasan dari kelaparan, pengangguran, ketakutan, dan kebencian. Itulah yang, menurut hemat saya, benar-2 kebebasan yang nyata dan harus dijadikan landasan kehidupan kemasyarakatan yang baik.” Mengupayakan, memelihara, dan mengembangkan sistem demokrasi memerlukan adanya kondisi struktural tertentu, selain jaminan terhadap hak-hak asasi, sebagai landasannya. Sistem demokrasi tdk mungkin berkembang dan/ atau terpelihara dg baik jika sebagain dari pendukungnya masih mengalami berbagai persoalan dan kendala struktural seperti kemiskinan akut, ancaman kekerasan, ketakutan, dan kebencian dalam kehidupan mereka. Demokrasi yg tidak punya landasan dan struktur yg kokoh hanya merupakan demokrasi seolah-2 dan mudah dirubuhkan oleh lawan-lawannya.
27 Agustus 2015 ·
Sahabat, sutradara, penulis, dan peraih Nobel asal Irlandia, George Bernard Shaw (1856-1950), mengatakan: "Demokrasi bisa jadi adalah sebuah bentuk pemerintahan yang menggantikan pemilihan yang dilakukan oleh banyak orang yang inkompeten menjadi penunjukan beberapa orang-orang yang korup." Ketika sistem demokrasi hanya dipahami sebagai prosedur belaka dan mengabaikan substansi serta kualitas para pelakunya, maka ia menjadi sebuah parodi dan mengancam kehidupan masyarakat dan bangsa. Sebab demokrasi yg hanya prosedural belaka bisa menghasilkan para pemimpin korup dan tidak becus yang merupakan hasil pilihan mayoritas manusia-2 yang tidak memiliki kapasitas. Prosedur dan substansi dalam sistem demokrasi adalah dwitunggal yg tak terpisahkan.
28 Agustus 2015 ·
Sahabat, filsuf agung asal Persia, Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, mengatakan: "Ingatlah bahwa separo dr dosa2 manusia yg mengingkari Tuhan akan dibebankan kepada para agamawan yg telah menyebabkan mereka bersikap menolakNya." Kedudukan yg luhur sebagai agamawan juga memiliki tanggungjawab yg luar biasa besarnya. Jika agama yg diajarkan mereka malah menciptakan kerusakan, perpecahan, kebencian, dan malapetaka bg kemanusiaan, hal itu sebagian adlh menjadi tanggungjawab para agamawan tsb. Apalagi jika para agamawan tsb mengakibatkan manusia makin menjauhi agama karena pemahaman yg mereka ajarkan ternyata membuat manusia kian menjauh dari Tuhan.
29 Agustus 2015 ·
Sahabat, teolog dan filsuf asal Italia, Thomas Aquinas (1225-1274), mengatakan: "Kebaikan bisa saja ada tanpa adanya kejahatan, tetapi kejahatan tidak mungkin ada tanpa adanya kebaikan." Sebuah ironi dalam kehidupan bahwa kejahatan memerlukan kebaikan utk bisa hidup. Seperti benalu yg tak akan tumbuh tanpa ada pohon yg hidup. Kejahatan, seperti benalu, hidup dari mengkorupsi kebaikan. Namun dmk tdk berarti tak perlu ada kebaikan supaya kejahatan tdk ada. Justru kebaikan harus tetap ada dan diperkuat agar kejahatan tdk mampu mengkorupsinya.
30 Agustus 2015 ·
Sahabat, pelukis dunia asal Belanda, Vincent van Gogh (1853-1890), mengatakan: "Para nelayan tahu belaka bahwa laut sangat berbahaya dan badainya sangat mengerikan, tetapi mereka tidak pernah menjadikannya alasan utk tetap di daratan." Tantangan dan persoalan, disukai atau tidak, dicari atau tidak, akan terus ada dan berdatangan selama manusia masih hidup. Kita lebih baik selalu menyiapkan diri menghadapi dan berusaha keras utk memecahkannya kendati tak ada jaminan akan berhasil sepenuhnya. Cemunguuudd...!!
31 Agustus 2015 ·
Sahabat, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i RA (767-819), mengatakan: "Ada sementara manusia yang telah wafat, tetapi wataknya tetap membuat mereka seakan masih hidup. Namun ada sementara manusia yang secara fisik masih hidup, tetapi wataknya telah membunuh mereka." Manusia yang memiliki karakter baik dan bermanfaat bagi manusia lain, akan diabadikan dalam ingatan kolektif dan dijadikan sebagai rujukan sehingga seakan-akan ia masih selalu berada ditengah-tengah kita. Sebaliknya, walaupun seseorang masih hidup, memiliki nama besar, dan kedudukan terhormat, tetapi ia malah menjadi bahan olok-olok, hujatan, dsb seakan-akan tak bermanfaat. Kalau ia mati justru banyak yang bersyukur karena dunia terhindar dari kerusakan yg lebih parah.








SEPTEMBER
Tgl 4 sept 15
Sahabat, filsuf dan negarawan Romawi kuno, Marcus Tullius Cicero (106-43 SM), mengatakan: "Alam tidak menyukai kesendirian dan ia senantiasa mencari dukungan. Dan dukungan yang terindah ditemukan dalam persahabatan yang erat." Persahabatan, adalah salah satu inti dan ciri kemanusiaan karena ia juga merupakan hukum alam. Manusia dan alam saling membutuhkan sebagaimana sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain. Foto ini adalah bukti bahwa persahabatan bisa terjadi dalam kondisi yang tak terbayangkan. Saya mendapat sahabat baru, seekor cicak yang selalu nongol di meja kerja di rumah. Dan utk menghormatinya, saya sediakan makanan buah-2an seperti pepaya, pisang, dll. Cicak, yang saya namakan Cicero, bisa menjadi teman utk mencari inspirasi renungan pagi.
Tgl 5 sept 15
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah (656-661), bertausiyah: "Janganlah engkau merasa kesepian ketika sedang berada di jalan kebenaran, kendati hanya sedikit sekali orang-orang yang ikut berjalan di sana." Membela suatu kebenaran tidak mudah, karena seringkali akan menempatkan orang pada posisi sulit. Misalnya resiko merasa kesepian dan/ atau terasing, seakan-akan tak ada pihak yang bersimpati apalagi ikut membelanya. Rasa kesepian itulah yg berpotensi menyuburkan bibit keragu-2 an yg ada dalam hati dan melemahkan rasa percaya diri. Karenanya memerangi perasaan kesepian dan rasa kurang percaya diri merupakan bagian integral dari perjuangan menegakkan kebenaran.
Tgl 7 sept 15
Sahabat, aktivis dan mahaguru teologi dan filsafat asal AS, Cornel West, mengatakan: "Salah satu prasyarat utama agar kebenaran bisa muncul adalah memberi peluang kepada penderitaan agar ia ikut berbicara." Mencari solusi bagi berbagai persoalan kemasyarakat seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan kekerasan memerlukan keberanian utk membongkar akar-akar persoalan tsb. Para korban yang mengalami penderitaan harus diberi ruang yg cukup dan perlindungan keamanan agar bisa memberikan pandangan dan pengalaman mereka serta mengajukan fakta-fakta tanpa didistorsi atau merasa ketakutan. Tanpa partisipasi para pihak yang menjadi korban, maka akan rentan terhadap manipulasi dan politisasi, sehingga solusi-solusi yg ditawarkan pun menjadi muspro alias sia-sia.
Tgl 8 sept 15
Sahabat, dalam drama "Saudagar dari Venesia" karya William Shakespeare (1563-1616) dikatakan, "Setan pun bisa menyitir Kitab Suci untuk (mendukung) kemauannya." Kritik adalah salah satu cara utk membuka topeng (unmasking) kepalsuan yang dibungkus dengan berbagai retorika, termasuk retorika utk mengabsahkan tindak kekerasan, intimidasi, represi, diskriminasi, dll. Kritik bukan sekedar mengecam demi keperluan kecaman belaka, tetapi ia memilik fungsi menunjukkan dan memerbaiki kekeliruan, baik yg di sengaja atau bukan. Terutama jika berhadapan dengan kekuasaan yang seringkali menggunakan retorika dan demagogi utk mengelabui rakyat yang dianggapnya bodoh dan ketakutan.
Tgl 9 sept 15
Sahabat, fisikawan dan peraih Nobel asal Denmark, Niels Bohr (1885-1962), mengatakan: “Yang menjadi tujuan dalam menjelaskan fenomena alam bukanlah utk menguak inti dari fenomena tsb, tetapi utk menelusuri sejauh mungkin berbagai aspek hubungan yg berlapis-2 dari pengalaman kita." Relasi manusia dengan alam merupakan sumber tak habis-2nya bagi pengembangan kemanusiaan. Pemahaman tentang relasi itulah yg menghasilkan temuan-2 besar dalam khazanah filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban manusia sepanjang sejarah. Sangat disayangkan apabila manusia merusak relasinya dengan alam, karena berarti ia sedang menghancurkan sumber utama dari kehidupannya, baik pada tataran individu maupun kolektif.
Tgl 11 sept 15
Sahabat, Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Pangkal dari segala kemaksiatan, kelalaian, dan hawa nafsu adalah sikap berpuas diri thd keadaan. Pangkal dari ketakwaan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tak puas diri dengan keadaan." (AL-HIKAM 1: 35). Sikap berpuas diri bukan saja berakibat negatif terhadap kehidupan jasmaniah, tetapi juga rohaniah. Karena sikap tersebut maka manusia menjadi tertutup dan kehilangan motovasi utk berbuat lebih baik dan maju. Demikain pula. suatu bangsa yg hanya bisa berpuas diri adalah bangsa yang akan sulit utk maju dan rentan terhadap bahaya kemerosotan. Secara rohaniah pun demikian, kepuasan thd diri bisa semakin menyesatkan dan mendorong munculnya arogansi dan kepongahan yang pada gilirannya merusak keikhlasan dan ketakwaan.

Tgl 12 sept 15
Sahabat, novelis perempuan terkemuka dari India, Arundhati Roy, mengatakan: "(Pemahaman ttg terorisme saat ini) mengabaikan terorisme ekonomi yang disebarluaskan oleh neoliberalisme dan telah menghancurkan jutaan kehidupan manusia. Terorisme tsb mengakibatkan mereka menderita kekurangan air, makanan, listrik, obat-obatan, dan pendidikan. Terorisme jenis ini merupakan kepanjangan dari logika ekonomi pasar bebas. Terorisme jenis ini adalah privatisasi perang." Memerangi terorisme secara komprehensif, selain diarahkan kepada dimensi-2 ideologi, sistem politik, dan kekuatan militer, juga harus melibatkan dimensi ekonomi. Sebab, hasil akhir dari terorisme ekonomi tak kalah dahsyatnya dengan terorisme dg serangan militer, baik yang disponsori aparat negara maupun aktor-2 non-negara. Kehancuran kehidupan ratusan juta manusia, akibat sistem ekonomi yang eksploitatif dan menindas, merupakan fakta yang tak bisa dibantah.
Tgl 14 sept 15
Sahabat, Presiden AS ke 32, Franklin D. Roosevelt (1882-1945), mengatakan: "(Prinsip) kebebasan yang ada dlm demokrasi tidak akan bertahan apabila rakyat membiarkan kekuasaan korporasi mencapai suatu titik di mana ia lebih kuat ketimbang negara sendiri. Esensinya, itu adalah fasisme." Sistem demokrasi memberi tempat kepada korporasi utk tumbuh dan mengembangkan diri, namun tetap harus bisa dikendalikan oleh negara yang menjadi pelindung kepentingan rakyat sebagai warganegara. Aapabila korporasi lepas dari pengawasan dan malah mempengaruhi dan mengontrol negara, maka yang akan muncul adalah fasisme. Korporasi, secara prinsipil, tidak mungkin menjadi penyokong utama demokrasi yang mensyaratkan adanya kebebasan dan persamaan para pendukungnya.
Tgl 15 sept 15
ahabat, pemegang tahta suci Vatikan ke 266, Paus Fransiskus, mengatakan: "Pemujaan pada berhala sapi emas pada zaman kuno kini kembali muncul dalam bentuknya yg baru dan kejam. (Yaitu) penyembahan terhadap uang dan kediktatoran ekonomi tak berbentuk, serta tak berperi-kemanusiaan." Akumulasi kekayaan, pertumbuhan ekonomi, dan penumpukan modal yang seharusnya hanya merupakan alat untuk menyejahterakan manusia, berubah menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. Kekayaan akhirnya menjadi faktor utama dalam proses penyengsaraan dan penghancuran kemanusiaan dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Jutaan manusia saling hancur-menghancurkan sebagai akibat dari pemujaan terhadap kekayaan. Yang seharusnya alat kini berubah menjadi tuan dan pengendali.
Tgl 16 sept 15
Sahabat, fisikawan terkemuka dan peraih Nobel, Albert Einstein, mengatakan: "Barangsiapa yang mengabaikan kepercayaan utk urusan2 yg kecil, maka ia tidak bisa dipercaya memegang urusan2 yg besar." Rekam jejak seseorang yg akan diserahi tugas, khususnya terkait kepentingan orang banyak, sangat penting utk dijadikan sebagai salah satu kriteria. Sebab tugas tsb terkait dg kepercayaan atau ananah (public trust). Seringkali karena hanya tergiur oleh tampilan luar seseorang atau sekelompok orang, terjadi kekecewaan besar setelah beberapa waktu. Prinsip "trust and verify" (percaya dan periksa) sangat perlu diterapkan utk mereka yg diserahi tugas.
Tgl 17 sept 15
Sahabat, filsuf agung Tiongkok kuno, Lao Tzu, mengatakan: "Ketika kepompong menyebutnya sebagai akhir, oleh dunia disebut sebagai kupu-kupu." Kita memiliki kecenderungan utk melihat sesuatu dengan sangat terbatas sesuai perspektif dan kepentingan yg kita miliki. Padahal, belum tentu perspektif dan kepentingan kita sama dengan yang dimiliki pihak lain yang mungkin lebih baik. Yang kita sebut sebagai sebuah kegagalan, bisa jadi ternyata adalah sebuah awal dari kesuksesan yg besar. Memperluas perspektif dan meninggalkan cara berfikir yang sempit adalah jalan yang mesti ditempuh utk memperkaya dan memperluas cakrawala kita.
Tgl 20 sept 15
Sahabat, Sang Buddha mengatakan: "Adalah pikiran manusia sendiri yg menggodanya utk menempuh jalan yg salah, bukan karena musuh atau lawannya. Tak ada yg lebih melawan dan tak ada yg lebih patuh kecuali pikiran. Tak ada yg lebih mengancam dirimu melebihi pikiran yang tak terjaga." Kemampuan utk menjaga dan mengelola pikiran kita bisa membawa pada suatu kondisi yg positif dan produktif dlm kehidupan pribadi maupun kolektif. Kegagalan dlm menjaga dan mengelola pikiran bisa berdampak serius dlm kehidupan pribadi, sosial, dan bahkan bagi perkembangan peradaban.
Tgl 24 sept 15
Sahabat, Sang Buddha mengatakan: "Adalah pikiran manusia sendiri yg menggodanya utk menempuh jalan yg salah, bukan karena musuh atau lawannya. Tak ada yg lebih melawan dan tak ada yg lebih patuh kecuali pikiran. Tak ada yg lebih mengancam dirimu melebihi pikiran yang tak terjaga." Kemampuan utk menjaga dan mengelola pikiran kita bisa membawa pada suatu kondisi yg positif dan produktif dlm kehidupan pribadi maupun kolektif. Kegagalan dlm menjaga dan mengelola pikiran bisa berdampak serius dlm kehidupan pribadi, sosial, dan bahkan bagi perkembangan peradaban.
Tgl 26 sept 15
Sahabat, Paus Fransiskus mengatakan: "Dunia kita kian menjadi tempat konflik dengan kekerasan, kejahatan brutal dan kebencian yang dilakukan bahkan atas nama Tuhan dan agama. Kita tahu bahwa tidak ada agama yang imun dari berbagai jenis kegilaan individual dan ekstremisme ideologis. Dan itu berarti kita harus mewaspadai segala bentuk fundamentalisme, baik berdasarkan agama maupun yang lainnya." (Pidato di depan Konggres AS, 24/09/2015).
Upaya menghentikan kekerasan, konflik brutal, ekstremisme ideologis, dll merupakan tugas kemanusiaan. Salah satunya adalah dengan mencermati dan mewaspadai berbagai pemahaman fundamentalistik yang berpotensi merusak kehidupan manusia, baik individual maupun kolektif. Fundamentalisme bisa muncul dari penafsiran ajaran agama, tetapi juga pemikiran-2 non agama (sekuler), sehingga kerja ini merupakan tugas dan tanggungjawab kemanusiaan bersama.
Tgl 28 sept 15
Sahabat, Sufi Agung Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Tugasmu sebenarnya bukan mencari cinta, tetapi mencari dan menemukan tembok-2 dalam dirimu yg engkau bangun utk menghalangi cinta." Manusia diciptakan Tuhan dilengkapi dengan kemampuan utk mendapat dan menerima kasih sayang, baik dari sesama manusia maupun dariNya. Namun manusia sendirilah yg membuat kemampuan itu kian tumpul, terhalang, bahkan malah tertutup sama sekali. Jika ia ingin memperoleh kasih sayang tsb, yang perlu dilakukan manusia adalah membongkar penghalang-2 yang ia ciptakan sendiri. Pada dirinya sendiri terletak tanggungjawab itu.





OKTOBER
12 Oktober 2015
Sahabat, pengarang besar Amerika, Mark Twain (1835-1910), mengatakan: "Saya tidak akan pernah membiarkan (proses) sekolah saya mengintervensi pendidikan (yg saya jalani)." Sekolah formal adalah kebutuhan dan merupakan salah satu jenis pendidikan dalam masyarakat modern. Namun pendidikan tak bisa direduksi menjadi hanya sekolah. Sekolah merupakan formalisasi dan sistematisasi proses pendidikan yg terikat oleh waktu dan jenjang. Pendidikan tidak mengenal batas ruang dan waktu, apalagi penjenjangan resmi. Mereduksi proses pendidikan dengan sekolah, sama saja dg mereduksi rimba raya menjadi sebatang pohon.
13 Oktober 2015
Sahabat, novelis, sineas, dan tokoh feminis AS, Susan Sontag (1933-2004), mengatakan: "Adanya kemungkinan bhw perlawanan anda tak akan mampu menghentikan ketidak adilan, tidak melepaskan anda dari tanggungjawab utk bertindak sesuai apa yang anda percayai sebagai kepentingan utama komunitas anda." Perjuangan melawan ketidak adilan tidak bisa hanya berorientasi pada hasil belaka. Ia juga memerlukan fondasi berupa keteguhan dan keyakinan bahwa perjuangan tersebut harus dilakukan. Perhitungan-2 dan strategi perjuangan memang sangat penting, tetapi lebih penting lagi adalah keyakinan dan keteguhan terhadap apa yg diperjuangkan.
14 Oktober 2015
Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah, mengatakan: "Orang yang hanya menyibukkan diri dengan perkara-2 yg tidak terkait dengan peningkatan kualitas dirinya akan selalu berada dalam kegelapan dan bingung dalam kesia-siaan. Jiwanya terseret begitu dalamnya oleh kejahatan sehingga ia akan menganggap keburukan menjadi keindahan." Kehidupan manusia seharusnya diukur dengan kemauan dan kemampuan utk meningkatkan kualitas diri, baik sebagai pribadi maupun kelompok. Meningkatkan kualitas berarti bergeser dari level yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi, baik secara jasmaniah maupun ruhaniah. Itulah salah satu makna Hijrah bagi kita sebagai manusia: berpindah dari kualitas yang rendah kepada kualitas yang lebih baik.

15 Oktober 2015 ·
Sahabat, filsuf Perancis, Charles de Secondat (1689-1755), mengatakan: "Peperangan atas nama agama bukan disebabkan karena jumlah agama yg lebih dati satu, tetapi karena semangat intoleran. Penyebaran semangat intoleran merupakan penyebab keterpurukan total dari penalaran manusia." Keberadaan agama2 acapkali dituding sebagai penyebab konflik sehingga terjadi berbagai upaya memberangus kehidupan beragama dan bahkan melarangnya. Padahal tak kalah penting utk memahami konflik itu dari bgmn ajaran agama tsb dipahami. Bisa jd bhw pemahaman ajaran yg sarat dg semangat kebencian dan intoleranlah yg mengorupsi ajaran tsb.
16 Oktober 2015
Sahabat, pemimpin pergerakan demokrasi Burma/ Myanmar dan peraih Nobel perdamaian, Aung San Su Kyi, mengataan: "Para pemimpin pemerintahan adalah orang-orang yang sangat ajaib. Mereka itu sering menjadi pihak terakhir utk mengerti apa yang diinginkan oleh rakyatnya." Para elite penguasa yang hanya sibuk dengan urusan dan kepentingan sendiri serta kelompoknya, tentu tidak bisa diharapkan utk memahami dan peduli dengan kepentingan rakyat. Bahkan kepentingan negara dan bangsa yg menjadi tugas utama utk diperjuangkanpun tidak dipahami, dan biasanya secara sengaja. Ketika krisis melanda barulah mereka ikut-2an berteriak dan mengatasnamakan kepentingan rakyat, seakan-akan peduli.
17 Oktober 2015
Sahabat, filsuf, penyair, dan tokoh pendidikan dunia asal India, Rabindranath Tagore (1861-1941), mengatakan: "Sikap intoleransi mutlak (bigotry) adalah menggenggam kebenaran di tangan dengan begitu kerasnya sehingga malah membunuhnya." Orang-orang yang punya sikap intoleran, terutama yang sudah total, menganggap bahwa kebenaran yg mereka miliki begitu mutlak dan menolak membuka celah sedikitpun kepada liyan utk berbeda. Sikap demikian bukan hanya berpotensi menciptakan konflik antar manusia, tetapi yg lebih parah lagi adalah mencederai kebenaran yg mereka sedang perjuangkan sendiri.
18 Oktober 2015
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Diogenes (412-323 SM), mengatakan: "Raja-2 yang bijak biasanya memiliki para penasehat yang bijak juga. Dan sang raja pun tentu harus orang yang bijak, karena ia harus tahu kualitas para penasehatnya." Para pemimpin senantiasa memerlukan para penasehat atau pembantu yang berkualitas, dan kesuksesan kepemimpinannya acapkali sangat dipengaruhi oleh kualitas para penasehat dan pembantunya. Namun demikian, pemimpin itu sendiri yang harus memilih dan menentukan para penasihat dan pembantunya. Kalau pilihannya tidak tepat, maka sulit utk hanya mengecam para penasehat dan pembantu jika ia gagal. Pada akhirnya pemimpinlah yang harus baik kualitasnya, bukan hanya penasehat atau pembantunya saja.
19 Oktober 2015
Sahabat, spiritualis Buddhis dari Jepang, Daisaku Ikeda, mengatakan: "Pengejawantahan kekuatan diri seseorang baru bisa terwujud manakala ia telah berinteraksi dengan dunia nyata dalam hidup keseharian." Manusia memiliki potensi diri masing-masing dan perlu diwujudkan serta dikembangkan. Dalam hal ini pengalaman bergaul dan berinteraksi dg manusia dan lingkungan menjadi wahana paling penting agar potensi tsb menemukan perwujudannya. Manusia yang tak berinteraksi, baik fisik maupun mental, dg yang lain tak mungkin bisa menunjukkan potensi dirinya. Paling pol hanya klaim saja.
20 Oktober 2015·
Sahabat, penyair Amerika asal Libanon, Khalil Gibran (1883-1931), mengatakan: "Diriku tak akan kehilangan kepercayaan kepada keadilan dalam hidup ini, karena ternyata mimpi orang yang tidur di kasur empuk tak lebih indah ketimbang mimpi orang yg tidur di atas tanah." Pada hakekatnya manusia memiliki hak dan pemenuhan hak yang sama dalam hidupnya. Keadilan merupakan salah satu prinsip dasar dalam upaya memperjuangkan perwujudan keduanya. Dalam kenyataan hidup senantiasa didapati berbagai kendala yg menyebabkan hak dan pelaksanaannya tak seimbang dan bahkan cenderung ditindas. Namun jika prinsip keadilan masih dipegang, maka perjuangan pun masih tetap bisa dilakukan.


21 Oktober 2015
Sahabat, penyair perempuan AS, Emily Dickinson (1830-1886), mengatakan:
"Harapan, seperti mahluk bersayap
Ia bertengger pada jiwa
Melantunkan nada tanpa kata-kata
Dan tak pernah berhenti selamanya."
Selama manusia ada, harapan akan menjadi bagian yang sangat penting. Kehidupan memerlukan harapan meski seakan tidak kunjung datang. Tanpa ada harapan, kehidupan menjadi tanpa makna dan usaha kita menjadi seakan-akan sia-sia. Berharap bukan berarti berdiam tanpa usaha. Kemauan dan kemampuan bekerja sambil berharap adalah yang membedakan manusia dari mahluk lainnya.
22 Oktober 2015
Sahabat, Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Tatkala seorang pencari derajat tertinggi (salik) ingin berhenti pada tataran ma'rifatnya, maka hakikat akan mengingatkannya, "yang engkau cari ada di depanmu!". Dan pada saat keindahan dunia coba menariknya, hakikat akan mengingatkannya, 'itu semua adalah ujian, jangan engkau turuti!." (AL-HIKAM 1: 20) Selama manusia masih hidup, godaan dan cobaan pasti akan selalu mengikuti. Bahkan terhadap orang-2 yang telah dikaruniai ma'rifat atau pencerahan spiritual (spiritual enlightenment) pun, ujian itu masih ada, yakni keinginan utk berhenti karena merasa sudah 'sampai.' Apalagi orang-2 yang biasa, tentu ujian dan godaan dunia juga akan terus menggelora. Perjuangan meraih kesuksesan, bahkan termasuk dalam hal pencerahan spiritual, tak mengenal berhenti, sebab manusia tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.
23 Oktober 2015
Sahabat, filsuf Yunani kuno, Aristoteles, mengatakan: "Keunggulan merupakan seni yang diperoleh dari latihan dan pembiasaan. Manusia tidak bertindak dengan tepat karena ia unggul, tetapi ia ungggul karena bertindak secara tepat. Manusia terbentuk karena apa yang dilakukannya terus menerus. Keunggulan, jadinya, terlahir karena kebiasaan." Kerja keras, pembiasaan (habituation) dan bertindak secara konsisten utk meraih keunggulan, lebih bermanfaat ketimbang hanya menggantungkan pada bakat atau bawaan. Memang benar bhw ada manusia-2 yg berbakat alam dan berpotensi, tetapi perkembangan dan kemajuan peradaban terjadi karena usaha manusia yang bekerja keras dan bertindak tepat.
24 Oktober 2015
Sahabat, filsuf Inggris asal Austria, Karl R. Popper (1902-1994), mengatakan: "Toleransi tanpa pembatasan justru akan membawa pada hilangnya toleransi. Jika kita membiarkan toleransi tanpa batas... maka orang-2 yang toleran dan toleransi itu sendiri akan dihancurkan." Toleransi bukan berarti tanpa batas sehingga membiarkan pihak-2 intoleran bebas bergerak dan berpropaganda. Toleransi hanya akan bermakna dan efektif utk menjamin keberbedaan serta pluralisme, manakala masyarakat tegas menolak sikap intoleran dan para penyebarnya. Ini seakan-akan sebuah paradoks, tetapi sejatinya merupakan sebuah prinsip yang harus dipegang.
25 Oktober 2015
Sahabat, pejuang antiperbudakan dan penulis kulit hitam AS, Frederick Douglass (1818-1895), mengatakan: "Kekuatan para tiran ditentukan oleh ketahanan perlawanan pihak-pihak yang tertindas." Penguasa dan kekuasaan menindas dalam segala bentuk, seperti perbudakan, kediktatoran, fasisme, totaliterisme, otoriterisme, akan berlaku dan berlangsung lama ketika tidak dilawan oleh mereka yang ditindas. Semakin lemah perlawanan terhadap mereka, maka kekuasaan tsb semakin bertahan lama dan bahkan dianggap menjadi kondisi 'normal'. Normalisasi terhadap penindasan adalah cita-cita dan target utama para penindas. Perlawanan terhadap penindasan, dengan segala bentuknya, adalah mimpi buruk para penindas.
26 Oktober 2015
Sahabat, pejuang kemerdekaan India dan tokoh anti kekerasan, Mahatma Gandhi (1869-1948), mengatakan: "Saya punya keyakinan bahwa kemajuan Islam tidak tergantung pada penggunaan senjata oleh para pemeluknya, tetapi hasil dari perjuangan seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Husein." Islam dan ummat Islam patut mencontoh dan meneladani jiwa kesatria dan anti kekerasan yang ditunjukkan oleh pengorbanan Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika menghadapi para penguasa zalim di padang Karbala. Teladan beliau bukan hanya bagi satu kelompok belaka, tetapi bagi seluruh ummat Islam dan kemanusiaan di dunia.
27 Oktober 2015
Sahabat, penulis, sejarawan, dan filsuf asal Inggris, Thomas Carlyle (1795-1881), mengatakan: “Tunjukkan pada saya orang-2 yang anda kagumi, dan saya akan tahu anda orang seperti apa." Salah satu cara untuk mengetahui dan memahami karakter seseorang adalah dengan melihat dan menganalisa siapa yang dikagumi, dihormati, diteladani oleh orang tsb. Sebab dari sana akan bisa dijajaki dan bahkan diperkirakan gambaran ideal yag ingin dia ikuti dan tiru. Mendidik anak-anak melalui biografi tokoh-tokoh, pahlawan, pemimpin, dan orang-orang yang memiliki reputasi unggul dan terpuji adalah salah satu cara pembentukan karakter dan watak dalam pribadi-2 mereka.
28 Oktober 2015 ·
Sahabat, penyair Amerika, Samuel Ullman (1840-1942), mengatakan: "Muda bukanlah suatu masa dlm kehidupan, tetapi sebuah pola pikir. Ia bukanlah masalah rona segar pada pipi, bibir merah atau lutut yg kokoh. Tetapi muda adalah soal kuatnya kemauan, kualitas imajinasi, keuletan emosi2. Muda adlh kesegaran sumber kehidupan yg dalam." Jiwa muda tak bisa dibatasi oleh usia atau fisik. Acapkali orang2 yg berusia muda dan fisiknya kuat tetapi telah kehilangan semangat juang dan bahkan menjadi beban bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Jiwa muda adalah sebuah sikap dan pola pikir yg diperlukan utk perubahan, penyegaran, dan kemajuan.
SELAMAT HARI PEMUDA INDONESIA KE 87.

29 Oktober 2015
Sahabat, novelis dan peraih Nobel asal Rusia, Alexandr Solzhenitsyn (1918-2008), mengatakan: "Apabila kita tidak menghukum atau mengecam para pelaku kejahatan, kita bukan saja sedang menjamin agar orang-2 itu bisa menikmati usia tua mereka, tetapi kita juga sedang menghancurkan landasan keadilan bagi generasi yang akan datang." Jika kita tidak melakukan pembiaran terhadap kekuasaan yang menindas, sebenarnya kita juga ikut melestarikan penindasan tsb. Lebih parah lagi, pembiaran tersebut juga merupakan saham kita menghancurkan masa depan dan landasan kehidupan yang baik bagi generasi yang akan datang. Mendukung kekuasaan yang menindas tidak hanya berakibat buruk pada saat kita masih hidup tetapi akan berlangsung setelah kita tiada.
30 Oktober 2015
Sahabat, Sufi Agung Imam Al Ghazali, RA (1058-1111), mengatakan: "Setengah dari penyebab mengapa orang di dunia tidak mematuhi perintah Tuhan adalah adanya orang-orang yang telah membuat agama tampak begitu buruk melalui perilaku jahat dan kebodohan mereka." Agama dan ajaran-ajaran agama seringkali dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap terjadinya kekejaman, penindasan, dan perpecahan di muka bumi ini. Padahal penyebab utamanya bukan agama dan ajaran agama per se, tetapi kelakuan dan kebodohan orang-orang yang mengatasnamakan agama dan ajarannya. Mereka inilah yang seharusnya diminta pertanggungjawaban karena telah melakukan distorsi dan menyalahgunakan agama untuk kepentingan pribadi dan golongan, bukan utk kebaikan ummat manusia secara keseluruhan.
31 Oktober 2015
Sahabat, filsuf asal Jerman, Friedrich Nietszche (1844-1900), mengatakan: "Kegilaan merupakan hal yang jarang ditemukan pada orang perorang. Tetapi kegilaan merupakan semacam kelaziman yg ada dalam pengelompokan, golongan, bangsa, dan era." Dalam sejarah kemanusiaan, kita menemukan dan mempelajari terjadinya berbagai malapetaka, kebiadaban, dan bahkan kehancuran yg dilakukan manusia. Pada semua peristiwa2 tsb nyaris tidak pernah sumbernya hanya karena ulah orang-perorang, tetapi karena kekuatan yang mengatasnamakan kepentingan kolektif. Atas nama kolektivitas maka manusia bisa berubah menjadi kejam, buas, dan beringas. Kolektivitas bukan hanya menjadi sumber kebaikan dan kesejahteraan manusia, tetapi juga bisa menjadi sumber keburukan dan kesengsaraan.






NOVEMBER
29 November 2015
Sahabat, filsuf, spiritualis Hindu, dan pendidik, Swami Vivekananda (1803-1902), mengatakan: "Acapkali orang malah merusak (masa depan) para murid karena tetap bersama mereka. Jika murid-2 sudah diberi pelajaran, maka sangat penting bagi guru utk meninggalkan mereka.Jika tidak maka sang murid takkan pernah berkembang. Ibaratnya, sebatang pohon tdk akan tumbuh jadi tinggi jika terhalang oleh pohon besar." Mendidik bukan hanya urusan transfer pengetahuan, tetapi juga menumbuh-kembangkan kemandirian serta tanggungjawab si terdidik. Model pendidikan yang menghendaki murid selalu sama dan mengikuti apa maunya guru, bukanlah model yang tepat utk manusia, tetapi hanya untuk melatih beo. Sehebat-2nya beo, ia tidak akan pernah menciptakan peradaban.
28 November 2015
Sahabat, filsuf Agung Yunani Kuno, Socrates (470-399 SM), mengatakan: "Peperangan, revolusi, dan pertempuran-2 terjadi karena (kepentingan) jasmaniah dan nafsunya. Semua peperangan dilakukan dengan tujuan akhir mengumpulkan kekayaan. Dan alasan mengapa kita mengumpulkan kekayaan, tak lain karena kepentingan jasmaniah dan kita adalah budak-2 yg melayaninya." Sejarah peradaban manusia tak pernah sepi dari konflik, khususnya yang berbentuk kekerasan seperti peperangan. Dengan berbagai alasan dan justifikasi perang dilakukan, termasuk justifikasi moral dan etika. Namun apapun justifikasi atau pengabsahannya, perang dan kekerasan tetaplah merupakan suatu cara penyelesaian konflik yang lebih cenderung dikuasai kepentingan-2 nafsu jasmaniah.
27 November 2015
Sahabat, Sufi Agung asal Andalusia, Spanyol, Ibnu 'Arabi (1165-1240), mengatakan: "Janganlah engkau membatasi dirimu dg kepercayaan sendiri dan menolak yang lain. Sebab kebaikan-2, termasuk pengetahuan tentang kenyataan hidup, malah akan meninggalkanmu." Kecenderungan manusia utk hanya menghargai dan mempercayai apa yang dia miliki belum tentu akan berbuah kebaikan. Kadang-kadang justru sikap seperti itu akan menutup dan menghalangi kemungkinan belajar tentang kebaikan yang bisa diperoleh dari liyan. Sikap memutlakkan kebenaran yg dimiliki dan menolak apapun yang dimiliki pihak lain justru berpotensi negatif, yakni pemaksaan kehendak dan pembodohan bagi diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.
23 November 2015
Sahabat, novelis asal Brazilia, Paulo Coelho, mengatakan: "Setiap orang tampaknya punya gagasan yg jelas ttg cara bagaimana orang lain mesti menjalani kehidupan, namun ia malah tak tahu bagaimana menjalani kehidupannya sendiri." Salah satu manfaat dari pergaulan dan komunikasi dengan liyan adalah menghindari kecenderungan untuk menganggap apa yg kita pahami, mengerti, dan praktikkan dalam kehidupan sebagai hal yang sempurna dan jadi ukuran mutlak bagi semua orang. Menggunakan ukuran kita sebagai satu-2nya pilihan dan mengabaikan pandangan liyan, bisa sangat menyesatkan dan merugikan semua pihak. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, kemampuan saling memahami antar-kelompok merupakan syarat mutlak bagi keberadaan dan keberlanjutan masyarakat tsb.
21 November 2015
Sahabat, rohaniwan, filsuf dan aktivis kulit hitam asal AS, Cornel West, mengatakan: "Kita harus berani bertanya kepada mereka yg sedang berkuasa, berani utk tidak sabar terhadap kejahatan, berani bersabar dengan rakyat, dan berani memperjuangkan keadilan sosial. Acapkali kita tidak akan mendapatkan sesuatu dari perjuangan itu dan hanya bisa berharap, atau meraih capaian kecil. Tetapi itulah perjuangan. Hidup memang merupakan pertarungan melawan keterpurukan, tetapi jangan biarkan keterpurukan menentukan hidup kita." Cemunguuddd, ea!! Dalam perjuangan tak perlu terlalu dipikirkan bagaimana dan kapan akan berhasil. Lebih baik kita memupuk keberanian dan keberlanjutannya. Jika terlalu terobsesi pada hasil, maka kita akan rentan thd kekecewaan dan, pada gilirannya, melemahkan semangat dan memadamkan keberanian utk berjuang.
20 November 2015
Sahabat, filsuf, penulis, dan sastrawan asal Bulgaria, Tzvetan Todorov, mengatakan: "Dahaga terhadap pembalasan dendam tak perlu menunggu kehadiran Islam di dunia, dan daya tarik utk menerapkan hukum mata di balas mata, gigi dibalas gigi adalah universal." Gagasan dan praksis yang merayakan kekerasan, teror, penindasan, dll bukan hanya monopoli agama tertentu, sebagaimana kini sedang dipropagandakan dan berjangkit di berbagai negara. Tafsir atas ajaran agama dan/atau pemikiran sekuler, keduanya berpotensi utk menumbuh-kembangkan kekejian thd manusia dan kemanusiaan. Mengetahui dan memahami secara kritis terhadap berbagai tafsir dan klaim kebenaran dalam wacana keagamaan, politik, ekonomi, dan sosial lebih bermanfaat ketimbang menyebarluaskan kebencian terhadap agama atau penganut agama tertentu.
19 November 2015
Sahabat, Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Persahabatanmu dengan orang-orang yang kualitas (akhlaq)nya lebih buruk darimu, bisa jadi membuatmu merasa bhw perbuatan burukmu tampak baik di matamu." (AL-HIKAM 1: 46) Bergaul dengan orang-2 yang akhlaqnya berkualitas akan menjadi pendorong dan standar agar kita setidaknya meniru dan/ atau meningkatkan kualitas kita. Jika kita lebih suka bergaul dengan mereka yang akhlaqnya kurang baik dengan tujuan agar kita tampak sudah cukup atau bahkan sudah lebih baik, maka hal itu hanyalah sebuah penipuan thd diri sendiri (self deception). Dalam usaha meningkatkan kualitas ahlaq, salah satu metoda yang terbaik adalah dengan mendekati, bersahabat, bermitra, bergaul, dan/atau meneladani orang-2 yang akhlaqnya lebih unggul daripada kita.
13 November 2015
Sahabat, aktivis dan intelektual terkemuka dari Iran, Abdolkarim Soroush, mengatakan: "Dalam banyak hal perbuatan manusia, sebenarnya yang menjadi pusat perhatian adalah diri mereka sendiri. Tetapi mereka kemudian membubuhkan nama-2 lain pada bendera-2 yang mereka kibarkan." Sikap cermat dan kritis sangat diperlukan terhadap berbagai klaim kebenaran yang dilontarkan dengan mengatas namakan agama, bangsa, dan/ atau negara. Seringkali klaim-klaim tersebut hanyalah bungkus yg menutupi kepentingan pribadi atau kelompok. Mereka menggunakan cara itu agar tampak bahwa apa yg diklaim dan diperjuangkan adalah kepentingan yang luhur dan luas jangkauannya. Padahal sebenarnya hanya kepentingan diri mereka sendiri
11 November 2015
Sahabat, sejawarawan asal AS, Howard Zinn (1922-2010), mengatakan: "Jeritan orang-orang miskin tidaklah selalu berarti masalah keadilan. Namun jika anda tidak pernah mau mendengar jeritan mereka, maka anda tidak akan pernah paham apa keadilan itu." Empati dan kepedulian terhadap mereka yang terpinggirkan adalah dasar terpenting bagi semua upaya menegakkan keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan. Sebanyak dan sebesar apapun upaya tsb jika tidak dilandasi oleh empati dan kepedulian, akan terancam sia-sia (muspro) dan hanya menjadi proyek-proyek utk kepentingan politik dan program-program jangka pendek belaka.


9 November 2015
Sahabat, penyair dan dramawan Inggris, Joseph Addison (1672-1719), mengatakan: "Tak ada penindasan yang lebih mengerikan dan berdampak sangat luas melebihi (penindasan) yang dilaksanakan melalui penyimpangan hukum dan kesewenang-2an pemegang otoritas hukum." Dalam berbagai peristiwa sejarah terkait penindasan dan penghancuran kemanusiaan, yang paling dahsyat adalah apabila dilakukan dg mengatasnamakan otoritas hukum tertinggi yakni negara. Kejahatan kemanusiaan seperti penjajahan, perbudakan, genosida, terorisme, dsb dilakukan atas nama hukum dan oleh pihak yang menganggap dirinya memiliki otoritas itu. Hukum dan otoritas hukum perlu mendapat pengawasan dan kontrol secara tepat untuk menghindari bahaya seperti itu.
8 November 2015
Sahabat, Ibnu Atho'illah As-Sakandary mengatakan: "Hendaknya engkau tidak berpindah-pindah dari alam satu ke alam yang lain sehingga engkau mirip dengan keledai penggilingan yang hanya berputar-putar di satu tempat yang ia tuju. Tetapi hendaknya engkau pergi menuju pada sang Pencipta alam." (AL-HIKAM 1: 43). Keikhlasan adalah salah satu prinsip utama dalam perbuatan kita. Dan keikhlasan itu hanya tertuju kepada Tuhan sang Maha pencipta, bukan kepada manusia atau lainnya. Jika perbuatan-2 kita berorientasi pada selainNya, maka hakikatnya kita masih tak beranjak jauh. Malah bisa jadi kita terjerumus pada sikap riya' atau pamer belaka. Keikhlasan akan membebaskan diri kita dan mendorong pada kerja keras dan produktifitas tinggi.
7 November 2015
Sahabat, Presiden AS ke 26, Theodore Roosevelt (1858-1919), mengatakan: "Tidak pernah ada dalam sejarah yang menunjukkan bahwa orang-orang yang tak pernah mengalami kesusahan dalam kehidupannya, cukup layak untuk diingat namanya." Salah satu hal yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah kerja keras dan manfaatnya untuk masyarakat. Para pahlawan, tokoh besar, pembaharu, pemimpin terkemuka, cendekiawan kaliber dunia, dst adalah mereka-2 yang bekerja keras dan mengalami berbagai kesulitan dalam kehidupan. Dan sudah barang tentu mereka memberikan manfaat yang besar bukan saja bagi komunitas dan bangsanya, tetapi juga kemanusiaan
6 November 2015
Sahabat, pakar fisika teoritis dan kosmologi asal Inggris, Stephen Hawking, mengatakan: "Menjaga keaktifan nalar sama pentingnya dengan memertahankan cita rasa humor agar saya tetap bertahan hidup." Cita rasa humor (sense of humor) merupakan salah satu elemen yang memiliki korelasi positif dengan kecerdasan, baik nalar maupun rohani. Manusia tanpa cita rasa humor, memiliki pandangan yang kering dan nestapa terhadap dunia dan manusia, kendati secara tampilan ia pintar, kaya, dan berkuasa. Manusia demikian melihat dunia dan manusia secara hitam-putih, sehingga ia gagal melihat hal-hal positif dalam perbedaan dan keunikan. Hidup lantas menjadi ajang pertarungan dirinya dengan liyan dengan tujuan menghancurkan apapun yg berbeda dengannya.
5 November 2015
Sahabat, filsuf agung dari Tiongkok kuno, Lao Tzu, mengatakan: "Masa lalu tak punya kekuatan menghentikan kehadiranmu pada saat ini. Hanya keluhanmu terhadap masa lalu yang bisa menghentikanmu. Apa keluhan itu? Ia adalah beban pikiran dan emosi thd masa lalu." Manusia kadang kala terobsesi masa lalu dan menginginkan keberadaanya persis seperti masa lalu, yang ia tidak akan pernah tahu. Obsesi seperti itu akan menjadi halangan manusia utk meningkatkan kualitas hidupnya dan merusak relasinya dengan masyarakat. Apalagi jika ia memaksakan obsesi tsb dengan kekerasan. Pemahaman thd masa lalu yg bermanfaat adlh sebagai pelajaran agar manusia bisa mengambil apa yang baik dan tidak mengulangi kesalahan-2 yang sama.
3 November 2015
Sahabat, novelis asal Inggris, George Orwell (1903-1950), mengatakan: “Cara yang paling efektif untuk menghancurkan rakyat adalah dengan menolak serta memberantakkan pemahaman mereka tentang sejarahnya sendiri." Dalam sebuah negara totaliter, sejarah merupakan salah satu alat terpenting untuk mengontrol dan menghancurkan perlawanan rakyat. Melalui pemahaman sejarah yang dipaksakan oleh penguasa, rakyat diadu domba, dihilangkan peran dan sumbangsihnya kepada bangsa, dicitrakan sebagai sumber masalah, dan dijadikan target kebencian umum dan bahkan pengabsahan aksi genosida. Perjuangan rakyat utk melepaskan diri dari ketertindasan selalu diawali dengan pemahaman sejarah yang berbeda dari pemahaman penguasa. Melalui cara ini identitas, semangat, dan kebanggaan akan bisa dipulihkan, dimunculkan, dan menjadi pendorong perlawanan terhadap kesewenang-2an.



1 November 2015
Sahabat, Sufi Agung dari Persia, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan: "Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap/ Setiap perkataan yang manis akan memudar/ Namun, janganlah kau berputus asa, karena mereka semua datang dari sumber yang sama, dari Keabadian./ Masukilah Keabadian itu, maka kau akan melihat segala sesuatu tumbuh dan berkembang, memberi hidup baru dan kegembiraan baru bagimu


















DESEMBER
29 Desember 2015
Sahabat, filsuf, penulis, dan pencinta alam, Henry D. Thoreau (1817-1862), mengatakan: "Semua kebijaksanaan di dunia ini, pada suatu saat pernah dianggap sebagai semacam penyimpangan aneh yang berasal dari orang-orang bijak." Tidak semua hal yang baik dan bermanfaat bagi manusia akan langsung diakui, diterima, dan/ atau diadosi sebagai suatu hal yang normal dan baik. Justru biasanya, hal-hal tersebut harus mengalami berbagai macam rintangan dan penolakan. Bahkan bukan tidak mungkin hal-hal tsb pada zamannya dianggap sebagai pelanggaran thd kenormalan. Sejarah kemanusiaan dan peradaban penuh dengan catatan bahwa kebenaran dan kebajikan serta kebijaksanaan mengalami berbagai rintangan, halangan, dan penindasan sebelum diterima dan dipraktikkan.
28 Desember 2015
Sahabat, filsuf, penulis, dan cendekiawan AS asal Palestina, Edward W. Said (1935-2003), mengatakan: "Ketimbang terlibat dalam benturan peradaban, kita mendingan berkonsentrasi pada budaya-2 yang pelan-pelan sedang bekerjasama, saling tumpang tindih, saling meminjam, dan hidup bersama dengan cara yang lebih menarik ketimbang yang bisa ditawarkan oleh model pemahaman (budaya) yang terpangkas dan tak otentik." Saat ini kita acapkali disodori dengan tawaran utk memandang, memahami, dan memilih berbudaya secara sektarian yang penuh pertentangan, karena kita berada dalam situasi 'benturan peradaban'. Padahal kita juga bisa memilih utk memahami dan memilih berbudaya secara kerjasama dan saling memberi serta meminjam khazanah yg kita miliki. Ketimbang menempuh jalan "benturan peradaban', kita bisa menempuh jalan "dialog peradaban" utk kebaikan dan kemajuan kemanusiaan.
25 Desember 2015
Sahabat, kami sekeluarga menyampaikan: "SELAMAT MERAYAKAN NATAL", 25 Desember 2015" kepada ummat Kristiani di Indonesia dan di manapun berada, khususnya yang menjadi sahabat di Forum saya ini. Semoga semangat "damai di bumi dan damai di hati" senantiasa terpancar dalam kehidupan kita sebagai anak bangsa dan ummat manusia. (MAS Hikam).

24 Desember 2015
Sahabat, dalam sebuah Hadits yg diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi RA dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanyalah untuk meningkatkan kualitas akhlak manusia.” Salah satu ukuran terpenting bagi kualitas keber-agamaan seorang Muslim adalah kualitas akhlaq (akhlaqul karimah) nya. Dalam hal ini pembuktian dalam kehidupan nyata menjadi sangat penting apakah seorang Muslim/ Muslimah bisa memberikan manfaat bagi diri dan komunitas sekelilingnya, mulai yang paling kecil hingga yang paling besar. Inilah yang disebut sebagai kesalehan individual dan sosial (individual and social piety) yg menjadi standard mutu keberagamaan seorang Muslim/ Muslimah. Keberagamaan yg berkualitas tak hanya berhenti dalam ucapan(speeches), tetapi mencakup kiprah (actions)nya.
23 Desember 2015
Sahabat, sufi Agung dari Persia, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengatakan:
"Lupakan segala apa yg membuat kamu ketakutan dan duka/ Yang menjerumuskan kamu pada kesakitan dan binasa." Salah satu penghalang terbesar bagi manusia utk meraih kemajuan dan keunggulan adalah ketakutan. Oleh karena itu ketakutan merupakan senjata ampuh yg selalu digunakan oleh penguasa yg lalim utk mengontrol dan mengendalikan pihak yg dikuasai. Melepaskan diri dari ketakutan adlh perjuangan besar utk meraih kemerdekaan dan kemajuan. Tunduk kpd ketakutan adalah jalan menuju kehinaan dan kebinasaan.
22 Desember 2015
Sahabat, Sufi Agung Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (1058-1111), mengatakan: "Orang bangga telah menyebut nama Tuhan sambil menghitung-2 dengan tasbihnya. Tetapi ia tidak pernah menghitung berapa banyak omong kosong yang diucapkannya setiap saat." Perilaku formalistik dalam keberagamaan cenderung memberikan ilusi kepada pelakunya bahwa dirinya telah memiliki spiritualitas. Padahal perlu ditelisik sampai sejauhmana ia telah benar-benar secara konsisten menerapkannya dalam kehidupan sehari-2. Bisa saja secara formal ia mengklaim beragama, tetapi dalam perilakunya justru bertolak belakang dengan ajaran-2 dasar dari agama.


21 Desember 2015
Sahabat, pejuang anti-diskriminasi rasial AS, Martin Luther King, Jr. (1929-1968), mengatakan: "Peribadatan dalam bentuk terbaiknya adlh sebuah pengalaman sosial bersama-2 dengan semua orang dari semua level kehidupan yang hadir utk membuktikan kesatuan dan penyatuan mereka dengan Tuhan." Ummat beragama seharusnya membuktikan kesalehan pribadi dan sosialnya dengan mewujudkan kerukunan dan kedamaian bersama. Keberagamaan yang memiliki nilai spiritualitas adalah yang mampu menembus perbedaan-perbedaan yang tampak, dan menjadikannya sebagai tantangan utk menciptakan kebaikan bersama.
19 Desember 2015
Sahabat, filsuf dan penulis tragedi Yunani Kuno, Euripides (480-406 SM), mengatakan: "Ketika ada orang mengucapkan kalimat-kalimat semanis madu tetapi dengan pikiran jahat untuk memengaruhi kerumunan manusia, maka malapetaka besar akan menimpa negaranya." Melakukan kritik dan evaluasi terhadap papun yang dijanjikan dan dikemukakan pemimpin adalah salah satu alat deteksi dini dalam sebuah masyarakat dan negara demokratis. Retorika yang sangat menawan publik harus selalu diuji apakah substansinya dapat dipertanggungjawabkan atau tidak. Jangan sampai publik dininabobokkan oleh retorika para pemimpin sehingga tak sadar bahwa negara dan masyarakat sesungguhnya berada dalam bahaya.
16 Desember 2015
Sahabat, filsuf asal Jerman, Immanuel Kant (1724-1804), mengatakan: "Jika seseorang membuat dirinya sendiri seperti cacing, ia seharusnya tidak perlu mengeluh jika dirinya terinjak." Manusia sebagai pribadi dan anggota kelompok memiliki kewajiban utk menjadikan dirinya sendiri sebagai pihak yang memiliki harkat dan martabat, serta berjuang agar tidak mengalami ketertindasan. Memuliakan dan menjunjung harkat dan martabat mesti dimulai dari dan oleh diri sendiri, sebelum meminta pihak lain utk melakukannya. Jika kita sendiri tidak berusaha keras meraih martabat dan menjaga harga diri, maka akan mustahil utk menyuruh orang lain memenuhinya.



14 Desember 2015
Sahabat, penyair sufi asal Nisapur, Iran, Fariduddin 'Attar (1110-1221), mengatakan: "Wajahmu bukanlah sementara, bukan pula abadi/ Engkau tak akan pernah melihat wajahmu sendiri/ Kecuali hanya refleksi, bukan yang asli." Manusia tak akan pernah benar-benar tahu tentang dirinya secara komplet. Ibarat wajah, yang diketahui hanya refleksi (pantulan) melalui cermin atau gambar yang sangat tergantung pada konteks dari mana ia diambil atau dipandang. Kendati demikian, bukan berarti kita tak bisa memahami diri sendiri, atau bahwa kehadiran kita di dunia tak memiliki makna. Kita sendiri yang bertanggungjawab memberikan makna tsb dengan perbuatan yang bermanfaat bagi semua.
13 Desember 2015
Sahabat, spiritualis Katolik dari Ordo Jesuit asal Perancis, Teilhard de Chardin (1881-1955), mengatakan: "Pertanyaan mengapa hal-hal buruk menimpa orang-orang yang baik seharusnya diubah menjadi pertanyaan lain yang tidak lagi terkait dengan mengapa sesuatu harus terjadi. Pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah bagaimana kita merespon kejadian tsb ketika ia telah muncul." Sebagai manusia kadang kita dihadapkan pada kenyataan pahit, seperti menyaksikan musibah dan kemalangan yang menimpa orang-orang yang tak bersalah, si lemah, dan/ atau yang tidak seharusnya mendapatkannya. Kadang kita mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi, dan hal tsb sangat manusiawi juga. Namun demikian, upaya merespon dampak-2 negatif dari musibah atau kemalangan tsb. lebih produktif dan bermanfaat.
10 Desember 2015
Sahabat, filsuf, pendidik, dan psikolog terkemuka asal AS, John Dewey (1859-1952), mengatakan: "Kepribadian bukanlah sesuatu yang siap jadi, tetapi sesuatu yang selalu dalam proses pembentukan melalu pilihan-pilihan tindakan." Membentuk kepribadian seseorang, bukan seperti menempa besi menjadi sebuah produk tertentu. Sebab kepribadian terbentuk bukan hanya dari luar tetapi yang lebih penting adalah determinasi dan komitmen dari dalam diri orang tsb. Oleh sebab itu kepribadian seseorang selalu dinamis, bisa mengalami perubahan. Dan pengubah kepribadian yang penting, antara lain, adalah tindakan-tindakan yang secara sadar menjadi pilihan orang itu.


7 Desember 2015
Sahabat, filsuf, pendidik, dan psikolog terkemuka asal AS, John Dewey (1859-1952), mengatakan: "Kepribadian bukanlah sesuatu yang siap jadi, tetapi sesuatu yang selalu dalam proses pembentukan melalu pilihan-pilihan tindakan." Membentuk kepribadian seseorang, bukan seperti menempa besi menjadi sebuah produk tertentu. Sebab kepribadian terbentuk bukan hanya dari luar tetapi yang lebih penting adalah determinasi dan komitmen dari dalam diri orang tsb. Oleh sebab itu kepribadian seseorang selalu dinamis, bisa mengalami perubahan. Dan pengubah kepribadian yang penting, antara lain, adalah tindakan-tindakan yang secara sadar menjadi pilihan orang itu.
6 Desember 2015
Sahabat, novelis perempuan asal Inggris, Virginia Woolf (1882-1941), mengatakan: "Anda bisa saja mengunci perpustakaan jika mau; tetapi ketahuilah bahwa tak ada pagar, kunci, dan gembok yang bisa anda gunakan untuk menghalangi kebebasan pemikiranku." Usaha untuk menghalangi kebebasan berfikir selalu dilakukan untuk membungkam kritik dan menghambat kemajuan peradaban. Segala cara, baik yang lunak maupun yang keras, telah, sedang, dan akan diciptakan. Namun pikiran tak mungkin dikendalikan dan dihambat secara total, karena ia adalah esensi bagi kemanusiaan. Selagi manusia masih menghendaki kehidupan yang bermakna dan peradaban yang mencerahkan, maka pikiran adalah salah satu sumber utamanya.
3 Desember 2015
Sahabat, Raja dan panglima perang asal Perancis, Napoleon Bonaparte (1769-1821), mengatakan: "Dalam politik, kedunguan bukanlah suatu hal yang dianggap sebagai penghalang." Di mata orang awam, sebagian politisi acap kali memamerkan omongan dan perilaku yang mungkin dapat dinilai atau dikategorikan sebagai kedunguan. Namun bagi politisi tsb, penilaian tsb dianggap sepele atau diabaikan karena mereka menganggap apa yang dilakukannya adalah taktik hebat, manuver canggih, serta representasi dari kekuasaan. Tak heran jika pameran-2 kedunguan diumbar oleh sementara politisi di ruang publik tanpa risih, malu, apalagi rasa bersalah. Bayangkan saja jika sebuah negara dibiarkan diatur oleh para politisi seperti itu!


1 Desember 2015
Sahabat, kepala suku dan spiritualis Indian Lakota, Sitting Bull (1831-1890), mengataan: "Di dalam diriku ada dua ekor anjing, satunya sangat ganas dan jahat, yang satu lagi sangat baik. Mereka selalu bertarung tiap saat. Kalau saya ditanya anjing mana yang akhirnya menang, saya jawab 'yang saya beri makan lebih banyak'." Pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam diri manusia, baik pada tataran pribadi maupun kelompok, senantiasa terjadi karena dua elemen itu selalu ada beserta kita. Sikap dan determinasi kita dalam menentukan elemen negatif atau positif yang akan menentukan. Sebab hidup adalah perjuangan dan keberpihakan. Tidak ada netralitas dalam menghadapi pilihan antara kejahatan dan kebaikan.

                                                   

DAFTAR PUSTAKA

-          https://www.facebook.com/mashikam

No comments:

Post a Comment